
Kepalaku terasa sangat berat dan badanku terasa sangat lemas tidak berdaya, aku mencoba membuka mataku dan aku terkejut aku berada di dalam sebuah kamar yang sedikit menyeramkan. Di kamar ini hanya di terangi oleh cahaya lilin dan cahaya bulan purnama yang terang saja
"Kamu sudah sadar?" gumam Steven duduk di sebelahku
"Kamu kenapa disini?" gumamku berusaha duduk tapi malah kepalaku terasa sangat sakit
"Aaauuuu" rintihku memegangi kepalaku
"Kamu jangan memaksakan dirimu seperti itu kenapa sih!!" protes Steven
"Ini dimana?"
"Ini kamarku di istana kegelapan"
"Kenapa kamu mengajakku kemari?"
"Ya kamu tidak sadarkan diri di sebelah peti ibumu dan mengeluarkan banyak darah tahu!!"
"Oh ya? Sudah berapa hari aku tidak sadar?"
"Kamu tidak sadar hampir setahun"
"Haah setahun? Kenapa bisa begitu lama?" teriakku terkejut
"Kamu kahabisan darah sama sekali tahu, padahal aku menyisakan sedikit darah untukmu tapi kenapa kamu tiba - tiba kehabisan darah"
"Aku tidak tahu" gumamku berbohong
"Hei kamu terlihat banget kalau berbohong" gumam Steven mengangkat daguku
"Apa yang kamu lakukan di ruangan itu?" tanya Steven serius
"Aku tidak melakukan apapun"
"Kamu berbohong lagi, katakan yang sejujurnya" gumam Steven memegang daguku sampai terasa sangat sakit di daguku
"Aku hanya membangkitkan roh ibuku"
"Kenapa kamu lakukan itu?"
"AKu ingin berbicara dengan ibuku untuk yang terakhir kalinya. Apa aku salah?"
"Salah... Kamu membangkitkan roh dengan teknik kaisar langit membuatmu harus mempertaruhkan nyawamu tahu!!"
"Ya aku tahu, aku cuma pengen ngobrol dengan ibuku untuk terakhir kalinya"
"Terakhir kalinya? Apa maksudmu?"
"Kamu tidak perlu tahu" desahku pelan
"Apa yang kamu sembunyiin dariku? Jawab!" protes Steven kesal
"Tidak ada, kamu suatu hari pasti akan tahu, ya mungkin ini pertemuan terakhir kita" gumamku pelan
"Tidak, tidak ada kata terakhir"
"Hahaha kamu selalu keras kepala" desahku pelan
"Aku akan menghalangi apapun yang kamu lakukan Sani"
"Hahaha benarkah? Aku tidak percaya kamu akan melakukannya" gumamku melepaskan tangan Steven dari daguku
"Kalau kamu tahu apa yang akan aku lakukan pasti kamu akan membunuhku sekarang" gumamku beranjak dai tempat tidur
"Kamu mau kemana?"
"Aku ingin bertemu dengan kakek"
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku ingin berbicara dengan kakek dan nenek, Oh ya jaga dirimu baik - baik Steven" gumamku tapi malah tubuhku kembali ke tempat tidur
"Aku tidak akan membiarkanmu kemanapun" gumam Steven memelukku dengan erat
"Heeeh kamu sungguh sangat keras kepala, setahun lalu aku udah memberimu darahku karena rasa terimakasihku karena aku bisa bertemu dengan ibuku. Apa itu masih kurang?"
"Tidak aku tidak butuh itu"
"Lalu apa yang kamu butuhkan?" tanyaku penasaran dan wajah Steven mendekat di leherku sehingga aku bisa merasakan desahan nafas Steven di leherku
"Aku hanya butuh kamu, cuma kamu gak ada yang lain"
"Hahaha kenapa sih kamu keras kepala denganku? Kenapa kamu tidak mencari wanita lain?" gumamku pelan tapi malah Steven mencium bibirku dengan lembut
"Aku hanya butuh kamu, aku tidak butuh yang lain" desah Steven menggigit bibirku
"Iiihh sakit tahu!!" protesku mendorong Steven
__ADS_1
"Itu hukumanmu karena kamu meninggalkanku"
"Buat apa kamu menghukumku, aku kan bukan siapa - siapamu lagi"
"Walaupun kita tidak terikat perjanjian jiwa, kamu tetap permaisuriku apapun yang terjadi" gumam Steven mengigit leherku kembali
"Uuukkhh... " rintihku kesakitan
"Apa kamu kurang puas menghisap darahku sampai kering?" desahku menahan sakit
"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan puas" gumam Steven terus menghisap darahku
"Da... Daar keras kepala, kenapa tidak sekalian kamu membunuhku saja" gumamku pelan
"Tidak, aku tidak ingin membunuhmu tapi aku lebih suka menyiksamu hingga kamu meninggal dengan rasa sakit akibat siksaanku"
"Hahaha emang kamu pantas menjadi raja kegelapan" desahku
"Ya memang aku raja kegelapan sekarang bukan raja vampir yang dulu"
"Ya aku tahu itu, kenapa kamu memaksakan dirimu menjadi raja kegelapan?"
