Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 82


__ADS_3

Arjuna menghela nafas panjang saat melihat raut wajah istrinya yang tak senang, tapi untuk yang satu ini Arjuna tidak bisa mengalah, karena ia merasa bahwa dirinya lebih tahu dari siapa pun, lebih paham dari siapa pun, kenyataan mengenai perasaan yang tak bisa dipaksakan, dan bagaimana jadinya jika kita tetap memaksakannya.


Presdir tampan itu pun memilih bangkit dan turun dari tempat tidur, sambil berdiri memunggungi sang istri ia memungut bajunya yang berserakan di lantai, ia yang tak mampu abai sesekali melirik istrinya, raut wajah wanitanya itu masih terlihat masam.


Presdir tampan itu membawa kakinya melangkah masuk ke dalam kamar madi, ia berdiri di bawah guyuran air shower, sejenak memejamkan mata berharap mendapatkan ketenangan, namun bayangan yang muncul di pelupuk mata malah membuat sesuatu di bawah sana kembali terbangun.


“ Dia sudah jadi miliku, tapi bayangan wajahnya terus saja mengusik” ucap Arjuna bersama dengan helaan nafasnya yang panjang


Arjuna beralih ke ruang ganti setelah selesai membersihkan diri, handuk putih melingkar menutupi bagian bawah tubuhnya, air terus saja menetes dari rambut dan juga tubuh bagian atasnya yang kini sudah bersih mulus tanpa bekas luka.


Arjuna membuka lemari kecil kemudian mengambil handuk lain, satu tangannya sibuk menyeka air di tubuh dengan handuk, satu tangannya lagi ia gunakan untuk membuka lemari besar, melihat apakah ada baju yang bisa ia kenakan, karna lemari itu biasanya kosong jika ia tidak memiliki jadwal meeting penting, beruntung ada satu setelan jas berwarna navy dengan kemeja putih tergantung di sana.


Arjuna tersenyum melihat itu, ia menyadari perubahan kecil di dalam dirinya, dulu sang presdir hanya mengenakan setelah jas hitam, tapi lihat! Kini setelan jasnya lebih berwarna, dan itu terjadi setelah Lika masuk ke dalam hidupnya, hanya ada satu warna yang belum pernah Arjuna coba, yaitu pink.


“ semoga Lika tidak akan terpikirkan untuk membuatku jadi pinky boy” ucap Arjuna yang tiba-tiba membayangkan dirinya mengenakan setelan jas berwarna merah muda.


Tanpa membuang waktu, presdir tampan itu pun mengenakan satu persatu pakaiannya, di mulai dengan mengenakan kaus dalam, celana bokser, kemeja, celana, memasang dasi dan kemudian rompi, aktivitas itu tiba-tiba terhenti.


“ ini semua gara-gara kau kak! Dasar sepupu kurang ajar! Presdir laknat! Kenapa kau memakai banyak istilah yang sulit di mengerti”


Arjuna baru saja selesai mengancingkan rompinya saat mendengar makian dari balik pintu, ia jelas hafal dengan suara itu.


Rasa penasaran membuat Arjuna membuka pintu ruang ganti, ia bersandar di pintu kemudian melipat tangan di dada, di tatapnya Beni yang tengah berdiri di depan pintu kamar istirahatnya, dari sudut itu Arjuna bisa melihat tatapan Beni terlihat kesal.


“ Apa ada yang membuatmu tidak puas Ben?” tanya Arjuna


Beni sedikit tersentak, dengan perlahan ia menoleh ke arah suara itu, tepat sesuai dugaannya sang boslah yang bertanya, Beni hanya bisa menunjukkan senyum lebar yang menampakkan deretan giginya yang putih, ia tak berani menjawab tanya itu dengan cepat.


‘Aku tidak suka dengan caramu kak' jawaban itu hanya Beni utarakan dalam pikirannya, dalam kenyataannya beni berkata “ tidak ada kak! Kenapa kakak berpikir seperti itu?”


