Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 86


__ADS_3

Lika bergegas pulang setelah mengetahui bahwa mimpinya bisa ya raih kembali, dengan raut wajah riang, dengan senyum lebar yang merekah, serta jantung yang berdebar kencang.


Langkah Lika pun mulai melambat saat ia melihat tiga pria sedang berbicara di depan rumah.


" Aku tidak mengerti, kenapa paman menikahkan Malika dengan pria sepertinya?"


Mendengar pertanyaan yang terlontar dari fahri, sontak membuat wanita itu malah bersembunyi di balik pohon.


"Apa maksudmu? Memangnya apa ya salah denganku?" ucap Arjuna, wajah kesalnya sangat amat ketara, ia bahkan kesulitan menahan itu sampai harus di halangi Gunawan.


" kau masih bertanya? Sebenarnya kau itu cinta atau tidak pada istrimu hah? " tanya fahri yang juga terpancing emosi


" tak perlu kau tanyakan itu, aku sangat mencintainya, bahkan dunia pun tahu itu" ucap Arjuna dengan yakin


" Oh ya! Tapi kenapa aku merasa jika kau hanya membual" ucap Fahri dengan tatapan menantang


" tutup mulutmu, atau aku yang akan menutupnya untuk slamanya" ucap Arjuna


" Arjuna kendalikan dirimu, fahri kau pergilah...."


Baku hantam hampir saja terjadi jika saja Gunawan tik menahan tubuh sang menantu, namun kedua pria itu tak ada yang mau mendengar ucapannya.


" maafkan aku paman, tapi menantumu ini sebaiknya kau buang saja" ucap fahri


" hey!" pekik Arjuna geram


" Paman dengar! Jika dia mencintai putrimu, dia tidak akan mungkin memberikan syarat gila seperti itu, mentang-mentang jadi suami kau bisa menghalanginya untuk meraih cita-citanya, asal kau tahu! Keinginan terbesar Malika adalah menjadi seorang dokter negara, membantu mengobati banyak pasien adalah kesenangannya, tapi apa yang kau lakukan? Kau malah memberikan syarat yang tidak akan mungkin mereka setujui, akui saja! kau sengaja melakukan itu agar Malika tidak jadi dokter lagi kan! Agar dia tidak menjauh sedikitpun kan! Dasar maniak" maki fahri penuh dengan emosi


" Lepaskan aku ayah! biarkan ku hajar mulutnya yang comel itu" pinta Arjuna pada Gunawan yang kini memeluk untuk menahanya.


" tidak! Tenangkan dirimu Juna, fahri pergilah" pinta Gunawan dengan tegas


Fahri meludah di hadapan Arjuna sebelum kemudian berlalu pergi, Arjuna yang kesal pun berteriak "

__ADS_1


" Hai dengar ini! Kau itu seorang pengacara, jadi sebaiknya kau bersikap layaknya pengacara, tugasmu hanya bicara, sementara aku adalah seorang pebisnis, keuntungan menjadi prioritas ku, dan masalah negosiasi aku lebih pandai dari dirimu, dan lagi! Kau tidak perlu mengurusi istriku karna itu bukan ranahmu, aku masih di sini, walaupun aku sibuk, aku masih akan selalu memprioritaskan istriku di atas segalanya" ucap Arjuna dengan rasa kesal yang menggebu


"Cukup! Kendalikan dirimu juna! Sudah! Biarkan dia pergi dan mari kita masuk" titah Gunawan, pria tua itu pusing melihat perdebatan dua pria dewasa yang seperti anak remaja memperebutkan cinta.


Gunawan melepaskan Arjuna setelah melihat Fahri pergi dan menghilang di balik pagar, ia menatap Arjuna dengan tatapan kesal.


" Jangan tatap aku seperti itu ayah!"


Gunawan menghela nafas lalu berkata " Harusnya kau bisa mengendalikan emosimu juna"


" dan harusnya ayah tidak memilihnya sebagai pengacara, aku tau dia pengacara hebat, tapi mulutnya itu terlalu lancang" ucap Arjun yang kemudian malah menyalami ayah mertuanya.


