
Aku yang dari tadi berjalan mengelilingi asrama yang sangat besar itu sampai membuat kakiku terasa capek sekali tapi aku sendiri masih belum mendapatkan cara masuk ke dalam asrama
"Aaaahhh... Kesal... kenapa tidak ada cara masuk ke dalam!!" protesku kesal
"Tuan putri kenapa berada disini?" gumam bawahan Steven yang mengagetkanku
"Ahh kebetulan, aku ingin masuk ke dalamnya tapi tidak bisa masuk. Bisakah membantuku?"
"Perintah Yang mulia, tuan putri tidak boleh melakukan hal yang aneh - aneh"
"Aku ingin bertemu dengan Steven" desahku
"Tapi perintah Yang Mulia..."
"Kamu berani melawanku!!!" gumamku kesal
"Ti... Tidak tuan putri.."
"Bagus, jadi bantu aku melewati dinding tinggi ini sebelum mereka keluar" gumamku
"Ba... Baik tuan putri" gumam bawahan Steven membaca sesuatu di mulutnya dan membuatku berada di depan pintu utama asrama milik Steven
"Asrama vampir" gumamku membaca papan nama yang terpasang di dinding
Aku membuka pintu besar itu dengan hati - hati dan melihat di dalam asrama yang sangat sepi dan juga luas sekali, aku masuk ke dalam asrama vampir dengan pelan dan hati - hati
"Hei siapa kamu?" ucap seseorang laki - laki bermata merah biasa menatapku dengan tajam
"Aku..."
"Waah kamu manusia ya? Berani - beraninya kamu masuk ke wilayah kami, ingin jadi makanan kami?" gumam laki - laki itu dengan semangat menunjukkan taringnya
"Heeh siapa juga yang mau menjadi makananmu, aku cuma ingin bertemu dengan Steven" gumamku santai
"Lancang ya kamu memanggi raja kami hanya dengan nama" protes laki - laki itu dengan marah
"Lalu kenapa? Kamu mau membunuhku?" gumamku kesal yang membuat mata marahku bercahaya
"Ka... Kamu?" gumam laki - laki langsung berlutut
"Apa sih ribut - ribut?" gumam Steven berdiri di lantai atas dengan mengunakan jubah hitamnya
"Mohon maaf Yang Mulia, ada penyusup masuk" gumam laki - laki itu takut
"Dia bukan penyusup" gumam Steven dingin
"Mohon ampun Yang mulia, saya tidak tahu"
"Udah santai saja, kamu gak perlu berlutut seperti itu" gumamku menatap laki - laki disampingku
"Ba.. Baiklah nona"
"Siapa namamu?" gumamku
"Aku Toni Bi"
"Aku Sani Lan" gumamku tersenyum
"Salam kenal nona Sani lan"
"Kamu ngapain masuk kemari?" gumam Steven menatapku
"Aku ingin berbicara denganmu?"
"Baiklah, naiklah" gumam Steven membalikkan badannya
"Toni kamu boleh pergi" gumam Steven dingin
"Baiklah saya permisi" gumam laki - laki itu pelan dan menghilang dari hadapanku
"Udah naiklah" gumam Steven menatapku
"Iya - iya cerewet" gumamku kesal dan melangkahkan kakiku mengikuti langkah Steven di depanku
Di lantai atas aku melihat bangunan yang sangat megah dan terdapat beberapa pintu kamar di kiri dan kanan ku, lorong yang gelap padahal saat ini matahari masih belum terbenam tapi rumah ini seperti rumah hantu
"Masuklah" gumam Steven membuka pintu sebuah kamar yang letaknya di ujung lorong yang kami lalui
"Baiklah" desahku masuk ke dalam ruangan pribadi Steven, ruangan yang besar dan luas. Di dalam ruangan terdapat banyak buku yang berjajar rapi di dinding, dan kursi meja milik Steven, sofa di tengah - tengah ruangan, dan kamar tidur yang berada di pojok ruangan
"Duduklah" gumam Steven duduk di kursinya dan aku duduk di atas sofa
"Kenapa kamu berani masuk kemari? Kamu rindu aku?"
__ADS_1
"Heeeh sejak kapan kau rindu kamu... Aku ingin bertanya kepadamu saja" ucapku dingin
"Masalah kaum vampir dan kaum iblis berada disini?"
"Iya... Kenapa kalian ada disini?"
"Lagi belajar"
"Belajar? Di kelas malam?"
