
Aku terus mempresentasikan bahan dari ayah kurang lebih 2 jam pemaparan, aku tidak menyangka bisa selama itu. Ini benar - benar sungguh menyebalkan tapi mau bagaimana lagi aku harus melakukannya
"Baiklah tuan - tuan saya telah memaparkan semuanya kepada anda, apakah ada pertanyaan?" tanyaku dengan sopan
"Aku mau bertanya, kamu anak satu - satunya tuan Lan itu," tanya Michel dengan lembut
"I... iya tuan"
"Waah... cantik juga ya" gumam Michel dan Steven hanya bermuka dingin tanpa kata
"Ada yang ingin kamu tanyakan Steven?"
"Ada.. Aku ingin berbicara empat mata dengannya" ucap Steven tegas dan dingin
"Iihh kenapa harus empat mata" protes Michel
"Sekarang!!!"
"Baik... baiklah" gumam Michel meninggalkan ruangan rapat dan menutup ruang rapat dengan rapat
Dan di ruang rapat hanya tinggal aku dan Steven saja, dia hanya diam dan menatapku dengan dingin. Aku sendiri hanya diam dan menunduk takut untuk menatap Steven.
Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekatiku, aku sangat ketakutan aku tidak tahu kenapa air mataku keluar dari sudut mataku. Tiba - tiba ada sebuah tangan yang memegang daguku dan mengangkatnya ke atas sehingga aku bisa melihat wajah tampan Steven yang nenatapku dengan dingin
"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu..." ucap Steven dengan dingin dan aku hanya diam tanpa kata
"Kau tahu kan apa artinya!!"
"A... ampun tuan, ak... aku hanya disuruh ayah aja"
"Tidak ada ampun untukmu, sudah aku katakan dua kali padamu jadi apapun yang terjadi kamu adalah milikku" ucap Steven dingin dan mengelus pipiku dengan lembut
"Milikmu?" tanyaku kaget
"Ya... seluruh tubuhmu adalah milikku seorang"
"Ta.. tapi!!"
"Tidak ada tapi, asal kau tau Sani... apapun yang sudah jadi milikku tidak akan ada yang bisa merebutnya... PAHAM!!" ucap Steven dingin dan tegas
Aku kalau masih perawan disukai oleh laki - laki tampan dan kaya seperti ini aku bersedia menikah dengan dia, tapi aku hanya wanita kotor yang tidak pantas dengannya
"Maaf tuan ... aku... aku tidak bisa" ucapku dan segera meninggalkan ruang rapat tapi tidak disangka Steven mendorongku ke belakang dan badanku terpojok di dinding dan tidak bisa bergerak, tiba - tiba Steven mencium bibirku dengan lembut
"Itu hukumanmu karena kamu menolakku" ucap Steven dingin dan aku hanya kaget sambil menutup bibirku
"Ingat perkataanku Sani, apapun yang terjadi kamu tetap milikku" bisik Steven di telingaku sampai aku merasakan nafas Steven yang sangat menggebu - gebu dan aku hanya terdiam di pelukannya
"Kamarin kamu kenapa tidak ikut pesta denganku?" tanya Steven menatapku
"Ma... maaf tuan, a... aku kemarin belajar untuk presentasi hari ini... ja... jadi aku tidak bisa ikut" gumamku beralasan
"Baiklah... kamu bagus juga presentasi hari ini... jadi aku maafkan perbuatanmu kemarin ... jadi mulai sekarang kamu akan menjadi sekretaris pribadiku"
__ADS_1
"Se.. sekretaris pribadimu??" tanyaku kaget
"Iya..."
"Tapi...pa... pasti ayahku tidak setuju" gumamku menolak
"Dengar ya, tidak ada yang bisa menolak apapun kemauanku... jadi besok kamu mulai untuk bekerja menjadi sekretarisku"
"Aku gak mau" protesku mencoba melepaskan tubuhku dari Steven
"Mau tidak mau, kamu harus datang kemari setiap hari kalau tidak... aku hancurkan perusahaan keluargamu dan juga keluargamu"
"Ta... tapi aku kuliah"
"Kalau begitu mulai besok kamu tinggal bersamaku... jadi untuk kuliah aku antar kamu"
"Tidak... tidak perlu, baiklah aku akan datang kemari sebelum atau setelah kuliah" gumamku mengalah
"Anak cerdas, kalau kamu tidak datang aku akan membawamu secara paksa"
"Ke.. kenapa?, aku seperti tahananmu aja!!"