" kau mau ke mana?" tanya Gunawan saat sang menantu malah berjalan ke arah luar


" maaf ayah! Aku harus kembali ke kantor, masih ada beberapa hal yang harus ku kerjakan, dan aku juga tidak bisa membiarkan Lika mengetahui hal ini, untuk itu aku harus mengurus pemberitaan yang beredar sebelum Lika melihat dan mendengarnya" terang Arjuna


" Baiklah.... Pergilah...." ucap Gunawan yang kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.


Arjuna sudah berdiri di tempat yang sama dimana dirinya memarkirkan mobil, ia mengambil ponsel dari saku, kemudian menghubungi Beni.


Beni : kak! Maafkan aku!


Kata itu terlontar begitu sambungan terhubung, suara Beni terdengar lirih penuh penyesalan, jangan lupakan ke cemasnya saat pria itu mengatakan bahwa Lika tiba-tiba menghilang dari hadapannya.


Arjuna : begitu saja kau tidak becus! Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan hah?


Arjuna memaki tanpa sadar.


Beni : Aku tahu aku salah, tapi apa kakak harus bicara sekasar itu?


Arjuna pun menghela nafas panjang.


Arjuna: Maaf ben! Aku terlalu emosi

__ADS_1


Presdir tampan menyadari bahwa kata-katanya itu terlalu kasar.


Arjuna : Di mana kalian?


Beni memberitahukan posisinya, tapi Arjuna sama sekali tak berniat menyusul ke sana.


Arjuna : coba kau cek CCTV dan telusuri kemana Lika pergi, kita bertemu di kantor.


Presdir tampan itu memasuki mobil setelah sambungan telpon itu terputus, ia lalu memacu mobilnya untuk pergi ke kantor, tapi bukan kantornya, Arjuna mengunjungi sebuah perusahaan farmasi terbesar di negara itu, yang diketahui memasok obat-obatan ke setiap pelosok negeri.


Dengan seenak jidatnya Arjuna mengumpulkan orang-orang yang memiliki saham di sana, bahkan memaksa mereka untuk menjual saham mereka padanya, hingga kini pria itu berhasil mengantongi 40% saham yang ia beli dengan mengancam.


" Mohon maaf tuan! Tapi sesuai ketentuan hukum negara kita, anda tidak bisa memiliki saham lebih dari 40%" ucap ceo perusahaan itu.


Tanpa memperdulikan ucapan itu, Arjuna menatap beberapa orang yang masih belum menjual saham mereka, kemudian berkata " Aku akan menandai kalian, bergegaslah mencari investor lain, karna aku akan menarik sahamku"


Ancaman itu berhasil membuat beberapa pengusaha ketakutan, mereka bergegas bangkit dan menghentikan langkah Arjuna yang hendak pergi meninggalkan ruangan.


" Aku akan menjual saham ku" ucap salah satu pengusaha


Beberapa pengusaha pun melakukan hal yang sama, alhasil dalam kurun waktu satu jam, perusahaan milik negara itu kini menjadi perusahaan milik perorangan, yaitu milik Arjuna.


Anggota dewan perwakilan rakyat yang hadir bahkan tidak bisa berbuat apa pun, karna mereka tahu sepak terjang pria tampan itu, sekali Arjuna bergerak, maka kebusukan mereka akan tersebar luas di media.


Arjuna pun pulang dengan membawa kemenangan, kantor yang sibuk sedari pagi kini jadi tambah sibuk karna ulahnya, jam di mana harusnya para karyawan pulang ke rumah pun malah jadi jam sibuk, semua karyawan yang mengurusi segala prosedur akuisisi pun di paksa lembur.


" kak! apa semua yang aku dengar itu benar? " tanya Beni yang menerobos masuk ke dalam ruangan.


" kita bahas itu nanti, bagaimana dengan istriku? Sudah kau temukan? " Tanya Arjuna


" tidak perlu hawatir, kakak ipar sudah pulang ke rumah" Jawab Beni


" syukurlah... " ucap Arjuna dengan helaan nafas lega.

__ADS_1


__ADS_2