
Hari-hari terus berganti, waktu terus berlalu namun sikap Arjuna masih tetap sama, presdir tampan itu masih selalu membawa sang istri ke kantor, hanya untuk memenuhi satu ambisinya yang tak pernah ingin jauh dari Lika.
Demi menghormati keinginan sang istri yang enggan melakukan hubungan badan di kantor, kini tak pernah lagi terdengar lagu kenikmatan dari ruang sang presdir.
Beberapa hotel bintang 7 dan bintang 5 yang berada dekat di area itu pun, dengan kompak tak menerima reservasi dari presdir Arjuna, karna itu sang presdir melampiaskan hasratnya pada pekerjaan, ia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, berkat hal itu pula, ia jadi bisa pulang bersamaan dengan jam pulang para karyawan lain.
Walau pun tak ada lagi kegiatan panas di siang hari, namun malam-malam mereka masih selalu membara, dan Arjuna paling menantikan malam tiba di bandingkan siapa pun.
Seperti halnya saat ini, sang presdir dengan serius memeriksa tumpukan berkas di atas mejanya, ia banyak membuat lingkaran dengan tulisan perbaiki di beberapa dokumen perencanaan yang membuatnya tak puas, bak seorang guru yang menilai hasil tugas yang diberikan, Arjuna pun menuliskan pendapatnya di bagian kosong.
Dan kini ada satu masalah yang terjadi. Rasa bosan mulai menghampiri Lika, pasalnya ia hanya diboyong ke kantor tanpa diperbolehkan untuk melakukan pekerjaan, harinya di isi dengan mendengarkan musik dan membaca novel saja.
Lika meletakan buku novel ke atas meja dengan malas, disusul dengan melepaskan earphones dari telinga, lalu meletakannya di atas buku novel tadi.
Novel yang menarik sudah habis dibaca, musik yang semula menghibur pun kini sudah membuat telinganya bosan, Lika pun memikirkan tentang apa yang harus ia lakukan untuk mengisi waktunya yang kosong itu.
Lika menatap sang suami yang tengah sibuk bekerja, ia tak pernah merasa bosan menatap wajah tampan suaminya itu, dan rasa yang menganjal di hatinya pun masih ada hingga saat ini.
Lika masih terus teringat pada Layla, sulit sekali melupakan wajah sedih wanita itu, terlebih karna ia (Layla) harus kehilangan suami yang mengutamakan Kebahagiaannya walau bukan atas dadar cinta.
Entah sudah berapa kali lika berpikir ‘pantaskah aku bahagia setelah merebut suami orang lain'
Terkadang ia juga berpikir ‘Layla sebenarnya tak bersalah, ia juga merupakan korban dari obat terlarang, dan meski sikapnya buruk'
Terkadang sebuah tanya pun melintas di kepalanya, tentang bagaimana sulitnya menjadi Layla, yang bahkan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Saat memikirkan Layla pikirannya berjalan tanpa henti, bahkan terkadang membuat Lika kesulitan untuk tidur.
Dan kenangan tentang Layla selalu mengikuti Lika, dan seringnya itu terjadi saat Lika menatap sang suami.
Begitu asik melamun, Lika sampai tak menyadari Arjuna telah bangkit dari kursi kebesarannya, mendekatinya, dan duduk di sampingnya, helaan nafas panjangnya pun terdengar jelas di telinga sang presdir.
“ kenapa sayang?” tanya Arjuna seraya merangkul bahu sang istri.
Lika sempat terenyak kaget sebelum menjawab tanya itu.
“ aku bosan!” seru Lika dengan manja
__ADS_1
“ mau pergi jalan-jalan denganku?” tawar Arjuna
“ tidak! Aku tidak ingin di marahi ayah karna menyita waktu kakak”
“ heyy... Ayah tidak akan marah, kenapa berpikir seperti itu?”
'kakak tidak tahu saja!' gumam Lika dalam hati
“ Apa aku boleh pergi cari angin sebentar?” tanya Lika kemudian
“ tunggu 5 menit lagi, aku akan bereskan berkas-berkas itu dan menemanimu”
“ tidak! Aku akan keluar sendiri, kumohon! (Lika sampai mengatupkan kedua tangannya) Selesaikan saja pekerjaan kakak”
“ Apa kau begitu tak suka jika aku terus berada disisimu? ” Arjuna mendadak jadi sensitive
“ Tidak bukan seperti itu! Hanya saja...
