Merubah Takdir

Merubah Takdir
Episode 17 : Berdebat Dengan Steven


__ADS_3

Sepanjang perjalanan aku menatap Steven dengan tatapan ketus, aku tidak tahu harus berbuat apa. Ya memang aku tidak peduli urusan orang lain, tapi aku sendiri tidak mau teman baikku akan bernasib sama sepertiku. Kalau aku menanyakan masalah semalam apakah dia akan marah kepadaku ataukah dia akan biasa aja. Aku sangat bingung.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" gumam Steven sambil fokus ke depan


"Tidak ada"


"Ada yang ingin kamu omongin?"


"Tidak ada..."


"Dari tatapanmu kamu ingin mengatakan sesuatu"


"Mmmm... Kamu kenapa menjemputku?" gumamku


"Ya ingin aja"


"Kalau temanku yang lain tau bagaimana?" protesku


"Kenapa? kamu takut banget?"


"Enggak takut sih, bingung aja nanti kalau di tanya"


"Siapa juga yang nanya?"


"Ada pastinya yang tanya"


"Hmmm ya di jawablah"


"Ogah ah... ntar dikiranya kamu suamiku lagi" gumamku


"Baguslah"


"Apanya yang bagus??"


"Ya bagus aja... keliatan kamu tua"


"Iihh enggak ya... aku masih muda" protesku


"Hmmm iya - iya yang masih muda" gumam Steven menertawakanku


Aku hanya geleng - geleng kepala sambil menatapinya, tidak mengerti tentang Steven yang kadang ngeselin kadang tertawa sendiri kadang marah - marah sendiri kadang ngelawak juga walaupun masih 3 harian aku bersama dia tapi aku mulai mengenal dia lebih dalam


"Kamu dari tadi ngeliatin aku mulu kenapa sih?" gumam Steven menatapku


"Tidak ada.."


"Ada yang mau kamu tanyain lagi?"


"Ya hanya menanyakan satu pertanyaan saja"


"Apa itu..?"


"Aku cuma ingin bertanya, apa yang kamu lakukan semalam di bar?" gumamku


"Ya seperti biasa, kamu pasti tahu lah"


"Aku tidak tahu, aku di rumah kamu di bar beda server om" ucapku ketus


"Kamu polos banget" gumam Steven


"Aku emang gak tahu apapun, apalagi aku gak pernah ke bar"

__ADS_1


"Masa?... "


"Ya... aku gak pernah ke bar!!"


"Kenapa kamu tanya masalah kemarin?... Apa Asri menceritakan ke kamu?" tanya Steven menatapku


"Tidak... dia cerita ke temenku"


"Oh ya?... dia cerita apa?" tanya Steven penasaran


"Ya gitu deh, tanya aja sama Asri sendiri"


"Kan kamu yang tahu ceritanya, ntar kalau aku tanya beda lagi ceritanya"


"Ya udah tanya teman - temanku" gumamku sinis


"Hey kenapa kamu jutek gitu jawabnya, kamu cemburu?" ejek Steven mengangkat salah satu bibirnya


"Enggak... buat apa aku jealous" gumamku kesal


"Halah kalau kamu jealous bilang aja"


"Enggak!!!"


"Walaupun aku berciuman sama Asri dan pesan room kamu gak cemburu"


"Akhirnya dia mengakuinya juga" gumamku kesal


"Ya emang aku akui aku semalam ciuman dengan Asri dan hampir pesan kamar... itupun bukan aku yang minta" gumam Steven santai


"Lalu kamu menyalahkan Asri karena dia yang minta gitu?" protesku


"Itu kenyataannya"


"Dengar ya, kalau aku yang minta hal konyol itu, aku gak mungkin membatalkan pemesanan kamar yang super mahal itu dan secara logika aku pasti tidak pulang ke rumah pagi buta dan tidak mampir ke kamarmu sampai ketiduran di kamarmu tahu"


"Jadi kamu semalam tidur di sofa kamarku kenapa?"


