
Aku pergi meninggalkan kamarku ke ruang tengah untuk menonton TV sedangkan dibelakangku Steven mengikutiku dan duduk di sebelahku
"Kamu ngapain disini?" protesku
"Emang gak boleh?"
"Hmm terserah kamu" desahku memencet remot TV
"Besok waktumu kembali kuliah"
"Lalu?"
"Ya aku hanya mengingatkanmu saja"
"Ya aku tahu... Nanti selama kuliah jangan menampakkan dirimu dan Leo di depanku"
"Kenapa?"
"Karena aku malas aja, nanti banyak fans kalian yang memarahi aku gara - gara kalian denganku terus"
"Ya, aku usahain, tapi kalau Leo gak tahu"
"Gak boleh semuanya" gumamku kesal
"Iya nanti kamu bilang sendiri ke Leo"
"Males"
"Kenapa males?"
"Kalau aku tidak melakukan perjanjian jiwa denganmu, aku pasti sudah mencai laki - laki tampan di dunia ini" desahku
"Dan juga emang kamu mau aku di culik Leo" gumamku menatap tajam Steven
"Gak boleh, kamu itu milikku"
"Ya udah gak usah protes"
"Tapi beberapa bulan lagi bulan merah"
"Apa itu bulan merah?"
"Iya bulan kamu harus memilih antara aku dan Leo"
"Oh ya? Kalau aku tidak memilih"
"Tidak bisa, Kamu harus memilih satu diantara kami berdua"
"Kalau aku memilih Leo bagaimana?"gumamku tapi tangan Steven langsung mengangkat daguku menarik tubuhku menatap Steven
"Kamu ingin aku dan kaumku musnah!!" ucap Steven dingin
"Tenang saja, aku akan memberikan nyawaku untuk mengembalikan kalian kaum vampir"
"Tidak bisa... Tidak aku ijinkan!!"
"Tidak kamu ijinkan apa? Aku membuka segel kalian berdua dan membuka kutukan kalian juga bakal mengorbakan nyawaku kok. Apalagi kalau aku mati kalian juga akan lupa denganku dan menjalani hidup kalian masing - masing"
"Kenapa kamu tahu melakukan hal itu akan mengorbankan nyawamu?"
"Ya aku tahu, ibuku yang bilang. Jadi ya sekalian saja aku yang mati agar kalian hidup tenang" gumamku tersenyum, namun tiba - tiba Steven memelukku erat dan membuatku terkejut
"Tidak, aku tidak akan mengijinkanmu melakukan itu!!!"
"Tidak apa Steven, kan ini memang hidupku kok"
"Tidak - tidak akan" gumam Steven meneteskan air matanya
"Ka... Kamu menangis?" ucapku kaget. Aku melihat disekelilingku karena takut ada pembantu yang tahu akupun berpindah ke dalam kamarku
"Hei, kamu menangis ya? kayak anak kecil aja" ejekku
"A... Aku tidak akan mengizinkan kamu melakukannya"
"Kenapa?"
"Karena aku mencintaimu Sani"
"Cinta... Aku?" ucapku kaget mendengarkannya
"Iya, aku serius cinta kepadamu" desah Steven sambil terus memelukku
"Ke... Kenapa bisa?"
"Karena hatiku yang berkata seperti itu"
"Hmmm kan masih banyak perempuan di luar sana"
"Tidak mau"
"Kenapa tidak mau?"
"Karena tidak mau, walaupun banyak yang mengajakku menikah tapi aku juga tidak bisa melakukannya"
"Ya aku akan berusaha menghilangkan kutukan kalian berdua" desahku mengelus rambut Steven
"Apalagi kan banyak kan wanita yang mengantri menjadi istrimu kan"
"Tapi aku tidak bisa!!"
"Karena kutukan?"
"Iya begitulah"
"Ya aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk membantu kalian berdua"
"Dan bahkan kamu punya wanita idaman kan?"
