
Aku mulai belajar dengan serius tapi suasana yang ada di sekitarku yang membuatku tidak fokus apalagi setelah mendengar pernyataan dari Steven kalau aku punya campuran darah vampir dan iblis yang masih tidak aku mengerti sama sekali apa maksudnya.
"Eehh tapi tunggu, ibu kan juga campuran vampir dan iblis juga, tapi kenapa harus aku? " gumamku masih tidak mengerti
"Ya Tuhan kenapa aku selalu berada di dalam masalah seperti ini" desahku sedih
"Aku cuma pengen kayak manusia biasa lainnya" desahku membaca bukuku kembali
"Kenapa wajahmu terlihat sedih seperti itu?" gumam Steven yang sedang duduk santai di depanku
"Ka... Kamu, hmmm mengagetkanku saja" desahku
"Apa yang membuatmu sedih?"
"Tidak ada, aku cuma bingung aja kenapa bukan ibuku yang membantu kalian vampir dan iblis. Kenapa harus aku?" gumamku memainkan bolpointku
"Karena kamu punya 3 darah campuran manusia, vampir, dan iblis. Ya bisa dibilang kamu vampir level C di kaum vampir"
"Level C, emang ada level - levelnya?"
"Ada, Level A itu vampir darah murni, Level B itu vampir darah campuran antara vampir dan iblis, Level C itu vampir darah campuran antara vampir, iblis, dan manusia, Level D itu vampir yang dulunya manusia yang pernah di hisap oleh vampir Level B atau vampir Level C, dan Level E itu vampir paling rendah"
"Vampir Level rendah? kenapa disebut vampir level rendah?"
"Ya kalau kami menyebutnya vampir budak, vampir level E ini dulunya manusia yang pernah di gigit oleh vampir darah murni"
"Vampir darah murni? Jadi kamu?"
"Ya aku vampir darah murni" gumam Steven mendekatkan wajahnya di depanku
"Vampir darah murni? Jangan mendekatiku!!" gumamku ketakutan
"Hei kamu juga vampir, menggigitmu juga tidak membuatmu menjadi vampir Level E"
"Mana ada, aku manusia!!" protesku
"Manusia yang punya taring dan mata merah?"
"Ini udah dari dulu tahu" gumamku kesal
"Ya makanya aku udah bilang kan kamu manusia istimewa, berbeda dengan manusia lainnya. Apalagi darahmu beraroma harus banget " gumam Steven menunjukkan taring dan matanya yang merah menyala
"Ka... Kamu mau apa?" gumamku takut
"Ya ingin ku menggigitmu apalagi aku sudah lama tidak menghisap darah manusia langsung, tapi tidaklah aku masih membutuhkanmu kedepannya" gumam Steven mengembalikan warna matanya semula
"Membutuhkanku? Untuk apa?"
"Ya kita tidak tahu kedepannya nanti"
"Ya semoga kamu tidak terjadi apa - apa" gumamku menutup bukuku
"Oh ya jadi kalau vampir darah murni itu selalu bangsawan?"
"Tidak juga, cuma kamu beruntung saja ketemu denganku yang asli bangsawan"
"Apa untungnya? Gak ada untungnya" gumanku
"Ya ada untungnya, kamu tidak digigit oleh vampir lain"
"Emang ada vampir lain di dunia manusia?"
"Menurutmu?"
"Selama aku hidup aku cuma sekali bertemu kamu seorang vampir" gumamku
__ADS_1
"Di dunia manusia berkeliaran iblis dan vampir"
"Oh ya? Aku tidak percaya" gumamku
"Baiklah aku akan menunjukkan kepadamu" gumam Steven menjentikkan tangannya
Kliiikkk
Tiba - tiba kami berada di depan kampusku, bulan purnama bersinar sangat indah di atasku dan Steven langsung merubah penampilannya menjadi manusia biasa
"Ini di depan kampus?" gumamku menatap kampusku yang gelap tanpa cahaya lampu mirip di waktu aku pulang larut malam
"Ya"
"Kalau tahu gitu kenapa naik mobil" gumamku
"Biar tidak di curigai manusia"
"Jadi mana vampirnya?"
"Tuuh" gumam Steven menunjuk ke sekitar kami
"Itu manusia biasa" gumamku tidak percaya
"Liat baik - baik" gumam Steven serius dan aku manatap orang - orang yang ada dengan serius
"Mereka punya taring?" gumamku kaget
"Ya, mereka diantara manusia biasa?" gumamku bingung
"Ya, pandai kan vampir menyembunyikan identitasnya"
"Hmmm masa? Jangan - jangan ini ilusi yang kamu buat?"
"Ya kan bisa jadi"
"Ini kehidupan nyata Sani, kalau kamu tidak percaya kalau ini nyata. Kamu masuklah ke lorong itu" gumam Steven menunjuk ke suatu lorong yang ada di depan kampus
"Aku?"