Arjuna berjalan menghampiri Beni, ia menepuk pundak asistennya itu lalu berkata “ kalau begitu, pergi! Dan selesaikan pekerjaanmu sana”


Titah mutlak itu di jawab dengan anggukan kepala serta senyum yang mereka, Beni pun menunduk hormat kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan sang bos. Arjuna menggelengkan kepala saat melihat itu (Beni pergi).


Dari dulu sampai sekarang pun Beni hanya bisa mengeluh di belakang sang presdir, tatapan tajam Arjuna selalu membuat beni kehilangan keberanian dan juga kata-kata, faktanya ia (Arjuna) selalu juara dalam segala hal, terkecuali semua hal yang berkaitan dengan cinta.


Usai menutup pintu, Beni melirik ke arah July sesaat, dan secara kebetulan di saat yang sama July juga tengah melihat ke arahnya (Beni), keduanya saling menatap untuk sesaat lalu mengalihkan pandangan secara beriringan.


Ketenangan yang terjadi setelahnya bahkan terasa aneh, tak dapat dipungkiri suasana jadi canggung setelah apa yang terjadi di ruang sang presdir.


“ Aku akan kembali ke ruanganku, banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan” ucap Beni dengan canggung


July kembali menatap ke arah Beni saat pria itu berjalan menjauh, helaan nafas sang sekretaris bahkan terkesan dipaksakan.


July kehilangan semangatnya karna masalah percintaannya yang rumit, ia bahkan merasa malas saat melihat tumpukan berkas yang harus ia periksa.

__ADS_1


Tak lama July meraih ponselnya yang tiba-tiba saja berdering, mengangkat panggilan itu dengan malas, ia bahkan tak melihat nama orang yang saat ini tengah menghubunginya.


“ Aku tidak suka dengan baju yang kau siapkan, temani aku berbelanja” ucap Lika dari seberang telepon, ia langsung menutup sambungan sebelum July memberikan jawaban atas ucapannya.


“ dia benar-benar sedang bosan ya!” ucap July pelan, karna saat ini Lika sudah ada di hadapannya, tepatnya berdiri di ambang pintu sambil menatap ke arah July.


“ maaf bu! Saya tidak bisa menemani, banyak pekerjaan yang harus segera saya selesaikan” jawab July


“ kak!” Lika berseru seraya menoleh menatap sang suami, seperti anak kecil yang tengah mengadu.


“ tinggalkan saja! Toh aku bosnya!!” seru Arjuna dengan suara kencang, karna dirinya berada cukup jauh di dalam ruangan pribadinya.


“ sudah dengar kan!” seru Lika sambil tersenyum puas.


July menghela nafas kasar karna terpaksa menyetujui perintah itu, berbeda dengan dirinya yang tampak murung, Lika justru pergi dengan raut wajah bahagia.


“ kalau cinta kenapa menyerah?” Tanya Lika


Mereka kini sudah berada di butik dan tengah memilih baju, July mengerti ke mana arah pembicaraan itu, tapi ia memilih untuk tak melanjutkannya.


“ Jangan ikut campur urusan pribadi saya” jawabnya (July) tegas


“ ini bagus, mau caba pakai” ucap July seraya memperlihatkan sebuah dress, Lika tahu July tengah berusaha mengalihkan perhatiannya.


“ Atasnya terlalu terbuka, kak Arjun tidak akan suka” jawab Lika


“ No... itu terlalu pendek” jawab Lika seraya menggeleng


July terus memperlihatkan dress yang berbeda-beda, namun Lika terus menolak tanpa melihat ke arah dress yang July tunjukan, istri dari presdir tampan itu justru terus memperhatikan gerak-gerik July.


“ sebenarnya kau mau yang seperti apa? Tolong jelaskan karna aku tak mengerti” july kehilangan kesabarannya, ia lelah karna Lika terus menolak baju yang ia pilihkan


“ Aku juga tidak mengerti kenapa kakak marah dan membenciku? Jelas bukan karna persoalan aku yang menikah dengan kak Arjun” ucap Lika seraya berjalan mendekat ke arah July


Lika berhenti tepat di hadapan July, menatap raut wajah July dengan lekat, lalu berkata “ aku yakin kita juga bukan saingan cinta, tapi kenapa aku selalu melihat api cemburu di matamu kak? ”


“ itu karna....


