
Lika bangkit dari duduknya, ia beranjak pergi keluar meninggalkan mereka yang masih berbincang serius tentang rencana pernikahannya, hatinya dan pikirannya dipenuhi dengan tanya.
“ benarkah semua yang terjadi ini? Bukankah pria itu sangat mencintai istrinya? Tapi kenapa ia begitu mudah bersedia menerima pernikahan lain, di saat hatiku merasa gusar kak arjun malah menerima tanpa beban” batin lika bersua
Gadis itu berdiri di pinggir kolam, ia melipat tangan di dada seraya menatap ikan-ikan hias di dalam kolam.
“ kenapa kau terlihat murung? Bukankah harusnya kau merasa bahagia? ” tanya beni seraya berjalan menghampiri,
Pria berkacamata itu tampak berdiri tegak di samping lika, dengan kedua tangan yang ia masukan ke dalam saku celananya.
“ Apa yang membuat pak ben berpikir demikian?” tanya lika
“ bukankah kau menyukai kak arjun?” tanya beni memastikan
Lika pun menoleh dengan cepat, menatap pria di sampingnya seraya mengucap sebuah tanya “ bagaimana pak ben bisa tahu?”
“ terlihat jelas di matamu lika” Lika tersenyum mendengarnya.
Saat keheningan menyapa, sebuah raungan singa terdengar jelas di telinga, beni mengedarkan pandangan matanya menyapu sekeliling, begitu pun dengan lika, mereka sama-sama mencari asal dari sumber suara berbahaya itu.
Pandangan mata beni terhenti pada sosok singa jantan yang baru saja menampakkan diri, singa itu berdiri dengan gagah di seberang kolam, tatapannya begitu tajam, suara raungannya begitu menggelegar.
Insting protect dari seorang beni membuat pria berkacamata itu mengambil satu langkah maju, berdiri dengan gagah di hadapan lika, berniat menjadi perisai walau wanita di belakangnya terus mencoba membuatnya menyingkir dari hadapannya.
Lika menghela nafas kasar setelah gagal menyingkirkan beni yang berdiri menghalanginya, tak ada pilihan lain, wanita itu pun memiringkan tubuhnya dengan kedua tangan yang ia tumpangkan pada pundak kokoh beni, setelah melihat sosok lion di seberang sana ia pun berseru “ Lion! Come to mama bebyy” dengan gaya cerianya
Seruan itu tak hanya membuat singa itu meraung, tapi juga berhasil merebut semua perhatian beni, pria berkacamata itu menatapnya dengan penuh tanya.
“ apa yang lika katakan tadi? Apa ia tidak salah dengar? ” seperti itulah suara tanya pikiran seorang beni
Sibuk memperhatikan raut wajah ceria lika, beni sampai tidak sadar saat singa itu melompati kolam, tubuh pria berkacamata itu bahkan sedikit terhuyung saat melihat pemandangan di hadapannya.
Lika membelai lembut singa itu layaknya seekor kucing kesayangan, sementara singa yang dibelai tengah duduk manis seperti anjing piaraan yang penurut, tapi tidak dengan lidah yang terjulur ya!
“ Lion, pria itu namanya pak beni, beliau atasan mami di kantor” ucap lika memperkenalkan beni pada singanya
Bukannya melangkah maju untuk mendekat, beni malah melangkah mundur semakin menjauh, apalagi saat singa itu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri beni, lika sampai menahan tawa saat melihat wajah pucat beni, entah ke mana perginya keberanian untuk melindungi itu.
“ Jangan takut pak beni! Lionku tidak menggigit, diakan anak baik” seru lika
Bagaimana beni tidak merasa ketakutan? Singa itu hanya menatap lembut pada lika saja, sementara pada pria berkacamata itu, sang singa menatapnya dengan mata lapar seperti hendak menerkam mangsa.
__ADS_1
Kesenangan itu harus berakhir ketika orang-orang yang semula berbincang serius di dalam keluar untuk melihat keadaan setelah mendengar raungan singa, arjuna dan gunawan berdiri berdampingan, sementara bastian dan sang istri berdiri di bagian belakang.