"Ada alasanku"
"Apa alasannya?"
"Kenapa kamu begitu penasaran?"
"Penasaran ya? Emang aku memberanikan diri bertemu denganmu karena aku penasaran apalagi kamu bisa mengalahkan raja kegelapan dengan kekuatanmu yang tersegel itu sungguh membuatku terkejut" gumamku pelan
"Ya tidak mudah mengalahkan raja kegelapan, mengalahkannya sama saja aku mengorbankan nyawaku. Tapi aku sangat puas karena aku bisa mendapatkan berlipat - lipat penambahan kekuatan yang ada pada diriku" gumam Steven terus menghisap darahku
"Lalu apa tujuanmu?"
"Tujuanku hanya ingin merebutmu kembali dan menjadikanmu permaisuriku"
"Cuma itu?"
"Iya cuma itu, tidak ada yang lain"
"Oh ya?" desahku memegang tangan Steven dan menggit tangannya
"Uuukkhhh... Apa yan kamu lakukan?" rintih Steven kesakitan
"Tidak ada" desahku menghisap darah Steven yang tidak aku duga darahnya memliki kekuatan
"Ya benar, kamu menghisap darahku untuk melihatnya kah?"
"Ya bisa dibilang begitu" gumamku melepaskan taringku dari tangan Steven
"Sepertinya kamu mengalahkan raja kegelapan tidak menghancurkan kutukannya ya"
"Memang, walaupun aku menghisap darahmu kutukannya tidak akan hilang"
"Oh ya? Lalu harus menghilangkan kutukanmu dengan apa?"
"Ya harus mengalahkan kaisar langit selain itu juga aku harus mengambil seluruh darahmu dan kekuatanmu"
"Oh berarti benar" gumamku pelan
"Ibumu mengatakan hal itu kepadamu kan?"
"Ya memang akhu harus mengorbankan darah dan kekuatanku entah untukmu atau untuk kaisar langit" gumamku pelan
"Apa itu yang akan kamu lakukan?"
"Bisa dibilang begitu tapi selian itu ada hal lain yang harus aku lakukan"
"Aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan nyawamu" gumam Steven menggigitku lebih dalam
"Uuukkhh, ke... Kenapa juga tidak boleh? Kalau tidak ada aku, kamu dan kaisar langit tidak akan bertengkar" gumamku menahan sakit di leherku
"Tidak akan, aku tidak akan membiarkanmu melakukannya. Bukan cuma aku, pasti kaisar langit juga sama"
"Aku tahu kok, aku tahu apa yang aku lakukan ini" gumamku dan Steven melepaskan gigitan yang ada di leherku dan menatapku dingin
"Kamu jangan bodoh Sani!!" protes Steven
"Bodoh ya? Tidak aku hanya ingin melakukan sesuatu hal yang bijak" gumamku tersenyum
"Itu hal yang bodoh tahu!! Kamu hanya hidup bahagia bersamaku saja sudah cukup"
"Aku sangat bahagia bersama denganmu dan dengan kaisar langit, itu sudah lebih bahagia" gumamku pelan
"Pokok aku tidak akan membiarkanmu melakukannya" gumam Steven beranjak dari tempat tidur
"Ya terserah kamu kalau kamu bisa mencegahku, wlaaupun kamu atau kaisar langit mencegahku bagaimanapun kalian melakukannya aku tetap akan melakukannya" gumamku santai
__ADS_1
"Mulai hari ini kamu tetap berada di kamar ini sampai aku kembali dari bertapaku, kamu tidak akan kemana - mana" gumam Steven pergi meninggalkanku sendirian di kamar
"Tidak bisa kemana - mana ya?" desahku mengambil mengambil sisa darah dari leherku dan menulis mantar di dinding kamar Steven dengan darahku
"Kamu kira aku tidak bisa kemanapun? Selama aku punya darahku aku bisa melakukan apapun" gumamku dan berpindah ke kerajaan iblis
"Sani kamu tidak apa - apa? Selama setahun kamu kemana saja? Ke... Kenapa lehermu mengeluarkan darah?" teriak Nana panik
"Oh Hai Na, aku tidak apa - apa kok. Dimana kakek dan nenek?" gumamku memegang leherku dengan tanganku
"Ada apa cucuku kamu mencari kami?" tanya kakek menatapku
"Cucuku kamu kenapa?" ucap seorang wanita paruh baya berlari kearahku
"Aku tidak apa - apa kok nek"
"Sini nenek obatin kamu" gumam wanita itu menyembuhkan lukaku yang begitu dalam itu
"Apa itu perbuatan Steven?" tanya kakek dingin
"Iya kakek"
"Kenapa kamu tidak mencegahnya?"