"Sebenarnya iya, aku dan Leo punya wanita idaman masing - masing" desah Steven pelan
"Ya sudah gak perlu sok peduli denganku seperti itu" desahku melepaskan pelukan Steven
"Tapi emang aku peduli denganmu"
__ADS_1
"Peduli denganku buat apa? Apalagi mengatakan ingin menikah denganku buat apa kalau kalian punya wanita idaman" gumamku menatap Steven kesal
Tidak tahu kenapa, padahal aku tidak ada rasa sama sekali tapi aku mendengar perkataannya bahwa dia dan Leo memiliki wanita idaman membuatku sedikit sakit
"Apa kamu sakit hati?" tanya Steven polos
"Kalau kamu punya wanita idaman kenapa kamu melakukan perjanjian jiwa denganku? Lalu buat apa melakukannya??" protesku kesal
"Ya a... Aku cuma takut kamu menghilang lagi dan aku serta Leo tidak bisa menikahi wanita idaman kami" gumam Steven pelan
"Kalau cuma meminta bantuan, bilang aja langsung gak perlu sok - sokan melakukan perjanjian jiwa denganku seperti kamu serius denganku, aku kecewa denganmu!!!" protesku melangkahkan kakiku meninggalkan kamarku menuju ke bawah air terjun yang ada di kotaku
Aku menatap air terjun yan mengalir dengan cepat dari atas ke bawah membentuk sebuah kolam jernih di depanku, aku menatap bayangan wajahku di air kolam itu
"Kamu bodoh Sani, kenapa kamu berkata seperti kamu suka dengan dia!!" gerutuku kesal
"Aaahh betapa bodohnya aku" desahku emosi
"Tujuan hidupku cuma menjadi alat dua kaum yang menyebalkan itu saja, tidak ada yang lain" desahku sedih
"Malang banget sih nasibku" desahku
"Sani!!!" ucap seseorang di belakangku dan aku menatap wajahnya yang tidak terasa asing buatku
"Ka... Kamu!!!" teriakku terkejut
"Tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini" gumam laki - laki itu mendekatiku, aku teringat bahwa laki - laki itu adalah mantanku yang memperkosaku
"Kamu ngapain disini!!"
"Aku? Aku lagi ada latihan disini dan mau mengambil air di kolam ini"
"Oh" desahku kesal dan berjalan menjauhi dia
"Kamu mau kemana?"
"Bukan urusanmu" gumamku kesal dan tangannya langsung memegang tanganku dan memelukku dari belakang
"Waah waktu yang tepat sekali, mumpung disini sepi nih" desah mentanku di telingaku
"Lepasin aku laki - laki bejat!!" teriakku kesal
"Aku tidak akan memperkosamu seperti waktu itu, aku cuma inginkan darahmu" gumam mantanku menunjukkan taringnya
"Kamu... Vampir??" tanyaku kaget
"Ya, kenapa? Kamu takut, Hahaha"
"Hah takut? Levelmu denganku berbeda tahu" gumamku kesal dan mendorong mantanku tercebur ke dalam kolam
"Beraninya kamu!!!" teriak mantanku kesal dan memelukku dari belakang kembali, kali ini kekuatannya sangat kuat membuatku tidak bisa bergerak
"Heh, seperti masa lalu yang menyedihkan itu ya" desahku berusaha melepaskan diriku
"Ya emang kamu hanya wanita murahan yang lemah seperti sampah" desah mantanku di belakang telingaku
"Hei bajumu membuat bajuku basah tahu!!" protesku
"Aaauu..." desahku
"Siapa kamu!!" teriak mantanku kesal dan berusaha bangkit
"Berani - beraninya kamu menyakiti istriku" gumam laki - laki di belakangku yang ternyata Steven
"Heeh istrinya? Dia milikku, bonekaku yang aku suka mainkan setiap saat" gumam mantanku mengejek Steven
"Berani - beraninya kamu vampir rendahan !!!" teriak Steven kesal dan merubah wujud asli vamppirnya
"Heeh emang aku takut denganmu?" gumam mantanku mengambil pistolnya dan menembakkan peluru ke arah Steven
Duuaaarr ... Duuuaarr .. Duuuaaarr
Suara tembakan demi tembakan terus idarahkan ke Steven tapi ajaibnya Steven tidak terluka sedikitpun
"Heeh pelurumu tidak memban terhadapku" gumam Steven menatap mantanku dan seketika itu mantanku menghilang
"Kamu tidak apa - apa?" gumam Steven menatapku
"Kenapa kamu kemari?" gumamku kesal
"Hei aku sudah menyelamatkanmu tahu" gumam Steven menjilat darah yang keluar dari leherku
"Aku tidak akan mengizinkan siapapun menusukkan taringnya di lehermu" gumam Steven menggigit tanganku dan terus menghisap darahku yang keluar di tanganku
"Uuuukkhhh ... " desahku menahan sakit
"Ke... Kenapa kamu selalu muncul disaat aku tidak menginginkan keberadaanmu?" gumamku kesal
"Karena kamu wanitaku"
"Heeh... wanitamu? Aku hanya alat dan kamu sendiri punya wanita idaman kenapa tetap menganggapku wanitamu" ejekku kesal dan Steven menggigitku sangat kuat membuat tanganku terasa sangat sakit
"Aaaauuu.. Kamu ingin membunuhku apa?"
"Salah kamu sendiri berkata seperti itu"
"Tapi kan kenyataannya seperti itu, aku hanya alat bagi kalian kaum vampir dan kaum iblis. Jadi tidak perlu membuatku terlalu percaya diri untuk memiliki kalian berdua" desahku pelan
"Maafkan aku..." desah Steven melepaskan gigitannya dan menatapku dengan perasaan bersalah
"Kenapa kamu minta maaf kepadaku?"
