
Aku meraih sofa di sebelahku dan berusaha untuk duduk di sofa. Aku tidak tahu apa yang telah baru saja aku perbuat. Aku malah melakukan pilihan yang sangat merugikanku, aku berencana untuk membatalkan perjanjian kontrak tapi malah bersedia perjanjian jiwa dengan Steven
"Ya Tuhan kenapa diriku selalu bodoh kalau disuruh memilih pilihan dan selalu salah pilihan" gumamku kesal, sudah berapa liter air mataku keluar dihari ini
"Aku harus bagaimana ini" desahku bingung
Krriiiiinnggg
Tiba - tiba handphoneku berdering dengan keras di dalam tasku, aku mengambil handphoneku dan tertulis ayahku yang sedang meneleponku
"Hallo anakku" ucap ayah dengan suara khasnya
"I...Iya ayah"
"Suaramu seperti sedang menangis, ada apa?"
"Ti... Tidak kok ayah, aku tidak sedang menangis"
"Apa ada masalah?"
"Tidak ada ayah"
"Steven bersikap baik kepadamu kan?"
"Mmmm i... Iya ayah" gumamku berbohong
"Syukurlah kalau begitu"
"Ada apa ayah meneleponku?"
"Tidak ada apa - apa sih, ayah cuma ingin menelepon anakku tersayang. Bagaimana keadanmu?"
"Aku baik - baik saja kok ayah"
"Oh syukurlah kalau begitu"
"Mmm ayah aku ingin ertanya boleh?"
"Bertanya apa?"
"Ayah pernah mendengar perjanjian jiwa?"
"Perjanjian jiwa? Maksudmu perjanjian darah khusus?"
"Perjanjian darah khusus?"
"Ya perjanjian jiwa itu sama saja dengan perjanjian darah khusus"
"Iya ayah itu yang aku maksudkan"
"Iya ayah tahu, kenapa?"
"Perjanjian jiwa itu apakah semua orang bisa melakukannya?"
"Tidak, perjanjian jiwa tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang..." gumam ayah
"Perjanjian jiwa itu hanya dilakukan untuk orang - orang yang takut kehilangan seseorang atau untuk orang - orang yang ingin mengikat orang lain sehingga orang yang diikatnya pada perjanjian jiwa itu berada di tangannya, jadi pihak ke dua bisa dibilang seperti boneka pihak pertama. Namun kalau bertujuan hanya saling memiliki ya tidak akan merugikan satu sama lain" jelas ayah
"Apakah perjanjian jiwa itu bisa di batalkan?"
"Tidak bisa"
"Tidak bisa?" ucapku kaget
"Ya nak, orang yang sudah melakukan perjanjian jiwa itu sama saja jiwa masing - masing menjadi taruhannya."
"Maksudnya ayah?"
"Maksudnya jiwa pihak kedua menjadi milik pihak pertama jadi apapun yang diinginkan dan dilakukan oleh pihak kedua, pihak pertama juga ikut di dalamnya. Kalau misalnya pihak kedua ingin menikah dengan orang yang bukan pihak pertama atau bisa dibilang orang lain maka pihak kedua dan seluruh keluarga marganya harus di musnahkan oleh pihak pertama "
"Kalau cuma pihak kedua yang menyerahkan jiwanya sedangkan pihak pertama tidak, itu tidak adil namanya" protesku
"Iya itu peraturannya, makanya tidak semua orang berani melakukan perjanjian jiwa. Kalau orang bilang perjanjian jiwa itu sam saja pihak kedua menjadi tahanan jiwa pihak pertama"
__ADS_1
"Kalau melanggar bagaimana ayah?"
"Perjanjian jiwa itu tidak ada peraturan khusus seperti perjanjian kontrak. Perjanjian jiwa itu tingkatannya lebih tinggi dari perjanjian kontrak dan perjanjian darah. jadi pada perjanjian jiwa itu jiwa masing - masing pihak yang terlibat yang menjadi taruhan pada perjanjian itu, jadi apabila salah satu melanggar hukumannya tergantung pihak lainnya memberikan hukuman apa. Misalnya nih ayah melakukan perjanjian jiwa dengan ibumu, ayah mau melakukan apapun terserah ayah tapi apabila diantara ayah dan ibumu telah berjanji dengan konsekuensi tertentu kalau ayah melanggar perjanjian antara ayah dan ibu maka konsekuensi itu bisa dilaksakan atau bisa jadi jiwa ayah menjadi taruhannya entah ayah dibunuh entah keluarga ayah yang dibunuh seperti itu nak" jelas ayah
"Kalau pihak kedua atau pihak pertama meninggal apakah perjanjian itu batal ayah?"