“ lika! Sudah berulang kali ayah bilang, jangan keluarkan putramu dari kandang, dia sudah bukan singa kecil lagi” tegur sang ayah dengan tegas
“ iya yah! Maaf! Lika bawa keluar juga karna pak beni pengen kenalan” ucap lika
“ Mana ada orang bodoh yang mau kenalan sama singa ganas begitu!” ucap bastian
Di saat lika dan arjuna menahan diri untuk tidak tertawa, beni justru merasa kesal, ia pun mengaku “ ada paman! Ben lah orang bodoh itu, ben tadi memang minta di kenalin sama lion, tapi ben gak nyangka kalau lion itu singa beneran” dengan wajah yang sedikit meringis ketakutan”
“ dari namanya aja sudah jelas kalau lion itu singa ben” seru devi
“ ya kan ada juga manusia yang memiliki nama lion tan!” jawab beni
“ udah gak usah di ributin, lika bawa lion kembali!” ucap gunawan
Lika menghela nafas panjang, ia masih rindu dengan lion tapi tak bisa menolak titah mutlak sang ayah, lika pun mendudukkan diri di punggung lion, menungganginya seperti tengah menunggang kuda, kemudian berseru “ come on babyyy... Back to home”
“ biar kutemani lik, sekalian ada yang mau di bicarakan” ucap arjuna yang kemudian mengekori lion dari belakang.
“ jangan melewati jalan terjal ya sayangku” bisik lika pada sang singa seraya mengelus lembut pipi lion
“ katanya ada yang mau di bicarakan?” ucap tanya lika
“ eh iya lika, aku jadi lupa karena terpesona pada pemandangan di sini” jawab arjuna
“ jadi pak juna mau bilang apa?” tanya lika lagi
“ aku gak mau bilang apa-apa lik, tak ada yang harus dikatakan juga, aku hanya ingin bertanya, apakah kau bersedia menikah dengan diriku yang hina ini?”
Senyum arjuna menghilang saat mengatakan semua itu, wajahnya terlihat amat sangat serius.
“ Apa aku boleh menolaknya?” lika balik bertanya
“ aku tidak akan memaksa jika kau memang tak mau” jawab arjuna
“ Aku tidak ingin menikah untuk berpisah nantinya”
“ dan aku pantang memutuskan hubungan, seburuk apa pun wanita itu, aku tidak akan pernah meninggalkan dia setelah memilihnya”
Arjuna dan lika saling menatap dan melempar senyum, hingga tanpa terasa mereka tiba di kawasan para singa berada.
__ADS_1
Lika turun dari punggung lion, singa itu langsung berlari meninggalkan lika saat melihat singa betina kekasih hatinya, lika sampai tak habis pikir melihatnya.
Lika dan arjuna pun melangkah pergi dari kawasan hewan karnivora, berjalan kembali menuju rumah lika.
“ hutan ini sungguh indah lika, tak hanya pohon hijau yang rimbun, tanaman lainnya juga terlihat tumbuh dengan subur, bunga-bunga pun terlihat tumbuh segar” ucap arjuna
“ ayahku menyukai alam yang asri, ia membangun hutan ini agar bisa hidup dengan damai sesuai yang di impikannya”
“ tapi ayahmu pasti tak pernah bermimpi bahwa putri kesayangannya akan menjadi istri kedua dari seseorang bukan!”
“ kenapa kak juna selalu merendahkan diri seperti itu?”
“ bukan merendahkan diri lika, tapi kenyataannya memang begitu, tak ada yang bisa kau dapatkan dari pernikahan ini, karna hanya aku yang diuntungkan”
“ siapa bilang! Aku juga beruntung karna mendapatkan pria yang tampan”
“ ketampanan akan memudar seiring waktu lika”
“ begitu pun dengan aku kak! Mungkin di suatu hari nanti aku tidak akan lagi menguntungkan bagimu, mungkin juga aku akan sangat menyusahkan”
“ aku tidak keberatan dengan hal itu”
“ aku juga! Aku tidak keberatan untuk jadi istri kedua”
Mendengar itu tangan arjuna refleks menarik tubuh ramping lika ke dalam dekapannya, mengangkat dagu sang gadis dengan telunjuk untuk mendongak, memadu bola mata untuk saling menatap dengan lekat, mencari kejujuran dari sorot mata masing-masing.
Di atas jalan setapak kayu yang tengah mereka pijak, di samping air terjun buatan yang hendak mereka lalui, arjuna mencium lembut bibir lika.
“ kenapa ciuman kakak terasa kaku? Apa kakak gugup? ” Tanya lika setelah ciuman itu usai, walau pun wajahnya memerah, tapi mulutnya tak tahan untuk bersua
Arjuna tersenyum, ia kembali melangkahkan kaki, lalu berkata “ karna ini pertama kalinya aku berciuman, biasanya sama layla cuma saling memberi kecupan aja” dengan sangat pelan sampai tak dapat terdengar dengan jelas
“ kakak bilang apa? “ tanya lika seraya mengejar langkah arjuna yang berjalan mendahuluinya
“ tidak ada! Memangnya aku bilang apa?”
“Ichh... Kak juna mulai nyebelin deh!”
__ADS_1