
Aku berbaring di tempat tidur, mencoba untuk memejamkan mataku tapi aku tidak mampu untuk tertidur. Karena tidak bisa tidur akhirnya aku keluar kamar dan berjalan - jalan di dalam kerajaan Steven ini.
"Hmmm bangunannya begitu tua banget" gumamku menyentuh dinding yang terasa basah
Aku terus berjalan menyusuri lorong yang dihiasi sinar bulan purnama dan sinar bulan yang menjadi satu - satunya pencahayaan di lorong yang kulalui ini
Aku berjalan menaiki tangga dengan hati - hati, aku takut kalau aku akan membangunkan orang - orang yang sedang beristirahat apalagi sekarang sudah malam.
Disaat aku berjalan dilantai atas, aku melihat suatu pintu yang besar dan terukir gambar yang tidak aku mengerti.
"Pintu ini kok berbeda dengan pintu lain ya?" gumamku bingung. Aku mencoba membuka pintu itu sedikit untuk mengintip apa yang ada di dalam
Di dalam aku melihat Steven yang sedang duduk gagah di kursi singgasananya dan ada beberapa orang yang duduk di sekitar Steven dengan memakai jubah hitam dan mata yang sangat merah.
"Itu Steven ya?" gumamku pelan
"Ganteng juga dia" desahku menatap Steven yang sedang duduk di kursi singgasananya
"Jadi bagaimana?" gumam Steven dingin
"Masalah itu sudah kami atur yang mulia apalagi kartu As sudah berada kita, jadi yang mulia tenang saja" ucap seorang laki - laki di depannya
"Hmmm baiklah, lanjutkan" gumam Steven menatapku yang membuatku kaget dan bersembunyi di balik pintu
"Dia sadar aku mengintip dia ya?" gumamku kaget
"Aku pergi aja deh, tatapnya menakutkan" gumamku berjalan kembali menyusuri lorong yang gelap itu lagi
Di ujung lorong aku melihat sebuah pintu balkon yang terbuka, aku memasuki pintu tersebut dan melihat pemandangan hutan yang gelap dan disinari bulan purnama yang indah serta bintang - bintang yang berkelip dilangit
"Hmmm bagus juga pemandangannya" desahku bersandar di pagar balkon sambil menatap pemandangan hutan yang indah
"Ini ya dunia lain yang dibicarakan ayah di telpon? Hmmm lumayan menakutkan tapi indah juga sih" desahku
Disaat aku enak - enak menikmati pemandangan indah ini, tidak tahu kenapa tiba - tiba bulu kudukku berdiri. Aku merasa ada seseorang yang berdiri di belakangku dengan tatapan dingin tapi aku mencoba bersikap biasa
"Kenapa kamu berdiri disitu?" gumamku berusaha tidak takut apapun
"Kamu bisa merasakan kehadiranku?" gumam Steven berjalan ke arahku
"Bagaimana tidak merasakannya kalau kehadiranmu membuat suasana tidak nyaman" gumamku melirik Steven yang ada di belakangku
"Oh ya? Emang aku menakutkan seperti itu, bukannya tadi kamu bilang aku ganteng ya?" gumam Steven menarik daguku yang membuat mata kami saling bertemu
"Siapa yang bilang?" gumamku
"Bukannya kamu yang bilang sendiri ya tadi"
"Kapan?" protesku
"Tadi di depan pintu ruanganku" bisik Steven di telingaku
"Enggak ya, aku gak bilang begitu" gumamku malu
"Gak perlu malu - malu, kalau kamu malu - malu telingamu memerah loh hahaha" tawa Steven menatapku
"Enggak ya aku gak malu"
"Ya ya ya emang wanita itu pintar menyembunyikan perasaannya ya" desah Steven
"Kamu ngapain di luar sendirian?"
"Aku cuma ingin menikmati malam di dunia lain" gumamku
"Oh ya bagaimana pemandangan di dunia kami?"
"Yaa, sunyi dan menakutkan tapi indah" gumamku
"Begitukah?" gumam Steven, "Iya sangat indah, bahkan di dunia manusia tidak seindah ini" gumamku menatap Steven
"Ya semoga kamu betah di dunia ini" desah Steven menatapku
__ADS_1
"Betah?"
"Ya, ini rumah keduamu"
"Mana bisa ini rumah keduaku!!" protesku
"Hei ibumu juga ada di dunia ini tahu!!"
"Hmmm iya juga sih" desahku
"Oh ya, kamu tahu Sani, cuma kamu yang bisa melihat kami rapat di ruanganku"
"Maksudnya?" tanyaku bingung
"Sebenarnya aku tadi sedang rapat dengan perdana menteriku dan karena rapat penting jadi aku pasang pelindung biar orang luar tidak bisa mendengarnya"
"Jadi? Kenapa kamu memberitahukanku?" gumamku menatap Steven
"Jadi kamu tadi mendengar perbincangan kami kan?" ucap Steven menatapku
"Mmm ya begitulah, emang kenapa?"
