
Kriiinngggg
Suara alarmku yang terdengar keras di telingaku yang membuatku terbangun karena terkejut, aku membuka mataku dan menatap jarum jam berada di angka 6. Aku mengusap kedua mataku dan melihat sekelilingku yang terasa sepi dan sunyi
"Dia pergi lagi ya" desahku bangun dari tempat tidur dan segera membersihkan badanku dan segera bersiap - siap pergi kampus, apalagi hari ini aku mempunyai agenda banyak jadi aku harus segera menyelesaikan ujianku dengan cepat
Aku menuruni anak tangga dan duduk di kursi meja makan bersama dengan Lina yang sedang menyiapkan sarapan untukku
"Selamat pagi nona, ini sarapan anda" sapa Lina dengan lembut
"Terimakasih nona" gumamku memakan makanan di depanku dan Lina melanjutkan mencuci piring
"Mmm oh ya Lina, kamu manusia kan?"
"Kenapa nona bertanya seperti itu?" gumam Lina menghentikan tangannya yang sedang mencuci piring
"Ya aku tanya saja sih"
"Menurut nona aku apa?" gumam Lina menunjukkan taringnya
"Emmm baiklah aku mengerti" desahku kaget melihat tatapan Lina menakutkan, "Kenapa aku di lingkungan para vampir sih?" desahku dalam hati
"Nona sopir sudah menunggu di depan" ucap Lani di sebelahku
"Baiklah, terimakasih Lina"
"Sama - sama nona" gumam Lina pelan
"Mari nona Lani antar" gumam Lani berjalan mendahuluiku
"Mmm Lani aku mau tanya boleh?" gumamku dan Lani mengentikan langkah kakinya
"Iya nona, nona mau tanya apa?"
"Kamu manusia kan?" bisikku di telinganya
"Saya manusia nona, ada apa nona bertanya seperti itu?"
"Serius?" ucapku tidak percaya
"Silahkan kalau nona tidak percaya, saya buka robot kok nona" gumam Lani mengangkat kedua tangannya
"Tidak - tidak, maksudku kamu bukan vampir kan?" bisikku dan Lani menurunkan tangannya
"Oh nona sudah tahu ya" desah Lani
"Kamu sebenarnya juga tahu?" tanyaku kaget
"Ya kan saya bekerja disini nona"
"Jadi kamu tidak takut?"
"Mmm dulu awal - awal sih emang takut nona tapi lama - lama biasa saja"
"Emang Steven tidak menggigit kalian berdua?" tanyaku penasaran
"Tuan Steven tidak mau menggigit manusia nona, sebenarnya saya dan Lina itu manusia biasa dan kami berdua kembar. Namun saat itu Lina memiliki hubungan dengan dua orang laki - laki, yang satu dari manusia yang satunya dari kaum vampir. Pada saat Lina lebih memilih laki - laki manusia biasa itu, laki - laki vampir itu marah dan menggigit Lina menjadi vampir Level D. Dan pada saat dia hampir menggigitku juga, tuan Steven menyelamatkan aku dan menghilangkan kutukan Lina sehingga dia bisa menjadi manusia lagi tapi tetap saja vampir Level D dengan syarat kami bekerja di rumah Tuan Steven nona. Ya begtulah ceritanya" gumam Lani tersenyum
"Oh begitu, tapi tunggu kamu bilang Steven tidak mau menggigit manusia? Kenapa?" tanyaku penasaran
"Vampir darah murni kalau sudah menggigit manusia biasa, manusia itu akan menjadi budak darah Tuan Steven selama - lamanya" gumam Lani menatapku
"Budak darah? Apa itu?"
"Budak darah itu orang yang akan selalu bersedia tubuhnya menjadi kantong darah tuannya"
"Iihh kalau kehabisan darah gimana?"
"Ya orang itu meninggal nona"
"Kalau Steven menggigitku bagaimana?" gumamku khawatir
__ADS_1
"Tenang saja nona, walaupun nona digigit Tuan Steven nona tidak akan menjadi budak darah" gumam Lani kembali berjalan menuju pintu rumah
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena nona punya darah vampir dan iblis di tubuh nona" gumam Lani
"kenapa kamu bisa tahu? Steven memberitahumu?"
