
Xiao Min menyetir kendaraan dengan santai dan sesekali melirikku yang sedang menatap keluar jendela, lirikan Xiao Min sangat terlihat kaca jendela sampingku dan hal itu membuatku tidak nyaman sama sekali
"Kenapa kamu dari tadi melirikku?" gumamku
"Tidak ada kok"
"Ada yang ingin kamu katakan?"
"Mmmm nanti saja aku akan menjelaskannya kepadamu"
"Kenapa tidak sekarang?"
"Nanti saja, sekalian aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu" gumam Xiao Min sambil terus fokus menyetir
"Menunjukkan apa?"
"Kamu akan tahu sendiri"
"Kamu ingin menunjukkan tempat?"
"Ya begitulah" gumam Xiao Min membelokkan mobil ke arah kanan menuju jalan sepi yang banyak pepohonan tinggi dan juga gelap
"Jadi emang lewat sini?" tanyaku menatap Xiao Min
"Ya begitulah"
"Kamu yakin? Jangan - jangan kamu menculikku lagi"
"Aku menculikmu juga buat apa coba?" gumam Xiao Min santai
"Ya bisa aja menjualku hahaha"
"Hahaha aku menjual orang cantik sepertimu, tidak tega lah"
"Aku? Cantik? Cantik dari mana coba" gumamku
"Cantik beneran loh aku gak bohong" gumam Xiao Min menghentikan mobil mewahnya
"Ayo turun kita sudah sampai"
"Udah sampai? Ini kan hutan?" protesku
"Udah turun aja dulu"
"Hmm baiklah" gumamku turun dari mobil,
Saat aku turun dari mobil, aku melihat banyak pohon tinggi dan besar yang ada di sekelilingku, sunyi senyap dan dihiasi bintang - bintang yang berkelip di langit. Suasana yang sangat nyaman dan tenang yang aku rasa, seperti aku tidak punya beban sama sekali
"Sunyi banget, bikin tenang banget sumpah" gumamku senang
"Oh ya? Ayo ikut aku, aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu"
"Kemana?"
"Kamu akan tahu nanti" gumam Xiao Min menarik tanganku dengan lembut
"Hmmm Baiklah" desahku mengalah dan mengikuti langkah Xiao Min menuju ke jalan setapak
"Kamu tidak takut kan di tempat gelap?"
"Tidak kok, aku biasa aja di tempat gelap. Ini masih jauh kah?" gumamku
"Tidak bentar lagi sampai kok" gumam Xiao Min terus menggandeng tanganku
"Kita sudah sampai" gumam Xiao Min menunjuk ke pemandangan kota dari tempat kami berdiri saat ini
Pemandangan yang sangat indah dihiasi kemerlipnya lampu kota dan bulan purnama di atas kota yang membuat pemandangan kota sangat amat indah di pandang
"Bagus banget sumpeh" gumamku duduk di atas tanah
"Jangan duduk disitu nanti bajumu kotor"
"Tidak apa - apa, bisa di cuci kok" gumamku melihat pemandangan yang tidak pernah aku lihat selama ini
"Kamu kok tahu tempat seindah ini?"
"Dulu aku tidak sengaja menemukan tempat ini sewaktu aku kecil"
"Oh ya? Pasti masa kecilmu menyenangkan"
"Tidak, masa kecilku sampai dewasa ini pun aku tidak pernah merasakan bahagia"
"Kenapa? Kan kamu anak dari orang terkenal di politik bahkan pemimpin perusahaan ternama, kenapa kamu bilang kamu tidak bahagia?"
"Ya memang kalau masalah harta aku tidak kekurangan sama sekali..." gumam Xiao Min menatap pemandangan kota
"Tapi kasih sayang tidak pernah mendapatkannya seumur hidupku..." desah Xiao Min menatapku
"Aku terkadang iri kepada kalian yang sering mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua, apalagi aku sangat iri kepadamu Sani..."
"Iri kepadaku? Kenapa kamu iri kepadaku? Apa yang membuat kamu iri kepadaku?" tanyaku bingung
"Ya kamu punya teman dekat dan banyak teman - teman kita yang suka berteman denganmu dan pastinya keluargamu juga sangat menyayangimu" gumam Xiao Min menatapku
"Heeh menyayangiku? Kamu tidak tahu Xiao Min yang sebenarnya hidupku seperti apa. Hidupku sangat menyakitkan"
"Menyakitkan? Apa maksudmu?"