"kalau pihak pertama meninggal perjanjian jiwa itu di teruskan kekeluarga marga pihak pertama, tapi pihak kedua yang meninggal perjanjian jiwa itu bisa batal karena tulisan nama darah yang ada di perjanjian darah itu akan hilang dengan sendirinya kalau pihak kedua meninggal"
"Oh begitu ya" gumamku lirih
"Apakah ada caranya melepaskan perjanjian jiwa ini ayah?"
"Kita manusia biasa tidak bisa nak, tapi menurut legenda ada satu caranya"
"Pangeran iblis dari alam lain"
"Pangeran iblis? Itu hanya legenda ayah"
"Ya memang, tapi perjanjian jiwa ini asal mula munculnya dari perjanjian antara kerajaan vampir dan kerajaan iblis"
"Emang itu benar - benar ada di dunia ini?"
"Ayah juga tidak tahu nak, tapi ada benberapa orang yang mempercayainya dan terlepas dari perjanjian jiwa ini"
"Oh ya? Benarkah ayah?" ucapku tidak percaya
"Kenapa kamu tanyakan ini nak?"
"Tidak ada ayah, aku tadi tidak sengaja menemukan artikel perjanjian jiwa" gumamku berbohong kepada ayah
"Oh begitu ya, kamu jangan pernah melakukan perjanjian jiwa nak. Itu sangat berbahaya buatmu"
"Iya ayah"
"Baiklah kalau begitu, ayah akan rapat. Jaga dirimu baik - baik nak" gumam ayah dan menutup teleponnya, aku meletakkan handphoneku ke atas sofa. Air mataku kembali menetes di pipiku terus menerus
"Ayah maafkan aku, aku telah melanggar pesanmu" gumamku sedih
"Kamu kenapa dari tadi menangis?" gumam Steven berdiri di depan pintu
"Ayahmu menjelaskan kan konsekuensi perjanjian jiwa kepadamu?" tanya Steven berjalan ke arahku dan aku hanya diam tanpa melihat wajahnya yang menakutkan itu
"Seharusnya kamu bersyukur dulu melakukan perjanjian kontrak denganku hanya aku suruh menjadi sekretaris pribadiku dan aku bayar malah aku suruh tinggal di rumahku juga tapi malah kamu berusaha untuk membatalkan perjanjian kontrak itu" gumam Steven dingin
"Apa kamu tahu apa konsekuensi perjanjian jiwa yang sebenarnya?" gumam Steven mengangkat daguku yang membuat aku menatap mata Steven yang terlihat marah itu
"Kamu serta keluarga besarmu lenyap dari dunia ini dan tidak ada lagi namanya keluarga Lan di dunia ini"gumam Steven dengan wajah menakutkan yang membuat air mataku keluar lagi tanpa aku sadari
"Tapi ya meskipun begitu, kamu seharusnya bersyukur aku tidak memintamu aneh - aneh. Aku hanya memintamu kuliah dan tidak melakukan aneh - aneh di luar konteks kuliah bahkan aku juga memperbolehkanmu bekerja dan melakukan aktifitas sesukamu"gumam Steven menatapku lekat
"Kenapa kamu melakukan hal ini kepadaku Steven? Apa salah aku kepadamu?" gumamku lirih, Steven melepaskan daguku dan berjalan ke arah pintu kamarku
"Aku melakukannya karena alasan tertentu"
"Alasan apa?"
"Suatu saat nanti kamu akan tahu" gumam Steven membuka pintu kamarku
"Kalau kamu mencintaiku tidak harusnya kamu melakukan hal ini Steven" teriakku kesal
"Oh kamu tahu ternyata" ucap Steven menutup kembali pintu kamarku
"Tapi alasanku melakukan perjanjian jiwa kepadamu bukan karena alasan itu. Buat apa aku melakukan perjanjian jiwa kepadamu cuma karena cinta, hal itu merugikanku juga"
"Lalu kamu melakukan itu karena apa?"
"Suatu saat kamu akan tahu sendiri, oh ya aku tunggu di bawah. Kita akan keluar" gumam Steven keluar dari kamar
"Hmmm" desahku mengusap air mataku dan berjalan menuju kamar mandi
Aku membasuh wajahku dengan air yang mengalir dari kran air dan langsung keluar dari kamar menemui Steven yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah harian
"Kamu sudah siap?" gumam Steven menutup majalah itu dan langsung berdiri
__ADS_1
"Kamu mau mengajakku kemana?"