"Tidak nona, Tuan Steven tidak pernah bercerita apapun kepada kami"
"Lalu kenapa kamu tahu?"
"Saya bisa tahu dengan melihat bola mata nona yang berwarna merah darah dan punya taring yang tajam, manusia yang menjadi vampir tidak mempunyai ciri khusus seperti itu nona"
"Emang mata merah darah dan taring itu ciri - ciri vampir apa, kan manusia biasa bisa aja punya !!!"
"Tidak nona, kalau nona tidak percaya, nona bisa melihat teman - teman nona nanti di kampus. Baiklah nona silahkan, nanti nona terlambat" gumam Lani membukakan pintu mobil untukku dan menyerahkan tasku
"Baiklah terimakasih Lani
"Oh ya nona, rahasiakan penjelasanku ke orang lain ya apalagi ke Lina" bisik Lani di telingaku
"Baiklah" gumamku menutup pintu dan mobi melaju dengan cepat meninggalkan rumah Steven
Selama perjalanan aku memikirkan perkataan Lani baru saja yang masih terngiang - ngiang di dalam kepalaku, "Apa yang dikatakan Lani itu benar ya?" desahku dalam hati. "Tapi masa ucapan Steven kemarin benar ya?" gumamku dalam hati
"Apa yang nona fikirkan? Dari tadi nona seperti memikirkan sesuatu yang berat?" tanya sopir menatapku dari kaca spion
"Hanya masalah yang aneh sih" gumamku menatap keluar jendela
"Masalah apa nona? Mana tahu saya bisa membantu"
"Tidak - tidak, oh ya aku punya satu pertanyaan. Apakah menurutmu aku punya darah vampir?" gumamku dan sopir itu menatapku tajam
"Iya nona, campuran darah manusia, iblis, dan vampir. Namun yang lebih mendominan darah vampir dari pada darah iblis dan manusia"
"Kenapa kamu tahu?"
"Ya kami kaum vampir bisa mnegetahuinya nona tapi hanya untuk kaum bangsawan dan perdana menteri kerajaan saja" gumam sopir sambil terus fokus mengendarai mobil
"Bukan nona, saya hanya anak dari perdana menteri Tuan Steven
"Oh begitu ya? Apakah aku bisa sewaktu - waktu jadi vampir?" gumamku menatap sopir
"Bisa nona, sekarang pun bisa sebenarnya"
"Oh ya coba perlihatkan" gumamku
"Kalau itu yang bisa hanya Tuan Steven dan nona sendiri"
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena darah vampir di dalam tubuh nona itu berasal dari kaum bangsawan"
"Haaah bangsawan?" teriakku kaget
"Iya nona, jadi walaupun nona di gigit vampir apapun itu tidak membuat nona menjadi vampir level D atau level E, Tapi nona berada di vampir Level A"
"Tapi kata Steven aku termasuk vampir level C?" gumamku bingung
"Ya kalau dilihat dari silsilah darah emang nona berada di Level C, namun kalau Tuan steven sudah pernah mencoba darah nona pasti Tuan Steven akan terkejut kalau nona juga vampir Level A"
"Tapi kemarin Steven menjilat darahku di tanganku ini tapi dia tidak berbicara apapun" gumamku mengangkat tanganku
"Nanti coba nona tanyakan kepada Tuan Steven sendiri" gumam sopir membelokkan mobilnya ke arah kiri
"Hmmm, tapi kalau aku berubah menjadi vampir apakah aku tidak akan menjadi manusia lagi?" gummaku sedih
"Bisa kok nona, nona masih bisa beraktifitas seperti manusia apabila wujud nona dalam wujud manusia tapi kalau vampir nona bisa beraktifitas seperti vampir pada umumnya"
"Oh begitu. Tapi tunggu dulu, kamu kan vampir kenapa bisa beraktifitas di siang hari?" tanyaku kaget
__ADS_1
"Saya vampir Level B nona jadi saya campuran darah vampir dan manusia, makanya tadi saya bisa bilang seperti itu karena saya telah melakukannya" gumam sopir
"Kita sudah sampai nona" ucap sopir menatapku dari spion
"Oh begitu baiklah termakasih penjelasannya, tapi boleh gak aku melihat wujud vampirmu?"
