
Pagi ini aku bangun sangat pagi dan segera bersiap - siap untuk bekerja di kantor milik Steven. Setelah semua telah siap aku langsung berangkat sendiri dengan di antar oleh sopir pribadi
"Nona sudah siap?" tanya Sali di ruang tamu
"Sudah sali... ayah kemana?"
"Tuan sudah pergi sejak tadi pukul 3 pagi nona"
"Pergi kemana?" tanyaku
"Pergi ke tempat pertemuan"
"Pertemuan ?"
"Iya nona"
"Apa tidak ada pesan untukku?"
"Tudak ada nona"
"Hmmm... baiklah terimakasih Sali, aku berangkat dulu ya" gumamku sedih dab keluar dari rumah
Padahal aku ingin mendapatkan semangat dari ayah apalagi ini hari pertamaku kerja, tapi ya sudahlah aku sudah biasa seperti ini
"Pak kita berangkat" gumamku masuk ke dalam mobil
"Baik nona" ucap pak sopir dan mobil melaju dengan santai
Di perjalanan aku terus memainkan handphoneku takut kalau Steven meneleponku atau mengabariku suatu keadaan atau perintah dari dia. Tapi sampai aku tiba di gedung perusahaan Steven, Steven tidak kunjung meneleponku
"Kita sudah sampai nona" ucap pak sopir memarkirkan mobil
"Baiklah terimakasih pak"
"Nona ingin di tunggu atau dijemput?"
"Nanti jemput aja" gumamku keluar dari mobil
"Baik nona" ucap pak sopir lalu meninggalkan aku di depan gedung besar itu
Aku berjalan sendirian menuju ke lobi kantor Steven, di depan aku melihat banyak karyawan yang berlalu lalang memasuki perusahaan, walaupun aku malu tapi aku paksakan untuk masuk ke dalam perusahaan dan menemui resepsionis yang ada di depan lobi
"Permisi, dimana tuan Steven?" tanyaku kepada resepsionis
__ADS_1
"Tuan Steven berada di ruangannya"
"Ruangannya sebelah mana?"
"Ada keperluan apa menemui Tuan muda nyonya?"
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan"
"Apakah ada undangan dari Tuan muda?"
"Undangan apa?... Kemarinkan aku barusan bertemu dengan dia!! dan aku disuruh datang kemari" protesku
"Mohon maaf nyonya, tanpa undangan fisik dari tuan muda tidak bisa bertemu dengannya" jelas karyawan resepsionis itu
"Heii... mana bisa seperti itu? kemarin pas saya datang tidak seperti ini!!!"
"Maaf nyonya ini peraturan... Kalau nyonya tidak mau keluar, saya panggilkan security"
"Hei emangnya aku apaan kok harus di panggilkan security!!" protesku dan tiba - tiba datang dua orang security yang sangat kekar dan gagah datang dari arah belakangku dan menarikku keluar
"HEEII... APA - APAAN INI!!! LEPASIN AKU!!!" protesku
"Mohon tenang nyonya, disini perusahaan terbesar tidak bisa seenaknya seperti itu!!" protes security tampan di sebelahku
"HENTIKAN!!!" teriak dari suara Steven di antara perkumpulan karyawan Steven
"Lepaskan dia!!" protes Steven dan security melepaskanku sampai aku terjatuh ke lantai
"Bubar kalian!!" protes Steven dan semua karyawan membubarkan diri sedangkan karyawan resepsionis dan security tertunduk takut
"Kalian bertiga keruanganku sekarang!!!" perintah Steven dan mereka bertiga pergi meninggalkan lobi dan hanya tinggal aku dan Steven saja
"Maafkan ketidak sopanan karyawanku" ucap Steven lembut.
"Tumben Steven bisa selembut ini" gumamku
"Kamu tidak apa - apa?"
"Tidak" gumamku dingin
"Apakah kamu marah?"
"Ya marah lah, aku diperlakukan seperti binatang siapa yang gak marah" protesku
__ADS_1
"Maaf Sani... ayo kita masuk dulu" ucap Steven mengajak masuk ke dalam ruangannya. Selama aku berjalan banyak mata yang memandangku dengan sinis dan itu tidak membuatku senang
"Mmmm Steven seperrinya karyawanmu tidak suka kehadiranku" gumamku
"Kenapa kamu bilang seperti itu?"
"Ya dari tadi banyak yang ngomongin aku dari belakang bahkan ada yang melirikku dengan sinis" gumamku
"Siapa yang berani?" gumam Steven menatapi satu persatu karyawannya
"Mulai hari ini dia adalah sekretaris pribadiku" gumam Steven keras lalu menarik tanganku menuju ke ruangannya
Di dalam ruangannya terdapat tiga orang yang hampir mengusirku dari perusahaan Steven, mereka menunduk takut bahkan terlihat tangan mereka sedikit bergetar
"Tau apa yang telah kalian lakukan?" gumam Steven dingin
"Iya ... tuan"
"Dia adalah sekretaris pribadiku mulai sekarang, kalau kalian karyawan sampai membuatnya tidak betah disini aku pecat kalian dan karyawan yang lainnya" protes Steven dan mereka bertiga hanya tertunduk takut. Karena aku kasihan kepada mereka bertiga sehingga aku mencoba memaafkan mereka
"Udahlah Steven, mereka tidak salah... jangan marah - marah kepada mereka" gumamku
"Tapi kan mereka kurang ajar kepadamu"
"Ya udah gak apa, apalagi kan mereka tidak tahu daei awal, jadi maafkan aja" gumamku menenangkan Steven
"Hmmm baiklah, aku maafkan kalian semua... kembali bekerja!!" perintah Steven dan mereka bertiga keluar dari ruangan Steven, setelah karyawan Steven keluar aku mendekati Steven
"Jadi apa pekerjaan pertamaku?" gumamku menatap Steven
"Rekap data dan rekap hasil ini untuk bahan presentasi dengan petinggi besok" gumam Steven menyerahkan beberapa lembar kertas
"Baiklah.. oh ya dimana ruanganku?" tanyaku
"Ruanganmu disini bersamaku, jadi kamu boleh duduk dimana aja"
"Hei... mana bisa seperti itu" protesku
"Aku bosmu jadi kamu harus nurut denganku"
"Hmm... baiklah" gumamku duduk di sofa ruangan Steven
Aku langsung mengerjakan tugasku dengan serius dan aku juga tidak mau mengecewakan Steven apalagi aku juga ingin membuktikan kepada ayah kalau aku bisa meneruskan perusahaan keluarga
__ADS_1