Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 71


__ADS_3

Pelayaran yang dijadwalkan akan selesai dalam dua minggu jadi bertambah sehari, tepatnya 15 hari lebih 5 jam, dan kurang dari dua jam lagi kapal pesiar itu akan berlabuh di pelabuhan yang sama.


Pesta penutupan telah dilakukan tadi malam, dan hari ini acaranya bebas, namun semua orang tampak sibuk membereskan barang-barang, begitu pula dengan ke empat pria yang tengah sibuk membereskan berkas yang mereka bawa.


Ada yang berbeda sejak pagi ini, Arjuna yang biasanya lebih sering menghampiri Lika, hari ini fokus pada pekerjaan dan masih belum mendatangi sang istri, lagu cinta pun tak terdengar sejak tadi pagi.


“ Ada apa dengan mu?” tanya Arsena


“ tak ada” jawab Arjuna ketus


“ Apa anda bertengkar dengan nona Lika?” kini Sky yang bertanya


“ Bukan urusanmu” jawabnya masih dengan nada ketus


“ Sepertinya begitu” sahut Beni


Arjuna langsung melayangkan tatapan tajam pada sang asisten, namun yang lainya malah diam-diam menertawakannya.


“ kenapa tuhan senang sekali menyiksa kita para jomblo?” tanya Sky


“ Apa maksudmu Sky?” tanya Arsena dengan lirikan penuh arti


“ iya! Selama pelayaran kita terus mendengar senandung lagu cinta, tapi saat hendak menepi kita malah di suguhi senandung lagu rindu” ucap Sky


Kecuali Arjuna, semua orang tertawa dengan candaan itu, tawa mereka yang terdengar begitu renah menambah gundah di hati Arjuna, presdir tampan itu masih mencari akar dari kemarahan Lika.


Pagi tadi, saat hendak pergi sarapan, Lika hanya berkata “ kak aku cemburu dengan sikapmu”


Arjuna sudah minta maaf, tapi saat Lika bertanya “ memangnya kakak salah apa?” sang presdir tidak menjawab, karna ia memang benar-benar tidak tahu di mana letak kesalahannya.


Diam Arjuna malah membuat Lika semakin kesal, wanitanya itu sampai mengancam “ jangan temui aku sebelum MAS GANTENG menyadari kesalahannya”


Karenanya, Arjuna tidak berani untuk menghampiri sang istri. Rindunya sudah menggebu, namun keberaniannya jatuh entah di mana.


Suara bising kembali terdengar tak kala jangkar mulai diturunkan, semua orang bersiap untuk turun dari kapal, namun Arjuna malah sibuk mencari keberadaan sang istri, karna saat Arjuna masuk ke dalam kamar, barang-barang Lika sudah hilang bersama dengan orangnya.

__ADS_1


Arjuna pun tidak tinggal diam, ia berlari ke sana kemari untuk mencari sang istri, bahkan sampai kapal sepi ia belum bisa menemukan sang pujaan hati, yang ia temui malah Arsena lagi, Arsena lagi....


“ hei bocil lihat istriku tidak?” tanya Arjuna


“ pria genius sepanjang abad ini tampaknya sama sekali tidak ada harga dirinya di depan senior ya!” jawab Arsena


“Aku bertanya tentang Lika, kenapa kau malah bicara melantur, apa pula maksud dari perkataanmu itu?”


“ Sampai kapan senior akan memanggilku bocil, aku memang lebih muda dari senior, tapi aku bukan lagi bocah kecil, kalau senior tidak mengubah panggilan itu aku akan memanggil senior pak tua” geram Arsena


“ Astaga.... Rupanya bocah kecil ini sudah beranjak dewasa, sudah bisa protes lagi, padahal sejak kuliah kau sama sekali tidak protes aku panggil begitu, baiklah tuan muda Arsena yang terhormat, berhenti marah dan bantu aku” ucap Arjuna santai


“ kalau mau di bantu bicara yang benar, jangan ada hinaan, dan jangan juga meledek”


Dari nada suaranya, tampak jelas bahwa mood tuan muda Arsena dalam keadaan tidak baik, dan Arjuna pun meragu untuk meminta bantuan darinya.


