
Kepalaku terasa sangat berat dan tubuhku terasa sangat lemas tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhku ini dan yang aku ingat hanyalah aku mengalahkan Xiao Min dengan kekuatanku saja tapi setelah itu aku tidak mengingat sama sekali apa yang terjadi
Aku membuka kedua mataku dan aku melihat aku berada di sebuah kamar yang asing dengan beberapa orang yang berdiri di pintu dan jendelaku sambil sedikit menundukkan wajah, aku berusaha untuk duduk di tempat tidurku tetapi kepalaku terasa sangat sakit
"Auuhh" rintihku menahan sakit
"Kamu sudah bangun?" gumam Steven duduk di sebelahku
"A... Aku dimana?"
"Di kamarku"
"Kamarmu di asrama?"
"Bukan, di kerajaanku"
"Kenapa kamu membawaku kembali kesini?"
"Karena kamu tidak sadarkan diri selama seminggu"
"Seminggu?"
"Iya, seminggu dunia manusia"
"Haah? Siapa yang membawaku kemari?"
"Aku"
"Hmmm sudah kuduga"
"Kamu sudah sadar cucuku?" gumam tetua vampir menatapku
"Ka..Kakek"
"Syukurlah kamu sudah sadar, kakek sangat mengkhawatirkanmu"
"Emang apa yang terjadi kepadaku?" gumamku bingung
"Kamu sedikit terluka karena kamu memakai dua kekuatan sekaligus. Tapi kakek bangga kepadamu karena kamu bisa melakukannya tanpa kakek atau Steven ajarkan"
"Aku..." desahku menatap kedua tanganku
"Jadi bagaimana dengan para pemburu itu?"
"Ya beberapa dari mereka terluka tapi ada yang meninggal"
"Meninggal? Kenapa bisa?"
"Iya karena menggunakan dua kekuatan sekaligus itu sama saja kamu menggabungkan kekuatan Steven dan kekuatan Leo secara bersamaan tapi tingkatan kekuatanmu lebih tinggi dari dua orang itu dan itu hanya bisa dilakukan oleh ratu terkuat" gumam tetua vampir menatapku
"Aku? Melakukannya" desahku tidak percaya
"Iya"
"Aku tidak percaya"
"Iya kamu pertama kali melakukannya pasti kamu akan terkejut, tapi aku bangga denganmu Sani" gumam Steven mengelus rambutku
"Baiklah, kamu istirahat saja dulu cucuku" gumam tetua vampir meninggalkanku keluar kamar
"Kamu mau makan?"
"Nanti saja"
"Oh ya Steven aku ingin kembali ke asrama"
"Kenapa?"
"Aku selama seminggu tidak di asrama nanti Nana mencariku" gumamku
"Dia sudah tahu"
"Sudah tahu?"
"Ya, kamu belum tahu Nana sebenarnya kan" tanya Steven dan aku hanya menggelengkan kepalaku
"Ini Nana" gumam Steven menjentikkan tangannya dan tiba - tiba wujud Nana aslinya munsul di depanku
"Nana?" gumamku bingung karena aku hanya melihat wajah wanita cantik bermata biru dan bertelinga panjang di depanku
"Haissh Steven kenapa kamu kasih tahu" gerutu Nana kesal
"Ka... Kamu Nana?" gumamku bingung
"Hehehe... I... Iya, maaf telah menyembunyikan semuanya Sani dan maaf membuatmu terkejut" gumam Nana menunduk
"Oh ya? Aku tidak terkejut ... Hmmm aku hanya terkejut dengan wujud aslimu saja"
"Kamu sudah tahu?"
"Ya aku sudah tahu, ingat kata - kataku. Siapapun kamu, kamu tetap teman terbaikku dan juga keluargaku" gumamku tersenyum
"Sani... Aku sangat bahagia mendengarnya" teriak Nana langsung memelukku
"Emmm kamu bisa lepasin gak, aku gak bisa bernafas" gumamku berusaha melepaskan pelukan Nana yang kuat
"Eehh.. Ma... Maaf" gumam Nana melepaskan pelukannya
"Kamu disini dengan siapa?"
