
Aku melihat istana langit yang sangat indah, banyak bangunan yang menjulang tinggi berwarna putih, jalanan juga terbentuk dari awan yang sangat lembut bahkan aku bisa menyentuh awan yang melewati di depanku dengan jariku secara langsung
"Kamu suka?" gumam Sony menatapku
"Ya, sangat luar biasa"
"Kamu bisa datang kemari kapanpun kamu mau"
"Benarkah?"
"Ya" Sony menggandengku masuk ke sebuah bangunan yang luas dan besar, di depan pintu masuk terdapat beberapa orang memakai jubah putih berdiri sedikit membungkuk di sisi kiri dan kanan kami
"Itu bangunan apa?"
"Kerajaanku"
"Kerajaanmu? Waaah besar juga ya"
"Ya begitulah" gumam Sony santai
"Selamat datang yang mulia" ucap salah satu orang itu dengan sopan
"Selamat datang permaisuri" ucap salah satu perempuan yang cantik di kananku
"Terimakasih" gumam Sony dengan lembut
"Ruangan yang dipesan yang mulia sudah disiapkan"
"Baiklah, kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian"
"Baik yang mulia" gumam laki - laki itu dan mereka semua menghilang di kiri dan kanan kami sedangkan Sony terus menggandengku memasuki bangunan itu
"Kita mau kemana?"
"Ke kamar"
"Heeh mau ngapain?" tanyaku kaget
"Ya kamu istirahat ajadi kamar aja dulu, aku ada sedikit urusan"
"Gak mau, aku ikut"
"Kenapa? Kamu takut?" Aku pun mengangguk dengan cepat
"Hmm baiklah, tapi kamu harus bersamaku, paham"
"Iya aku paham, emang kita mau kemana?"
"Aku ada sedikit urusan dengan bawahanku"
"Rapat ya?"
"Ya..."
"Oh begitu, kalau begitu aku jalan - jalan saja"
"Kamu gak jadi ikut?" aku langsung menggelengkan kepalaku
"Kamu ingin kemana?"
"Ingin melihat wilayah disini saja, aku juga tidak mau mengganggumu"
"Baiklah, jangan kemana - mana ya"
"Iya aku tahu, emang aku anak kecil apa" gerutuku kesal
"Iya - iya ya udah kamu boleh kok jalan - jalan. Tapi tunggu.." gumam Sony menyentuh dahiku dengan lembut
"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku bingung
"Ya aku menutup sisi gelap hatimu jadi kamu tidak akan bisa marah"
"Tapi kekuatanku?"
"Tenang saja, aku tidak melakukan apapun"
"Baiklah, terimakasih Sony" gumamku keluar dari kerajaannya yang megah itu
Aku berjalan keluar menyusuri jalanan yang terbuat dari awan itu, pohon - pohonnya juga terbuat dari awan - awan yang sangat lembut saat di pegang, di jalanan juga terdapat banyak orang - orang yang sedang berkeliling di jalanan istana langit
"Waaah indah juga istana langit ini" desahku menikmati suasana istana langit yang damai
Aku berjalan ke sebuah taman dan duduk di sebuah kursi taman sambil menikmati suasana di sekitar taman. Disaat aku menikmati suasana yang ada di taman, tiba - tiba datang seorang laki - laki tampan memakai jubah hitam yang pernah aku temui di kampus dulu
"Sani" ucap laki - laki itu khawatir
"Eeh bukan... Hormat saya Tuan putri" ucap laki- laki itu sedikit membungkukan badannya ke arahku
"Iya, kamu siapa?" tanyaku bingung
"Aku Alex Huan, adik kandung dari Steven Huan"
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa tahu aku disini?"
"Ya aku tahu saja"
"Kenapa kamu kemari?"
"Mmmm aku ingin mengabarkan suatu berita buruk kepadamu"
"Berita buruk? Apa itu?"
"Mmmm gimana ya mengatakannya"
"Udah katakan saja"
"Ayahmu telah meninggal" gumam Alex pelan
"A... Apa? Kenapa bisa?" teriakku terkejut tidak percaya
"Siapa yang melakukannya?"