"Aku hidup tanpa ibu, ibuku meninggal saat aku kecil dan aku hidup dengan ayahku seorang bahkan ayahku juga sibuk bekerja terkadang dia lupa dengan aku. Aku dari dulu tidak punya teman dari aku sekolah, aku hanya punya teman hanya Nana saja selain itu tidak punya. Saking senengnya aku punya teman, Nana sekarang aku suruh tinggal di tempatku menemani ayahku" gumamku sedih
"Jadi kalian tinggal satu rumah sekarang?"
"Tidak, Nana yang tinggal di rumahku bersama dengan ayah dan pembantu sedangkan aku tidak tinggal di rumah sekarang"
"Kamu tinggal dimana?"
"Aku ... Tidak bisa menjelaskan secara detail kepadamu, suatu hari nanti kamu akan tahu"
"Apa itu hal yang menyakitkan?"
"Ya bisa dibilang seperti itu"
"Kamu kabur dari rumah?"
"Tidak aku tidak kabur dari rumah, tapi ..."
__ADS_1
"Tapi apa?"
"Tidak ah, kamu tidak perlu tahu" desahku
"Ceritalah, aku tidak akan membocorkan kepada siapapun rahasiamu, aku janji"
"Hmmm baiklah. Intinya aku telah menandatangani kontrak dengan seseorang yang membuat hidupku harus bersama dengan orang itu, maka dari itu aku tidak tiggal di rumah"
"Maksud kamu perjanjian kontrak?"
"Ya begitulah"
"Kenapa kamu mau menandatangi perjanjian kontrak itu?"
"Ya itu emang kesalahanku tidak melihat apa resikonya, aku dulu berfikir bisa menghasilkan uang sendiri dari hasil jerih payahku tapi malah aku terjerumus dari kecerobohanku"
"Apa kamu tidak ingin terlepas dari kontrak itu?"
"Ya, aku ingin sekali. Tapi, tidak tahulah..."
"Hidupku sangat menyedihkan bukan" gumamku menatap Xiao Min
"Hmmm aku ingin membantumu tapi aku idak tahu harus berbuat apa" ucap Xiao Min sedih
"Udah gak usah dipikirkan, emang ini jalan hidupku. Kalau aku bisa terhindar dari kontrak ini, itu pasti adalah suatu keajaiban" desahku menatap bulan purnama yang indah
"Ya benar, orang yang sudah menandatangani kontrak itu susah untuk membatalaknnya. Tapi setauku kamu bisa membatalkannya"
"Bagaimana caranya? Beri tahu aku!!"
"Kontrak bisa dibatalakn kalau kedua belah pihak benar - benar memutuskan untuk membatalkannya dan di dasarkan alasan yang kuat, kalau hanya salah satu diantara kalian saja itu akan susah"
"Nah itu masalahnya" desahku putus asa
"Tidak ada alasannya"
"Suatu hari pasti akan ada alasannya, aku percaya itu"
"Ya semoga aja. Oh ya kamu akan mengatakan apa kepadaku?"
"Mmm sesuatu yang tidak penting kok"
"Tidak penting maksudmu?"
"Ya ... sesuatu yang tidak penting"
"Apa itu? Aku sangat penasaran" gumamku menatap Xiao Min
"Aku hanya ingin bilang, aku suka kamu Sani"
"Suka aku?"
"Ya, aku suka kamu setelah aku memarahi kamu waktu pertama kali masuk kuliah"
"Kenapa kamu bisa suka aku?"
"Karena kamu wanita pertama yang membuatku jatuh hati, walaupun dulu aku memarahi kamu karena permasalahan kursi tapi kamu mala tidak marah sama sekali"
"Emang ada yang pernah marah?"
"Dulu sering banget orang tua mereka mendatangiku dan memarahiku tapi saat tahu aku anak dari oang penting malah tidak jadi memarahiku"
"Karena orang tuanya itu bawahan ayahku jadi ya tidak beranilah"
"Mmm ya benar juga sih, cuma karena itu?"
"Ya karena itu, sepele kan tapi menurutku sangat bermakna"
"Kejadian itu malah aku lupain" gumamku
"Jadi apa yang kamu inginkan?" gumamku menatap Xiao Min
"Aku cuma mau bilang, Sani apakah kamu mau menjadi pacarku?"
"Pa... Pacar?" Tanyaku kaget
"Ya, apa kamu mau jadi pacarku?"
"Mmm pacar ya? Aku belum bisa menjawabnya sekarang Xiao Min"
"Kenapa?"
"Ada beberapa alasannya. Yang pertama kita baru dekat walaupun kita sekelas, yang kedua aku masih terlibat kontrak dengan orang lain, yang ketiga biarkan aku berfikir sejenak"
"Kamu butuh berapa hari berfikir"
"Kalau hatiku sudah siap aku akan menjawab cintamu. Bagaimana?"