"Sebenrnya sih tidak boleh, tapi karena nona vampir Level A, saya akan menunjukkan kepada nona" gumam sopir itu menunjukkan taring tajam, mata yang sangat merah, dan kukunya juga panjang dan tajam
"Emm, ba... baiklah, kamu boleh mengembalikan wujudmu" gumamku dan sopir itu mengembalikan wujudnya menjadi manusia lagi
"Apa nona tadi takut?"
"Ya ... se... sedikit sih, sampai jumpa" gumamku membuka pintu mobil dan bergegas masuk ke kampus
"Baiklah selamat belajar nona" teriak sopir dari dalam mobil dan pergi meninggalkan kampus
Aku berjalan masuk ke dalam area kampus sambil terus memikirkan apa yang sedang terjadi, di dalam otakku tidak mungkin aku bisa menjadi vampir karena darah vampir yang mengalir di dalam tubuhku, saking aku berfikir terlalu keras yang membuat aku tidak sadar di depanku ada orang dan aku terpental jatuh di belakang
Buuukkkk
"Ma... Maaf" gumamku terkejut dan aku berjongkok merapikan bukuku yang keluar dari dalam tas
"Eeeh ti... tidak apa - apa" gumam seorang laki - laki di depanku, aku menatap papan nama yang ada di kemejanya yang bertuliskan Alex Huan
"Ma ... maaf kak" gumamku berusaha bangun dan tangan laki - laki memegang tanganku dengan lembut dan membantuku berdiri
"Tidak apa - apa, siapa namamu?" tanya Alex menatapku dengan tajam, matanya berwarna merah darah dan mempunyai taring di giginya yang sama dengan Steven
"A... Aku Sani Lan" gumamku terkejut dengan tatapan tajam itu
"Oh aku Alex Huan, salam kenal ya" ucap Alex ramah
"Sa... Salam kenal juga" gumamku menunduk
"Jangan takut, aku tidak akan menggigitmu kok" gumam Alex lantang
"Mengigitku?"
"Eehh,, Bu... Bukan maksudku aku tidak akan melukaimu kok" ucap Alex salah tingkah
"Oh baiklah, maaf ya kak" gumamku dan berlari masuk ke dalam lorong kelas
"Apakah wanita itu yang dimaksudkan kakak?" gumam Alex menatapku dengan tajam
Aku berlari sekuat tenaga masuk ke dalam kelas dan terduduk di kursiku dengan terengah - engah.
"Kenapa mata dan taring milik laki - laki itu mirip dengan Steven ya?" gumamku pelan sambil mengatur nafasku
"Pagi Sani, kamu kenapa terengah - engah seperti itu?" tanya Nana di sampingku
"Ehh pagi Nana, tidak ada tadi aku kira aku terlambat" gumamku berbohong
"Oh ya? untung kamu tidak terlambat Sani" gumam Nana tersenyum kepadaku
"Huuh untungnya" gumamku menatap bola mata Nana. "Warna biru? Bola mata Nana warna biru bukannya merah, jadi Nana siapa sebenarnya?" gumamku dalam hati
"Sani ... Sani" teriak Nana mengagetkanku
"Eeehh...A... Apa ?" gumamku terkejut
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Tidak ... Tidak ada, aku tadi sedikit melamun"
"Apa yang kamu lamunkan?"
"Tidak ada, sudah lupakan saja" gumamku mengeluarkan alat tulisku dan menaruh tasku di loker depan kelas
"Baiklah" desah Nana kembali duduk di kursinya
Tiba - tiba seorang dosen pengawas ujian masuk ke dalam kelas sambil membawa setumpuk kertas soal ujian yang ada di tangannya
__ADS_1
"Selamat pagi anak - anak, ujiannya hanya 30 menit jadi kerjakan dengan sungguh - sungguh. Paham!!" ucap dosen laki - laki itu sambil membagikan kertas ujian
"Baik pak" ucap kami semangat dan mulai mengerjakan soal - soal yang lumayan sulit itu, walaupun bagiku soal - soal ini sangat mudah namun di dalam pikiranku masih menimbulkan banyak pertanyaan yang membuat kepalaku pusing