
Lika menatap dirinya di depan cermin, sungguh indah gaun yang ia kenakan malam ini, penampilannya pun tampak berbeda karna riasan yang sempurna, ia sampai merasa seperti tengah menatap orang lain.
“ Kau terlihat sangat cantik sayang!” puji mama devi
“ iya mah, gaun dan tim make-up nyonya Iren memang beda yah!” ucap Lika memuji yang lain
“ gaun cantik akan terlihat semakin cantik jika di pakai oleh wanita yang sesuai, dan sepertinya gaun itu memang tercipta untukmu nona” ucap Lukas, dia adalah desainer pakaian yang cukup terkenal
“ Tuan Lukas benar nona, look nona pada dasarnya sudah cantik, jadi mau di make-up dengan gaya apa pun hasilnya akan tetap cantik” sahut perias seraya menggulung kabel catokan, ia baru selesai merias nyonya Iren.
“ Wah kalian cantik sekali” puji nyonya Iren
“ nyonya juga cantik, aku harap aku bisa seperti nyonya Iren dan mama Devi, kecantikan kalian sungguh tak termakan usia” puji Lika
Mereka pun tersenyum bersama, ke tiga wanita cantik itu telah selesai bersiap, mereka pun meninggalkan salon dan pergi ke ballroom untuk mengikuti acara pesta pembukaan.
Sesampainya di sana mereka berpisah menuju meja masing-masing, Devi menghampiri Bastian, nyonya Iren menghampiri tuan Aditya, dan Lika menghampiri sang ayah.
Gunawan membuang muka saat melihat Lika duduk di sampingnya, raut wajahnya yang kesal amat jelas ketara.
“ ayah kenapa?” tanya Lika
“ Ayah tidak suka dengan caramu Lika” ungkap Gunawan
“ maksud ayah?” Lika tak mengerti
“ Jika kau hendak berbaikan, bukankah seharusnya kau memberi tahu ayahmu ini, aku ini bukan ayah yang jahat, selama kau bahagia ayahmu ini akan melakukan dan menerima apa pun” tuturnya
“ Lika memang memiliki niat untuk kembali pada suami Lika yah, Ini Lika baru mau tanya pendapat ayah, menurut ayah bagaimana?”
“ meminta pendapat setelah bermesraan di kamar, apa gunanya?” keluhannya
“ bermesraan di kamar apa maksudnya?” Lika heran sendiri
“ kau tidak perlu berbohong pada ayah Lika, sudah ayah bilang selama kau bahagia ayah tidak akan melarangmu” ucap Gunawan tegas
__ADS_1
“ tapi yah Lika benar-benar tak mengerti apa yang ayah maksud, Lika berbohong tentang apa?” Lika berkata jujur.
“ayah melihat Arjuna keluar dari kamarmu sesaat setelah kau pergi, keadaannya sangat kacau untuk dibilang kalian tidak melakukan apa-apa, jadi tak perlu kau sembunyikan lagi” ungkap Gunawan
Lika terdiam membisu, ia mengingat kembali perasaan saat ia memasuki kamarnya, Lika memang merasakan kehadiran orang lain di sana, namun saat mencari ia tidak menemukan siapa pun.
Lika teringat satu tempat yang belum sempat ia periksa, dan ia kini tahu, ada kemungkinan Arjuna ada di area bathtub saat dirinya sedang mandi, beberapa pertanyaan pun muncul dalam benaknya.
Kenapa Arjuna masuk ke dalam kamarnya?
Kenapa ia bersembunyi?
Apa yang Arjuna lakukan?
Apa Arjuna juga memiliki keinginan yang sama?
Dan apakah Arjuna mengintipnya saat tengah mandi?
Wajah Lika bersemu merah saat pertanyaan terakhir muncul dalam benak, ia pun tersenyum seraya meraih tangan sang ayah.
“ Ayah tidak marah, hanya sedikit kesal, ayah tidak suka kau menyembunyikan sesuatu, jangan lakukan itu lagi” ucap Gunawan
“ jangan terus mengingat itu, lihatlah wajahmu di cermin, sudah seperti udang rebus” ucap Gunawan sambil tersenyum
“ ayahhh!!!” Lika mengeluh mendengar ledek kan Gunawan.
Gunawan mengelus punggung sang putri, ia mendekat lalu berbisik “ Lihatlah suamimu, bukankah ia terlihat sangat tampan hari ini” seraya menunjuk dengan ekor
Lika mengikuti arah tunjuk sang ayah. Arjuna terlihat berdiri di sisi panggung, sang presdir tampan itu tengah bersiap untuk naik dan memberikan sambutannya.
