
Setelah bertahun - tahun kepergian Sony untuk bertapa aku sendiri meningkatkan kekuatanku seperti biasanya. Aku meningkatkan kekuatanku karena aku juga ingin kuat dan aku tidak ingin menyusahkan Sony jadi aku harus terus berusaha untuk bisa kuat
"Sani kamu tumben rajin banget latihan hari - hari ini?" gumam Nana terduduk di atas pohon
"Ya aku ingin menjadi kuat"
"Mau ngalahin raja kegelapan?"
"Iya benar"
"Padahal ada cara lain untuk mengalahkannya loh"
"Haah? Emang ada?" tanyaku kaget
"Ya coba tanyakan ke kakek dan nenek pasti mereka tahu"
"Nana kamu mau mengantarku menemui mereka tidak?" gumamku
"Enggak ah, kamu kesana aja sendiri"
"Ayolah Nana please" gumamku memohon
"Mmm baiklah kita menemui kakek dulu" gumam Nana pergi mendahuluiku
"Hmmm baiklah" desahku berpindah ke kerajaan vampir yang sangat terlihat suram itu
"Kakek oh kakek!!" teriak Nana di depanku
"Kamu kenapa teriak - teriak seperti itu?" gumamku bingung
"Ya biasanya kakek ada disini cuma tumben kakek tidak ada" gumam Nana bingung
"Kalian mencari siapa?" gumam Steven dengan dingin
"Kamu kenapa berada disini?" ucap Nana terkejut
"Ini istanaku jadi kenapa kamu melarangku kesini" gumam Steven dingin
"Aku tidak melarangmu, aku hanya bertanya kepadamu" gerutu Nana kesal
"Aku bertanya sekali lagi, kalian mencari siapa?" gumam Steven dingin
"Kami mencari..."
"Aku mencari kakek apa kamu tahu?" gumamku memotong perkataan Nana
"Kenapa kamu mencarinya?"
"Hanya tanya sesuatu"
"Dia tidak ada disini" gumam Steven dingin
"Kakek kemana Steven?" tanyaku lembut
"Kalian tidak perlu tahu"
"Kamu kenapa sih ngeselin!!!" gerutu Nana kesal
"Tenang Nana..." gumamku menenangkan Nana yang emosi
"Steven aku bertanya baik - baik kepadamu" gumamku serius
"Kakek ada di kerajaan iblis, kalau kalian ingin bertemu dengannya temui dia disana" gumam Steven serius
"Terimakasih Steven" gumamku tersenyum
"Nana boleh pergi tapi kamu tidak" gumam Steven menatap sinis
"Kenapa tidak boleh, kalau Sani tidak boleh pergi aku juga tidak pergi!!" protes Nana
"Aku bilang pergi ya pergi!!" protes Steven menyerang Nana tapi untung aku berhasil menangkisnya
"Steven kamu apa - apaan sih!!" protesku
"Aku tidak mau tahu, aku tunggu kamu di kamarku" gumam Steven pergi ke kamarnya
"Nana kamu pergilah dulu ke tempat kakek" gumamku berjalan meninggalkan Nana tapi Nana menggenggam tanganku
"Tidak boleh, kalau kamu diapa - apain oleh Steven bagaimana?"
"Tenang saja Nana, aku juga ingin bertemu dengan jazad ibuku jadi mau tidak mau harus meminta Steven membuka segel ruangan ibuku" gumamku tersenyum
__ADS_1
"Tapi Sani!!"
"Tenang saja Nana aku tidak akan kenapa - napa kok" gumamku melepaskan genggaman tangan Nana
"Baiklah, tapi setelah selesai kamu harus ke kerajaan iblis ya"
"Iya Nana tenang aja" gumamku tersenyum dan berjalan ke kemar Steven
Aura di kamar Steven sangat berubah berbeda dengan aura kamar yang pernah aku datangi terakhir kali aku datang menemui Steven dahulu, aku membuka kamar itu dan melihat Steven yang terduduk di jendela seperti saat dia mengalami depresi setelah membunuh ayahku dahulu
"Akhirnya kamu datang, Sani" gumam Steven melirikku dengan tatapan dingin
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" gumamku berusaha sesantai mungkin
"Banyak hal, masuklah dulu" gumam Steven dan aku melangkah masuk ke dalam kamarnya
Cekrek
Suara pintu kamar yang terkunci sendiri, aku tidak tahu apa yang akan Steven lakukan kepadaku. Aku juga tidak mungkin bisa kabur dengan teleportasiku karena kamarnya bukan seperti kamar biasanya
"Kemarilah" gumam Steven dingin dan aku memberanikan diri duduk di sebelah Steven
"Apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku?" gumamku pelan
"Banyak hal, kamu takut denganku?"
