
Aku berjalan menuju ke depan beberapa vampir yang berdiri di depan pintu, mereka memakai jubah hitam, berkulit putih dan taring yang sangat tajam berdiri dengan gagah. Saat aku akan memasuki pintu tiba - tiba mereka menghentikan langkah kakiku
"Mohon maaf nona, anda tidak bisa masuk" ucap salah satu vampir di depan
"Kenapa tidak bisa?" protesku
"Anda tidak dalam undangan"
"Tapi aku diundang tau!!" protesku
"Mohon maaf nona tidak bisa, ini perintah tetua" gumam salah satu vampir menatapku dingin
"Siapa yang tidak memperbolehkan dia masuk?" ucap Steven dingin
"Ya... Yang Mulia" ucap seluruh vampir penjaga berlutut
"Mohon maaf Yang Mulia ini perintah tetua, yang bukan keluarga Huan dilarang masuk"
"Dia wanitaku, jadi kalian tidak berhak untuk melarangnya masuk" gumam Steven dingin
"Ba... Baik Yang Mulia, si... Silahkan masuk" gumam seluruh vampir dan memberikan kami jalan
"Dasar vampir rendahan" gumamku kesal
"Udah biarin aja" gumam Steven berjalan mendahuluiku
Aku dan Steven melangkah masuk ke dalam ruangan saat pintu terbuka lebar. Aku melihat ruangan yang sangat besar dan megah serta terdapat banyak vampir yang memakai gaun yang indah. Pada saat pintu terbuka banyak dari mereka menatap kedatangan kami dan sedikit menundukkan badan mereka. Tiba - tiba di langkah Steven memasuki ruangan itu, pakaian Steven langsung berganti dengan jubah hitamnya dan tatapan Steven langsung berganti menjadi lebih dingin dari sebelumnya
"Selamat datang Yang Mulia" ucap seluruh vampir dengan sopan,. Tanpa Steven pedulikan, Steven terus melangkahkan kakinya ke depan dua orang laki - laki yang terlihat paruh baya berdiri di tengah - tengah ruangan
"Selamat datang cucuku" ucap tetua vampir dengan senang
"Selamat ulang tahun ... kakek" ucap Steven dingin
"Terimakasih cucuku" gumam tetua vampir memeluk Steven dan menatapku dengan bingung
"Siapa wanita ini?" tanya tetua vampir menatapku dengan dingin
"Dia wanitaku"
"Wanitamu? Bukannya kamu..." gumam Tuan Huan dengan kaget
"Ya aku mengerti, dia yang dimaksud?" gumam laki - laki paruh baya itu
"Iya, kakek pasti bisa melihat dia kan"
"Ya, baguslah kamu bisa menemukan wanita itu. Bawa dia masuk ke dalam ada yang ingin aku bicarakan dengannya"
"Baiklah" desah Steven menarikku disampingnya
"Mau kemana?" protesku
"Kedalam sebentar" gumam Steven dingin sambil menarikku mengikuti tetua vampir
"Oh ya, lanjutkan pestanya. Aku ada urusan sebentar" gumam tetua vampir berjalan memasuki suatu ruangan
"Baiklah, kalian berdua bisa duduk disana" gumam laki - laki itu menatapku dan aku duduk di sofa putih yang ada di sudut ruangan
"Jadi siapa namamu?"
"Aku Sani Lan"
"Apakah dia ibumu?" gumam laki - laki itu menunjukkan sebuah foto
"Iya, dia ibuku"
"Baguslah memang benar - benar dia"
"Kenapa tetua menanyakan itu kepadaku?" gumamku dingin
"Kamu tahu asal usul ibumu?"
"Tidak"
"Kapan kamu terakhir kali bertemu ibumu?"
__ADS_1
"Waktu kecil"
"Sampai sekarang?"
"Iya..."
"Kamu mau liat ibumu?"
"Liat ibuku? Aku mau!!"
"Nanti biar Steven yang mengantarmu saat Guan Lan terbangun" gumam tetua vampir duduk di kursinya
"Baiklah"
"Kamu tahu kenapa kamu bisa mempunyai tiga darah campuran?"
"Tidak, kenapa bisa?"
"Alasannya karena ibumu yang merupakan vampir Level B adalah campuran dari iblis dan vampir. Lalu ibumu menikah dengan ayahmu yang manusia biasa yang menyebabkan dia mengandung dan melahirkanmu sebagai vampir Level A spesial"
"Kenapa harus Level A spesial, bukannya aku Level C ya?"
"Ya seharusnya... Tapi kakekmu itu adalah vampir darah murni keturunan bangsawan"
"Jadi kenapa ibuku campuran darah iblis dan vampir?" tanyaku penasaran
"Begini ceritanya. Dulu kakekmu jauh cinta dengan wanita dari kaum bangsawan iblis, padahal pada aturannya kaum vampir tidak boleh menikah dengan kaum iblis. Jadi karena ditentang keluarga bangsawan maka kakekmu melakukan perjanjian jiwa dengan wanita iblis itu dan menikah diam - diam, namun ternyata wanita iblis itu di bawa pulang oleh kaum iblis dan harus dinikahkan dengan raja iblis waktu itu dan kakekmu dinikahkan dengan wanita lain sehingga perjanjian jiwa itu dilanggar dan menyebabkan kutukan yang harus dirasakan oleh cucunya yaitu Steven dan Leo si raja iblis..." jelas tetua vampir meminum minuman di gelasnya
"Lalu apa hubungannya denganku?" gumamku dingin
"Ya karena kakekmu dan nenekmu melanggar perjanjian jiwa itu jadi kamu yang sebagai cucu dari anak merekalah yang bisa membatalkan perjanjian jiwa itu"
"Aku? Apayang bisa aku lakukan?"