July sejenak berpikir, haruskah dirinya membagi perasaan yang ia rasakan pada Lika seperti dulu.


“ sudahlah... Lupakan saja! Cepat pilih bajumu, aku harus segera kembali ke kantor” ucap July, ia memutuskan untuk tak melakukan itu.


“ Jika sibuk pergi saja” ucap Lika dengan nada acuh


“kembali ke kantor” bisik Lika di telinga kanan July

__ADS_1


Lika berbalik memunggungi July, namun pandangan matanya terus melirik ke arah July, lalu berkata “ Aku akan meminta beni saja untuk menemaniku” seraya memamerkan layar ponsel yang siap menghubungi beni.


Lika sengaja mengatakan itu, ia ingin melihat reaksi July, dan memastikan apa yang ia dengar (ingat saat Lika menguping pembicaraan Beni dan July di balik pintu tangga darurat).


July dengan cepat merebut ponsel itu, kemudian tiba-tiba mempertanyakan karakter Lika


“ apa kau tidak merasa cukup dengan perhatian dari pak Arjuna saja?”


Biasanya orang akan marah saat mendengar pertanyaan seperti itu, tapi Lika tidak! Sang mantan dokter itu malah tersenyum dan membuat July semakin kesal.


“ kenapa kau menatap sambil tersenyum begitu?” tanya July lagi


“Apa kau sudah mulai jadi gila?! “ maki July yang membuat Lika tertawa sampai meneteskan air mata.


Lika menyeka air mata yang membasahi pipinya, lalu berkata “ sekarang aku semakin yakin bawa kau tidak membenciku, ternyata yang beni katakan itu benar”


“ pak Ben bilang apa padamu?” July sedikit penasaran


“ Beni bilang kakak hanya cemburu karena Beni memperhatikan diriku, jadi benar kakak suka pada Beni?”


“ itu tidak benar!” jawab July, kegugupan tampak jelas di wajahnya.


“ benar juga tak apa kak!”


Lika menarik tangan July setelah mengatakan itu, ia mengajak untuk duduk bersama, mencoba untuk kembali masuk untuk membenahi hubungannya dengan July.


“ Sedikit pun aku tak pernah berniat untuk mencuri suami wanita lain, tapi mereka seenaknya menjulukiku sebagai seorang pelakor, mencecarku dengan makian, dan membebaniku dengan banyak kebencian, tapi kak! Aku tak pernah menyerah dengan cintaku, aku memang pernah berpikir untuk mundur, tapi kemudian aku menyadari satu hal...


Lika menghentikan sejenak ucapannya, hal itu membuat July menoleh ke arahnya. Lika tersenyum lalu berkata “ aku pecundang jika mengalah sebelum berjuang” seraya menyenggol lengan July.


“ Aku juga tidak menyerah sebelum berjuang, aku hanya tidak tahu harus berbuat apa? Pak Ben selalu memperingatkan ku untuk tak mendekat ke arahnya, sementara itu, di sisi lain, ibuku selalu berusaha menjodohkanku dengan beberapa pria, kadang putra temanya, keponakan temannya dan terkadang dari biro jodoh”


Akhirnya July membuka hati, menceritakan kelu kesahnya pada Lika, dan Lika membisikan sebuah rencana, keduanya lalu tersenyum bersama.


“ permisi buk! Jadi mau beli baju yang mana?” pelayan toko tiba-tiba datang menghampiri dan mengatakan itu.


“ kami masih memilih” jawab July seraya bangkit dari duduknya


July merangkul pegawai butik itu lalu berbisik, meminta sebuah dress keluaran terbaru yang sekiranya akan cocok dengan lika.


“ ini bagaimana?”


“ itu bagus! Sepertinya akan cocok denganmu bu bos”


“ Aku juga berpikir begitu”

__ADS_1


July mendapatkan jalan keluar atas masalahnya, dan Lika mendapatkan baju yang cocok untuk dirinya.


__ADS_2