
Saat sang mentari mulai kembali ke peraduan, jangkar mulai di naikkan bersama dengan suara terompet keberangkatan yang mulai dibunyikan, kapal pesiar mulai pun perlahan mulai berjalan menjauhi dermaga.
Sebagian penumpang memilih menikmati pemandangan, dan sebagian lagi sibuk menyiapkan diri untuk pesta pembukaan yang akan di gelar nanti malam.
Di dalam kapal pesiar yang penuh kegembiraan mungkin hanya dia yang dilanda kegalauan, Arjuna terus gelisah karna Lika tak kunjung terlihat meninggalkan kamar Arsena.
Dan saat melihat pintu kamar itu terbuka Arjuna malah bersembunyi, ia masuk ke dalam kamar kosong yang berada tepat di samping kamar itu, berusaha menguping pembicaraan dari sana.
“ terima kasih untuk segalanya” pamit Lika pada keluarga candra
“ jangan sungkan Lika, aku sudah menganggapmu sebagai putriku sendiri, datanglah kapan pun saat kau membutuhkan bantuan” ucap nyonya Iren tulus.
Lika tersenyum kemudian memeluk nyonya Iren dengan penuh haru, tuan Aditya pun mengusap punggung sang istri sambil tersenyum bangga akan kebaikan hatinya.
Arjuna tidak tahu siapa yang tengah berbicara dengan Lika kala itu, tapi ia merasa senang, karena ternyata sang istri tidak hanya berduaan dengan arsena.
Arjuna pun berhenti menguping, ia menghela nafas panjang seraya menyadarkan dirinya di daun pintu, sang presdir tampan itu akan menunggu beberapa saat, agar saat keluar dari sana ia tidak bertatap muka sang istri.
Namun apa yang terjadi?
Tiba-tiba saja Arjuna merasakan ada seseorang yang menggerakkan hendel pintu, tampaknya ada yang tengah berusaha membuka pintu itu dari luar.
Kepanikan yang melanda membuat sang presdir tampan menahan pintu itu, ia sedak tak bisa berpikir jernih, Arjuna tidak tahu harus berbuat apa? Jika pun harus bersembunyi, maka harus sembunyi di mana?
“ kenapa pintunya tidak bisa di buka?”
Arjuna tersentak saat mendengar suara dari balik pintu, suara itu jelas suara sang istri, merasa semakin terdesak Arjuna pun bergegas mencari tempat untuk sembunyi, ya! Tidak ada pilihan lain saat ini, dan ia memilih lari untuk sembunyi di dalam kamar.
Setelah Lika berhasil membuka pintu, ia mengecek hendel pintu itu sebelum menutupnya, karna ia berpikir bisa gawat jika pintunya benar-benar macet, dan tidak bisa di buka saat Lika berada di dalam, ia tak ingin sampai terkunci sendirian.
__ADS_1
Lika merasa heran karna ternyata tidak ada yang salah dengan pintu itu, tubuhnya jadi merinding tak kala ia jadi membayangkan yang tidak-tidak.
Lika mengamati keadaan sekeliling, mencari sesuatu yang tak dapat terlihat, mana tahu ada pria mesum yang menyusup masuk, ia khawatir akan di terkam saat tengah sendiri di tengah malam.
Lika mencari di balik sofa, di bawah meja, kemudian berpindah ke area dapur, Lika jadi takut saat menatap pintu kamar tidur, pasalnya ia tidak berhasil menemukan siapapun, jadi ada kemungkinan penjahatnya bersembunyi di dalam kamar.
Di ambilnya sebilah tongkat golf, ia berjalan mengendap-endap menuju kamar tidur, saat pintu kamar di buka, di saat itu pula Arjuna masuk ke kamar mandi.
Ya! Arjuna terus mengamati pergerakan Lika dari lubang kunci, karnanya ia tahu saat Lika hendak masuk ke dalam kamar.
Arjuna memang berhasil sembunyi, namun jantung sang presdir tampan itu terus berdetak kencang, ia masih belum bisa tenang sampai berhasil keluar dari sana.
Lika kembali mencari di sela lemari, di dalam lemari, hingga di bawah meja kerja, dan sekarang tinggal kamar mandi.
Saat Lika membuka pintu kamar mandi, ia juga tak mendapati siapa pun di sana, terang saja! Karna saat ini Arjuna tengah bersembunyi di dalam bathtub, dan area itu diberi tirai sebagai pembatas dengan area toilet, sementara area shower sama seperti pada umumnya, di kelilingi dinding kaca sebagai pembatas .