"Iya"
"Tapi kenapa kelas malam ini tidak dibuka untuk umum?"
"Karena kelas malam ini adalah kelas para bangsawan vampir dan iblis, kami di suruh untuk menempuh pendidikan kembali dan kelas itu di tempatkan di universitas ini, lumayan lah bisa memantaumu setiap hari" gumam Steven santai
"Ini rencanamu?"
"Bukan, ini perintah tetua"
"Dimana kakek? Aku ingin protes" gumamku kesal
"Protes?"
"Ya lah, aku baru aja dua minggu menikmati ketenangan dunia manusia malah rusak dengan kehadiran kalian ini" gerutuku kesal
"Ohh kamu kesal dengan kehadiranku? Jadi kamu mau hidup di rumahku lagi?" gumam Steven menatapku dingin
"Ti... Tidak" gumamku takut. "Apalagi di rumahmu, aku tersiksa" desahku dalam hati
"Pokok penuhi kewajibanmu menjadi mahasiswa dan juga jauhi laki - laki bermata biru menyebalkan itu"
"Iya aku tahu" gumamku kesal dan mataku bercahaya lagi
"Segelmu terbuka? Kamu melakukan apa kok bisa terbuka?"gumam Steven terkejut
"Nah ini yang ingin ku tanyakan" desahku menatap Steven
"Aku kan sekamar dengan Nana, waktu itu aku menatap kristal biru milik Nana dan gak tahu kenapa aku merasa ingin memegangnya, tapi saat aku memegangnya jantungku terasa berdetak kencang dan dadaku terasa panas..." gumamku berusaha mengingat kejadian itu
"Dan kemarin saat laki - laki yang bernama Leo itu mendekatiku dan menatap mataku, dadaku terasa sangat sakit dan jantungku berdetak sangat keras.." gumamku menatap mata Steven
"Hmmm sudah kuduga" desah Steven berdiri di jendela kamarnya
"Segelmu terbuka oleh kristal biru itu"
"Emang kristal biru itu apa?"
"Kristal biru itu milik raja iblis dan aku juga memiliki kristal merah ini" gumam Steven menunjukkan kristal merah kepadaku
"Kenapa Nana mempunyai kristal biru itu?"
"Kamu belum tanya Nana?"
"Aku udah tanya tapi dia tidak mau berkata jujur" gumamku
"Nanti dia akan mengatakannya, kalau dia tidak mau memberitahukanmu nanti aku kasih tahu identitas Nana. Jadi kamu harus hati - hati terhadap Nana dan jangan mendekati barang - barangnya" gumam Steven menatapku
"Tapi untungnya kalung ibumu dan gantungan yang aku berikan itu bisa menyelamatkanmu" gumam Steven
"Gantungan kelelawar ini?" gumamku mengeluarkan gantungan itu dari saku rokku
"Iya, di mata kelelawar itu terdapat pecahan kristal merah jadi pecahan kristal merah itu menyelamatkanmu"
"Kenapa kamu memberiku ini?"
"Iya agar kamu tidak mengalami hal - hal yang tidak diinginkan"
"Hmmm oh ya Steven, kenapa kamu tidak menyuruhku di kelas malam saja sekalian ka aku juga termasuk kaum bangsawan" gerutuku
"Tidak perlu, pelajaran kami berbeda denganmu"
"Oh ya begitu ya?" desahku
"Oh ya Steven kamu tidak ingin membangunkan jiwa vampirku?" gumamku menatap Steven
"Tidak"
"Ayolah.."
"Enggak..."
"Ayolah raja vampir yang paling ganteng di seluruh dunia vampir" gumamku merayu Steven. "Oh God, aku merasa jijik dengan diriku" deshaku dalam hati
__ADS_1
"Kenapa kamu ingin aku membangunkan jiwa vampirmu?"
"Ihhh aku ingin teleportasi tahu, datang kemari juga tidak mudah" gumamku kesal
"Apa bawahanku yang membantumu?"