"Karena aku membuatmu sakit hati"
"Tidak perlu meminta maaf kepadaku" desahku
"Besok malam aku ada undangan ulang tahun temanku, jadi aku meminta ijinmu" gumamku terduduk di pinggir kolam
"Iya silahkan"
"Terimakasih" desahku
"Iya, aku pergi ke asrama dulu. Aku ada jadwal hari ini"
__ADS_1
"Ya silahkan" gumamku dan Steven pergi dariku
"Semoga besok aku tidak bertemu kalian berdua" desahku menatap air terjun yang terus turun dari atas bukit di depanku.
"Hai cantik, kamu ngapain disini sendirian?" ucap seseorang yang sedang duduk di atas pohon
"Cuma ingin bersantai saja, kamu ngapain duduk disitu raja siluman?" gumamku melirik Candra di atas pohon
"Sama cuma duduk saja"
"Kenapa kamu mengikutiku kemari?"
"Tidak ada, aku cuma ingin mengobol santai denganmu"
"Membunuhku juga tidak apa" gumamku
"Hei, aku serius lah. Membunuhmu nanti ada waktunya sendiri" protes Candra turun dari atas pohon
"Oh.." desahku
"Kamu kenapa merana di tempat ini? Sepertinya tadi ada raja vampir disini"
"Dia pergi duluan"
"Oh, jadi apa yang menjadi bebanmu?"
"Beban ya? Emang terlihat banget?"
"Ya terlihat jelas di matamu"
"Aku cuma sedang meratapi nasibku saja"
"Pasti kamu merana ya menjadi alat bagi mereka"
"Kamu kenapa tahu?"
"Hei aku dulu termasuk kaum iblis ya, siluman dan iblis itu sama ya"
"Oh begitu ya" desahku
"Ya kamu harus memilih salah satu diantara mereka kalau tidak jalan satu - satunya kamu mati"
"Ya emang, makanya bunuhlah aku"
"Tidak, aku tidak ingin kamu mati" gumam Candra memelukku
"Ehh ... Mmm... Maaf" gumam Candra salah tingkah
"Tidak apa"
"Mmmm oh ya ngomong - ngomong besok kamu ikut ke acara itu?"
"Iya"
"Baguslah"
"Kenapa?"
"Ya biar aku ada temannya"
"Kan temanmu banyak"
"Teman ya? Aku pendiam dan sering menyendiri di bawah pohon belakang kampus" desah Candra menatap bulan purnama yang bersinar terang di atas kami
"Jadi kamu yang bertemu aku di bawah pohon dulu?"
"Yups benar"
"Aku tidak percaya, laki - laki itu berbeda denganmu. Dia lebih tampan" gumamku tidak percaya
"Haish, ini wujud asliku" gumam Candra merubah wujudnya, wujud Candra terlihat putih dan tampan berbeda dengan wujud manusianya
"Kalau ini baru aku percaya"
"Tunggu, jadi yang aku lihat itu wujud aslimu?" gumamku kaget
"Yups, dan kamu orang pertama yang melihat wujud asliku"
"Oh ya? Jadi kenapa kamu sendirian disana?"
"Ya cuma melatih kekuatanku saja"
"Baguslah, kamu bisa melawanku suatu hari nanti. Semoga kamu bisa membunuhku Candra" gumamku menatap Candra
"Hmmm semoga saja, masalahnya kekuatanmu kuat banget"
"Kekuatanku tidak seberapa dengan dua raja itu"
"Hahaha, mereka saja melawanku sudah tidak kuat" tawa Candra mengejek
"Ya karena kekuatan mereka masih tersegel, tapi kalau aku bisa berhasil menghilangkan segel itu satu klan silumanmu tidak mungkin bisa mengalahkannya"
"Oh ya? Hmmm menakutkan"
"Ya begitulah, aku sendiri ingin semua ini berakhir dengan begitu aku bisa mati dengan tenang. Apalagi pasti tidak akan ada yang peduli denganku" desahku sedih tapi tiba - tiba Candra merangkulku dengan lembut
"Aku tetap peduli denganmu Sani, kamu temanku" gumam Candra mengacak rambutku
"Hei, rambutku jangan di acak - acak tahu!!" gerutuku kesal
"Hahaha gak apa - apalah" Candra merangkulku semakin erat
"I Love You Sani" desah Candra pelan
"Eeeh kamu ngomong apa?" tanyaku kaget
"Tidak ... Tidak ada, mmm kita ke asrama yuk, besok pagi kita ada kuliahan"
"Hmm baiklah" desahku beranjak berdiri
"Baiklah, sampai jumpa besok malam Candra" gumamku melangkahkan kakiku kembali ke asramaku
"Andaikan aku bisa memilikimu Sani" desah Candra meninggalkan lokasi air terjun itu
__ADS_1