"Sudah aku duga, baguslah memang tebakanku tidak salah" desah Steven tersenyum
"Kenapa kamu tersenyum?"
"Tidak, cuma teringat sesuatu"
"Teringat apa?"
"Teringat perkataan ayahku"
"Apa itu?"
"Kalau pemilik darah tiga campuran itu sangat spesial"
"Spesial apanya, biasa aja kali aku kan manusia bukan bangsa dari kalian kok" protesku
"Beda, manusia ya manusia. Aku kan manusia" protesku kesal
"Kamu bisa kok jadi vampir" gumam Steven santai
"Enggak, aku gak mau kamu gigit!!" protesku
"Siapa yang menggigitmu?"
"Kata kamu tadi manusia bisa jadi vampir kalau digigit vampir"
"Kamu bisa sendiri tanpa di gigit vampir"
"Haah? Caranya?"
"Kapan - kapan aku kasih tahu"
"Aku maunya sekarang"
"Kenapa terburu - buru?"
"Ya kan penasaran" gumamku
"Nanti kalau saat purnama merah aku akan memberitahukanmu"
"Purnama merah? Apa itu?"
"Bulan purnama berwarna merah"
"Emang bisa bulan jadi warna merah?"
"Bisa, besok lusa setelah pertemuan aku beritahu kamu" gumam Steven santai
"Beneran nih?"
__ADS_1
"Iya beneran, tapi kamu jangan kaget melihat tampilanmu"
"Emang kenapa dengan tampilanku?" gumamku penasaran
"Ya kamu akan tahu sendiri nantinya"
"Hmmm bikin penasaran tahu" desahku
"Oh ya kenapa kamu tidak tidur?" tanya Steven menatapku
"Aku tidak bisa tidur, kamu sendiri kenapa tidak tidur?"
"Aku vampir, malam kami tidak pernah tidur. Kami tidur kalau disiang hari"
"Tunggu sebentar kamu di dunia manusia tidak pernah tidur siang?"
"Aku sih sekali - kali tidur di siang hari apalagi aku harus bekerja juga, apalagi dulu pernah kan aku ketiduran di kamarmu saat pagi hari" gumam Steven yang mengingatkanku
"Oh pantes saja dibangunin susah banget" gumamku mulai mengerti
"Ya begitulah, kamu tidurlah nanti saat ujian kamu ketiduran terus marahin aku" gumam Steven menatapku
"Aku tidak bisa tidur, dan aku juga tidak akan memarahi kamu" gumamku, tiba - tiba Steven menggendongku masuk ke dalam kerajaannya
"Hei mau ngapain? Turunin aku!!" protesku
"Udah ini waktunya tidur untuk manusia, apalagi di luar anginnya dingin kamu nanti bisa sakit" gumam Steven menggendongku sambil menuruni tangga
"Kan aku udah bilang gak bisa tidur" gumamku kesal
"Aku temani kamu" gumam Steven menidurkan aku di tempat tidur dan Steven duduk di sebelahku
"Emang aku anak kecil apa yang harus kamu temani!!" protesku
"Udah jangan protes!" gumam Steven menjentikkan tangannya dan merubah kamar yang lembab itu menjadi kamarku
"Ini di rumahmu? Atau masih di kerajaanmu?"
"Ini di rumahku di dunia manusia, aku tahu kamu tidak bisa tidur kan dengan kamar itu. Jadi tidurlah" gumam Steven mengelus rambutku dengan lembut
"Kamu bisa lembut juga ya Steven" gumamku memejamkan mata
"Menurutmu?"
"Menurutku kamu laki - laki tua yang dingin dan menyebalkan"
"Hei aku gak tua, dingin, dan menyebalkan ya!!" protes Steven mencubit hidungku
"Adduuhhh sakit tahu!!" protesku
"Ya kamu sih menyebutku tua, dingin, dan menyebalkan"
"Kan itu faktanya tahu" gumamku menatap wajah Steven dari bawah
"Oh ya? Tapi aku hanya lembut ke satu orang saja"
"Siapa?"
"Kamu" gumam steven menatapku
"Heeh mana pernah kamu lembut kepadaku?" gumamku
"Sering ya aku lembut kepadamu"
"Aku tidak percaya"
"Hmmm terserah kamu lah, kamu tidurlah" gumam steven sambil terus mengelus rambutku dengan lembut
"Baiklah steven, aku jadi mengantuk banget. selamat malam yang mulia" gumamku memejamkan mata
"Selamat malam ratuku" gumam steven pelan
__ADS_1
Tidak tahu kenapa mataku tiba - tiba terasa mengantuk saat Steven mengelus rambutku dengan lembut padahal tadinya aku tidak bisa tidur sama sekali