"Kamu emang tahananku rumahku, kemari... kamu harus menandatangani surat ini" ucap Steven menarikku duduk di kursi
"Surat apa?" tanyaku takut
"Surat perjanjian kontrak"
"Perjanjian kontrak kamu menjadi sekretaris pribadiku dan selalu milikku"
"Tapi...."
"Tanda tangan gak!!!" protes Steven memaksaku
"Tapi aku ada syarat"
"Syarat apa?"
"Kamu siap untuk menepatinya atau tidak" gumamku dingin
"Baiklah aku siap menepati semua syaratmu, tapi aku juga punya syarat untukmu"
"Kenapa kamu punya syarat juga!!" protesku
"I don't care... apapun syaratmu aku penuhi, aku hanya punya tiga syarat untukmu selain tanda tangan kontrak ini" ucap steven berbisik di telingaku
"Apa syaratmu?"
"Yang pertama, kamu harus menyerahkan seumur hidupmu menjadi milikku, yang ke dua kamu harus tinggal di rumahku seumur hidupmu, dan yang ketiga kamu harus bersama denganku menemaniku dimanapun dan kapanpun seumur hidupmu... bagaimana?" tantang Steven
"Hei... banyak sekali maumu!!" protesku
"Tapi kan seimbang dengan syarat apapun yang kamu mau aku turutin"
__ADS_1
"Tapi aku tidak setuju dengan kata SEUMUR HIDUPKU!!" protesku
"Ya udah kamu maunya berapa tahun?... 5?... 10?... 15?..."
"2 tahun saja" gumamku
"2 tahun saja... huuuhhh pendek sekali" gumam Steven kesal
"Mau gak?"
Okelah.. tapi kamu harus melakukan semua syaratku"
"Baiklah... aku setuju.. tapi aku punya syarat untukmu"
"Apa syaratmu.. ?"
"Yang pertama kamu harus memberiku semua yang kamu punya termasuk rumah, uang, kartu kredit, transportasi, perlindungan, dan lain - lain yang kamu punya"
"Baiklah... lalu?"
"Yang kedua jangan sampai tahu orang lain tentang hubungan kita apapun yang terjadi, anggap saja kamu tidak kenal aku"
"Baiklah"
"Yang ketiga aku mau tidur di rumahmu dengan syarat aku tidak sekamar denganmu"
"Itu bisa diatur"
"Yang terakhir ... jangan kekang aku, aku mau apapun sesuka apapun aku jadi kamu gak boleh melarang"
"Baiklah syaratmu terlalu mudah... aku akan menuruti semua keinginanmu, sekarang tanda tangani surat perjanjian kontrak itu!!"
"Baik... baiklah" gumamku menandatangani surat tersebut dengan sedikit terpaksa
"Bagus anak pintar" gumam Steven mengelus rambutku dengan lembut
"Ini kunci akses kartu rumah, kunci brankas, dan kartu kredit tanpa batas milikku" ucap Steven menyerahkan barang berharganya kepadaku
"Waaah Black card...!!!" ucapku kaget
"Ya... kartu itu menjadi milikmu, kamu mau belanja apapun sesuka kamu aku tidak melarangnya... tapi ingat semua syarat dan perjanjianmu"
"Ashiyap.." ucapku senang
"Jangan lupakan perjanjiannya"
"Iya... iya bawel!!" protesku
"Baiklah... kamu pulang aja dulu, besok datang kembali kemari" ucap Steven mengelus rambutku
"Baik... " ucapku senang dan keluar dari ruang rapat dengan girang
Aku tidak menyangka Steven ternyata sebaik itu memberikanku kunci akses rumah, kunci brankas dan kartu kredit tanpa batasnya. Jadi aku tidak akan meminta uang ayah lagi dan aku bakal memberikan ayah gajiku sebagai sekretaris pribadinya Steven Huan
__ADS_1