Merubah Takdir

Merubah Takdir
Episode 34 : Kejadian Yang Tidak Aku sadari


__ADS_3

Selama beberapa menit kami mengerjakan ujian dengan serius, tanpa kami sadar waktu ujian hampir berakhir. Mengerjakan tugas ditambah pikiran yang membuatku pusing ini menyebabkan aku sangat lambat untuk berfikir dengan jernih


"Baiklah anak - anak, waktu kalian telah habis. Kalian bisa mengumpulkannya" ucap dosen pengawas yang keras dan kami semua mengumpulkan ujian dengan cepat


"Bagus, selanjutnya ujian terakhir. Kerjakan dengan sungguh - sungguh... Apa kalian mengerti!!" teriak dosen pengawas sambil membagikan kertas ujian ke dua


"Mengerti " gumam kami semua dan segera mengerjakan ujian dengan serius


Aku terus mengerjakan ujian dengan sungguh - sungguh walaupun kepalaku masih diselimuti banyak pertanyaan hidup yang tidak aku mengerti. Tapi bagaimanapun juga aku harus segera mengerjakan ujian terakhir ini sungguh - sungguh sebelum liburan panjang tiba. Aku juga mempunyai banyak agenda di musim liburan kali ini


Suara bisikan anak - anak yang menyontek di sekitarku sangat terdengar jelas, tapi aku berusaha tidak terpengaruh dengan suara - suara itu yang aku pikirkan hanyalah segera selesainya ujianku yang terakhir ini.


Telah lebih dari setengah jam aku mengerjakannya tapi belum selesai juga, emang pikiran yang kacau seperti ini sangatlah mengganggu. Tapi bagaimanapun juga aku harus berusaha untuk mengerjakannya


"Baiklah, kurang lima menit lagi anak - anak" gumam dosen pengawas yang membuat kami semua terkejut


"Baik" gumam kami semua sambil terus mengerjakannya


"Huuuh akhirnya selesai juga" desahku mengumpulkan lembar ujianku sedikit lebih lambat dari teman - temanku yang lain


"Baguslah, kalian sudah mengumpulkannya semua. Oh ya selamat berliburan musim panas, kita bertemu lagi beberapa bulan kedepan" gumam dosen pengawasku tersenyum dan pergi meninggalkan kelas dan aku menyusun alat tulisku lalu memasukkannya kedalam tasku


"Huuuhh akhirnya menyelesaikan ujian yang menyebalkan itu" gumam seorang laki - laki yang sedang merenggangkan tubuhnya


"Iya betul, soal - soal ujian kita semuanya sangat mematikan, susah banget dikerjainnya" gumam laki - laki di sebelahnya


"Tapi tumben itu anak tidak ngumpulinnya telat" gumam seorang wanita menyindirku


"Eehh iya juga sih tumben amat ya"


"Ya mungkin dia lupa belajar"


"Atau tidak dia lupa bikin contekan Hahaha" ejek wanita itu yang membuat sebagian orang di kelas itu menertawaiku


"Halah apa sih yang diandalkan anak haram itu!!" ucap wanita yang ada di depanku


"Siapa yang kamu bilang anak haram!!" protesku menatapnya


"Kamu lah, siapa lagi!!" ucap wanita itu dengan sinis


"Heeeh... Emang tidak kebalik ya, bukannya kamu Siska yang terkenal anak haram ya" gumamku sinis dan berjalan meninggalkan wanita itu


"Kamu ya berani - beraninya bilang seperti itu!! ucap Siska sambil mengangkat tangannya yang hampir menamparku tetapi aku bisa dengan cepat menangkapnya


"Maaf kamu bukan tandinganku" gumamku menggenggam tangan wanit itu sampai biru


"Aaaaa tanganku" teriak Siska kesakitan


"Aku tidak mau punya masalah denganmu tapi kamu malah membuat aku..." gumamku dan tidak aku duga ada yang melempari kepalaku dengan botol kaca sehingga membuat kepalaku berdarah

__ADS_1


"Ohhh darah ya" gumamku dingin dan menggenggam tangan Siska dengan kuat yang membuat tulang - tulangnya retak


"Hei anak haram lepasin tangan Siska dari tangan kotormu!!' teriak salah satu wanita yang ada di kerumunan sambil terus melempariku barang


"Kamu mau dia ya?" gumamku dingin dan melempar tubuh Siska ke arah kerumunan itu


"Aduuuuhhh ... sakitnya, dia seperti monster" ejek salah satu wanita yang tertimpa tubuh Siska


"Kurang kasih sayang ibunya sih, kan dia sudah kehilangan ibunya sejak kecil kan"


"Emang anak haram, pasti ibunya adalah monster!!"


"Aku bukan anak haram apalagi monster tau !!!" teriakku kesal


"Anak haram ....Anak haram..." teriak beberapa orang dengan keras yang membuatku marah


"Aku bukan anak haram!!" protesku kesal, dan tanpa aku sadari darahku yang mengalir mengenai mataku yang menyebabkan mataku berubah menjadi warna merah darah yang menyala dan juga kuku serta taringku berubah menjadi tajam


"Anak Haram ... Anak Haram" ejek beberapa orang yang membuatku tambah marah


"AKU BILANG AKU BUKAN ANAK HARAM!!!" teriakku keras, tiba - tiba langit berubah menjadi hitam, angin berhembus sangat kencang dan petir berwarna merah menyambar dengan keras dan pintu kelas langsung terkunci dengan sendirinya


"Lihat - lihat tubuh Sani berubah menjadi monster!!! seorang laki - laki menunjukku


