
Tubuhku sangat lemas bahkan kepalaku terasa sangat sakit, aku membuka mataku dan terbangun dari tidurku. Aku melihat sekelilingku, dan ternyata aku kembali ke kamar kerajaan vampir yang lembab ini
"Aaaauuuhhh" teriakku menahan sakit sambil memegang kepalaku
"Kamu sudah bangun?" gumam Steven lembut
"A... Aku dimana?"
"Di kerajaanku"
"A...Aku di kerajaanmu?" gumamku bingung
"Iya, jangan kebanyakan gerak kamu baru sadar"
"Kenapa aku ada disini, bukannya aku ada di dalam kelas ya?"
"Kamu tidak mengingat apapun? Kamu sudah tidak sadar selama seminggu"
"Se... Seminggu? Yang benar saja!!" teriakku kaget
"Ya emang kamu tidak sadar selama seminggu, kalau aku tidak memberimu darah murniku kamu pasti akan terbangun sangat lama" desah Steven menatapku
"Kamu memberikan da...darahmu?"
"Ya begitulah, kamu tidak ingat apa yang terjadi?"
"Ti ... Tidak, emang apa yang terjadi?"
"Baguslah kamu tidak ingat, aku harap kamu tidak menjadi vampir kembali saat tidak bersamaku karena itu sangat merepotkan" desah Steven duduk di sebelahku dan membawa semangkok sup
"Kamu bilang apa? Vampir? Aku berubah menjadi Vampir?"
"Ya bisa dikatakan kamu masih membangkitkan separuh jiwa vampirmu jadi kamu masih belum stabil mengendalikan kekuatan itu" gumam Steven menyuapiku sup
"Apa aku melakukan sesuatu kepada teman - temanku?"
"Iya, kamu menyerang teman - teman kelasmu"
"Menyerang teman - temanku? Be ... Benarkah? La ... Lalu bagaimana dengan mereka?" ucapku panik
"Tenang saja, mereka baik - baik saja"
"Oh syukurlah... Pasti mereka akan menyebutku monster " desahku sedih
"Tenang saja, mereka tidak akan mengingat kejadian itu"
"Benarkah?" ucapku senang
"Iya aku serius"
"Terimakasih Steven" gumamku senang dan memeluk Steven tanpa sadar
"Sama - sama, udah jangan dipikirkan ini juga bukti ucapanku kepadamu kalau aku mengizinkanmu menempuh pendidikan sampai menyelesaikannya" gumam Steven mengelus rambutku dengan lembut
"Tumben kamu baik" gumamku pelan
"Ya kan kamu wanitaku"
"Sejak kapan aku wanitamu!!" gerutuku
"Jangan lupa kamu melakukan perjanjian jiwa denganku!!"
"Iya - iya aku tahu" desahku mengalah
"Kenapa kamu membawaku ke kerajaanmu?"
"Agar kamu aman apalagi kan kamu tidak sadar selama itu, kalau aku kemarin membawamu ke rumah mungkin bisa lebih dari seminggu atau bahkan berbulan - bulan"
__ADS_1
"Kok bisa?"
"Karena kalau di rumah aku tidak bisa menyembuhkanmu dengan maksimal apalagi menidurkan jiwa vampir itu tidak semudah yang kamu bayangkan, beberapa kali aku hampir mengorbankan nyawaku tahu!!"
"Oh begitu ya... Hmmm Steven, kenapa aku bisa berubah menjadi vampir? Sebelumnya yang aku ingat aku dibully teman - temanku dan aku marah banget" desahku menundukkan kepalaku
"Kemarahan seseorang itu ditimbulkan dari rasa dendam jadi karena kamu punya jiwa vampir apabila rasa dendamu memuncak jiwa vampirmu akan bangkit.Ya seperti aku bilang dari awal kamu mempunyai darah vampir lebih besar dari pada darah iblis jadi darah vampir yang menguasai tubuhmu, tapi untuk saat ini kamu belum bisa menguasai tubuhmu jadi kamu hilang kendali"
"Oh begitu ya" desahku
"Kamu dulu apa pernah mengalaminya?"
"Hmm seingat aku dulu waktu aku kecil aku pernah melakukan hal yang sama saat aku dibully dan diejek oleh teman - temanku saat SD dan yang aku ingat di tubuhku dan sekitarku banyak bercak dan aliran darah segar bahkan seingatku ayahku sendiri juga tergeletak di tanah" desahku
"Benarkah? Lalu apa yang terjadi?" gumam Steven menyuapiku sup hangat
"Seingatku Ibuku langsung menggendongku uuntuk menyelamatkanku dan membawaku kesuatu tempat lalu aku tidak ingat lagi, tapi setelah aku sadar aku melihat ibuku meninggal" desahku sedih
"Lalu kamu pernah seperti itulagi tidak?"