“ Lupakan saja!” ucap Arjuna yang kemudian berlalu pergi


“ Aku kesal Sky, saat mereka bercinta aku ada di sana, dan sekarang saat mereka bertengkar pun aku ada di sana, tidak ada yang bisa mengerti perasaanku” keluh Arsena


“ terima kasih yah! Pah! Mah” ucap Lika sambil tersenyum manis


“ Apa pun untukmu sayang” ucap mamah Devi sambil membelai lembut pipi Lika


“ taksi yang kau pesan sudah datang, lekaslah pergi sebelum Arjuna menangkapmu” ucap Bastian


Lika pun mengangguk, ia memeluk semuanya satu persatu sebelum naik ke dalam mobil, tujuannya adalah rumah orang tua Layla, sang mantan istri pertama suaminya.


Lika berniat untuk datang dan meminta maaf secara langsung, agar setitik rasa bersalah yang mengganjal di hatinya bisa menghilang.


Ya! Di tengah kemesraannya bersama sang suami, entah kenapa Lika selalu memikirkan Layla, bayang-bayang Layla yang tengah menangis, membuat Lika tak bisa sepenuhnya merasa bahagia.


Sedikit egois memang, namun ia tak ingin ada duri yang menancap dalam kebahagiaan rumah tangganya.


“ kita sudah sampai nona”

__ADS_1


Ucapan sang sopir membuyarkan lamunan Lika, wanita itu pun turun setelah meminta sang sopir menunggunya.


“ kau sudah datang nak” ucap umi seraya memeluk Lika


“ terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk putri kami” ucap abi


Sambutan mereka tetap saja hangat, lebih dari yang ia bayangkan, padahal Lika hanya berharap tidak di benci, tapi bahkan sikap ramah merek tak berkurang sama sekali.


“ bagaimana kabar kalian?” tanya Lika


“ Alhamdulillah secara lahir kami sehat” jawab abi sambil tersenyum


“ cobaan yang kami terima terlampau berat, kami masih berusaha menata batin kami yang terguncang” timpal umi


“ Lika bisa mengerti, Lika hanya bisa maafkan kan pada kalian, sedikit banyak Lika ikut andil dalam penderitaan kalian, terutama mbak Layla, Lika sudah sangat menyakiti hatinya” ucap Lika tulus


Abi mengambil kunci dari saku bajunya, ia membuka pintu kamar Layla. Lika sama sekali tak menyangka, bahwa kabar Layla di kurung itu ternyata benar.


Abi mempersilahkan Lika untuk masuk. Lika mengangguk sambil tersenyum sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


Layla terkurung dalam sebuah kamar minimalis 3x3, tak ada jendela, hanya lubang pentilasi di permukaan atas, tak ada ac, yang ada hanya kipas angin baling-baling yang mengantung di langit-langit kamar, bahkan wanita itu tak lagi memakai pakaian yang mahal, gamis yang ia kenakan tampak sederhana.


Layla yang awalnya berbaring, bangkit saat Lika berjalan menghampirinya, keduanya duduk di atas tempat tidur, dengan wajah yang saling berhadapan.


“ kau sukses menjadi pelakor hanya untuk menyelamatkan pria tampan yang malang itu” ucap Layla


“ Aku minta maaf mbak, karna sejujurnya aku tidak menyesali perbuatanku itu” ucap Lika


Layla tersenyum kemudian mengajukan sebuah tanya “ Apa kau membenciku?”


“ iya dan tidak, setiap kali melihat bekas luka di tubuh kak Arjun, aku membenci mbak yang telah menyakiti suamiku, tapi aku memiliki kebencian terhadap hal lain”


“Untuk apa kau datang? Apa kau masih memiliki keluhan terhadapku? ”


Lika menggeleng sambil tersenyum, lalu berkata “ Aku datang untuk menghilangkan rasa bersalahku, aku egois ya? Meski begitu, aku berharap mbak mau melapangkan hati untukku”

__ADS_1


“ Untuk apa kau merasa bersalah? Kau tahu Lika, aku pernah berharap menjalin kehidupan rumah tangga yang bahagia, tapi suamiku malah meninggalkanku di malam pertama kami, aku yang dipenuhi hasrat ini, tak pernah mampu menolak sentuhan saudara tiri dan ayah kandungku, aku kesal dengan apa yang terjadi, aku marah karna priaku tak ada saat aku membutuhkannya, aku melampiaskan semua kekesalan itu dengan menyakiti Arjuna, tapi di sisi lain, aku juga takut akan kehilangannya”


__ADS_2