"Mmm... I.. Itu" gumam Alex terbata - bata
"Karena kamu tidak mau membantu Steven dan Leo jadi mereka berdua kehilangan akal dan langsung menghabisi ayahmu yang hanya manusia itu"
"Kemana mereka berdua?" ucapku kesal, aku tidak percaya ayahku meninggal di bunuh oleh dua raja yang menyebalkan itu
"Dia masih di rumahmu"
"Baiklah terimakasih" gumamku melangkahkan kakiku menuju ke depan rumahku
Di depan rumah aku melihat banyak sekali bawahan Steven dan Leo yang sedang menikmati darah segar pembantuku dengan tanpa salah dan aku sendiri sangat kesal melihatnya. Aku mengayunkan tangan kananku dan menyerang bawahan Steven dan Leo sambil berjalan masuk ke dalam rumah
Di dalam rumah aku melihat banyak sekali mayat - mayat orang yang tergeletak dengan darah yang masih segar di lantai rumahku, bahkan mayat beberapa polisi juga ada di situ. Aku berjalan dengan penuh kesal dan amarah menaiki tangga rumahku. Di lantai dua depan kamarku aku melihat dua orang berjubah hitam berdiri di depan kamar sambil memegang mayat ayahku. Aku melihat kejadian itu membuatku tambah kesal dan sangat marah, aku merebut mayat ayahku dan membopong tubuh kaku ayahku
Rasanya ingin aku marah tapi tidak tahu kenapa aku tidak bisa marah, ingin sekali aku menghajar dua orang yang menyebalkan itu tapi aku harus tetap sabar apalagi Sony tidak ada disini
"Ini ulah kalian berdua ya" gumamku menatap dua wajah yang terlihat haus darah
"Oh kamu datang ya ternyata tidak aku duga" gumam Steven dingin
"Kenapa kalian tega melakukan ini ?" gumamku sedih
"Kenapa ya? Ini salah kamu tidak mau membantu kami" gumam Leo kesal
Aku meliha mata mereka berdua berwarna merah menyala padahal Leo bermata biru tapi kali ini mereka berdua bermata merah yang sama. Aku berbalik meninggalkan dua orang itu menuju ke pemakaman dan memakamkan ayahku di tempat pemakaman itu. Aku sangat sedih ayahku meninggal dengan sia - sia seperti ini apalagi aku tidak percaya dua orang yang selalu menjagaku itulah yang membunuh ayahku dan pembantu - pembantu lainnya
"Kamu hanya berani kabur saja ya ******" ucap Steven dengan dingin
"Mending kamu mati saja"
"Oh begitukah" desahku menyerang Steven dan Leo yang ada di depanku
"Haah kamu menjadi lemah seperti itu ya ternyata" ejek Leo menyerangku
Leo dan Steven terus menerus menyerangku sedangkan aku terus menyerang dan menghindar dari serangan mereka, aku sedikit terkejut dengan kekuatan mereka yang besar seperti itu. Seteah beberapa lama kami saling serang, tidak aku sangka serangan Steven mengenaiku dan aku terjatuh ke tanah
"Uuukkhhh..." dadaku terasa sakit yang menyebabkan aku muntah darah
"Hahaha, kamu lemah juga ya ternyata. Serangan seperti itu aja kamu sudah tidak berdaya seperti itu" tawa Steven bangga sedangkan Leo terus menyerangku yang membuat badanku semuanya terasa sakit
"Mending kamu mati saja, kamu emang tidak pantas hidup" ejek Leo dengan bangga
"Oh ya? Bukannya kalian berdua yang pernah bilang kalau aku harus tetap hidup ya" gumamku berusaha untuk berdiri
"Hahaha sejak kapan kami berbicara seperti itu"
"Lalu buat apa kalian melindungiku dulu?" protesku kesal
"Hanya untuk mendapatkan darahmu saja"
"Darahku? Buat apa?"
"Untuk menguasai dunia pastinya" gumam Steven dingin
"Hanya itu? Apa aku tidak berarti buatmu?" gumamku sedih
"Berarti apa bagi kami? Kamu seperti ibumu yang vampir rendahan yang tidak punya rasa berterimakasih kepadaku raja vampir"
"Dia juga tidak menghargaiku sebagai raja iblis malah pergi meninggalkan dunia kami dan menikahi seorang manusia biasa seperti itu. Apa yang harus di banggakan coba?"
