Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 26. Terpesona


__ADS_3

Arjuna tengah bersiap dengan baju pasiennya, sebenarnya ia siap untuk masuk ke ruang rontgen, rasa gugup menghampiri presdir tampan itu, ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan membuka e-mail yang masuk melalui ponsel pintarnya, tapi hal itu tak banyak membantu.


“ jun! Ayo masuk!” seru dokter boy


Arjuna pun mendekat lalu berkata “ aku lupa mengabari beni, akan sangat merepotkan kalau dia sudah merajuk, beri aku waktu untuk menghubunginya, lima menit saja ” mencoba mencari alasan agar bisa mendapatkan waktu untuk menenangkan pikirannya dulu.


“ Biar aku yang menghubunginya, kau masuk saja” ucap dokter boy


Arjuna menganggukkan kepala, ia masuk untuk menjalani pemeriksaan, jantungnya berdebar sangat kencang, alat rontgen di dalam ruangan itu bahkan terlihat menakutkan.


Saat lika tengah sibuk dengan berkasnya, arjuna tengah menjalani pemeriksaannya, sementara itu, di sisi lain beni tengah mengeluh di dalam mobilnya, pria berkacamata itu sudah mendatangi mansion arjuna untuk menjemputnya, namun sayangnya arjuna tidak di rumah.


“ arjuna tidak ada di rumah, ia bahkan tidak pulang sejak kemarin” itulah yang layla katakan saat beni bertanya tentang keberadaan presdir tampannya itu.


Dan kini beni tengah dalam perjalanan menuju rumah bastian, tujuannya sama yaitu menjemput bos kesayangannya.


“ pagi paman! Pagi tante!” beni menyapa bastian dan devi yang kala itu tengah duduk di depan rumah sambil menikmati secangkir teh.


Beni mengintip ke dalam rumah, lalu bertanya “ di mana kak juna?”


“ juna pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan” jawab bastian


“ Apa? Kenapa kak juna pergi tanpa menungguku?” keluh tanya beni


“ mereka membuat janji jam 8, sementara kau kan selalu menjemput jam 9 di hari sabtu dan minggu”


“mereka? Maksud paman kak juna dan dokter malik? Dokter itu sudah setujukah?”


“ iya!” jawab bastian singkat


“ lika ko gak kelihatan ya? ” tanya beni ingin tahu,


“ lika kan pergi ke rumah sakit bersama kakak sepupumu ” ucap devi


Beni yang awalnya merasa senang, bahkan bertanya dengan antusias, langsung berubah mood setelah mendengar kabar tersebut.


Beni pamit dengan tergesa-gesa, hatinya tak tenang memikirkan arjuna tengah bersama dengan lika, ia takut kakak sepupunya akan di rayu oleh wanita yang ia juluki sebagai pelakor itu.


Ponsel beni berdering sesaat setelah ia tiba di rumah sakit, beni pun mengangkat panggilan dari dokter boy seraya berjalan turun dari mobilnya.

__ADS_1


Beni : hallo dokter boy


Dr. Boy : ben kak arjunamu sekarang di rumah sakitku, kami sedang...


Beni : melakukan pemeriksaan dengan dokter malik kan! Aku tahu! Sekarang aku sudah sampai di rumah sakit, apa anda bersama kak juna?


Dr. Boy : iya! Kami di ruang rontgen sekarang


Beni : baik aku ke sana sekarang


Beni setengah berlari ke ruang rontgen, ia celangak-celinguk mencari keberadaan lika, tapi ia tak melihat keberadaan wanita itu di mana pun, bahkan setelah sampai di ruang tunggu, hanya ada dokter boy yang ia temui di sana.


“ cepat sekali kau sampai” ucap dokter boy


“ di mana kak juna?” tanya beni tanpa basa basi


“ di dalam” jawab dokter boy santai


“ sama siapa?” tanya beni


“ petugas medis lah siapa lagi” jawab dokter boy


Dokter boy menghalangi beni seraya berkata “ eats.... Jangan masuk, hanya petugas medis yang boleh masuk ke ruangan itu, tunggu di sini saja!”


Beni menghela nafas lega, karna secara tidak langsung ia bisa memastikan bahwa lika tidak ada di dalam sana.


