Merubah Takdir

Merubah Takdir
Episode 48 : Bertemu Raja Siluman


__ADS_3

Aku menatap wajah Steven yang tampan itu dari dekat, wajah yang putih bersih tanpa adanya noda sama sekali membuatnya terlihat tampan. Darah Steven yang mengalir sangat cepat di pembuluh darahnya yang membuatku tidak tahan melihatnya. Aku mendekatkan wajahku di leher Steven dan menancapkan taringku tepat di pembuluh darahnya dan meminum darah Steven


"Uuukkkkhhh..." desah Steven menahan sakit


"Ka... Kamu..." gumam Steven terkejut


"Udah diem, salah sendiri aku gak boleh pergi" gumamku terus meminum darah Steven


"Ya minumlah gak apa - apa" gumam Steven pasrah menahan sakit, aku melihat wajah Steven yang kesakitan seperti itu membuatku tidak tega dan aku melepas taringku dari leher Steven


"Kenapa kamu lepas?" tanya Steven terkejut


"Gak selera... Kamu tidur aja, aku mau keluar sebentar" gumamku berdiri di sebelah Steven


"Kamu mau kemana?"


"Ke suatu tempat, kamu tidur aja sana aku tidak akan lama" gumamku melangkahkan kakiku dan berpindah ke atas tebing tempat dimana Xiao Min menyatakan cinta kepadaku


"Akhirnya sunyi" desahku menutup mataku dan memulai meningkatkan kembali energi jiwa vampir dan iblisku


"Hmmm ternyata hanya segini saja ya" desahku sedikit kecewa


"Ternyata kalau pagi hari sangat indah ya pemandangannya" gumamku menatap pemandangan yang indah


"Sani..." sapa seseorang dibelakangku


"Kamu disini... Xiao Min?" gumamku melirik Xiao Min yang berdiri di belakangku


"Ka... Kamu kenapa bisa disini? Apa yang kamu lakukan disini" tanya Xiao Min kaget


"Aku? Aku tidak melakukan apapun, hanya menikmati pemandangan ini, kamu ngapain disini?" desahku tapi Xiao Min hanya diam tanpa menjawab pertanyaanku


"Kamu takut denganku?" gumamku menatap Xiao Min yang menundukkann kepalanya


"Aku tidak akan menyakitimu" desahku duduk di tanah


"Kalau mau mengobrol denganku duduklah sini kalau tidak silahkan pergi" gumamku santai


"A... Anu Sani"


"Duduklah di sebelahku sini, aku tidak akan melukaimu" gumamku dan Xiao Min terduduk di sebelahku dengan sedikit ketakutan


"Kamu jangan gemetaran seperti itu kenapa!!" gumamku menatap tangan Xiao Min yang gemetar


"Sa... Sani"


"Iya ada apa ketua kelas"


"Ma... Maaf"


"Maaf untuk apa?"


"Maaf atas kejadian seminggu yang lalu"


"No problem, kalau ada kesempatan membunuhku. Bunuhlah aku" gumamku tersenyum


"Oh ya dan maaf telah membuat sebagian anggota pemburu meninggal, aku terpaksa melakukannya karena kalau sampai dua raja menyebalkan itu terluka aku yang kesusahan" gumamku menatap langit biru


"Ti... Tidak apa - apa kok Sani"


"Ak... Aku yang salah"


"Tidak, kamu tidak salah. kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik, tapi lain kali kalau mau membunuhku kamu harus lebih kuat" gumamku menunjuk salah satu bangunan dan merobohkannnya rata dengan tanah


"Hancur?" ucap Xiao Min terkejut


"Ya begitulah, kalau kamu tidak segera kuat. Banyak yang mengincar diriku, benar kan raja siluman" gumamku melirik seseorang yang bersembunyi di bawah pohon besar


"Kamu bisa menyadari aku juga ternyata" gumam seorang laki - laki bertelinga serigala keluar dari balik pohon


"Candra Chan? bukannya kamu murid sekelas dengan kami?" ucap Xiao Min kaget tapi Candra Chan hanya terdiam dingin


"Ya, bau ingin membunuhmu begitu menusuk hidungku tahu" gumamku


"Oh ya?"


