
Layla terbangun dari tidurnya, ia mendudukkan diri dan berniat untuk turun dari ranjang mewah itu, tapi gerakannya terhenti saat melihat kepala beni di atas kasur itu, beni tidur di kursi dengan kepala yang ia letakan di atas lengan yang bersedekap di atas tempat tidur, layla terkekeh kecil saat mendengar beni mendengkur halus.
Sifat usil yang dulu tenggelam seolah muncul ke permukaan, ia mencabut satu helai rambut beni, kesigapan pria itu membuatnya terbangun saat layla berulah.
Beni sontak langsung berdiri ketika membuka mata, begitu pun dengan burung piaraannya, burung miliknya langsung berdiri tegak di balik sangkarnya, seolah mendesak ingin keluar dari sana.
Layla menelan salivanya, hasratnya meninggi saat melihat burung beni yang berada tepat di depan matanya, layla mendongak dan melihat beni tengah mengucek matanya, sepertinya pria itu masih mencari kesadarannya yang belum terkumpul.
Di kamar lain, lika dan arjuna tengah sibuk melakukan aktivitas pagi mereka, sang presdir tampan masih saja tak rela kehilangan satu makam panasnya, ia terus membisikan sebuah permintaan “ ayo bercinta adek sayang” seraya terus mengikuti langkah kaki lika.
“ bukankah kakak harus bekerja!”
Lika berseru seraya memberikan kemeja untuk arjuna. Lika sudah melakukan tugasnya saat di kamar mandi, bukanya tak ingin mengulang lagi, bukanya sengaja menolak karna benci, lika hanya ingin menjaga kondisi tubuhnya, ia tak mau sampai terkapar karna kelelahan, nuraninya sebagai seorang dokter membuatnya merasa harus mengurus layla.
“ kenakan bajunya kak!”
“ ich...!”
Dengusan kecil terdengar saat arjuna meraih kemeja itu dengan kasar, ia masih tak rela karna belum membuat lika terpuaskan dengan cintanya.
Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan lembut nan syahdu, suara itu membuat lika menoleh ke arah arjuna, sadeng pria yang tengah mengancingkan baju itu menatap lika seolah berkata “ bukan aku, sungguh!”
Dengan ekor matanya, arjuna menunjuk pintu kamar yang terhubung dengan ruang kerjanya, ia dan lika pun berebut untuk melewati pintu itu, dan teriakan pun kembali terdengar.
“ Tolong jangan seperti ini, aku bisa gila!”
Beni meminta dengan suara yang ter dominasi oleh kesenangan dunia, di kamar sebelah terlihat layla tengah bermain, permainan itu sungguh tak pantas untuk di saksikan.
Beberapa waktu yang lalu, beni dan layla sempat berebut celana, antara layla yang ingin melepaskan, dan beni yang ingin mempertahankan.
Ya! Beni memang menang, ia tetap mempertahankan posisi celananya, tapi sayangnya ia kecolongan, bagaimana pun dia seorang pria normal, pria itu malah lengah saat layla menggodanya, dan parahnya beni menikmati sentuhan sang wanita, alhasil kini wanita itu berhasil menguasai keadaan, ia terlihat senang walau hanya bermain dengan ujung tombak.
Lika tampak marah ketika melihat tindakan tidak senonoh itu dari ruang kerja, ia hendak menerobos masuk ke kamar layla, namun arjuna mencengkeram pergelangan tangannya, kemudian menggeleng seolah melarang saat lika menatap ke arahnya, dan sorot mata tajam sang presdir seolah berkata “ jangan!” dengan penuh ketegasan
“ lepaskan aku kak! Yang mereka lakukan ini tidak benar”
__ADS_1
Arjuna tidak mendengarkan permintaan itu, ia terus mencengkeram kuat pergelangan tangan istri mudanya itu, lika yang heran dengan sikap arjuna pun kemudian mengajukan beberapa pertanyaan.
“ kenapa kak? Kenapa? Kenapa kakak mencegahku? Kenapa tidak menghentikan mereka?”
Lika berhenti mencoba memberontak, ia mendekati sang suami, menatap manik mata arjuna lalu berkata“ Pria itu sepupu kakak, dan wanita itu istri kakak juga” sambil menunjuk ke arah dua insan yang tengah melakukan pemanasan, dengan suara yang sengaja ditekan dengan tegad
Mulut itu terdiam tak menjawab, tapi mata arjuna mulai berkaca-kaca, ia yang mendongak sambil memejamkan mata dengan diiringi helaan nafas berat.
Lika mengamati terus wajah suaminya, wajah arjuna mengguratkan begitu banyak kesedihan, ketidakberdayaan, serta keputusasaan, arjuan lagi-lagi tampak seperti pria malang di mata lika.