"Percuma saja kakek, dia lebih kuat dariku. Tapi aku sudah bertemu dengan ibu kok"
"Oh ya? Pasti ibumu memberitahukan sesuatu kan?"
"Iya kek"
"Apa kamu serius ingin melakukannya?"
"Ya kakek aku ingin melakukannya seperti kakek kaisar langit lakukan dulu"
"Tapi itu sama saja mengorbankan nyawamu"
"Mengorbankan nyawa?" tanya Nana terkejut
"Iya aku tahu kakek" desahku pelan
"Tidak, jangan kamu lakukan Sani" protes Nana
"Tenang saja, maish ada kemungkinan lain kok" gumamku tersenyum
"Kemungkinan lainnya apa?" tanya kakek penasraan
"Ya mungkin saja aku akan menjadi manusia biasa kakek"
"Manusia biasa?"
"Ya kakek, ibu berkata seperti itu. Kata ibu karena aku punya darah vampir dan iblis jadi kemungkinan besar aku akan menjadi manusia biasa"
"Jadi aku tidak akan kehilanganmu kan Sani?" tanya Nana berharap
"Mmm ya mungkin sih, tapi aku tidak tahu aku akan tetap menjadi Sani atau orang lain"
"Jadi mirip inkarnasi ya?" desah kakek menatapku
"Mungkin saja sih kakek tapi ibu tidak mengatakan itu, jadi itu hanya prediksiku saja"
"Oh begitu ya, jadi kamu akan melakukannya kepada kaisar langit atau Steven?"
"Mmm ibu berkata untuk memberikannya kepasa kaisar langit"
"Ya kalau itu permintaan ibumu, kamu bisa memberikannya kepada kaisar langit"
"Mmm kakek apakah kutukan pada Steven dan Leo akan hilang?"
"Ya benar, sebenarnya dengan kekuatanmu hilang itu memmbuat kutukannya hilang nak" gumam nenek menatapku
"Kenapa nenek tahu?"
"Karena kan kakek dan ennek yang melakukan perjanjian jiwa itu cu"
"Tapi kan aku dan Steven dulu melakukan perjanjian jiwa tapi kenapa bisa di hilangkan dengan mudah oleh kaisar langit"
"Karena kamu melakukan perjanjian jiwa dengan ornag yang sedarah denganmu jadi itu bisa dihilangkan dnegan kaisar langit atau raja kegelapan dengan mudah" jawas nenek mengelus rambutku
"Walaupun Steven mengalahkan raja kegelapan ataupun kaisar langit itu juga tidak akan menghilangkan kutukannya" gumam kakek serius
"Oh begitu ya, jadi tetap menggunakan darah dan kekuatanku ya" desahku sedikit mengerti
"Ya memang benar cu"
"Mmm baiklah, aku mengerti kok kakek nenek. Terimakasih atas penjelasannya"
"Tidak masalah cucuku, ayo kita makan dulu, kamu kekuarangan banyak darah" gumam nenek menggandeng tanganku masuk ke dapur kerajaan iblis
__ADS_1
Aku melihat sekelilingku yang dipenuhi dengan warna biru dan tidak aku duga kerajaan iblis itu lebih menenangkan dari pada kerajaan vampir yang sedikit menyeramkan