"Tidak aku sama sekali tidak takut denganmu, walaupun aku terbunuh olehmu juga aku tidak masalah" gumamku pelan
"Hahaha kamu selalu saja pesimis seperti itu" tawa Steven menatapku
"Ya memang aku dari dulu pesimis kok, jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" gumamku serius
"Kenapa kamu memberikan darahmu kepada kaisar langit?" gumam Steven menatapku serius
"Karena dia tidak sadarkan diri bermingu - minggu setelah melawanmu Steven"
"Oh ya? Kalau yang tidak sadarkan diri itu aku apa kamu akan memberikan darahmu kepadaku?"
"Ya aku memberikan darahku padamu" gumamku
"Kamu bohong!!" teriak Steven dingin dan langsung mencekikku
"A... Aku tidak berbohong kepadamu" gumamku berusaha menjelaskannya kepada Steven
"Aku ... Aku tidak tahu Steven, ka ... Kalau bukan karena bawahan kaisar langit mengabariku aku juga tidak tahu" gumamku terengah - engah
"Kalau emang perkataanmu sungguh - sungguh jadi berikan darahmu untukku sekarang" gumam Steven menajamkan taringnya
"Ste... Steven tunggu" gumamku berusaha menahan Steven tapi kekuatanku tidak bisa menahannya dan akhirnya taring Steven menancap di leherku
"Uuuukkkhhh..." rintihku kesakitan dan Steven menghisap darahku dengan cepat
Aku sangat merasa bersalah kepada Sony karena memberikan darahku kepada Steven tapi aku tidak bisa menahannya dengan kekuatanku yang tidak sebanding ini "Sony, maafkan aku" gumamku dalam hati dan tidak terasa air mataku menetes di pipiku
"Kenapa kamu menangis?" gumam Steven terus menghisap darahku tanpa henti
"Ti... Tidak ada" gumamku pelan
"Apakah sakit?"
"Se... Sedikit" gumamku menggigit bibir bawahku, aku sangat ingin menangis sekencang - kencangnya dan mencari Sony tapi aku sendiri tidak tahu Sony berada dimana dan aku juga merasa sangat bersalah kepada Sony sedangkan Steven terus menghisap darahku dengan taringnya
"Steven aku boleh meminta sesuatu kepadamu" gumamku menahan sakit di leherku
"Kamu mau apa?"
"Aku ingin menemui jazad ibuku"
"Untuk apa?"
"Aku hanya ingin melihatnya saja" gumamku pelan
"Tidak"
"Kenapa tidak?"
"Tidak ya tidak"
"Tapi kan aku sudah memberikanmu darahku yang berharga, aku hanya ingin bertemu ibuku saja tidak lebih"
"Hmmm baiklah nanti aku temani" desah Steven mengalah dan terus menghisap darahku tanpa henti
__ADS_1
"Terimakasih Steven" desahku senang
Steven terus menghisap darahku selama kurang lebih satu jam dan akhirnya dia melepaskan taringnya yang ada di leherku lalu tersenyum puas kearahku
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" gumamku pelan
"AKu senang bisa menikmati darahku yang segar itu" gumam Steven terus tersenyum
"Oh ya?" desahku bersandar di bahu Steven, tidak tahu kenapa badanku terasa sangat lemah dan lemas seperti saat Sony menghisap darahku dahulu
"Kamu kenapa?"
