
Mata kuliahku hari ini adalah manajemen, sama seperti jurusanku manajemen. Jurusan ini yang aku pilih saat aku ingin masuk ke kampus ini karena aku ingin menggantikan ayah mewarisi perusahaan keluarga suatu saat nanti. Siang ini dosenku memberikan kami tugas tentang manajemen dari lembar soal kami masing - masing yang diberikan oleh dosen kami. Tugas ini bisa termasuk ujian kami untuk mendapatkan nilai semester
"Baik.. waktu kalian 5 menit lagi" ucap dosenku sambil terus berjalan - jalan melihat kami yang sedang mengerjakan ujian
"Baiklah, 3.... 2.... 1.... silahkan di kumpul tugas kalian" teriak dosenku yang sedang berdiri di depan kelas
"Sebentar bu"
"Sebentar"
"Sebentar" teriak satu persatu mahasiswa yang belum selesai mengerjakan tugas
"Kalau tidak mengumpulkan sekarang, saya anggap tidak mengerjakan" gumam dosen sambil menata kembali buku - buku di atas meja.
Saat melihat dosen kami akan berjalan keluar pintu kelas, aku segera mengumpulkan tugasku karena aku takut dosen tidak menerima tugasku sehingga aku tidak mendapatkan nilai dan teman - temanku yang lain juga sama berlarian menyerahkan tugas mereka kepada guru
"Baiklah terimakasih anak- anak... selamat siang" gumam dosenku dengan bahagia dan langsung berlalu menibggalkan kelas
"Huufffttt... dasar dosen gak sabaran" gerutu Nana di sebelahku
"Ya biat cepet di kumpulin biar dia bisa balik ke kantor mungkin" gumamku
"Ya harusnya menunggulah" gumam Nana kesal
"Udah.... sabar" ucapku menenangkan
"Huuusssttt... tolong semuanya tenang" ucap Xiao Min di depan kelas
"Dia mau ngapain lagi sih" gumamku kesal
"Tunggu... dengarkan ketua kelas mengoceh" ejek Nana tertawa lepas
"Hei... bisa diam gak!!!" teriak Xiao Min kesal dan anak - anak satu kelas pun terdiam
"Baiklah... bulan depan adalah hari ulang tahunku, jadi aku sebagai anak dari parlemen akan mengadakan pesta ulang tahun mewah dan akan mengundang kalian semua... untuk itu diharapkan kalian bisa datang ya" ucap Xiao Min dengan ramah
"Oke..." ucap teman - temanku dengan senang
"Oh ya jangan lupa memakai pakaian rapi dan membawa pasangan masing - masing, wajib loh hukumnya" ucap Xiao Min dengan senang
"So ... kalau tidak ada pasangan gak boleh ikut?" tanyaku sinis
"Boleh kok... tapi nanti ada acara pesta dansa dan juga kedatangan orang - orang penting yang akan hadir jadi namanya pesta dansa pasti harus ada pasangan kalau datang tidak dengan pasangan maka nanti pasangannya akan random dengan orang lain"
"Tapi kan...!!!" protesku dan langsung di tenangkan oleh Nana
"Hmm baiklah aku mengerti" gumamku mengalah
"Baik... kalian sudah paham?"
"Paham..." teriak semua teman - temanku
"Baiklah... karena dosen Ireke ada dinas luar jadi kita waktunya...."
__ADS_1
"PULANG" teriak teman - teman kelas dengan semangat dan langsung bergegas keluar dari kelas, sedangkan aku dan Nana keluar kelas belakangan
"Sani... kamu kenapa?" tanya Nana menatapku penasaran
"Ya masa ke pesta ulang tahun dengan pasangan" gerutuku gak terima
"Aah ya namanya ulang tahun pasti lah pengennya yang aneh - aneh, jangan dipikirkan... aku juga gak tau pergi sama siapa" gumam Nana
"Ya udah dansa sama kamu aja gimana?"
"Hahaha bolehlah kalau di perbolehkan" tawa Nana
"Hahaha... kamu jadi ikut sama Asri?" tanyaku
"Jadilah... kamu ikut aja sekalian"
"Gak mau ah... kalian aja berdua yang ikut, aku gak mau"
"Ntar nyesel loh... bisa jadi ntar dia suka sama kamu gimana?"