"Mmm baiklah, aku akan menunggu jawabanmu Sani" ucap Xiao Min tersenyum kepadaku, sedangkan dalam hatiku aku belum bisa menerima laki - laki semenjak kejadian itu, bahkan aku juga tidak berani menceritakannya kepada Xiao Min. Aku takut kekuranganku ini membuat aku di bully seumur hidupku
"Sani apa yang kamu fikirkan?" tanya Xiao Min mengagetkanku
"Mmm ti.. tidak ada, oh ya ini udah malam. Kamu pasti akan dicari orang tuamu kalau kamu belum pulang ke rumah" gumamku mengalihkan pembicaraan
"Mmm iya juga sih, tidak terasa ya udah hampir jam 10 malam. Baiklah ayo kita pulang" gumam Xiao Min menggandeng tanganku dan mengajakku turun dari bukit itu menuju ke mobil
"Oh ya Sani, kamu ingin di antar sampai mana?"
"Turunkan aku di depan kampus saja" gumamku
"Malam - malam seperti ini?"
"Ya.."
"Jam segini tidak ada kendaraan umum yang lewat loh" gumam Xiao Min membuka pintu mobil
"Tenang saja, sudah ada yang menjemputku"
"Serius?"
"Ya, jadi jangan khawatir" gumamku masuk ke dalam mobil dan Xiao Min mulai menjalankan mobil miliknya
"Baiklah, jangan lupa belajar besok masih ada ujian"
"Ya, tenang saja aku akan belajar"
__ADS_1
"Oh ya Sani, kamu pintar juga ya, bisa mnegerjakan soal sulit seperti itu cuma beberapa menit doang" gumam Xiao Min menatapku
"Tidak juga, soal yang terlalu mudah"
"Itu tidak mudah loh, kami sekelas saja merasa kesusahan tapi kamu sejam saja sudah selesai. Kapan - kapan ajarin aku lah"
"Ajarin apa?" gumamku
"Ajarin pelajaran kuliah yang membuatku pusing" gumam Xiao Min membelokkan mobil ke arah jalan raya
"Mmm boleh kapan - kapan kita belajar bareng, oke"
"Oke, pasti akan seru" gumam Xiao Min senang
"Ya namanya juga belajar bareng"
"Baiklah Sani kita sudah sampai di depan kampus, apa kamu yakin disini sendirian?"
"Kita udah sampai? kok cepet"
"Ya aku lewat jalan pintas biar kamu tidak kemaleman"
"Oh begitu, baiklah. Aku turun dulu ya" gumamku turun dari mobil
"Apa kamu yakin disini sendirian?" tanya Xiao Min meyakinkanku
"Ya, tenang saja. Kamu pulanglah dulu. Terimakasih untuk hari ini Xiao Min" gumamku tersenyum kearah Xiao Min
"Sama - sama, hati - hati ya" gumam Xiao Min menginjak gas mobilnya dan pergi meninggalkanku sendirian di depan kampus
"Hmmm suka aku ya? Kalau kamu tahu aku sudah tidak perawan apa kamu masih mau denganku" gumamku lirih sambil menatap mobil Xiao Min yang sudah jauh dariku, tiba - tiba aku terkejut dengan suara mobil yang datang menghampiriku
Tiinnn ... Tiiinnn
"Nona maafkan saya sedikit telat menjemput nona" gumam sopir Steven dari dalam mobil
"Oh iya tidak apa - apa pak" gumamku masuk ke dalam mobil
"Apakah saya terlalu telat menjemput nona? Apakah nona telah menunggu lama?"
