Merubah Takdir

Merubah Takdir
Episode 21 : Ujian Pertama


__ADS_3

Sreeegg ... Sreeeggg ... Sreeeg


Suara gorden kamar dibuka oleh seseorang yang membuatku terbangun dari tidurku yang nyenyak semalam. Aku mengusap kedua mataku dan menatap seorang pembantu yang berdiri di sebelah jendela.


"Selamat pagi nona" ucap pembantu itu dengan ramah


"Euummm... Pa... Pagi" gumamku menyipitkan kedua mataku


"Saya Lina, saya ditugaskan Tuan Steven khusus untuk melayani nona selama beberapa hari" ucap Lina dengan membungkuk


"Kenapa? Tidak perlu repot - repot" gumamku


"Nona tidak merepotkan saya, ini sudah menjadi tanggung jawab saya" gumam Lina tersenyum


"Kemana Steven?"


"Tuan Steven sedang ada urusan penting selama beberapa hari jadi Tuan Steven tidak sempat berpamitan dengan nona"


"Hmmm baiklah" desahku pergi ke kamar mandi


"Oh ya. Aku hari ini akan ke kampus dan pulang agak larut beberapa hari kedepan untuk kerja kelompok, jadi jangan laporin ke Steven ya" gumamku lalu menutup pintu kamar mandi


"Baik nona, saya siapkan sarapan" gumam Lina dan keluar dari kamarku


Beberapa hari ini aku akan ujian semester jadi mau tidak mau aku harus belajar di perpustakaan kampus agar aku bisa mendapatkan nilai baik. Aku segera mandi dan memakai seragamku karena aku tidak mau terlambat ke kampus. Setelah bersiap - siap aku turun ke lantai bawah untuk sarapan.


"Silahkan nona, ini sarapan nona" ucap Lina menyerahkan sepiring sandwich dengan susu sapi segar


"Terimakasih..." gumamku memakan sandwich dengan lahap


"Nona pulang larut karena harus ujian ya?"


"Iya, aku beberapa hari lagi akan ujian. Kenapa kamu tahu?"


"Karena saya dulu juga pernah kuliah nona"


"Kamu pernah kuliah?"


"Ya betul sekali nona"


"Jadi kenapa kamu mau menjadi pembantu Steven? Kan pekerjaan yang lainnya banyak" gumamku


"Ya kalau orang lain liat pasti akan berfikir seperti itu nona, tapi kalau sudah tahu Tuan Steven sebenarnya pasti rasanya ingin bekerja dengan Tuan Steven"


"Hmmm apa untungnya?" gumamku penasaran


"Eeh... Mmm nona sudah hampir telat, sopir sudah menunggu nona" ucap Lina membereskan piring bekas sarapanku dan mencuci piringnya


"Baiklah, terimakasih sarapannya Lina" gumamku tidak mengerti kenapa pembantu itu tidak menjawab pertanyaanku tadi.


Aku merangkul tasku dan berjalan keluar rumah untuk masuk ke dalam mobil yang sudah menungguku di depan rumah


"Selamat pagi nona, apakah nona sudah siap?" ucap sopir yang sudah agak berumur itu


"Iya saya sudah siap pak" gumamku dan mobil melaju meninggalkan rumah menuju ke kampusku

__ADS_1


Perjalanan yang lama dan membosankan membuatku selalu mengantuk tetapi aku tidak ingin sampai tertidur di kelas seperti waktu itu lagi. Aku menatap sopir yang sedang berfokus menyetir.


"Nama bapak siapa?" tanyaku


"Oh ya, mohon maaf nona belum memperkenalkan diri. Saya Leo sopir pribadi Tuan Steven"


"Saya Sani pak"


"Iya nona Sani, salam kenal" ucap sopir itu dengan tersenyum


"Bapak udah lama kerja dengan Steven?"


"Ya nona, saya bekerja sejak saya kerja di keluarga Huan"


"Keluarga Huan?, bukannya keluarga Huan adalah keluarganya Steven ya?"


"Ya betul sekali nona"


"Lalu, kemana semua keluarganya?"


"Keluarganya berasal di Jepang nona"


"Jepang?" tanyaku kaget


"Iya nona"


"Jadi kenapa Steven di Cina?"