"Tidak sih, kalau aku dibully atau diejek biasanya aku hanya diam saja. Cuma tidak tahu kenapa kemarin itu aku bisa hilang kesadaranku"
"Hmmm kasihan banget sih hidupmu. Baiklah kalau begitu aku akan menidurkan jiwa vampirmu sampai kamu lulus agar kamu tidak melakukannya lagi" gumam Steven memegang kepalaku
"Tu... Tunggu sebentar"
"Ada apa?"
"Tidak perlu kamu lakukan"
"Kenapa?"
"Tidak ada alasannya" gumamku pelan
"Hmm baiklah kalau itu keinginanmu"
"Bisa saja tapi agak berisiko bagimu"
"Apanya yang beresiko? Aku kan punya jiwa vampir jadi apa yang aku takutkan?"
"Kamu mau? Tapi ada resikonya"
"Resikonya apa?" tanyaku penasaran
"Resikonya kamu tidak bisa menjadi manusia biasa lagi"
"Jadi?"
"Jadi kamu akan beraktifitas seperti vampir walaupun kamu dalam wujud manusia"
"Kenapa sepertii itu?"
"Karena kamu vampir Level A yang langka atau kami sebutnya spesial"
"Kata kamu kemarin aku termasuk Level C?"
"Ya kalau dilihat dari silsilah kamu seharusnya vampir Level C, tapi saat aku menyembuhkan lukamu dan kamu bisa membangkitkan jiwa vampir Level A dengan baik walaupun kamu masih belum bisa mengendalikannya sekarang aku percaya kamu vampir Level A yang langka atau spesial itu, bahkan dihalangi oleh banyak vampir level A pun mereka tidak sanggup"
"Apa bedanya dengan vampir level A?"
"Bedanya kalau vampir Level A itu darah murni tapi kalau vampir Level A langka atau spesial itu darah murni yang tercampur dengan darah iblis dan manusia, hanya dua orang yang mempunyai level A spesial itu"
"Dua orang? Siapa saja itu?"
"nenek moyang kami dan juga kamu"
"Apakah yang membuatnya spesial?"
__ADS_1
"Yang membuatnya spesial, di mempunyai kekuatan hampir menyerupai kami yang Level tertinggi seperti yang kamu lakukan di ruang kelas"
"Hmmm ... Jiwa vampir itu apakah bisa dibangkitkan seutuhnya?"
"Bisa, hanya aku yang bisa melakukannya"
"Kenapa?"
"Karena aku level tertinggi di kaum vampir yaitu berada di Level S kaum bangsawan"
"Level S? Kemarin kamu bilang kamu Level A"
"Ya Level A dalam wujudku kemarin tapi sesungguhnya aku Level S"
"Siapa saja yang mempunyai darah Level S?"
"Aku dan ayahku"
"Oh ya? Adik dan ibumu?"
"Mereka level A biasa"
"Apa karena kamu rajanya jadi kamu bisa mendapatkan Level S?"
"Ya bisa dikatakan seperti itu, tapi untuk saat ini aku hanya bisa sampai Level A karena kekuatanku tersegel oleh kutukan perjanjian jiwa itu"
"Hanya kamu saja yang tersegel?"
"Tidak, raja iblis juga"
"Untuk menghilangkan kutukan itu bagaimana caranya?"
"Aku harus meminum darahmu"
"Meminum ... Darahku?" gumamku terkejut
"Iya, tapi harus menunggu kamu bisa menguasai jiwa vampirmu seutuhnya"
"Huuffttt syukurlah" desahku
"Kamu terlihat senang saja"
"Ya lah kamu menggigitku, iih pasti menakutkan" gumamku
"Tidak kok, mau nyoba?"
"Tidak ... Tidak terimakasih" gumamku
"Tapi Sani, ingatlah satu hal"
"Apa itu?"
"Kalau aku terjadi sesuatu, darah kamulah yang bisa menyelamatkanku" bisik Steven ditelingaku
"Kenapa bisa begitu?"
"Ya karena emang kamu Level A spesial itu darahnya bisa menjadi obat dan juga penawar"
"Oh begitukah, ya semoga aja aku bisa berguna untukmu Yang Mulia" ucapku tersenyum
"Semoga kamu juga tidak mengecewakan aku wanitaku" gumam Steven menatapku
"Udah istirahatlah dulu, aku akan ada urusan sebentar. Besok kita ada agenda?"
"Agenda apa?"
"Agenda pertemuan, jadi besok kita ke dunia manusia"
__ADS_1
"Oh baiklah" gumamku merebahkan tubuhku dan Steven pergi meninggalkan kamar yang lembab itu