"Itu... Rahasia" gumam Steven melepaskan tangannya dan mulai berkendara lagi


"Rahasia mulu" gumamku kesal


"Ya emang rahasia"


"Kenapa kamu batalkan pesan room itu?, padahal kan Asri suka sama kamu, bahkan dia berani memesankan kamar untuk kalian berdua" gumamku


"Aku tidak suka dia"


"Kenapa? Dia kan cantik, polos, dan baik kurang apa coba"


"Kamu mau mak comblangin aku sama dia?" protes Steven


"Tidak, hanya bertanya saja"


"Aku tidak tertarik, aku hanya tertarik sama wanita yang berpengalaman..." ucap Steven melirikku


"Dasar mata keranjang" gumamku memalingkan wajahku


"Tidak aku tidak mata keranjang, itu sudah naluri laki - laki" protes Steven


"Kalau naluri laki - laki. Noh sama tante - tante yang pengalamannya lebih" ucapku ketus

__ADS_1


"Waah kamu kok tahu, jangan - jangan..." ejek Steven


"Apa sih gak jelas!!!" gumamku kesal


"Hahaha... Hmm Beneran kamu tidak pernah ke bar atau club malam?" tanya Steven sekali lagi


"Iya aku belum pernah!!"


"Jadi dulu kamu melakukannya dimana? Aku tahu loh masa lalumu dulu seperti apa!! aku jadi penasaran kamu kok bisa belum pernah di bar" ucap Steven melirikku sinis


"Masa laluku?"


"Ya, semua tentang masa lalumu dan perbuatanmu dengan keluarga bahkan dengan mantanmu semua aku tahu. Walaupun dimasa lalu aku punya datanya tentang dirimu yang asli" gumam Steven sinis yang membuatku terdiam, kenapa Steven bisa tahu tentang masa laluku yang menyebalkan itu


"Kenapa kamu diam?"


"Tidak ada, lupakan saja" gumamku melirik ke luar jendela mobil


"Apa itu masa lalu yang ingin kamu tutupi selama ini?"


"Apa pentingnya?"


"Ya aku kepo aja"


"Kenapa kamu mencari tahu masa lalu orang? Emang kamu gak ada pekerjaan yang lain!!" protesku


"Ya mencari masa lalu orang juga pekerjaanku, apalagi orang yang ada di sekitarku"


"Emang aku termasuk? kan perjanjiannya cuma dua tahun..." gumamku


"Siapa kata perjanjian kita 2 tahun...!!" protes Steven


"Hey emang perjanjian kita 2 tahun!!"


"Ya emang perjanjian dua tahun tapi itu menurutmu saja, perjanjian asli seumur hidupmu" gumam Steven santai


"Aku menolak"


"Tidak bisa kamu tidak bisa menolak keinginanku" protes Steven


"Dan jangan lupa itu perjanjian kontrak dipayungi hukum, siapapun melanggar kamu akan di hukum lebih kejam dari pada seorang pembunuh" ucap Steven santai


"Hei sekretaris banyak kenapa kamu memaksaku menjadi sekretarismu dan memaksaku untuk selalu disisimu!!" protesku kesal


"Itu ada alasannya"


"Apa alasannya?"


"Kamu tidak boleh tahu" gumam Steven


"Huummm..." desahku kesal semua di rahasiakan apa - apa dirahasiakan sungguh menyebalkan


"Udah kamu nikmati saja bekerja denganku apa susahnya"


"Aku bisa menuntutmu tentang pasal perdagangan manusia!!" protesku dan Steven mengerem kembali mobilnya


"Hei Sani, kamu mau menuntutku?, silahkan saja, tapi kontrak itu kamu yang menyetujui dan menandatanganinya kalau kamu menuntutku itu silahkan, tapi dengan bukti kontrak itu dan juga data masa lalumu apalagi kalau laki - laki itu menuntutmu balik, kamu bisa dijatuhi pasal berlapis walaupun itu kesalahan laki - laki itu tapi dimata hukum kamu yang salah" jelas Steven sinis memandangku


"Hei aku wanita aku juga punya hak!! dan aku tidak salah" protesku


"Ya memang, tapi kalau laki - laki itu punya kuasa lebih dari kamu, kamu hanya sebutir debu tahu. Apalagi kamu mau berhadapan denganku, kamu pasti bakal berasa tidak seharusnya hidup di dunia" gumam Steven serius

__ADS_1


"Udah kamu gak usah mengajakku berdebat terus, aku bisa lebih kasar dari waktu kita pertama kali bertemu" gumam Steven menginjak gas mobil kembali sedangkan aku hanya diam tanpa kata


Aku menyesal menandatangi kontrak itu sehingga Steven tahu masa laluku bahkan Steven seperti menjadikanku boneka tahanan yang bisa dimainkan sesuka hatinya, apalagi aku apa bisa membatalkan kontrak perjanjian itu. Meminta ayah membatalkannya juga gak mungkin, ayah saja malah menyuruhku tinggal dengan iblis ini.


__ADS_2