"Tidak kok pak"
"Oh syukurlah, saya kira nona menunggu saya terlalu lama"
"Saya juga baru sampai di depan kampus" gumamku bersandar di kaca jendela
"Nona pasti sangat capek ya belajar sampai larut"
"Ya begitulah pak" desahku menghayati lagu melow yang dibunyikan oleh sopir pribadi Steven dari radio mobil
"Kenapa hidupku sangat menyedihkan ya?" desahku pelan sambil melihat wajahku dari kaca jendela
"Ingin rasanya aku mati saja" desahku memejamkan mataku dan tertidur di kursi belakang mobil mewah itu
"Nona, kita sudah sampai" ucap sopir keras yang mengagetkanku
"Emm... Kita sudah sampai pak, kok cepet banget pak?" gumamku bingung
"Nona tadi tertidur di dalam mobil"
"Oh begitu ya, terimakasih pak" gumamku mengambil tas di sebelahku dan turun dari mobil
Aku membuka pintu rumah dan berjalan menuju ke kamarku, ingin rasanya aku tidur dengan nyaman dan nikmat malam ini apalagi Steven tidak ada di rumah jadi aku bisa tertidur pulas malam ini. Aku mengambil kunci kamarku lalu membuka pintu kamar dan terkejut melihat Steven sedang duduk di sofa kamarku
"Ka... Kamu kenapa disini?" protesku
"Memang kenapa? Ini kan rumahku jadi hak aku lah mau kemana saja" ucap Steven santai
"Maksudku kamu kenapa pulang, katanya kamu tidak pulang beberapa hari" desahku berjalan menuju ke meja rias membersihkan wajahku dari make up
"Aku merasa bersalah kepadamu karena tidak berpamitan denganmuu kemarin, jadi ya aku balik ke rumah"
"Kenapa juga merasa bersalah, mau kemanapun kamu aku tidak peduli" gumamku
"Oh ya? Nanti kamu kangen bagaimana?"
"Kangen? Kayak gak ada kerjaan saja" gumamku kesal dan berjalan ke ruang ganti dan mengganti pakaianku
"Yang benar nih? Aku tidak percaya"
"Terserah kamu lah mau bilang apa" desahku keluar dari ruang ganti dan berbaring di tempat tidurku yang empuk
"Kamu hari ini kenapa pulang larut banget, ini ya kelakuanmu mentang - mentang aku tidak ada dirumah ya" protes Steven kesal
"Hei dengar ya... Aku pulang larut karena aku belajar dengan teman - temanku dan aku sedang ujian tau!" protesku
"Seharusnya kamu minta izin kepadaku lah!"
"Minta izin?" gumamku menatap Steven yang sedang bersantai di sofa
"Apa hakmu menyuruhku kemanapun harus izin kepadamu!" protesku kesal
"Kamu jangan protes, ingat kontrakmu denganku"
"Haaah kontrak ya, ingin ku robek - robek itu kontrak yang menyebalkan itu" protesku kesal
"Kamu ditinggal gak ada sehari aja udah berani ngelunjak ya!!"
"Udah ah, aku capek dan aku tidak ingin berdebat denganmu. Baiklah selamat malam" gumamku kesal dan aku langsung menutupi tubuhku dengan selimut sedangkan Steven diam tanpa kata
Aku memejamkan mataku dan terdiam seolah - olah aku tertidur. Aku berharap Steven segera pergi dari kamarku dan aku bisa tidur dengan tenang. Tidak berapa lama aku mendengarkan suara langkah kaki datang menghampiriku dan duduk di sebelahku dengan pelan sambil mengelus rambutku dengan lembut
"Sani, apa kamu tahu aku sangat khawatir denganmu. Aku tidak mau kamu terjadi sesuatu apalagi malam seperti ini, aku harap kamu mengerti maksudku memarahi kamu tadi..." bisik Steven di telingaku
"Oh ya Sani, aku beberapa hari ini akan sangat sibuk mungkin aku akan jarang pulang dan akan jarang memperhatikanmu jadi jaga dirimu baik - baik ya" bisik Steven lembut dan terus mengelus rambutku dengan lembut
"Kamu jangan nakal ya, aku akan selalu berusaha membahagiakanmu. Masalah kontrak itu aku terpaksa melakukannya karena aku mempunyai alasanku tersendiri dan kamu jangan menyalahkan kontrak itu ya, tetaplah disampingku ya..."
"Asal kamu tahu Sani sebenarnya aku sangat mencintaimu, Semoga kamu tidak mendengarkan ucapanku barusan, baiklah selamat malam bidadari kecilku" gumam Steven mencium pipiku dengan lembut dan keluar dari kamarku
Setelah Steven keluar dari kamarku, aku langsung terbangun dan terkejut dengan ucapan Steven dan ciuman lembut di pipiku
"Apa yang barusan dia lakukan?" gumamku kaget terduduk sambil memegang pipiku
"Apakah kamu menyuruhku untuk menandatangani kontrak itu karena kamu takut kehilanganku Steven?" desahku menatap tanganku sendiri
__ADS_1
"Kenapa hari ini sangat aneh? Apa yang telah terjadi hari ini? Kenapa ada dua orang laki - laki yang menyatakan cintanya kepadaku? Membuatku sangat pusing" gumamku merebahkan tubuhku di kasur
"Ya Tuhan, kalau ini adalah mimpi tolong bangunkanku dari mimpi burukk ini" desahku memejamkan mataku dan benar - benar tertidur di malam yang aneh ini