"Ya kamu hanya bisa memilih menjadi ratu vampir atau ratu iblis dan menggunakan jiwamu untuk membuka segel perjanjian jiwa itu sehingga kutukannya bisa dihilangkan"
"Apa aku harus memilih diantara dua itu?"
"Ya kamu harus memilih diantara vampir dan iblis"
"Ya pastinya raja salah satunya akan meninggal dan kerajaannya runtuh"
"Hmmm kenapa pilihan yang sulit?" gumamku bingung
"Kan tinggal pilih saja apa susahnya"
"Ya benar kata tetua, tapi masalahnya... aku dan Steven juga melakukan perjanjian jiwa" gumamku yang membuat tetua vampir terkejut
"A... Apa yang kamu katakan?" tanya kakek terkejut
"Kami berdua juga melakukan perjanjian jiwa"
"Benarkah yang dikatakannya, Steven?"
"Iya kakek"
"Kenapa kamu lakukan itu?"
"Karena dia wanitaku jadi harus aku miliki apapun yang terjadi" gumam steven dingin
"Haduh, dasar anak muda malah bermain - main dengan perjanjian jiwa" desah tetua vampir
"Tenang saja kakek, dia juga vampir jadi tidak perlu di khawatirkan"
"Hmm ya betul juga kata kamu" desah tetua vampir meletakkan gelasnya
"Oh ya tetua aku ada satu pertanyaan"
"Silahkan, kamu mau tanya apa?"
"Siapa kakekku itu?" gumamku serius dan membuat petir merah menggelegar di langit
"Aku..." ucap tetua serius
"A.. Apa?" teriakku dan Steven bersamaan
__ADS_1
"Kenapa kalian kaget?"
"Aku... Masih bersaudara dengan Steven? Oh God apa ini mimpi?" gumamku tidak percaya
"Ya gimana gak kaget kek, jadi... aku dan Sani masih saudara?" gumam Steven tidak percaya
"Ya bisa dikatakan seperti itu"
"Ta...Tapi bagaimana mungkin kami saja berbeda!!"
"Kamu tidak sadar? Sikap kalian itu sama dan wajah kalian hampir mirip"
"Jadi walaupun begitu aku dengan raja iblis juga akan sama?" gumamku
"Iya pastilah karena kalian bertiga masih saudara"
"Tapi kek, I want to marry with Sani" gumam Steven kesal
"No problem, di peraturan vampir dan iblis tidak dilarang pernikahan sedarah. Asalkan Sani mau memilih menjadi ratu vampir" gumam tetua vampir santai
"Ta.. Tapi di dunia manusia tidak boleh pernikahan sedarah"
"Itu di dunia manusia, berbeda dengan di dunia vampir dan iblis"
"Hmmm benar juga sih" desahku
"Aku tidak menyangka sumpah, pantas saat aku tidurkan jiwa manusianya dia sangat dingin mirip aku" gumam Steven memegang kepalanya
"Lalu kalau nenekku siapa?"
"Nenekmu adalah nenek raja iblis"
"Raja iblis? Apakah kaum iblis itu yang mempunyai mata biru?" tanyaku kepada tetua
"Ya kamu benar, kenapa kamu tahu?" gumam tetua menatapku
"Karena seingatku aku pernah bertemu dengan dia tapi aku tidak ingat dimana" gumamku mengingat suatu kejadian
"Gak usah diingat - ingat, itu tidak penting" protes Steven kesal
"Kenapa kamu yang kesal?"
"Kamu wanitaku, jadi kamu tidak boleh bertemu dengan raja iblis sialan itu!!" protes Steven dingin
"Ya berdoalah saja" gumamku dingin
"Kamu ini ya!!" protes Steven kesla
"Sudah - sudah kalian berdua tidak perlu berantem,apapun yang terjadi itu adalah pilihan Sani sendiri"
"Tidak mau kakek, aku akan memusnahkan kerajaan iblis kalau sampai Sani memilih menjadi ratu iblis" gumam Steven dingin
"Hei... aku belum memikirkan sampai kesitu tau!!" protesku
"Sudah - sudah, hmmm kalian ini. Oh ya Sani kemarilah kakek ada sesuatu untukmu" gumam tetua mengambil sebuah kotak dan menaruhnya di atas mejanya
"Iya tetua" gumamku menghampiri tetua
"Jangan panggil aku tetua, panggil aku kakek. Apalagi aku kakek kandungmu"
"Baiklah kakek" gumamku menundukkan badanku sedikit dan tetua membuka kotak tersebut dan di dalamnya terdapat sebuah kalung perak dengan hiasan bulan yang indah
"Ini untukmu, jaga baik - baik"
"Ini bukannya kalung ibuku?" gumamku memandangi kalung indah tersebut
"Ya memang benar, ibumu memberikannya kepada kakek. Kata ibumu kalung ini nanti diberikan kepada cucuku tersayang. Kalung ini adalah kalung penjaga vampir dari segala bahaya, kalau kalu ada bahaya Steven sebagai raja vampir akan datang melindungimu" gumam tetua menatapku
"Kakek, kemanapun dan dimanapun aku berada Steven selalu ada seperti hantu kek!!" protesku
"Ya kamu itu wanitaku, jadi suka - suka aku lah!!" protes Steven menatapku
"Aku bertanya dengan kakek lah bukan denganmu!!" protesku
"Sudah - sudah dari pada kalian berantem seperti itu mending kalian ikut pesta" gumam tetua membukakan pintu untuk kami
__ADS_1
"Baiklah kakek" gumamku berjalan keluar ruangan itu dan di ikuti oleh Steven di belakang