Merubah Takdir

Merubah Takdir
Episode 44 : Bertemu Raja Iblis


__ADS_3

Hari ini aku bangun tidur terlalu pagi, ya mungkin karena aku semalam tidur masih belum malam banget sehingga aku bisa terbangun sepagi ini. Aku segera mandi dan berdandan di meja riasku, saat aku menyisir rambutku aku merasa ada yang menatapku dengan dingin


"Kamu kenapa menatapku dengan dingin seperti itu Nana?" gumamku menatap Nana


"Tidak ada, aku cuma terkejut kamu duduk disitu pagi - pagi buta" desah Nana kembali berbaring


"Oh ya? Maaf membuatmu terkejut"


"Ya tidak apa - apa kok"


"Oh ya kamu tumben udah bangun?" desah Nana


"Aku terbangun saja tadi terus mandi" gumamku


"Oh pasti karena kamu tidur masih sore mungkin"


"Ya mungkin saja" gumamku meletakkan sisirku dan duduk di atas tempat tidurku


"Kamu tidak mandi?"


"Tidak, nanti saja. Masih ada waktu tiga jam jadi aku mau tidur lagi" gumam Nana memejamkan matanya dan tidur membelakangiku


"Ya tidurlah nanti aku bangunin" gumamku


"Apa ini?" gumamku pelan saat melihat ada sesuatu di bawah bantal dan aku segera mengambil kertas di bawah bantalku


"Temui aku di atap asrama matahari... Leo" gumamku pelan


"Kenapa dia ingin bertemu denganku? Sejak kapan dia menaruh kertas itu di bawah bantal?"gumamku meremas kertas itu dan membakar kertas itu dengan kekuatanku


"Menyusahkanku.." desahku turun dari tempat tidur lalu melangkah pelan dan aku berpindah di atap asrama.


Aku melihat ada seseorang laki - laki berbaju putih berkulit putih yang berdiri di tengah atap dan menatapku dengan mata birunya sambil tersenyum kepadaku


"Akhirnya kamu datang, Putri Sani" gumam Leo tersenyum licik


"Ada urusan apa kamu ingin bertemu denganku" gumamku dingin


"Ya aku ingin mengobrol santai denganmu sambil memandangi sinar rembulan" desah Leo


"Kamu mau ngobrol masalah apa?" gumamku dingin


"Kamu tahu kamu siapa?"


"Lalu?"


"Ya aku cuma bertanya itu"


"Cuma itu doang? Heeh buang - buang waktuku" gumamku kesal dan membalikkan badanku


"Jadi kamu memilih siapa?"


"Bukan urusanmu" gumamku


"Heeeh, dingin banget... Apa yang sudah dilakukan Steven kepadamu dan membuatmu jadi dingin bigini terhadap suamimu?"


"Sejak kapan kau punya suami seorang raja Iblis" gumamku menatap Leo kesal

__ADS_1


"Oh kamu sudah tahu aku ya? Baguslah"


"Heehh..."


"Siapa yang kamu pilih aku atau Steven?"


"Bukan urusanmu" gumamku kesal namun tiba - tiba Leo berdiri di belakangku dengan cepat


"Dengar ya, apapun yang terjadi kamu milikku" bisik Leo di telingaku


"Aku bukan milik siapa - siapa" gumamku dingin lalu Leo memegang daguku dan memalingkan wajahku ke kanan sehingga aku bisa menatap dia dengan dekat


"Pokok intinya kamu milikku, paham" ucap Leo dingin


"Aku bilang bukan milik siapa - siapa ya bukan milik siapa - siapa, apa kamu tidak mendengarnya!!!" ucapku kesal dan tidak sengaja kekuatanku keluar sehingga dia terpental kebelakang dan menyebabkannya muntah darah


"Heeh ini pertama kalinya aku seorang raja iblis bisa terluka karena seorang wanita, memang tidak salah kalau kamu campuran darah manusia, vampir, dan iblis atau dalam bahasa kami kamu iblis setara denganku. Hmmm kalau kita menikah pasti kerajaan iblis akan berjaya Hahaha" tawa Leo yang membuatku muak


"Bodo amat, jangan menggangguku lagi" gumamku kesal sambil melangkahkan kakiku dan aku berpindah di depan pintu kamar


"Buang - buang waktuku" gumamku kesal sambil memegang pegangan pintu dengan tanganku


Saat aku ingin membuka pintu kamar aku merasa ada yang menatapku dingin dari jauh. Dikejauhan aku menatap Steven yang berdiri di atas atap gedung sekolah dengan wajah yang terlihat kesal


"Kenapa kamu menatapku dengan kesal seperti itu?" gumamku dingin dan Steven tiba - tiba berpindah di sampingku


"Kamu kenapa bertemu dengan laki - laki itu?"


