
Lika diam-diam masuk ke dalam rumah lewat pintu samping, namun sang ayah melihatnya ketika ia hendak masuk ke dalam kamar.
" Lika!"
Lika terdiam tak mampu menjawab sapaan itu, ia pun tak berani menoleh karna yakin saat ini matanya sudah memerah, menahan tangis agar tak pecah.
Gunawan yang menangkap gelagat aneh sang putri pun berjalan mendekat, Lika yang menyadari langkah itu kemudian berkata " Lika lelah yah! Lika masuk dulu"
Gunawan hendak mencegah sang putri saat menangkap getaran suara Lika yang terdengar pilu, namun bunyi ponsel menghalanginya.
Lika masuk ke dalam kamar sambil terus memunggungi sang ayah, dan menutup rapat pintunya dengan cepat, ia berusaha menghindar karna sudah tak mampu menahan air matanya. Wanita itu langsung berlari menuju kamar mandi, menyalakan air shower dan menumpahkan tangisnya di sana.
Sementara di luar kamar, Gunawan mengumpat saat melihat nama orang yang menghubunginya, siapa lagi jika bukan menantu tampangnya yang menyebalkan itu.
Gunawan : hello
Arjuna : Kenapa ayah bicara ketus padaku?
Gunawan : itu karna kau mengganggu ku
Arjuna : maafkan menantu mu yang tampan ini ayah
Gunawan : Sudahlah.... Cepat katakan ada apa?
Dengan suara yang terdengar panik Arjuna menjelaskan bahwa ia tak bisa menghubungi Lika, Gunawan tak peduli dengan kelu kesah sang menantu, ia hanya menghela nafas kasar, lalu berkata "Lika sedang istirahat"
Kemudian memutus sambungan telpon itu secara sepihak, padahal Arjuna hendak meminta bantuannya untuk bisa bicara pada sang istri.
__ADS_1
Di saat Arjuna memilih untuk kembali fokus pada pekerjaannya, Gunawan justru tengah mencoba membuka pintu kamar sang putri, saat mengetahui pintunya terkunci ia langsung mengambil kunci cadangan dan menerobos masuk tanpa permisi.
Mata tuanya mengedar mencari sosok wanita kesayangannya, ia berjalan mendekati pintu kamar mandi saat tak menemukan sosok yang ia cari, walau samar suara gemericik air terdengar dari dalam sana.
" Lika! kau di dalam? "
Lika yang tengah menangis di bawah guyuran air shower pun tersentak saat mendengar pertanyaan sang ayah, ia berusaha mengendalikan diri sebelum akhirnya menjawab tanya itu.
" iya!"
" Cepat keluar! Ayah tahu kau tidak sedang mandi" teriak Gunawan seraya menggedor pintu.
Lika yang tahu betul watak sang ayah langsung menyambar handuk yang tersedia di sana, wanita itu melilitkan handuk tanpa melepaskan bajunya yang basah.
Gunawan berusaha mengendalikan diri saat melihat sosok putrinya yang menyedihkan, seumur hidupnya ia tak pernah melihat Lika begitu sedih sampai menyiksa diri sendiri, selama ini putrinya itu selalu menunjukan sosok wanita yang tegar dan kuat, gadis kecilnya itu bahkan tak pernah terpuruk walau di buli di sekolahnya.
Gunawan menghela nafas panjang kemudian berkata " Ganti bajumu! Kau bisa masuk angin jika mengenakan baju yang basah"
" Arjuna bilang kau tidak menjawab telponnya! " ucap Gunawan seraya menuangkan segelas teh untuk sang putri.
Lika pun kemudian teringat dengan ponselnya yang ia letakan di samping rak peralatan medis yang berada di mobil ambulans, dan Ia lupa tidak mengambilnya saat turun.
" ponsel lika tertinggal di dalam mobil ambulans yah" jawab Lika, perasaanya membaik setelah meneguk minuman yang di sajikan sang ayah.
Gunawan kemudian meraih ponsel yang ia letakan di meja, mengirim pesan pada seseorang untuk mengambil ponsel Lika yang tertinggal.
"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya itu hanya di jawab oleh gelengan pelan.
__ADS_1
Sebagai seorang ayah Gunawan memiliki feeling yang kuat terhadap sang putri, Gunawan bisa menebak jika putrinya tidak bertengkar dengan Arjuna, Lika pasti sedih dan kecewa karna mendengar pertengkaran Arjuna dan fahri.
" yah! Apa ini karma? Apa ini harga yang harus Lika bayar karena telah merebut suami orang lain? "
Mendengar tanya itu membuat Gunawan semakin yakin, ia pun balik bertanya " kau mendengar perdebatan suamimu dengan fahri?"
Walau sudah tahu jawabannya, Gunawan ingin mendengar langsung dari sang putri, namun yang ia dapatkan hanya anggukan kepala yang disertai air mata.
" kau tidak perlu mempedulikan ucapan Fahri" ucap Gunawan seraya menyeka air mata Lika
"dia tidak mengenal suamimu lebih dari dirimu, tanyakan pada hatimu, karna hanya kau bisa menilai apakah suamimu benar-benar seperti itu? Apa dia memang seburuk itu? " lanjut Gunawan seraya membelai lembut pundak sang putri.
Lika memeluk sang ayah yang kini sudah berdiri di sampingnya, membenamkan wajah di dada pria tua yang masih saja kekar.
" percayalah pada cinta suamimu, yakinlah bahwa ia akan selalu memberikan yang terbaik, dan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia"
Lika mendongak menatap sang ayah setelah mendengar nasihat itu. Sejak menikah, ini pertama kalinya Gunawan membela Arjuna, Lika tahu biasanya ayahnya ini selalu merasa cemburu pada suaminya, pria tua itu selalu saja mencari alasan dan kesalahan untuk bisa menang darinya (dari Arjuna), padahal Gunawan sendiri yang memilih Arjuna sebagai menantu, dan menikahkannya dengan Lika, tapi setelah itu, Gunawan seolah tak rela Lika membagi cinta, waktu, serta perhatiannya pada pria yang telah menjadi suaminya itu.
" kenapa? " tanya Gunawan
Lika menggeleng seraya tersenyum. Gunawan pun mencium pucuk kepala Lika, ia mengajak Lika untuk pergi ke hutan, mengunjungi Leo yang sudah lama tak pernah lagi Lika ajak bermain.
Tapi bukanya bahagia, Lika malah kembali menangis saat melihat Leo mengejar ayam hidup yang menjadi menu makanya kala itu.
" kenapa ayah lakukan ini pada leo? Bukankah biasanya ayah memberinya potongan daging sapi, kenapa ayah membuatnya harus bekerja keras seperti itu? kasihan Leo"
Helaan nafas terdengar dari tubuh tua itu, dan sukses membuat tangis yang hampir berhenti malah jadi semakin kencang.
__ADS_1
" kenapa ayah malah menghela nafas begitu? Bagaimana ini ayah? Lika tak bisa menghentikan tangisan ini"
'Sepertinya ada yang salah dengan putriku, kenapa dia begitu sensitif, alih-alih menghiburnya, aku malah membuatnya kembali menangis' Dengan dahi mengkerut Gunawan bermonolog dalam hati.