
"Sani ...."
"Sani bangunlah" ucap Steven
"Mmmm"
"Bangun, udah malam nih. Kamu sudah tidur seharian tahu!!"
"Orang bangun itu pagi, malam - malam kamu bangunin kau" gerutuku
"Hei vampir bangunnya setiap malam tahu"
"Iya itu kamu tapi bukan aku" gumamku kesal
"Kau sama saja vampir" gumam Steven menarikku
"Hmm baik - baik, tapi aku ngantuk tahu Steven" gumamku
"Tidak ada waktu, Kita harus menghadiri pesta sekarang"
"Pesta apa?"
"Pesta makan malam vampir"
"Vampir, tidak... kamu aja yang pergi aku disini aja" gumamku kembali berbaring
"Tidak apa"
"Kalau mereka tahu aku manusia bagaimana?"
"Ada aku tenang saja"
"Kalau aku digigit mereka bagaimana?"
"Di bilang ada aku tenang saja"
"Gak mau aku takut"
"Kamu mau aku rubah jadi vampir?"
"Ja.. Jangan dulu, aku ingin menikmati diriku yang jadi manusia ini"
"Udah makannya siap - siap sana" protes Steven
"Iya baiklah" desahku mengalah
Tookkk ... Toookkk
Tiba - tiba terdengar pintu kamar di ketuk seseorang dari luar
"Masuklah" gumam Steven dan masuklah pengawal Steven
"Mohon maaf yang mulia, ada berita" gumma pengawal Steven memberikannya sebuah gulungan
"Baiklah, kau boleh keluar" gumam Steven membaca surat gulungan itu
"Baik yang mulia" gumam pengawal tersebut keluar kamar
"Hmm sudah ku duga" desah Steven menatapku
"Apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" protesku
"Aku harus mengubahmu jadi vampir"
"Vam.. Vampir? Enggak aku gak mau" protesku
"Aku tidak akan mengubahmu jadi vampir seutuhnya kalau kamu belum siap, apalagi melakukan itu ada waktunya sendiri. Aku cuma merubahmu menjadi vampir untuk sementara waktu"
"Kenapa?"
"Di pesta itu ada petinggi vampir ya walaupun dudukannya tinggi aku tapi kalau aku bawa manusia bisa berbahaya" desah Steven menatapku
"Tapi aku masih bisa jadi manusia lagi kan?"
"Ya bisalah kan cuma untuk sementara aja" gumam Steven duduk di sampingku
"Kenapa kamu mengajakku ke pesta itu kalau manusia tidak boleh datang" gumamku
"Karena ada alasanya" desah Steven menyentuh dahiku dengan lembut sambil membaca sesuatu di mulutnya
"Udah, sekarang minumlah darahku"
"Minum darahmu? Lagi?"
"Ya, minumlah" gumam Steven mendekatkan lehernya di mulutku
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Agar kamu bisa jadi vampir yang bisa aku kontrol"
"Gak mau"
"Udah jangan protes, cepetan minum"
"Aku minum darahmu? Caranya?"
"Oh ya lupa? Gumam Steven menyentuh dahiku lagi dengan lembut
Tiba - tiba aku merasa gigi taringku menajam dan mataku bisa melihat pembuluh darah Steven yang sangat menggoda dengan aliran darah yang sangat cepat dan membuat tenggorokanku terasa sangat haus, Steven langsung memelukku dan mendekatkan lehernya ke mulutku kembali
"Ke ... Kenapa kamu mengubahku jadi vampir lagi?" protesku
"Agar kamu bisa meminum darahku sepuasmu
"Ti... Tidak mau, nanti kamu mati gimana!!" protesku menahan haus
"Udah cepetan"
"Gak mau" gumamku terus menolak tapi ubuhku terasa bergemetar
"Aku tidak akan semudah itu mati"
"Gak mau ya gak mau"
"Tidak apa - apa"
"Ta... Tapi?" gumamku takut
"Udah minum aja gak apa - apa, dari pada tubuhmu bergemetar seperti itu"
"Ba .. Baiklah" gumamku menusukkan taringku ke leher Steven dan meminum darahnya yang terasa sangat segar
"Uuukkhhh. Nah... Be... Begitu" desah Steven menahan sakit
"Emang anak yang penurut" desah Steven mengelus rambutku lembut
Aku meminum darah Steven sangat banyak seperti orang yang tidak pernah minum selama sebulan, entah sudah berapa liter darah Steven aku minum tapi memang rasanya aku sangat haus sekali. Tidak tahu kenapa setelah meminum darah Steven aku merasa ada yang berbeda dari diriku yang sebelumnya. Setelah puas meminum darah Steven aku melepas taringku dan melihat luka bekas taringku di leher Steven yang sembuh dengan sendirinya
"Lukamu sembuh?"gumamku kaget
"Ya, vampir Level S dan Level A penyembuhannya sangat cepat kok" desah Steven terengah - tengah
"Kamu tidak apa - apa?"