"Aaaaa... Tolong Monster" teriak beberapa orang ketakutan sambil terus berusaha membuka pintu kelas yang terkunci


"Toloonggg!!" teriak semua orang dengan panik


"Sani tenanglah, kalau kamu menggigit mereka. Mereka akan meninggal!!" Teriak Nana di sebelahku


"Kamu diam saja!!" gumamku dingin dan terus menggigit satu persatu orang - orang di depanku


Aku tidak tahu sudah berapa orang yang akau gigit, aku tidak menyadari itu. Semua akal sehatku menghilang diganti dengan rasa dendamku yang aku pendam selama bertahun - tahun


"Sani, tenanglah Sani!" teriak Nana berusaha menghentikanku, tanganku langsung mendorong Nana dengan kencang


"Aku sudah bilang jangan urusi urusanku!" protesku dan terus menggigit orang - orang yang ada di depanku


Tiba - tiba muncul beberapa orang laki - laki yang berusaha menenangkanku dan salah satunya adalah Alex


"Sani tenanglah, nanti kakak memarahi aku kalau kamu terus melakukan ini" gumam Alex memisahkan aku dengan salah satu temanku dan temanku itu langsung terjatuh lemas


"Aku tidak peduli" gumamku kesal


"Sani jangan salahkan aku kalau aku mengurungmu" gumam Alex menunjuk ke arahku, aku terus menatap mereka dengan kesal namun tiba - tiba Alex dan beberapa orang lainnya terpental dan menabrak dinding kelas


"Aku sudah bilang jangan ganggu aku!" gumamku kesal


"Akhirnya aku menemukanmu" gumam seorang laki - laki tampan dan mempunyai mata biru seperti Nana berdiri di depanku

__ADS_1


"Siapa kamu, jangan menggangguku!" protesku


"Kamu harus ikut bersamaku" gumam laki - laki itu mendekatiku sambil membaca sesuatu di mulutnya yang membuat tubuhku terasa sakit semua


"Kamu ngapain disitu, pergilah" teriak Alex yang sedang menahan kesakitan


"Dia adalah wanitaku Alex" gumam laki - laki itu dingin


"Aaaaa... Pergi kamu!!" teriakku kesakitan


"Tidak akan!!" gumam laki - laki itu dengan dingin


Namun tiba - tiba datang seseorang yang berjubah hitam dengan aura yang sangat dingin mirip dengan aura Steven berdiri di depanku dan mendorong laki - laki bermata biru itu terpental ke belakang.


"Jangan pernah menyentuh wanitaku!" gumam Steven kesal yang membuat petir menyambar dengan sangat keras


"Dia wanitaku tahu!!"


"Wanitamu, heeeh jangan harap" gumam Steven menyentuh dahiku yang membuat aku terjatuh ke lantai dan tubuhku lemas tidak berdaya, untuk berbicara dan mendengar saja aku tidak sanggup bahkan aku lupa apa yang sedang terjadi, aku hanya bisa melihat kondisi yang ada disekitarku saja.


"Dia wanitaku Steven... Uuhuukkk... Uuuhhuukkk " teriak laki - laki itu keras dan membuatnya batuk berdarah


"Heeeh kamu mengatasi dia saja tidak sanggup mau mengaku dia wanitamu" gumam Steven dingin sambil menggendongku


"Dasar kamu!!" protes laki - laki itu mencoba berdiri namun dicegah oleh Nana


"Kakak diamlah, kamu terluka dalam yang cukup parah" gumam Nana berusaha menenangkan laki - laki itu


"Aku harus mendapatkan wanita itu" gumam laki - laki itu dengan kesal


"Sudahlah kak, ayo kita pulang" gumam Nana dan tiba - tiba Nana dan laki - laki itu hilang dari kelas


Steven menatap beberapa orang laki - laki yang berlutut di depan Steven dengan dingin dan kesal


"Kenapa kalian semua bisa gagal melindungi wanitaku? Apa kalian tidak tahu dia orang yang berharga bagiku" gumam Steven dingin menggendong tubuhku


"Ma ... Maaf yang mulia"


"Kami sudah berusaha semampu kami bahkan Tuan Alex juga membantu tapi kami tidak sanggup" gumam salah seorang laki - laki menunduk


"Hmmm" desah Steven menatapku


"Kakak.. Maaf aku..." gumam Alex menunduk


"Kamu juga, kenapa menahan aura dia saja tidak sanggup?" protes Steven kesal


"Auranya kuat banget kak, kami ber enam saja tidak sanggup melawannya. Dia sepertinya..." gumam Alex terus menunduk


"Ya aku sudah tahu itu, aku akan mengurus wanitaku. Yang lain akan menjadi urusan kalian, dan hilangkan ingatan orang - orang yang melihat dan mendengar kejadian ini" gumam Steven dingin sambil terus menggendongku dan pergi meninggalkan ruang kelas

__ADS_1


"Baik Yang Mulia" ucap laki - laki itu dan meninggalakan ruang kelas yang sangat berantakan


Aku tidak ingat apa yang telah terjadi, yang aku ingat hanya rasa dendam dan rasa sakit yang mendalam selama bertahun - tahun dan tersadar dengan tubuh yang lemah di gendongan Steven. Aku tidak ingat apa yang telah aku lakukan dan apa yang telah terjadi, aku bingung dengan keadaan kelas yang berantakan, banyak darah yang menghiasi dinding dan lantai kelas, bahkan banyak orang yang tergeletak di lantai kelas bahkan aku ingin bertanya apa yang terjadi aku tidak bisa melakukannya


__ADS_2