"Karena tuan Huan memberikannya perusahaan untuk Tuan Steven di Cina. Namun ya dibandingkan perusahaan yang ada di Jepang, bisa dibilang lebih sukses perusahaan Tuan Huan yang ada di Cina ini"


"Jarang nona, soalnya Tuan Steven terlalu sibuk mengurusi urusannya, jadi dia akan pulang ke Jepang dengan calon istrinya"


"Calon istrinya?"


"Iya nona, namun sampai sekarang belum ada calon istrinya"


"Hmmm oh ya apakah sebelumnya ada sekretaris yang tinggal di rumah Steven?"


"Belum ada nona, cuma nona satu - satunya yang tinggal di rumah Tuan Steven"


"Oh begitu ya" desahku menatap pepohonan yang menjulang tinggi di kiri kananku


"Ya nona, kalau nona tinggal di rumah Tuan Steven berarti nona orang yang sangat penting bagi Tuan Steven"


"Pentingnya apa?"


"Ya saya juga tidak tahu nona"


"Steven itu apakah orang yang berkuasa?" gumamku


"Ya benar nona, apalagi Tuan Steven itu di takuti oleh banyak orang"


"Kenapa?"


"Ya kalau masalah itu nanti nona akan tahu sendiri"

__ADS_1


"Hmmm, jadi hari ini dan beberapa hari kedepan dia kemana?"


"Dia ada urusan nona"


"Urusan perusahaan?"


"Bukan nona, urusan yang lainnya"


"Urusan... lainnya?" tanyaku bingung


"Iya nona, urusan yang berbahaya dan pasti Tuan Steven tidak mengatakannya kepada nona"


"Urusan berbahaya? Apa maksudnya?"


"Tuan Steven itu selain menjadi CEO perusahaan terkenal tapi dia juga merupakan ketua perkumpulan dari mafia Kegelapan"


"Perkumpulan Mafia kegelapan?" gumamku bingung


"Ya nona, makanya tuan selain sibuk dalam urusan bisnis juga urusan perkumpulannya"


"Aah begitu" gumamku masih tidak mengerti


"Suatu saat nona akan mengerti"


"Oh makasih pak" gumamku mengambil handphoneku untuk membuka mesin pencarian


Aku mencoba mengetik semua kata tentang perkumpulan mafia kegelapan tetapi tidak aku temukan, apakah yang dikatakan oleh sopir Steven bisa di uji kebenarannya, ataukah emang namanya perkumpulannya mafia jadi tidak dipublikasikan. Lalu aku harus mencari kemana lagi informasi tentang perkumpulan itu. Selama perjalananpun aku masih terfikirkan tentang perkumpulan milik Steven itu.


"Nona kita sudah sampai" ucap sopir menghentikan mobil di depan kampus yang masih sepi


"Terimakasih pak, nanti jemput sekitar jam 10 malam aja ya" gumamku dan turun dari mobil


"Baik nona" ucap sopir itu dan meninggalkanku di depan kampus, akupun berjalan masuk ke kampus


"Saaanniii..." panggil Nana di belakangku


"Oh hay Nana"


"Tumben pagi banget kamu datang dan sepertinya mobil tadi aku pernah melihatnya" gumam Nana menatapku bingung


"Ya emang kamu udah pernah melihatnya" gumamku


"Mobil siapa itu?"


"Nantilah aku ceritain, bentar lagi ujian akan mulai jadi kita harus segera masuk ke dalam" gumamku mengalihkan pembicaraan


"Oh ya, ayolah" gumam Nana sambil menatap jam tangannya


Kami berdua segera duduk di meja masing - masing dan mengerjakan soal ujian matematika yang diberikan oleh dosen. Ya untungnya aku bisa dalam matematika jadi tidak membuatku kesulitan mengerjakan 50 soal matematika.


"Husst Sani, nanti tunggu aku di perpustakaan ya" bisik Nana di belakangku


"Baiklah" desahku dan mengerjakan semua soal ujian matematika dengan serius


Walaupun aku tidak belajar tentang matematika semalam, tapi untungnya matematika adalah pelajaran yang sangat aku suka dan pelajaran paling mudah dibandingkan pelajaran lainnya

__ADS_1


Satu jam kemudian aku menyelesaikan semua soal dengan cepat dan segera mengumpulkannya ke dosen dan keluar kelas pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi tentang mafia milik Steven itu, lagi pula aku juga menunggu Nana yang sedang mengerjakan soal ujian matematika yang memang tidak terlalu mudah untuk teman - temanku yang lain


__ADS_2