Arjuna semat panik saat melihat tangan Lika yang hendak menyingkap tirai pembatas, namun pria tampan itu kemudian menghela nafas kasar dan akhirnya memilih untuk pasrah.
Lika: Hallo, iya yah...
Rupanya yang menghubungi Lika adalah Gunawan, Arjuna sangat berterima kasih pada sang mertua, karna tanpa disadari tindakannya telah menyelamatkannya untuk sesaat.
Gunawan: ka di mana?
Lika: di kamar yah, ada apa?
Gunawan: Devi menanyakan dirimu, katanya mau mengajakmu ke salon untuk persiapan pesta, segeralah kemari nak!
Lika: iya yah, Lika mandi dulu sebentar, nanti Lika ke sana
__ADS_1
Walau tak mendengar apa yang Gunawan sampaikan, namun Arjuna mendengar ucapan Lika, tubuh sang presdir tampan menegang saat menyadari panggilan telepon itu telah berakhir.
Lika yang tidak tahu tentang keberadaan sang suami pun melupakan inspeksi nya, ia meletakan tongkat golf di sudut ruangan, melepaskan baju yang ia kenakan satu persatu dengan begitu santai.
Arjuna memang tak melihat tubuh Lika karna tirai penghalang itu, tapi tubuhnya memanas saat mendengar suara gemerencik air, fantasinya menggambarkan bagaimana seksinya tubuh polos sang istri.
Dan pikirannya membayangkan dirinya keluar dari sana, menghampiri Lika dan memeluk tubuh polos istrinya itu.
Arjuna menghayalkan dirinya mencumbu sang istri di bawah guyuran air shower, begitu intens, begitu mesra, hingga tanpa sadar Arjuna menyentuh senjata miliknya dan melakukan pelepasan seorang diri.
Gila...
Ya! Arjuna memang gila, karna begitu ingin ia jadi membayangkan yang enak-enak, tapi tak punya keberanian untuk menjadikan khayalan itu sebagai kenyataan, karna kenyataannya jangankan menyentuh atau sekedar mendekati, ia bahkan tak punya keberanian untuk terang-terangan menatap sang istri.
Kamar mandi itu sudah hening saat Arjuna tersadar dari khayalannya. Sang presdir tampan pun mengintip ke luar dan mendapati kamar mandi itu sudah kosong.
Arjuna merutuki dirinya sendiri setelah melihat keadaanya, ia pun di landa kebingungan, bagaimana caranya keluar dari sana?
Arjuna sadar betul, dirinya akan dipermalukan jika sampai ada yang melihat kondisinya saat ini, bukan karna rambut atau wajah yang berantakan, masalahnya ada pada celana yang basah itu, tak mungkin kan ia keluar dengan tanpa menanggalkan celana atau mengenakan pakaian Lika yang ada di dalam kamar itu.
Arjuna keluar dari kamar mandi setelah memastikan Lika tidak ada di dalam kamar, ia mulai menghela nafas lega saat mendengar suara pintu di tutup, Arjuna meyakini bahwa Lika telah pergi meninggalkan kamarnya.
Bersamaan dengan Arjuna yang membuka pintu kamar tidur, pintu kamar itu pun terbuka, Arjuna dan Gunawan pun bertemu pandang, keheningan pun tercipta untuk memberikan waktu untuk keduanya merasa terkejut atas kehadiran satu sama lain.
“ Sedang apa kau di dalam kamar tidur putriku?” tanya Gunawan dengan melempar tatapan tajam, nada bicaranya terdengar sinis.
“ belum ada tiga bulan yah! Dia masih istriku, aku harap ayah mertua tidak lupa akan hal itu” ucap Arjuna seraya berjalan.
Arjuna awalnya memasang wajah tenang, ia juga mempersembahkan senyuman termanisnya pada sang ayah mertua, tapi setelah berhasil keluar ia langsung mengusap dadanya, menghempaskan ketegangannya dengan menghela nafas kasar.
__ADS_1
Keadaan koridor yang sepi menguntungkan Arjuna, sang presdir tampan pun bisa masuk ke dalam kamarnya dengan selamat, tapi jantungnya masih belum aman, detaknya masih kencang seperti genderang yang bertalu-talu saat hendak perang.