"Tidak apa - apa kok, aku selalu seperti ini kalau darahku terhisap" gumamku berusaha untuk berdiri
"Kamu istirahatlah dulu"
"Tidak mau aku mau bertemu ibuku" gumamku berjalan sempoyongan
"Hmmm keras kepalamu masih ada ternyata" desah Steven menggendongku dengan pelan
"Turunkan aku!!" protesku
"Udah jangan protes" gumam Steven melangkahkan kakinya dan berpindah ke sebuah ruangan yag lembab dan terasa sangat pengap tanpa jendela sama sekali
"Di dalam ruangan itu ibumu" gumam Steven menurunkanku
"Oh ya, cepatlah buka" gumamku menyandarkan tubuhku di dinding
"Ya sebentar" gumam Steven membaca beberapa kalimat mantra dan pintu ruangan itu terbuka
"Terimakasih Steven, aku akan masuk sendiri kamu tidak perlu ikut" gumamku menyegel pintu itu dengan mantra yang sering diucapkan oleh Sony kalau mengalahkan raja kegelapan
"Hei buka Sani, apa yang kamu lakukan?" protes Steven kesal
"Tidak ada, aku hanya ingin berbicara dengan ibuku saja" gumamku berjalan sempoyongan ke arah peti milik ibuku, di dalam peti aku melihat ibuku yang terbujur kaku dengan wajah yang masih cantik terlihat sampai sekarang
Aku mengucapkan beberapa mantra pembangkit roh miliki Sony dan akhirnya roh ibuku bangkit
"Sani anakku" gumam ibu tidak percaya
"Oh hai ibu, bagiaman kabar ibu?" gumamku tersenyum
"Kamu belajar pembangkit roh dari siapa?"
"Dari buku milik kaisar langit" gumamku pelan
"Kamu membangkitkan rohku pasti ada yang ingin kamu tanyakan?"
"Iya ibu, sekarang Steven menjadi raja kegelapan sedangkan kaisar langit sedang bertapa, aku tidak yakin kaisar langit bisa mnegalahkan Steven ibu. Jadi apa yang harus aku lakukan?" gumamku pelan
"Oh ya? Sudah ibu duga"
"Hmmm lalu apa yang harus aku lakukan ibu? Kata kakek Steven tidak akan mungkin terkalahkan apalagi dia seorang vampir" gumamku sedih
"Emang sedikit susah nak, tapi ada satu caranya"
"Caranya? Apa itu?"
"Caranya kamu memberikan seluruh darahmu dan kekuatanmu kepada kaisar langit"
"Emang itu berhasil ibu?"
"Iya itu pasti akan berhasil, tapi ada konsekuensinya"
"Apa konsekuensinya ibu?" tanyaku penasaran
"Mungkin kamu akan menjadi manusia biasa yang tidak punya kekuatan dan tidak bisa melihat kami ataupun kemungkinan kedua kamu akan mati"
"Apa hanya itu ibu?"
"Ya dulu kakek kaisar langit juga melakukan itu, tapi sayangnya dia bukan keturunan vampir jadi dia meninggal. Kalau kamu punya keturunan vampir mungkin kamu akan menjadi manusia biasa tanpa kekuatan apapun"
"Oh begitu ya? Terimakasih ibu...Uhhuuukkk .... Uuuhhuukk" tiba - tiba aku batuk darah yang lumayan banyak
"Nak kamu tidak apa - apa?"
"Tidak apa - apa kok ibu, sepertinya Sani hanya bisa melakukan sampai detik ini saja. Oh ya ibu ayah sudah meninggal terbunuh maafkan anakmu ini tidak bisa melindungi ayah" gumamku sedih
"Tidak nak, bukan salahmu. Mungkin itu sudah takdir apalagi ibu minta maaf tidak bisa menemanimu nak"
"Tidak apa ibu, Sani sayang ... Ibu" desahku terjatuh di lantai ruangan itu
__ADS_1
Aku tidak menduga membangkitkan roh mengorbankan banyak darahku apalagi sebelumnya Steven sudah menghisap habis darahku jadi aku hanya bisa membangkitkan roh ibuku dengan sedikit darah yang tersisa, tapi bagaimanapun aku snagat senang bisa bertemu ibuku untuk yang terakhir kalinya