Merubah Takdir

Merubah Takdir
Episode 47 : Masalah Ibu


__ADS_3

Pagi ini hujan turun dengan derasnya, petir menyambar terus menerus yang mmebuat aku terbangun dari tidurku . Aku mengusap kedua mataku dengan tangan kananku dan aku membuka kedua mataku dengan pelan, betapa terkejutnya aku saat aku melihat  wajah Steven yang putih dan tampan itu sangat dekat dengan wajahku


"Aaaaaaa...." teriakku keras


"Kenapa kamu berteriak seperti itu berisik tahu!!" protes Steven yang masih menutup kedua matanya


"Gimana aku gak berteriak coba, aku kira itu tadi wajah hantu"


"Emang wajahku seperti hantu apa?" gumam Steven kesal


"Ya hampir sama"


"Hmmm wajah tampanku seperti ini di bilang hantu lagi" gerutu Steven kesal


"Biarin lah, kamu juga emang mirip hantu" gerutuku mencoba melepaskan tanganku


"Hei lepasin tanganku!!!" protesku


"Enggak mau"


"Aku mau kampus tahu!!"


"Kampus sedang libur"


"Libur?"


"Ya, dari kemarin liburnya"


"Kenapa libur?"


"Gak tahu, udah diem jangan cerewet aku mau tidur"


"Ya udah tidulah, aku mau bangun"


"Udah malam ini waktunya tidur apalagi cuaca di luar sedang hujan"


"Barin lah, Hujan juga gak masalah juga. Malam bagimu pagi untukku tahu!! Udah ah aku mau masak"


"Masak apa?"


"Makanan lah, Apalagi kamu ada disini kalau aku tidak memasak ayah pasti memarahiku tahu"


"Ya udah cepetan sana masak terus temani aku tidur" gumam Steven melepaskan tanganku dan berbalik membelakangiku


"Temani kamu tidur? Ahh ogah, udah cukup semalam aja" protesku keluar dari kamar dengan kesal


"Sani udah bangun nak?" ucap ayah yang ada di belakangku


"Eeehhh mmm sudah ayah"


"Tuan Steven dimana?"


"Di... Dia lagi tidur"


"Oh pasti dia capek, biarin aja kasihan dia" gumam ayahku berjalan melewatiku


"Ayah mau kemana? Hujan lebat seperti ini"


"Mau berangkat kerja"


"Oh, mmm ayah aku boleh tanya sesuatu sebentar"


"Boleh .... Mau tanya apa nak?"


"Aku ingin bertanya tentang ... Ibu" gumamku dan petir bergelegar keras di atas rumah


"Kenapa kamu tiba - tiba ingin bertanya tentang ibumu?"


"Ya aku pengen tahu aja"


"Nanti kalau pulang kerja ayah ceritakan"


"Gak mau, maunya sekarang" protesku


"Ayah mau kerja nak, ada agenda rapat"

__ADS_1


"Rapat bisa di tunda apalagi hujan lebat melanda sekota jadi kalau ayah telat tidak akan masalah" gumamku


"Hmmm baiklah, tapi sebentar saja ya" desah ayah berjalan mendahuluiku


"Iya ayah" gumamku mengikuti ayah dari belakang


Ayah berjalan menuruni tangga dan masuk ke sebuah ruangan yang ada di dekat ruang TV. Ruangan tersebut selalu terkunci dan tidak pernah ada yang berani membukannya. Inilah pertama kalinya pintu itu di buka


Ayah masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di sofa yang agak berdebu


"Masuklah" gumam ayah menatapku


"Ini ruangan apa ayah?" guamku menatap beberapa buku yang tertumpuk di rak dinding dan sebuah sofa di dekat jendela


"Ini ruangan ibumu"


"Duduklah... Apa yang ingin kamu tanyakan tentang ibumu?" gumam ayah dan aku duduk di sebalah ayah


"Ibu itu seperti apa orangnya?"


"Ibumu ya? Dia baik dan sayang banget kepada ayah dan kamu"


"Bagaimana ayah bisa bertemu dengan ibu?"


"Ya pertemuan kami sangat aneh dan pasti kamu tidak akan percaya..."


"Ya ceritakan ayah"


"Hmmm dulu, waktu ayah muda. Ayah hampir di gigit oleh vampir, saat ayah pasrah dan ayah yakin ayah akan mati disitu, tiba - tiba ibumu muncul dan mengalahkan vampir itu, dia dulu sangat cantik dan awalnya ayah tidak tahu kalau di vampir jadi ya kami menjalin hubungan setelah itu. Karena ayah jatuh cinta kepadanya, jadi ayah menikah dengan ibumu dan lahirlah kamu"


"Ayah tahu kalau ibu vampir saat kapan?"


"Ayah tahu kalau ibumu vampir saat bulan purnama disaat dia melahirkanmu, tiba - tiba dia mengeluarkan taring tajamnya dan mata yang merah bercahaya. Ya ayah sejujurnya takut saat melihat itu tapi kalau ayah mencintai ibumu jadi ayah hanya bisa menutupi identitas ibumu" desah ayah menatap tetesan hujan yang membasahi jendela


"Jadi tidak ada yang tahu masalah itu?"


"Tidak ada yang tahu"


"Oh syukurlah" desahku senang


"Ibumu meninggal di dunia manusia tapi masih hidup di dunia vampir"


"Kenapa bisa terjadi seperti itu ayah?"