Arjuna begitu tenang sebelumnya, namun saat ia melirik ke arah bangku tamu, ia pun menjadi gugup, bukan karna banyaknya tamu yang datang, melainkan karna Lika tengah terang-terangan menatapnya.
Lika dan sang ayah duduk di barisan paling depan, jaraknya hanya satu meter dari panggung, sehingga baik Arjuna maupun Lika, keduanya bisa melihat sosok satu sama lain dengan jelas
“ Lika cantik ya!” bisik Arsena mengagetkan
__ADS_1
Arjuna pun terhenyak, ia kesal karna benar-benar kaget dengan kehadiran Arsena yang begitu tiba-tiba, tapi kemudian ia melirik ke arah Lika, degup jantungnya semakin kencang saat melihat Lika tersenyum dan terus menatapnya.
Arjuna dan Arsena pun naik ke atas panggung, keduanya memberikan sambutan bersama dengan gaya formal, Arjuna dan Arsena, kedua pria itu tampak keren saat menyampaikan pidatonya, ketampanan mereka yang berdiri sejajar tampak indah dipandang.
Berbeda dengan Lika yang terus menatap Arjuna sambil terus mengembangkan senyum, Arjuna hanya melirik sesekali karna tak mampu menahan gejolak dalam hati, ada perasaan senang dan rasa tak percaya diri, serta ada juga rasa takut.
Setelah pidato selesai, Arjuna dan Arsena menuju meja mereka. Lika terus menatap suaminya yang mendudukkan diri di meja lain, Arjun duduk bersama papa dan mamanya, meja mereka bersebelahan.
“ ayah! Boleh tukeran tempat duduk gak?” Lika memasang wajah memohon
Gunawan bangkit dari duduknya, mereka pun kemudian saling berganti posisi dengan.
Di meja sebelah.
“ sana pindah tempat, duduklah di samping mamamu”
Bastian mengusir putranya setelah melihat Lika bertukar tempat dengan Gunawan.
Awalnya Arjuna menolak, tapi karna Bastian terus mendesak, akhirnya mau tidak mau ia pun pindah tempat, kini arjuna duduk di samping sang mama, saling berhadapan dengan Lika walau berbeda meja.
Arjuna tidak bisa menghadap lurus ke depan, ia tak sanggup menahan senyumnya saat melihat Lika terus menatapnya, sungguh sang presdir merasa kikuk dengan keadaannya saat ini.
Walau tak suka terus di tatap, ia juga tak suka saat melihat Arsena menghampiri Lika dan berdiri memutus pandangan mereka. Sang presdir tampan semakin kesal kala melihat Lika meraih tangan Arsena, ia tak rela istrinya di bawa ke lantai dansa.
Setelah Lika tak lagi menatap suaminya, Arjuna lah yang kini menatap Lika, ia tak melepaskan pandangannya sedikit pun, tak ada senyum manis, yang ada hanya amarah yang semakin membakar hati, terlebih saat tubuh Lika begitu menempel pada tubuh Arsena, tak tahan Arjuna pun meninggalkan tempat.
Arjuna pergi keluar untuk mencari angin, pemandangan malam yang cerah, air laut yang tenang, dan walau bulan purnama bersinar terang, tapi suasana hati Arjuna tak membaik, hingga sebuah tangan melingkar memeluknya dari belakang.
Arjuna terdiam karna tahu tangan itu milik siapa, Lika pun tak bersua karna terlampau malu. Ini pertama kalinya bagi Lika memeluk Arjuna dengan cinta dan kerinduan, karna biasanya ia melakukan itu untuk memenuhi tugasnya sebagai dokter.
Dinginnya angin malam yang menerpa tubuh mereka tak terasa, karna ada api kehangatan yang membara dalam hati keduanya.
Setelah cukup lama, Arjuna melepas rengkuhan tangan sang istri, Lika yang malu menunjukkan wajah pun menenggelamkan kepalanya di dada sang suami, namun Arjuna menjauhkan tubuhnya, ia juga tak memandang ke arahnya.
Sambil menundukkan kepala, Arjuna berkata “ Jangan seperti ini Lika, aku mohon! Maafkan aku, tapi jika hati sudah tak mau, maka jangan datangi aku lagi, sudah benar kau pergi menjauh, tolong jangan pernah kau berusaha memaksakan hubungan kita, aku lelah bersandiwara, aku pun tak ingin menjadi sepertinya (Layla) aku tak ingin kita akhirnya saling menyakiti”
__ADS_1