"Ya dan kamu kan yang melempariku kertas - kertas menyebalkan itu" gerutuku kesal


"Ya bisa dibilang seperti itu, akhirnya kamu menyadarinya ratu" gumam Candra dingin

__ADS_1


"Bentar, jadi Candra adalah raja siluman? Dia tercatat di daftar target" ucap Xiao Min kaget


"Ya bisa dibilang seperti itu dia kaum iblis yang membuat kerajaannya sendiri, kekuatannya hampir sama denganku jadi kamu hati - hati ya ketua kelas"


"Heeehh aku sangat ingin bertarung denganmu Sani" gumam Candra dingin


"Oh ya? Kalau kamu bisa mengalahkan dua orang itu dengan tanganmu sendiri aku akan menerima tantanganmu"


"Dua orang siapa?"


"Ya dua raja yang menyebalkan itu, masa kamu gak tahu"


"Haahhh itu kecil, aku ingin sekali bertarung denganmu"


"Oh ya buktikan" gumamku dan muncul ilusi dua raja menyebalkan itu di belakangku


"Mereka ada disini?"


"Tidak, mereka sedang tidur malam. Ini hanya ilusiku" gumamku


"Apa ilusi? Heeh gak maulah"


"Kalau tidak berani jangan sok - sok kuat" gumamku menghilangkan ilusi itu


"Aku berani kok, aku hanya akan melayani bertarung dengan dua raja aslinya" gerutu Candra kesal


"Oh ya? Baguslah ... Kenapa kamu ingin bertarung denganku?"


"Karena aku pengen aja"


"Bilang aja pengen jadiin aku istrimu kan" gumamku santai


"Ya itu juga termasuk"


"Heeeh, tiga orang memaksaku menjadi istri mereka sedangkan aku cuma satu bagaimana membaginya coba" gerutuku meruntuhkan satu bangunan lagi


"Ya kamu harus memilih lah"


"Gak ah, kamu kira memilih itu segampang itu"


"Ya gampang tinggal pilih saja, kalau bingung pilih aku aja kenap asusah - susah"


"Aku berbeda ya dengan mereka"


"Bagiku sama, kamu juga masih termasuk ke dalam kaum iblis yang keluar karena tidak bisa menjadi raja iblis kan" gumamku dingin


"Sifatmu sekarang lebih menyebalkan ya? Aku kira kamu gadis polos yang bisa aku jadiin boneka"


"Oh ya? boneka seperti ini ya?" gumamku mendorong tanganku dan Candra terpental ke belakang


"Heeiii... kamu kenapa mendorongku?" protes Candra kesal


"Aku hanya mencontohkan saja, itu kan yang dimaksud boneka memainkan dengan tanpa perasaan" gumamku santai


"Kamu ya menyebalkan" gerutu Candra kesal dan menyerangku dari belakang tapi di halangi oleh Steven yang berdiri di belakangku


"Kamu ini ya, katanya sebentar tapi malah berbuat onar disini" gerutu Steven kesal


"Oh kamu sudah bangun ternyata, ku kira gak bakal bangun" gumamku santai


"Kamu kira aku mati apa gak bakal bangun lagi" protes Steven kesal


"Hai Steven lama tidak berjumpa" gumam Candra santai


"Kamu bukannya calon raja iblis yang gagal itu?" sindir Steven dingin


"Kamu berani - beraninya mengejek raja siluman" teriak Candra kesal dan terus menyerang Steven terus menerus, tiba - tiba Leo muncul di sebelah Steven dan menyerang Candra sampai terjatuh


"Kamu berani - beraninya ya menyerang saudaraku!!!" teriak Leo kesal


"Ohh kamu mengakui juga kalau Steven adalah saudaramu?"