Arjuna menjatuhkan kepalanya di pundak lika, selain teriakan kesenangan, suara tetes air mata yang menyentuh lantai pun terdengar mengisi kesunyian di ruangan itu, dengan berat arjuna berkata “jika dia dihentikan, dia akan melukai orang lain, atau bahkan dirinya sendiri, seperti kemarin”
Arjuna menarik lika saat pria itu menjatuhkan diri, duduk di atas sofa, hal itu membuat lika duduk di pangkuannya, arjuna memang melepaskan cengkeraman tangannya, tapi ia memeluk lika yang duduk dengan membelakanginya.
Arjuna membenamkan kepalanya di ceruk leher lika, isak tangis itu, teriakan kesenangan itu, kedua suara yang berasal dari pria yang berbeda itu teramat sangat mengganggu.
“ Ini tidak benar”
Pikiran itu terus bersuara dalam hati lika, seolah mengetuk, memaksa, memintanya bertindak, lika merasa ia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kegilaan ini, ia menundukkan kepala menatap tangan arjuna yang melingkar dengan kuat.
“ beni! kakkk....."
Lika awalnya memekik kencang memanggil beni, tapi sebuah teriakan protes kesenangan terucap begitu saja setelahnya.
Semua ini karna arjuna, suara kesenangan itu lolos dari mulut lika saat arjuna dengan nakal bermain di tubuhnya. Arjuna, pria itu malah menggoda sang istri muda.
“ Awh.....”
Arjuna memekik kesakitan karna lika mencubit pinggangnya, lika sengaja melakukan itu karna raut wajah arjuna mulai berubah, si pria malang itu kini tampak seperti hewan yang siap memangsa, tatapannya di penuhi gairah, tampaknya ia terpancing melihat aktivitas di kamar sebelah.
Suara-suara dari ruang kerja itu mengembalikan kesadaran beni, pria itu langsung menoleh ke arah dinding kaca, dengan cepat beni pun melepaskan dan membenahi diri.
Beni mendekat ke arah dinding kaca itu, ia meletakan kedua tangannya di sana, wajahnya memelas seolah meminta tolong, saat itu layla tengah memeluk kaki beni, merengek dan meminta beni menuntaskan perasaan yang ia rasakan.
Walaupun begitu, tapi ia tak tampak seperti pria malang, beni justru terlihat seperti cicak di dinding yang meronta karna kakinya terjerat sarang laba-laba, membuat sang presdir kesulitan menahan tawa.
__ADS_1
Lika kembali ke kamarnya, ia mengeluarkan kotak medis di dalam lemarinya, mengambil botol kecil berisi cairan obat, beserta dengan suntikan nya.
Setelah memindahkan cairan ke dalam suntikan, lika kembali ke ruang kerja, ia hendak menerobos masuk ke dalam kamar layla, namun pintu kamar layla yang terhubung ke ruang kerja itu ternyata dalam keadaan terkunci.
Lika menoleh menatap arjuna dengan kilat amarah di matanya, ia kemudian berseru “ buka pintunya”
Arjuna yang kini tengah berdiri sambil terdiam pun mendekat, ia menekan tombol password untuk membuka pintu itu.
Lika, sang mantan dokter itu menyuntikan obat ke lengan layla, dan dalam sekejap wanita itu ambruk, ia jatuh terbaring di lantai.
“ ayo kita main beni!”
Untuk sesaat layla masih saja bicara, merengek, meminta sesuatu yang gila dengan suara yang hampir tak terdengar, seperti suara bisikan, namun kemudian perlahan tak lagi terdengar.
“ kenapa hanya diam, bantu aku bawa dia ke rumah sakit”
Nada suara lika tidak tinggi, tidak juga kasar, tapi mampu membuat arjuna dan beni ketakutan, kedua pria itu merasa seperti tengah di marahi oleh atasan mereka, sehingga membuat mereka bergegas melaksanakan perintah sang bos.
“ pergilah... ” seru lika ketika mereka sudah berada di ruang UGD, dan layla sudah terbaring dengan selang infus yang menempel di tangannya.
“ ke mana?” tanya beni dengan wajah bodohnya
Lika menghela nafas berat, kemudian menoleh menatap kedua pria yang berdiri berdampingan di dekatnya, lalu berkata “ pergilah ke kantor, kalian harus bekerja bukan!”
Lagi-lagi ucapan lika terdengar seperti perintah mutlak yang tak bisa di bantah, dan lagi-lagi kedua pria itu menuruti ucapan lika.
" ini tidak benar ben! Kenapa lika malah marah pada kita, kita harus mengatur rencana lain" ucap arjuna
" kau benar kak! Tapi akan lebih baik bagimu jika kau bisa meredakan amarahnya dulu" sahut beni
" Kau benar, ahhh... Kepalaku pusing karna tidak dapat jatah"
" Sama! Aku juga pusing kak, bisa-bisanya aku di benci setelah menjadi korban"
Kedua pria itu kini tengah berada di parkiran, arjuna dan beni berdiri di dekat mobil sambil terus mengeluh, tampaknya mereka kecewa dengan reaksi lika, karna bagi keduanya, itu tidak sesuai dengan apa yang mereka bayangkan.
__ADS_1