"Tuh sama kakakku"
"Kakakmu?" gumamku bingung, tiba - tiba muncul seorang laki - laki yang berpenampilan sama dengan Nana di sebelah Nana
"Hai cantik, kita bertemu lagi" gumam Leo mengangkat daguku
"Hei singkirkan dagumu dari wajah istriku!!" protes Steven kesal
"Dia istriku ya jadi suka - suka kau lah" protes Leo
"Kau ingin bertarung ya!!!" protes Steven kesal
"Boleh, ayo"
"Hmmm mereka kenapa lagi sih" desahku kesal
"Ya biasalah memperebutkanmu"
"Hmmm ya udah tolong urus mereka ya Nana" gumamku menyingkirkan selimut dari tubuhku
"Aku ingin pergi ke suatu tempat" desahku turun dari tempat tidurku
"Tapi Sani, kamu belum sembuh tahu"
"Aku udah tidak apa - apa kok" gumamku melangkahkan kakiku dan meninggalkan kamar itu menuju ke depan rumah ayahku
__ADS_1
Aku membuka pintu rumah dan melihat ayahku sedang menonton tv di rumah, aku berjalan masuk ke dalam rumah dan menutup pintu itu dengan pelan tapi tetap diketahui ayahku
"Eehh anakku pulang?"
"Hay ayah" gumamku bersalaman dengan ayahku dan terduduk di kursi
"Wajahmu kenapa pucat? Lagi sakit ya?"
"Tidak kok ayah"
"Istirahatlah nanti ada yang memasakanmu makanan"
"Baik ayah, ayah sehat kan?"
"Ya ayah sehat"
"Syukurlah kalau begitu, bagaimana perkembangan perusahaan ayah?"
"Lebih baik apalagi bekerja sama dengan perusahaan Huan"
"Oh syukurlah kalau begitu"
"Oh ya Nana kemana?"
"Nana sedang di asrama ayah, aku pulang ingin mengambil sesuatu" gumamku beranjak dari tempat tidur
"Oh baiklah, ayah senang bisa melihatmu nak"
"Aku juga senang ayah, aku ke kamar dulu" gumamku berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar
"Oh kamarku tidak berubah ternyata" desahku menutup pintuku dan merebahkan tubuhku
"Ternyata kamu kabur kemari ya" gumam Steven berdiri di sampingku
"Oh kamu menemukanku"
"Ya pastilah, kemanapun kamu pergi aku akan tahu"
"Oh ya? Kenapa kamu datang kemari?" gumamku menutup mataku
"Mencarimu"
"Kenapa mencariku?"
"Kamu belum sembuh tahu asal pergi aja" protes Steven
"Aku tidak kenapa - napa kok"
"Hmmm kamu selalu keras kepala" desah Steven merubah penampilannya sebagai manusia dan duduk di tempat tidurku
"Ya emang aku baik - baik saja, kamu gak jadi berantem dengan Leo?"
"Gimana mau berantem kalau kamu pergi, kalau kamu kenapa - napa bagaimana?"
"Tidak kok, aku baik - baik saja"
"Kamu ingin tidur disini?"
"Yaa mungkin" desahku
"Baiklah aku temani"
"Temani?"
"Ya aku tidur disini juga"
"Tidak akan, ayah mu tidak memarahi kok nanti"
"Halah aku gak pecaya"
"Nanti tanyakan sendiri kepada ayahmu"
Toookkk .. Toookkk
Suara ketukan terdengar keras di depan pintu kamarku yang mengagetkanku
"Sani, ayah bawakan makanan untukmu" ucap ayah di balik pintu
"Iya ayah"
"Kamu pergilah nanti ayah tahu"
"Gak mau"
"Iiihh pergi gak"
"Gak mau"
"Hiiihh dasar keras kepala" desahku kesal dan membukakan pintu kamarku
"Ini makanan untukmu"
"Terimakasih ayah" gumamku
"Ohh Tuan Steven ada disini juga?"
"Iya Tuan Lan, mohon maaf kalau saya sedikit lancang langsung ke kamar Sani soalnya tadi Tuan Lan sedang di dapur"
"Oh iya, tadi lagi ngambilin makanan buat Sani, Tuan Steven ingin makan?"
"Oh tidak perlu Tuan Lan, saya dtang kemari ingin menemani Sani saja. Dia lagi gak enak badan"
"Heeiiii!!" protesku
"Ya tadi aku sudah suruh dia istirahat, wajahnya pucat banget"
"Tenang saja Tuan La, saya akan disini menemani Sani"
"Oh boleh silahkan saja"
"Heeii, gak mau ayah. Dia cowok aku cewek sekamar lagi" protesku
"Tidak apa - apa, oh ya Tuan Steven bisa tidur di sofa itu. Saya permisi dulu"
"Iya Tuan Lan, terimakasih" gumam Steven sopan dan pergi meninggalkan kami berdua
"Lihat, benarkan ucapanku"
"Hmm iya - iya, kamu menang" desahku mengalah
"Makanlah dulu, nanti setelah makan meminum darahku"
"Gak mau"
"Kenapa gak mau?"