"Aku belum siap - siap tahu" protesku, tiba - tiba Steven mengangkat tangannya dan merubah baju tidurku menjadi gaun pesta berwarna hitam yang indah
"Udah ayo kita pergi"
"Nanti dulu" gumamku mengambil tasku dan pergi ke meja rias
"Mau ngapain?"
"Udah nanti dulu bentar aja" gumamku menggunakan make upku dan merapikan rambutku
Aku menatap wajahku yang sangat berbeda dengan wajah manusiaku, wajahku sangat putih mulus walaupun taringku terlihat tajam tapi aku masih bisa menyembunyikannya di balik bibirku
"Udah ayo kita pergi" gumamku keluar menemui Steven
"Ka... Kamu tadi dandan?"
"Kenapa? Aku jelek ya?"
"Tidak, kamu cantik banget" gumam Steven menatapku tanpa berkedip
"Ya pastilah, mau ke pesta gak dandan ntar kamu sebagai raja vampir malu loh" gumamku
"Itu baru wanitaku, baiklah kita pergi" gumam Steven menggandengku
"Pestanya jauh gak?"
"Enggak kok"
"Kita kesana naik apa?"
"Naik mobilku"
"Enggak telepati?"
"Males, enak naik mobil"
"Apa aku bisa telepati juga?" tanyaku menatap Steven
"Bisa"
"Caranya?"
__ADS_1
"Nanti aku ajarin, kita masuk aja dulu" gumam Steven membukakan pintu mobil untukku
"Baiklah Yang Mulia" gumamku masuk ke dalam mobil dan sopir Steven menginjak gas dan mobil keluar dari kerajaan Steven
"Mmm Steven, kenapa ada pesta makan malam Vampir?"
"Ya biasalah keluarga besar Huan"
"Keluarga Huan seluruhnya vampir?" tanyaku kaget
"Kamu kira?"
"Aku kira manusia"
"Bukan, keluarga Huan adalah vampir bangsawan"
"Tapi aku kan bukan bagian keluarga Huan" gumamku menatap Steven
"Ya tapi kamu adalah kaum bangsawan juga"
"Kaum bangsawan dari mana juga" gumamku menatap Steven
"Kalau tidak percaya nanti kamu bisa tanyakan kepada kakekku"
"Emang nanti ketemu kakekmu?"
"Ya semua akan hadir disana, makanya aku mengubahmu jadi vampir"
"Kalau aku tetap jadi manusia emangnya kenapa?"
"Kamu akan menjadi makanan keluargaku" gumam Steven menunjukkan taring tajamnya ke arahku
"Ja... Jadi kamu akan menggunakan pakaian manusia seperti itu?" tanyaku mengalihkan pembicaraan
"Tidak"
"Kamu gak ganti pakaianmu?"
"Nanti saja kalau sudah disana"
"Kenapa?"
"Lagi malas saja" gumam Steven memandangku dengan dingin
"Steven kamu tidak punya pasangan?"
"Kan aku sudah bilang berulang kali, aku dan raja Iblis terkena kutukan perjanjian jiwa jadi ya aku atau raja iblis tidak bisa memiliki pasangan"
"Walaupun itu manusia?"
"Kalau manusia aku tidak tahu tapi yang jelas aku tidak tertarik dengan manusia"
"Aku kan juga manusia" gumamku
"Kamu vampir bukan manusia"
"Ya tapi kan aku masih termasuk manusia tau"
"Iya - iya terserah kamu" desah steven mengalah
"Yang Mulia kita sudah sampai" ucap sopir menatap kami berdua
"Baiklah" gumam Steven turun dari mobil dan aku turun dari mobil mengikuti langkah Steven
Saat aku turun dari mobil aku melihat sebuah bangunan yang besar dan di atas bangunan tersebut banyak kilat biru yang menyambar - nyambar sangat keras, di depan bangunan terdapat beberapa vampir yang berpakaian menyeramkan
"Steven, aku takut" gumamku bersembunyi di belakang Steven
"Kamu jadi vampir juga masih takut aja" desah Steven menghela nafas
"Ya kan naluri manusiaku masih ada"
"Sini bentar" gumam Steven
"Mau ngapain?"
"Aku mau menidurkan sebentar naluri manusiamu" gumam Steven menekan dadaku sedikit keras
"Tung ... Tunggu..." gumamku sedikit menolak tapi tidak tahu kenapa rasa takutku langsung hilang seketika
"Udah tidak takut lagi?"
"Takut siapa?"
"Mereka?"
"Heeeh seperti itu ditakutin, mohon maaf loh ya" gumamku berjalan mendahului Steven
__ADS_1
"Ya ampun tadi dia ketakutan sekarang malah jadi kayak gini" desah Steven berjalan mengikutiku