"Kesuatu tempat" gumam Steven berjalan mendahuluiku keluar rumah dan masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan pintu rumah
"Masuklah" gumam Steven dan aku masuk ke dalam mobil
"Kenapa kamu mengajakku?"
"Emang gak boleh? Kamu milikku sekarang"
"Emang kamu mencintaiku karena apa?"
"Kamu ingin tahu?" tanya Steven dan aku mengangguk
"Karena kamu sudah melalukan perjanjian jiwa denganku. Nanti aku akan menceritakan semua kepadamu tentang aku, keluargaku, perkumpulanku, dan kerajaanku"
"Kerajaanmu?"
"Ya, kerajaanku"
"Jangan - jangan kamu ... pangeran iblis atau jangan - jangan pangeran vampir yang ayah ceritakan tadi" gummaku menatap Steven dan Steven hanya diam tanpa kata
"Jawablah Steven!"
"Nanti aku akan menjawabnya" gumam Steven fokus menyetir
Mobil Steven berjalan dengan cepat masuk ke dalam hutan - hutan yang rindang dan rimbun bahkan satu kendaraanpun tidak ada yang lewat di samping kami
"Kenapa lewat hutan?"
"Ini memang jalannya ke kerajaanku" gumam Steven, tiba - tiba di depan kami terdapat sebuah gerbang yang besar dan saat mobil melewati gerbang tersebut cuaca berubah yang tadinya siang hari sekarang menjadi malam hari. Di sepanjang perjalanan aku melihat hutan - hutan tinggi yang berjejer di kiri dan kanan kamidan terlihat begitu menyeramkan
"Kok bisa malam, bukannya tadi siang ya?" tanyaku menatap Steven
"Emang ini bukan dunia kalian" gumam steven santai
"Bu... Bukan dunia kami?"
"Ya" gumam Steven fokus menyetir
Tidak berapa lama kami berkendara, aku melihat sebuah kerajaan besar dan megah namun sangat menyeramkan. Banyak kelelawar yang berputar - putar di atas kerajaan itu bahkan terlihat seperti kerajaan yang tidakpernah dihuni manusia. Steven berhenti di depan pintu masuk kerajaan itu dan keluar dari mobil
"Kita udah sampai, keluarlah" gumam Steven dingin dan aku keluar dari mobil
Saat Steven dan aku berdiri di tengah - tengah jalan masuk, tiba - tiba muncul beberapa kelelawar yang terbang di atas kami dan merubah bentuk mereka menjadi manusia biasa
"Selamat datang yang mulia" ucap seorang laki - laki berjas seperti pelayan di depan kami
"Tolong siapkan makan malam manusia untuk wanitaku" gumam Steven dingin dan berjalan melewati pelayan - pelayan tersebut
"Baik tuan" gumam pelayan itu dan merubah mereka kembali menjadi kelelawar
Steven berjalan mendahuluiku menuju ke pintu yang terlihat tua dan sudah usang tersebut. Saat kami sampai di depan pintu, tiba - tiba pintu besar itu terbuka terlihat dekorasi ruangan yang serba hitam dan dipadukan dengan merah darah bahkan menurutku terlihat aneh dan menyeramkan. Steven menarik tanganku menaiki tangga yang aneh dan berheni didepan sebuah pintu
"Kamu istirahatlah dulu" gumam Steven melepaskan tanganku dan berbalik pergi
"Kata kamu mau menceritakannya kepadaku" protesku menahan rasa takutku
"Nanti saja"
"Sekarang"
"Nanti ya nanti"
"Gak mau pokoknya sekarang!!" protesku
"Ya nanti aku ceritakan semuanya, aku ada urusan sebentar" gumam Steven berjalan meninggalkanku.
Aku membuka pintu yang berada di depanku dan masuk ke dalam sebuah kamar tidur yang sangat menyeramkan seperti kamar tua yang tidak pernah di bersihkan
"Ini kamar? Kenapa bentuknya aneh banget yak" gummaku melihat sekeliling kamar yang seperti ruangan tahanan bawah tanah
"Emangnya tidak pernah direnovasi apa ini kamar sampai - sampai pengap banget" gumamku kesal sambl duduk di tempat tidur
__ADS_1
Di otakku masih penasaran siapa Steven itu sebenarnya? dan kenapa dia melakukan segala yang aneh seperti ini kepadaku?