"Gak mungkin ah"
"Ya kan hati gak ada yang tahu San" gumam Nana terus berjalan bersamaku, aku hanya tertawa di sebelah Nana
Saat kami berada di jalan besar, aku melihat ada sebuah mobil mewah yang baru terparkir di sebuah cafe. Aku terus mengamati mobil itu dengan teliti dan tidak di sangka ada orang yang berdiri di dekat pintu belakang mobil tersebut, saat itu juga muncul seorang laki - laki tampan yang pernah aku tabrak sebelumnya. Laki - laki itu menatapku dan saat aku sadar dia sedang menatapku aku langsung buang muka dan berjalan lebih cepat lagi
"Kamu kenapa San?" tanya Nana kaget saat aku mendahuluinya
"Ti... tidak apa - apa, aku ingat ada sesuatu hal yang harus aku selesaikan" gumamku dan Nana berusaha mengejarku
"Tidak ada sumpah"
"Ada yang mengejar?" tanya Nana sambil menatap ke belakang kami
"Tidak ada siapa - siapa, kenapa kamu terburu - buru banget"
"Ada laki - laki itu" gumamku
"Oh ya??" tanya Nana kaget dan aku mengangguk
"Ya udah ayo kita pulang dulu" ucapku menarik Nana pergi dari tempat itu
"Kamu kenapa takut sama laki - laki itu, padahal dia baik loh buktinya Asri di ajak makan dan suruh mengajak teman - temannya"
"Kamu tidak mengerti Na... udah ayo pulang" gumamku sambil terus menarik tangan Nana sampai kami berdua berada di depan rumah Nana
"Huufftt akhirnya" desahku mengatur nafas
"Padahal gak usah lari - lari loh San" protes Nana
"Ya aku takut aja Na, ya udah aku pulang dulu ya"
"Gak mau mampir dulu?"
__ADS_1
"Kapan - kapan aja"
"Mampirlah dulu San... " ucap Nana memohon
"Baiklah" gumamku mengikuti Nana masuk ke dalam rumahnya
Aku melihat rumah Nana sangat mungil dan sepi, sepertinya Nana tinggal sendiri di rumah ini. Emang dari depan tampak sepi tanpa orang sama sekali sih. Nana membuka pintu rumahnya dan aku langsung duduk di kursi ruang tamu yang kecil
"Kamu sendirian Na?" tanyaku kaget
"Ya... bisa dibilang seperti itu"
"Orang tua dan saudaramu kemana?"
"Udah tidak ada" gumam Nana mengambil air untukku
"Kamu gak takut?" tanyaku
"Enggak kok... biasa aja" gumam Nana santai
"Ini rumah orang tuamu?"
"Bukan ini rumah kontrakan,
"Terus? kamu bayarnya gimana?"
"Ya pakai uang warisan orang tua sih"
"Mmm.. Kamu mau tinggal denganku Na?"
"Tinggal denganmu?.. apakah kamu serius?"
"Yaaa... aku serius"
"Boleh kalau di izinkan orang tuamu" gumam Nana senang
"Tenang... bisa di atur"
"Baiklah"
"Kalau sudah ada persetujuan dari ayah ntar aku kabari Na" gumamku serius
"Siap... seneng banget aku sumpah" gumamku senang
"Hahaha tenang saja"
"Mmm oh ya, aku balik dulu ya... takut ayahku nyariin"
"Tapi kan kamu baru aja duduk"
"Tenang ntar aku main denganmu bakal lama"
"Baiklah..." gumam Nana senang dan membukakan pintu untukku
__ADS_1
"Aku pulang dulu ya..." gumamku senang dan pergi meninggalkan rumah Nana
Aku gak menyangka ternyata Nana selama ini hidup sendiri tanpa keluarga dan orang tua yang menemaninya bahkan dia hidup dengan warisan orang tua yang tersisa. Mungkin dengan dia tinggal di rumahku bisa meningkatkan derajatnya dan membantu dia kedepannya