“ di mana dokter malik? “ tanya beni, pria itu melupakan sejenak tentang lika,


“ Di ruang rawat tuan arjuna” jawab dokter boy


Rasa penasaran membuat beni memilih untuk meninggalkan arjuna sejenak, lalu bergegas pergi ke ruangan yang di maksud, beni merasa sangat penasaran dengan wajah dokter malik yang belakangan membuatnya kerepotan.


Beni menghela nafas panjang sebelum membuka pintu ruangan itu, dan setelah pintu dibuka orang yang pertama kali beni lihat adalah lika.


Beni menerobos masuk begitu saja, ia memperhatikan keadaan sekeliling namun tak menemukan sesosok laki-laki pun di sana.


Lika tengah berdiri di depan nakas samping tempat tidur pasien yang kosong, iya yang tengah ragu untuk mengeluarkan dan memakai jas kebesarannya itu, terkejut dengan kedatangan beni yang tiba-tiba menerobos masuk begitu saja, mantan dokter itu juga merasa heran dengan tingkah beni.


“ cari siapa pak ben?” tanya lika, ia melipat kedua tanganya di dada seraya menatap beni dengan tatapan herannya.

__ADS_1


“ Di mana dokter malik?” tanya beni dengan ketus


Lika berbalik dan mengeluarkan jas dokternya, ia mengenakan jas dokternya, tak lupa ia juga menempelkan nametag di jas kebesarannya itu, ia kemudian berseru “ di sini pak ben! Saya dokter malika putri gunawan, dokter bedah yang pak ben dan kak arjun cari cari selama ini, ada perlu apa?”


Beni menajamkan pandangannya pada lika, ia berjalan mendekat kemudian membaca nametag yang terpasang di jas putih itu.


“ Drs. Malika putri gunawan. SpOT” gumam beni yang kemudian jatuh pingsan tepat di depan lika.


Lika berbalik lalu meraih telpon yang terpasang di dinding, ia menghubungi suster jaga dan meminta di kirimkan seorang perawat pria.


Hanya kurang dari lima menit seorang perawat pria pun masuk ke dalam ruangan itu.


“ tolong pindahkan dia ke atas tempat tidur” ucap lika santai


“ baik dok!” ucap perawat pria itu yang kemudian memindahkan tubuh beni ke atas tempat tidur.


Arjuna dan dokter boy pun kembali, keduanya setengah berlari memasuki ruangan saat melihat beni terkapar di atas tempat tidur, dan seorang perawatan pria yang berdiri di sisi ranjang.


“ beni kenapa lik? “ tanya arjuna panik


“ tenang! Pak beni baik-baik saja, dia hanya syok!” jawab lika


Perawat pria itu pun pamit untuk kembali melaksanakan tugasnya yang lain.


“ ini hasil rontgennya dokter malik!” ucap dokter boy seraya menyerahkan beberapa lembar hasil rontgen,


Lika menerimanya sambil tersenyum, ia kembali duduk untuk membaca hasilnya.


Dokter boy ikut mendudukkan diri di samping lika, ia memberitahukan beberapa hal penting, dan lika menyimak informasi yang diberikan profesor muda itu dengan baik.


Arjuna tertegun memperhatikan penampilan lika yang sudah mengenakan jas putihnya, iya terpesona melihat penampilan lika yang sangat jauh berbeda dari biasanya, aura wanita itu bahkan terpancar seperti sinar matahari yang bersinar dengan terang.


Entah kenapa, diskusi serius kedua dokter di hadapannya itu perlahan mulai tak terdengar, ia mendadak jadi tuli, lika tiba-tiba melepas ikat rambutnya, membiarkan angin kencang yang menerpa tubuh menerbangkan rambutnya yang panjang nan hitam, kertas-kertas di atas meja pun ikut terbang melayang bagai kelopak bunga yang ditebarkan ke arah lika.


Lika bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekat, menatap arjuna sambil tersenyum dengan begitu manis, tubuhnya sampai mendadak jadi lemas melihat pemandangan di depannya, yang tampak eksotik di mata seorang arjuna itu.


Semua yang arjuna lihat mendadak hilang seolah tak pernah ada saat ia merasakan sebuah cubitan di lengannya, lika terlihat masih berdiskusi serius dengan dokter boy, rambutnya pun masih terikat dengan rapi di sana, tak ada angin kencang atau pun kertas yang beterbangan.


“ Astagfirullahaladzim” gumam arjuna pelan saat menyadari semua yang ia lihat hannyalah khayalan semata.

__ADS_1


__ADS_2