"Ya, masuklah" gumam Steven serius
"Baiklah, aku akan membuktikan ini bukan nyata" gumamku masuk ke dalam lorong dengan semangat
Aku memasuki lorong yang gelap dan hanya ada satu lampu jalan yang terlihat remang - remang. Aku berjalan dengan santai di dalam lorong sendirian.
Selama berjalan aku melihat banyak orang yang melewatiku, karena lorong yang aku lalui sangat sempit tidak sengaja tanganku tergores kawat besi dan membuat tanganku berdarah.
"Adduuhhh" desahku menahan sakit
Aku terus berjalan sambil memegang lengan tanganku yang terluka. Namun selama aku berjalan aku merasa banyak pasang mata yang menatapku.
"Hei gadis kecil kamu tidak apa - apa?" ucap seorang laki - laki di depanku
"Ti... tidak apa - apa" gumamku takut
"Mmmm bau darah yang langka, terasa sangat manis" ucap seorang laki - laki yang ada di sebelahnya, laki - laki itu memancarkan mata merah yang sangat bersinar dan taring yang sangat tajam berjalan mendekatiku
"Jangan mendekat" gumamku takut sambil terus melangkah mundur
"Ini tidak akan sakit kok" ucap dua orang yang seperti haus akan darah
"Jangan mendekat" ucapku ketakutan
"Aku mau juga" ucap beberapa orang yang datang mendekatiku.
__ADS_1
Aku sangat ketakutan ternyata yang dibilang Steven itu benar adanya. Aku bingung harus berbuat apa "Steven tolong aku" gumamku dalam hati sambil memejamkan mataku
Tiba - tiba angin berhembus kencang dan orang - orang yang datang kepadaku berhenti mendekat, aku membuka mataku dan aku melihat Steven berdiri di depanku
"Siapa kamu?" protes seorang laki - laki yang ada di depanku
"Bukan urusanmu" gumam Steven dingin
"Minggir kamu!!"
"Kalau aku tidak mau gimana?" guman Steven santai
"Baiklah jadi makanan kami saja" teriak seorang laki - laki di depan kami berlari dengan semangat
Namun belum sampai mengenai kami, laki - laki yang berlari kearah kami itu menghilang hanya tinggal pakaian yang dipakainya saja
"Heeeh cuma Level D" gumam Steven santai
"Ka... Kamu siapa?" tanya seorang laki - laki yang terkejut
Tiba - tiba langit mengeluarkan petir berwarna merah dan Steven mengubah penampilannya memakai jubah hitam dan sebuah mahkota yang ada di atas kepalanya
"Menurutmu?" gumam steven dingin dengan taring yang sangat tajam
"Ya... Yang mulia" ucap semua orang yang ada menunduk hormat
"Apa yang kalian lakukan terhadap dia?" ucap Steven dingin yang membuat semua orang yang ada disitu diam tanpa kata
"Jaawaaab!!!" teriak Steven yang membuat petir merah terdengar dengan keras
"Eemmm... Maaf ya... Yang mulia, kami tidak melakukan apapun" ucap seorang laki - laki di depan kami
"Bohong!!" teriak Steven yang membuat petir di atas kami terus terbunyi dengan keras
"Ma... Maaf yang mulia, ka... Kami tidak tahu kalau wanita ini spesial untuk tuan"
"Ingat kalian, dia adalah wanitaku kalau sampai dia terluka. Nyawa kalian yang menjadi bayarannya. MENGERTI!!!" teriak Steven yang membuat kami semua ketakutan
"Ba... Baik yang mulia"
"Baiklah, kalian boleh pergi" gumam Steven dan orang - orang yang mengelilingiku pergi dari hadapan Steven. Steven menatapku yang sedang menahan ketakutan dan juga menahan sakit karena terluka
"Kamu tidak apa - apa?" gumam Steven meraih tanganku yang terluka
"Ti... Tidak apa - apa" gumamku menahan sakit
"Kan aku sudah bilang, ini nyata kamu tidak percaya malah jadi terluka kan" gumam Steven berjongkok di depanku sambil menjilat darah yang keluar dari tanganku
"Apakah masih sakit?" gumam Steven dan luka tanganku langsung sembuh sendiri
"Sembuh? Kok bisa sembuh?" ucapku kaget
"Hmmm emang darah keturunan tiga campuran itu rasanya enak" gumam Steven berdiri di depanku
"Maksudnya?" gumamku bingung
"Udah, ayo kita kembali dulu. Kamu harus istirahat" gumam Steven menjentikkan jarinya dan kami kembali ke kerajaan Steven tepatnya di kamar yang bagaikan gua yang sangat pengap
"Kamu istirahatlah dulu" gumam Steven berjalan meninggalkanku
"Tunggu Steven"
"Iya?"
"Terimakasih telah menyelamatkanku tadi" gumamku dan Steven berjalan meninggalkan kamar tanpa menjawab apapun
__ADS_1