__ADS_1
"Males makan dan males meminum darah" gerutuku
"Udah gak usah protes" gumam Steven menyuapi aku dengan paksa
"Hei, aku bilang lagi gak mau makan"
"Udah tinggal ngunyah aja apa susahnya"
"Hmmm dasar kamu selalu sukanya memaksa"
"Emang, aku suka memaksa emang kenapa?"
"Tidak ada" desahku memakan makanan yang diberikan Steven
"Steven, kamu kenapa kamu tidak membatalkan perjanjian jiwa itu? Kita kan saudara" desahku menatap Steven
"Gak mau"
"Kenapa?"
"Karena gak mau aja"
"Masa gak ada alasannya?"
"Ada alasannya"
"Alasannya karena aku calon ratu kalian kan? Hmmm sudah ku duga" desahku menyandarkan tubuhkuu di dinding
"Itu alasan lainnya bukan alasan utamaku"
"Heeeh? Emang apa alasan utamamu?"
"Aku ingin menikah denganmu"
"Menikah... Denganku?" gumamku terkejut
"Ya, aku ingin menikah denganmu"
"Kenapa? Kan kita saudara"
"Aku tidak peduli"
"Kenapa tidak peduli?"
"Ya tidak peduli aja, apalagi di dunia vampir darah murni emang di wajibkan menikah dengan sesama darah murni" gumam Steven meletakkan piring makananku
"Tapi kan Steven..."
"Gak ada tapi - tapi" protesk Steven kesal
"Hmmm kamu selalu memaksa"
"Emang aku suka memaksa"
"Hmmm iya - iya terserah" desahku
"Udah ini minumlah darahku"
"Tidak mau... kamu aja kekurangan darah" gerutuku kesal
"Kamu kenapa tahu"
"Ya tahu aja, di pembuluh darahmu aja terlihat" gumamku
"Ya aku kekurangan darah gara - gara melawan para pemburu"
"Makanya jangan lama - lama, kena tembakan kan akhirnya" sindirku
"Iya - iya, udah ini cepat minum"
"Gak mau, nanti kamu kehabisan darah"
"Udah minum aja gak apa - apa" ucap Steven memaksa langsung memeluku
"Hmmm emang ya keras kepala" desahku menancapkan taringku ke leher Steven dan meminum darah Steven yang masih segar
"Uuuukkkhhh..." rintih Steven menahan perih
"Kalau kamu tidak kuat bilang" gumamku
"Ti... Tidak apa - apa kok aku kuat kan aku raja" desah Steven menahan sakit
"Hmmm terserah" gumamku terus meminum darah Steven sampai dahagaku telah terobati, aku mencabut taringku dan mengusap darah Steven yang menetes hampir terkena pakaiannya
"Udah kan" desahku
"Baguslah kamu istirahat aja dulu" gumam Steven lemah
"Kamu mau kemana?"
"Aku ... mau di sofa" desah Steven terjatuh di lantai
"Hmmm dasar bodoh" desahku kesal dan membaringkan tubuh Steven di atas tempat tidurku
"Udah tahu sedang kekurangan darah tetep aja maksa aku buat minum darahmu" gumamku melukai pergelangan tanganku yang membuat tanganku berdarah
"Makanya lain kali gak usah sok - sok kuat di depanku" gumamku kesal dan meneteskan darahku ke dalam mulut Steven.
Tiba - tiba tangan Steven meraih tanganku dan meminum darahku dengan cepat seperti seseorang yang tidak minum selama sebulan
"Udah sadar?" gumamku melihat kelakuan Steven
"Darahmu manis" gumam Steven terus meminum darahku
"Masa? Menurutku tidak juga"
"Ya emang manis, ini pertama kalinya aku meminum darah selama beratus tahun dan darahmu mengalir cepat di tubuhku" gumam Seven terus meminum darahku
"Oh ya? baguslah" desahku dan Steven melepaskan tanganku sambil terus menatapku
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" protesku
"Aku tidak menyangka bisa diselamatin olehmu"
"Makanya jangan sok - sok kuat di depanku kalau kamu masih lemah" gerutuku beranjak pergi
"Kamu mau kemana?" tanya Steven menahan tanganku
"Mau tidur di sofa"
"Gak usah kamu tidur disini saja" gumam Steven menarik tanganku yang membuat aku bebaring di sebelah Steven
"Heiiii..." protesku
"Udah gak usah protes" desah Steven menutup mata sambil terus memegangi tanganku
__ADS_1
"Hmmm dasar tukang maksa" gumamku kesal dan aku hanya bisa terdiam tidak bisa bergerak karena pegangan Steven sangat kuat di tanganku