"Bukan urusanmu" gerutu Leo kesal


"Kamu tidak pantas menjadi raja, kau terlalu lemah Leo!!" protes Candra kesal


"Berani - beraninya kamu iblis rendahan" teriak Leo kesal dan membantu Steven menyerang Candra, bereka bertiga saling menyerang dengan kekuatan mereka semua sampai langit di atas kami berubah menjadi hitam


"Xiao Min kalau kamu tidak ingin terluka pergi menjauhlah" desahku kesal mendengar teriakan mereka bertiga yang mengganggu ketenanganku

__ADS_1


"Ayo kita pergi" gumam Xiao Min menarikku tapi aku melepaskan genggaman tangannya


"Udah kamu pergi aja" gumamku terbangun dari dudukku. Aku berjalan di antara Steven dan leo yang sudah hampir kehabisan tenaga itu


"Udahlah kalian pulang saja dulu" gumamku berjalan kearah Candra yang sudah hampir kehabisan tenaga juga tapi dia masih punya sisa tenaganya


"Menyuruh kami pulang? Haah bukan raja namanya" protes Leo


"Iya betul sekali"


"Hah kalian ini cerewet, pergilah" gumamku menatap Candra di depanku


"Gak mau" protes Steven dan Leo bersamaan


"Hah terserah kalian berdua" desahku


"Sepertinya kamu belum cukup kuat mengalahkan dua raja menyebalkan itu ya, raja siluman" ucapku dingin


"Hei siapa yang kamu bilang menyebalkan itu!!" protes Steven


"Aku belum kalah tahu" protes Candra berusaha berdiri


"Kalau tidak kuat jangan dipaksa, kamu tidak akan bisa membunuhku"


"Diam kau!!" protes Candra menyerangku tapi aku langsung menangkis serangannya itu


"Kan aku sudah bilang kamu tidak bisa membunuhku" gumamku memberikan sedikit serangan malah membuat Candra terjatuh ke tanah


"Baiklah, buatlah diri kalian kuat kalau ingin membunuhku. Aku tunggu kalian berdua, Xiao Min dan Candra" gumamku membawa Steven dan Leo ke asrama malam


Aku memapah dua tubuh yang berat itu masuk ke dalam asrama malam, di depan gerbang asrama iblis berdiri Nana yang begitu gelisah


"Kakak!!!" teriak Nana berlari ke arahku


"Tolong Leo ya Na" gumamku


"Iya Sani, terimakasih" gumam Nana mengajak Leo masuk ke dalam asrama iblis sedangkan aku memapah Steven ke rumahku


"Emang ya keras kepala, dibilang disuruh tidur ya tidur gak usah ikut - ikut" gerutuku kesal mendudukkan Steven di atas tempat tidurku


"Aaaa sakit tahu" rintih Steven memegang dadanya


"Udah diem, Candra itu lebih kuat dari kalian berdua tapi kalian berdua malah nekat menyerangnya" gerutuku kesal


"Hei masih kuat aku ya!!" protes Steven kesal


"Ya kuatan kamu sebelum kamu tersegel" gumamku mengobati tubuh Steven


"Hmmm aku ingin membuka segelku ini" desah Steven sedih


"Emang apa yang bisa digunakan untuk membuk segelmu?"


"Darahmu"


"Heh darahku? Kan kamu udah pernah meminum darahku"


"Ya emang tapi yang aku maksud darah di pembuluh darah pada lehermu"


"Emang bisa membuka segelmu?"


"Ya emang bisa tapi membuatmu menjadi vampir seutuhnya"


"Se.. Utuhnya? Ahh aku gak mau"


"Kenapa gak mau?"


"Karena, aku ingin jadi manusia biasa" gumamku mengobati luka Steven


"Katamu tidak mau jadi manusia biasa tapi ingin jadi vampir?"


"Aku hanya ingin kekuatan vampirnya saja" gumamku merebahkan tubuh Steven di tempat tidurku


"Istirahatlah dulu" gumamku


"Kamu mau kemana?"


"Aku tidak kemana - mana, cuma ingin disini" gumamku duduk di sofaku sambil membaca buku novelku sambil memainkan bolpoint di tanganku


"Hmm baiklah, jangan kemana - mana" gumam Steven menutup matanya

__ADS_1


"Iya" gumamku membaca novelku dan menyandarkan tubuhku di sofa


__ADS_2