Lika sedikit ragu.
“ kau mengancamku sayang!”
“ iya! Dan aku mengancam dengan kesungguhan hatiku” Lika sedikit membuat drama
Helaan nafas kasar sang presdir pun terdengar sesaat sebelum ia berkata “pergilah..!” dengan berat hati meng izinkan
Raut wajahnya tampak tak rela, Arjuna bangkit dari sisi Lika, ia kembali ke kursi kerjanya, matanya yang indah menatap berkas dengan penuh amarah.
‘gara-gara kalian aku jadi membuat sayangku kebosanan’ dalam hati Arjuna menyalahkan tumpukan berkas pekerjaan yang harus ia selesaikan, melampiaskan rasa kesal di hatinya.
Jika saja tumpukan kertas itu bisa bicara, mereka pasti akan mengeluh, untunglah kertas itu hanya sebuah benda yang tidak akan mengeluh dengan perlakuan sekasar apa pun.
'Kenapa Lika tidak mau aku ikut dengannya? Apa dia sudah bosan berada terus di dekatku' praduga pun muncul di kepala Arjuna saat ia melihat Lika hendak pergi, ia sampai meraih berkas dengan kasar.
Lika merasa sedikit bersalah saat melihat wajah suaminya, namun ia hanya bisa berkata dalam hati ‘ maafkan aku kak! Aku tidak membenci kebersamaan kita, aku juga bukan tidak suka selalu disampingmu, hanya saja! aku selalu merasa ada perasaan yang mengganjal di hatiku, aku merasa aku telah melupakan sesuatu yang tak seharusnya' batin Lika yang kemudian meninggalkan ruangan presdir.
Lika berjalan di koridor yang sepi, sesekali ia menoleh ke ruang para staf, orang-orang tampak sibuk dengan pekerjaan mereka.
__ADS_1
‘ haruskah aku meminta untuk kembali bekerja seperti dulu?’ tanya Lika dalam hati
“ lepas!”
Seruan dari suara yang tak asing itu menyita perhatian Lika, ia pun mencoba untuk mencari asal dari suara tersebut.
Di ujung koridor beni membelam mulut juli, kemudian menariknya masuk ke area tangga darurat, tempat yang strategis bagi para karyawan untuk yang diam-diam menjalin hubungan.
Rasa penasaran membawa Lika untuk mendekat saat kedua sosok itu menghilang di balik pintu.
“ lepaskan tanganku ben! Kau menggenggamnya terlalu erat, pergelangan tanganku sakit” ucap Juli seraya berusaha memberontak.
Beni memang melepaskan tangan Juli, tapi kemudian ia mendekap tubuh Juli, kemudian berkata “ Juli please! Kau tahu segalanya bukan? Kenapa masih saja membenci Lika?”
“ Lepaskan aku beni!” Juli melepaskan diri dari dekapan beni
“Aku mau membenci siapa? Itu bukan urusanmu” ucapnya seraya menunjukkan jari pada beni
“ hehe...!” beni malah terkekeh kecil
“ kenapa tertawa?” tanya Juli dengan nada menantang, ia merasa telah di ejek oleh beni
“ aku tertawa karna sepertinya aku tahu kenapa kau keras kepala seperti ini” Beni tersenyum sinis
“ kau cemburu kan!” duga Beni
“ cemburu? Yang benar saja pak Ben! Aku bahkan tidak memiliki perasaan pada presdir” jawab Juli yakin
“ memang bukan presdir, tapi aku! Benarkan!” duga Beni, Juli terdiam seraya menatap Beni dengan penuh tanya.
“ harus berapa kali aku katakan! Aku sama sekali tak tertarik dengan hubungan percintaan apa lagi pernikahan, jadi jangan pernah bermimpi” ucap beni lagi.
“ sepertinya anda salah paham! Aku juga tak berminat untuk menikah dengan pria egois seperti dirimu” ucap Juli
Juli kemudian meninggalkan Beni, ia menuruni tangga karna tak ingin tertangkap basah keluar bersama pria itu (Beni).
Sentara beni kini tengah di landa kegugupan, pasalnya, begitu beni membuka pintu untuk keluar dari sana, ia melihat Lika berdiri sambil menatapnya tajam.
__ADS_1