"Diam kalian berdua!!" teriakku kesal
"Jangan buat aku kesal..." teriakku mengumpulkan kekuatanku
"Kenapa kalau kami membuatmu kesal, tidak ada untungnya buat kami"
"Begitukah?" gumamku menyerang kedua orang itu dengan kekuatan penuhku dan membuat kedua orang itu terjatuh ke tanah
"Akusudah sangat bersabar menghadapi kalian berdua.." gumamku terus menyerang mereka berdua tanpa ampun
"Tapi inikah yang aku dapatkan? Lebih baik kalian MATI" ucapku kesal aku sangat murka mendengar perkataan mereka mengejek orang tuaku
__ADS_1
Aku terus menyerang mereka berdua dengan kekuatan penuhku, rasa sakit hati membuat kekuatanku bertambah dari kekuatanku yang sebelumnya
"Sa... Sani..." ucap Steven pelan sambil menatapku, matanya tidak semerah tadi tapi aku terlanjur sakit hati jadi aku tidak menghiraukan dia sama sekali dan aku terus menyerang
"Sani hentikan!!" teriak Nana menangkis kekuatanku
"Maafkan mereka Sani" gumam Alex yang berdiri di sebelah Nana
"Minggir kalian berdua, ini bukan urusan kalian" gumamku menyerang mereka terus menerus
"Sani aku temanmu, jangan sakiti kakak kami"
"Jangan sakiti? Enak sekali kamu berbicara, dia sudah membunuh satu - satunya keluargaku yang ada di dunia manusia"
"Ya kami tahu, mereka tidak sadar melakukan itu"
"Tidak sadar? Apanya yang tidak sadar, mereka malah mengejek orang tuaku, AKU TIDAK TERIMA!!" teriakku keras dan menyerang Alex dan Nana hingga terpental kebelakang
"Sani, kami bersungguh - sungguh. Kakak kami terpengaruh oleh kekeuatan raja kegelapan" gumam Nana berusaha menjelaskan kepadaku
"Aku tidak peduli, sama sekali tidak peduli. Siapapun yang menyakiti keluargaku harus di bunuh" gumamku kesal dan menyerang Steven dan Leo dengan kekuatan penuhku tapi berhasil ditangkis oleh Candra
"Sani sadarlah, yang Nana dan Alex katakan benar. Mereka terpengaruh kekuatan raja kegelapan. Lihatlah mereka berdua kembali ke diri mereka sendiri setelah terkena seranganmu" gumam Candra yang berdiri di depan Steven dan Leo
"Hahaha kalian tau ya ternyata" tawa raja kegelapan berjalan ke arah kami semua
"Siapa lagi kamu!!" protesku
"Aku dewa kematian dan saat ini ingin mencabut nyawamu" gumam raja kegelapan menyerangku dengan kekuatannya yang membuatku terjatuh ke tanah
"Hahaha hanya segini kekuatanmu? Sangat tidak setara dengan bayanganku , buang - buang waktuku saja beratus tahun ku menunggu ternyata hanya wanita lemah sepertimu. Beberapa detik saja kamu sudah lenyap" tawa raja kegelapan menyerangku dengan kekuatannya, sedangkan aku hanya diam dan pasrah kalau aku harus mati di depan makam ayahku.
Aku memejamkan kedua mataku dan bersiap untuk menahan sakitnya tubuhku saat nyawaku berpisah dengan ragaku. "Sony, maaf aku harus mati saat ini" gumamku dalam hati. Tapi betapa terkejutnya aku saat tubuhku di gendong oleh seseorang dengan lembut.
"Aku tidak akan mengizinkanmu mati dengan cepat" gumam seseorang di telingaku, aku membuka mataku dan melihat wajah Sony yang sangat khawatir
"Ka... Kaisar Langit? Kamu kenapa bisa disini?" tanyaku kaget
"Hanya ingin membawamu kembali ke istana langit"
"Ta...Tapi dewa kematian?"
"Dia sudah pergi, emang bandel ya dibilang jangan kemana - mana malah keluyuran disini"
"Ak... Aku ada sesuatu hal" desahku pelan
"Ya aku tahu"
"Hormat saya kaisar langit" gumam Candra sedikit membungkukkan badannya
"Oh raja siluman ya"
"Iya hamba sendiri yang mulia"
"Mereka semua kenapa bisa seperti itu?" tanya Sony bingung
"Mmm itu karena..." gumam Candra sedikit memberi kode kepada Sony
"Oh ini ulahmu ya?" gumam Sony mencubit hidungkku
"Ya, salah mereka sendiri membunuh ayahku dan orang lain yang ada di rumahku" gumamku kesal
"Itu bukan salah mereka"
"Kenapa kamu malah membela mereka, mereka tetap salah!!" protesku
"Ya aku tahu..."
"Tapi bukan keinginan mereka, dewa kematian yang membuat mereka jadi seperti itu. Jadi maafkan mereka"
"Tidak mau, mereka sudah membunuh orang tuaku. Aku tidak terima" protesku kesal dan turun dari gendongan Sony
"Sani, maafkan mereka atau tidak" gumam Sony dengan lembut
"Enggak..."
"Sani"
"Enggak ya enggak!!"
"Aku yang memohon kepadamu loh, kamu mau menolak permohonanku?"
"Hmmm baiklah aku maafkan" desahku mengalah
"Terimakasih Sani, terimakasih Kaisar langit" ucap Alex dan Nana senang sambil membopong Steven dan Leo dengan bahu mereka
"Sani, terimakasih. Aku akan membalas kebaikanmu" desah Steven tersenyum kepadaku
"Udah gak perlu basa basi, aku izinkan kalian hidup kali ini karena kaisar langit yang memintanya. Lain kali tidak aku maafkan, dan jangan menemuiku lagi" gumamku kesal membalikkan badanku
"Sampai kapanpun aku akan terus membenci kalian kaum vampir dan kaum iblis" gumamku dan pergi dari tempat pemakaman itu
__ADS_1