"Tidak ada. Aku cuma bertanya saja kenapa dia ingin bertemu denganku"


"Ya dia bilang kalau aku ini wanitanya" gumamku


"Cuma itu?"


"Iya cuma itu aja" desahku dingin


"Aku tadi melihat dia terluka, apa itu kelakuanmu?"


"Ya karena dia memaksaku terus dan pembahasan yang tidak bermutu jadi membuatku kesal" gerutuku


"Oh...Baguslah kamu punya banyak perkembangan "


"Udah lah kamu pergi sana, kamu juga jangan membuatku kesal" gumamku membuka pintu kamarku


"Jangan lupa dengan janjimu" gumam Steven menghilang


"Iya aku tahu" gumamku masuk ke dalam kamar dan duduk di atas tempat tidurku


"Kamu dari mana saja Sani?" gumam Nana menatapku


"Aku ada urusan sebentar tadi" gumamku merebahkan tubuhku


"Pagi buta ini kamu punya urusan?"


"Iya, aku baru bertemu seseorang"


"Siapa?"

__ADS_1


"Orang yang tidak ingin kau temui" desahku menutup mataku


"Oh, Steven ya?"


"Bukan"


"Bukan? Lalu siapa?" tanya Nana penasaran


"Kamu juga pastinya tahu Nana" gumamku berbaring membelakangi Nana


"Aku? Apa yang aku ketahui kalau kamu tidak memberitahuku" gerutu Nana kesal


"Udah tidur sana lagi" gumamku menatap gantungan kelelawar di tanganku


"Hmmm baiklah" desah Nana membelakangiku


"Aku harus memperdalam ilmuku lagi" gumamku pelan dan terduduk bersila di tempat tidurku


Aku berfokus mengumpulkan energi jiwa vampirku di mataku selama beberapa jam dan membuka kedua mataku. Setelah aku membuka mataku, aku menoleh ke arah dinding dan aku bisa melihat burung yang sedang terbang melintasi depan jendelaku


"Waah ini ya yang dinamakan mata vampir" gumamku terkejut dan menatap jam yang ada di dinding


"Oh udah pukul 7 pagi ya" gumamku turun dari tempat tidurku dan membangunkan Nana yang sedang tertidur


"Nana bangun udah jam tujuh" gumamku menggoyang - goyangkan badan Nana


"Ntar lagi aku ngantuk"


"Hei sudah jam tujuh tau!! protesku menarik tangan Nana


"Hmmm iya - iya aku sudah bangun nih" desah Nana dan terkejut saat menatap mataku


"Kamu kenapa seperti terkejut?"


"Ti... Tidak ada" desah Nana menundukkan kepalanya dan turun dari tempat tidur


"Aku mau mandi dulu" gumam Nana berjalan menuju ke kamar mandi


"Dia kenapa sih?" gumamku menatap wajahku di kaca


"Wajahku juga tidak terlihat kalau aku vampir kok, kenapa dia terkejut" gumamku bingung


"Haaah... Mengumpulkan energi jiwa menguras banyak energiku juga" desahku berbaring di tempat tidurku lagi, kata - kata Leo mengganggu pikiranku


"Siapa yang ku pilih ya? Hmm aku sendiri tidak tahu" desahku


"Ibu, beri tahu aku jawaban untuk pertanyaan ini" gumamku memejamkan mataku sambil memegang kalung ibuku


"Apa yang kamu lakukan Sani?" gumam Nana yang sudah siapĀ  menatapku


"Tidak ada kok, kamu sudah siap?"


"Udah, ayo buruan nanti kita terlambat" gumam Nana berjalan ke depan pintu


"Iya - iya sabar" desahku mengambil tasku dan menyusul Nana yang sudah ada di depan pintu


Aku dan Nana berjalan besama menuju ke kelas untuk mengikuti pelajaran hari ini, Setelah berjam - jam aku mengumpulkan energi jiwaku membuatku bisa melihat orang - orang di hampir satu kilo jauhnya selain itu aku juga bisa melihat siapa saja yang manusia biasa dan siapa saja yang vampir, dari vampir Level B sampai vampir level E. Tapi aku sangat menikmati hal ini

__ADS_1


__ADS_2