"Karena ibumu menyegel kekuatan vampirmu saat kamu hampir menggigit teman - teman kecilmu, dia harus menguras seluruh energi jiwa vampir dan iblisnya sehingga dia harus tidur panjang, ayah tidak tahu apakah ayah bisa bertemu dengannya lagi"


"Hmmm aku juga belum bertemu ibu yah"


"Ya nanti kamu akan bertemu dengan ibumu"


"Jadi ayah tahu siapa sebenarnya keluarga Huan itu?"


"Ya ayah tahu, Tuan Steven itu raja vampir. Makanya kenapa ayah tidak masalah kamu sekamar dengan dia"


"Iiihh ayah jahat banget" gerutuku kesal


"Nak, dia raja. Dia pasti melindungi kamu yang manusia biasa ini "


"Ibumu pernah bilang ke ayah nanti kamu akan jadi ratu salah satu kaum entah vampir entah iblis, tapi ibumu berharap kamu menjadi manusia biasa saja"


"Kapan ibu bilang seperti itu?"


"Saat akan meninggalkan ayah, ibumu bilang jangan sampai kamu memilih diantara vampir dan iblis. Itu akan menjadi beban untukmu" gumam ayah sedih


"Tapi ... aku harus melakukan itu ayah"


"Tidak perlu nak karena kamu manusia biasa"


"Tapi ayah... Kalau aku bukan manusia biasa jadi aku pasti diwajibkan melakukan itu" gumamku pelan


"Emang kekuatanmu bangkit?"


"Ya bisa dibilang seperti itu" desahku pelan


"Hmmm, ayah tidak tahu nak maslaah seperti itu. Nanti kamu tanyakan kepada ibumu kalau dia terbangun"

__ADS_1


"Hmm baiklah ayah"


"Mmmm Apa ayah akan takut kepadaku?" gumamku pelan


"Tidak, ayah tidak takut. Yang penting kamu tidak melukai orang lain lagi nak" gumam yaha mengelus rambutku


"Ya baiklah ayah" gumamku tersenyum


"Oh ya? Siapa yang memberikan kamu kalung milik ibumu?" tanya ayah menatap kalungku


"Kakek yang memberikanku ayah"


"Kamu sudah bertemu dengan kakekmu?" tanya ayah terkejut dan aku hanya mengagguk pelan


"Ohh syukurlah, salam untuk kakek ya"


"Iya ayah"


"Ya udah ajak Tuan Steven makan, ayah akan pergi bekerja" gumam ayah melangkah meninggalkanmu


"Hmmm baiklah ayah" gumamku mengambil salah satu foto yang telah usang di meja sebelahku


"Ibu" gumamku mengelus foto itu dan menaruhnya kembali ke tempatnya


Aku mengunci kembali ruangan itu dan berjalan menuju ke dapur untuk memasak makanan pagiku


"Pagi nona" ucap bibi tersenyum kepadaku


"Emm pagi juga bi, ada yang bisa aku bantu bi?"


"Tidak perlu nona, saya sudah selesai masak nona. Ini makanan untuk nona dan tuan tampan itu"


"Tampan? Aduh bibi, tampan dari mana coba?" gerutuku kesal membawa nampan berisi makanan itu


"Hehehe, ya emang tampan loh nona"


"Hmmm iya deh iya, aku mau ke kamarku dulu" gumamku berjalan menuju ke kamarku


Aku membuka pintuku dan menatap Steven yang masih tertidur di tempat tidurku dengan pulas, aku menutup pintu kamarku dan meletakkan nampan berisi makanan di atas mejaku


"Steven bangun"


"Mmmm" desah Steven masih terdiri


"Hei raja vampir banguuunn" teriakku melempar bantal ke arah Steven dan di tangkap dengan mudah oleh Steven


"Berisik"


"Ya udah aku habisin makanan ini kalau begitu"


"Makanlah, aku lebih suka darah manismu" gumam Steven


"Heh... Siapa juga yang mau memberimu darahku!!" gerutu sambil memakan makananku


"Aku lah, kamu milikku jadi darahmu juga milikku"


"Gak mau, kamu aja di suruh bangun gak mau bangun" gerutuku kesal tiba - tiba Steven terduduk di sebelahku


"Aku udah bangun kan" gumam Steven menahan kantuknya


"Nah gitu dong, bangun kek tidur mulu" gumamku kesal tapi tiba - tiba Steven menyandarkan kepalanya di bahuku dan tertidur kembali


"Emang ya punya raja males banget kayak gini!!!" desahku menahan badan Steven yang berat itu sambil terus memakan makananku, tapi lama kelamaan tubuh Steven malah semakin berat


"Haduh berat tahu" gerutuku kesal dan merebahkan tubuhnya di atas sofa


"Aku mau ke suatu tempat, kamu gak perlu ikut" gumamku membalikkan badanku tapi tangan Steven langsung menangkap tanganku


"Gak boleh, temani aku" gumam Steven menarik tanganku sampai aku terduduk di bawah lantai


"Aduuhhh sakit tahu, kamu sebenarnya tidur gak sih" gerutuku kesal


"Udah gak usah bawel" gerutu Steven sambil terus menutup matanya


Karena genggaman tangan Steven yang halus itu terlalu kuat membuatku tidak bisa melepaskan tanganku, jadi aku hanya duduk di bawah sambil menatap wajah Steven yang sedang tertidur seperti itu

__ADS_1


__ADS_2