"Iya, aku berterimakasih sih udah dibantu.." gumamku dan Steven menatapku kesal
"Gak perlu marah... Kalau kamu berani memarahi bawahanmu aku akan memarahimu juga" gumamku santai
"Hmm baik - baik" desah Steven duduk di kursinya
"Ayolah Steven, boleh gak?" gumamku menatap Steven
"Tidak"
"Ayolah, kamu pelit banget" gerutuku kesal
"Tidak ya tidak" protes Steven dingin
"Ya udah kalau gak boleh" gumamku berjalan menuju jendela dan membuka jendela kamar Steven
"Aku mau turun dari sini aja deh" gumamku menaiki jendela kamar Steven dan tiba - tiba tubuhku melayang ke arah Steven
"Kamu ini ya keras kepala banget" gumam Steven kesal
"Aku cuma ingin itu aja gak kamu penuhi" gerutuku kesal
"Hmm baiklah, tapi kamu harus janji jangan melakukan teknik itu di depan manusia dan jauhi laki - laki itu" desah Steven mengalah
"Iya aku janji" gumamku senang
Tiba - tiba Steven menurunkan tubuhku di depannya dan jari telunjuk Steven menekan dahiku dengan lembut sambil membaca sesuatu di mulutnya. Tiba - tiba taringku kembali menajam dan mataku bisa melihat pembuluh darah Steven dengan jelas kembali
"Udah kan" gumam Steven melepaskan jari telunjuknya
"Terimakasih Steven" ucapku senang
Tookkk ... Toookkk
"Permisi yang mulia, waktunya ke kelas" gumam seorang laki - laki di depan kamar
"Baiklah" desah Steven berjalan ke pintu kamar dan membuka pintu kamar
"Kamu segera kembali sana" gumam Steven menatapku
"Baiklah" gumamku senang
Aku memejamkan kedua mataku, mengumpulkan energi jiwaku di satu titik dan berfokus ke salah satu tempat sambil melangkahkan kakiku dan tiba - tiba aku berada di belakang kerumunan mahasiswa kelas pagi yang menunggu mahasiswa kelas malam yang keluar. Gerbang terbuka dan keluarlah mahasiswa iblis keluar gerbang. Aku berdiri di barisan depan dan mencoba melihat kaum iblis yang sedang berjalan di depanku dengan mata vampirku
"Darah mereka berwarna biru?" gumamku pelan
Tiba - tiba laki - laki yang bernama Leo itu menatapku dengan tatapan dingin berbeda dengan tatapan matanya kemarin, apa dia menyadari kalau jiwa vampirku bangkit. Tiba - tiba dia mendatangiku dengan tatapan dingin yang berbeda dan mendekatkan wajahnya di telingaku
"Bagus, ternyata kamu memilikinya juga ya" bisik Leo di telingaku yang membuatku terdiam
"Semoga lain kali kita bertemu" gumam Leo dingin berjalan meninggalkanku
"Jangan harap" gumamku dingin dan Leo hanya tersenyum licik sambil terus melangkahkan kakinya
Dan tiba - tiba keluar mahasiswa vampir dari dalam asrama malam dengan perilaku lembut menyambut hangat mahasiswa pagi yang menunggu mereka. Namun saat berada di depanku mahasiswa itu sedikit menundukkan badan mereka yang membuatku tidak mengerti.
"Kamu ngapain disini?" gumam Steven di depanku
"A... Aku hanya melihat doang emang gak boleh?"
"Hmm baiklah ingat janjimu itu baik - baik" gumam Steven berjalan meninggalkanku
"Semangat belajarnya" teriakku tersenyum dan Steven menjawab dengan senyuman juga
"Tumben dia mau tersenyum di banyak orang seperti itu" gumamku membalikkan badanku dan meninggalkan area itu untuk kembali ke asrama. Aku berjalan sendirian ke asramaku dan masuk dalam kamarku, di dalam kamar aku melihat Nana sedang duduk bersila di atas tempat tidur. Mata vampirku ini membuatku dapat melihat di tubuh Nana terdapat api biru yang memenuhi tubuhnya seperti api yang sedang melahap tubuh kecilnya itu
"Kamu ngapain disitu?" gumamku menatap Nana
"Ti.. Tidak ada, aku hanya menghafalkan pelajaran tadi" gumam Nana mengubah cara duduknya dan api biru itupun hilang
"Oh benarkah?" desahku membaringkan badanku
"Iya beneran Sani..."
"Hmm baiklah. Ingat Na. Siapapun kamu, kamu tetap teman terbaikku dan aku anggap keluargaku" gumamku menutup mataku
"Sani..." desah Nana pelan sambil menatapku
__ADS_1
Ya walaupun Nana itu bukan manusia aku juga tidak akan membencinya karena dia teman baikku, yang terpenting dia tidak mengganggu hidupku dan mencelakankan keluargaku