
Aku berjalan ke arah kamarku dan membuka pintuku dengan santai. Saat pintu kamar terbuka, aku malihat Nana yang sedang duduk di tempat tidurnya
"Sani kamu kembali?" gumam Nana menatapku
"Dari semalem kok, emang kenapa?"
"Tidak ada, aku hanya mengkhawatirkanmu"
"Mengkhawatirkanku kenapa?"
"Kamu dibawa pergi kaisar langit, kalau kamu tidak kembali ke dunia manusia lagi bagaimana?" protes Nana kesal
"Emang kenapa kalau aku tidak kembali?"
"Hei nanti banyak yang mengkhawatirkanmu"
"Siapa juga yang akan mengkhawatirkan aku" gumamku merebahkan tubuhku
"Banyak tau!! Lain kali jangan mau di ajak kaisar langit lagi"
"Kenapa?"
"Ya pokok gak boleh, kamu tiga darah campuran tau"
"Ya aku tahu, kaisar langit suamiku" gumamku tidur membelakangi Nana
"Sani kamu!!"
"Kenapa? Emang seperti itu, bahkan kakekku juga bilang seperti itu juga" desahku memejamkan mataku
"Kalau kamu mengikuti kaisar langit ke istana langit derajat kita beda dan ... Sani aku tidak mau kehilanganmu" desah Nana pelan
"Tunggu!! Kamu bicara apa?" tanyaku kaget
"Aku tidak mau kehilanganmu, derajat yang berbeda akan membuat aku susah bertemu denganmu.. Lagi"
"Oh ya? Aku tidak berfikir seperti itu, kakekku meminta izin agar aku bisa main ke kerajaan vampir langsung di setujui kaisar langit"
"Hah serius?"
"Ya serius lah"
"Padahal banyak yang bilang kaisar langit itu tidak akan memberikan izin seperti itu"
"Tapi buktinya tidak seperti itu kok"
"Oh ya... Hmmm syukurlah kalau begitu. Oh ya kamu belum makan kan dari tadi pagi, itu di meja ada makanan... Makanlah"
"Baiklah, makasih Nana" gumamku beranjak dari tempat tidur dan duduk di meja makan
"Kamu tadi kemana aja" gumamku melahap makananku
"Aku ada urusan di kerajaan, jadi ya aku harus mengurusi urusanku dulu"
"Jadi kamu tidak ikut ujian tadi?"
"Ikut kok"
"Oh ya? Aku kok tidak tahu!!"
"Karena kamu tidak memperhatikan ke belakang"
"Mmm ya juga sih" desahku
"Oh ya Sani, maaf perbuatan kakakku. Aku merasa tidak enak kepadamu" gumam Nana menundukkan kepala
"Sudah aku maafkan"
"Haaah serius?"
"Ya, tapi syaratku tetap seperti awal"
"Hmmm aku paham Sani, kalau kakakku tidak masalah ... Tapi Steven.." desah Nana menatapku
"Steven menjadi pemurung dan lebih suka berada di dalam kamar, dia sangat menyesal telah membunuh ayahmu dan orang lainnya" aku menatap Nana yang memperlihatkan wajah sedihnya
"Apakah bisa seorang bisa terpengaruh oleh raja kegelapan?"
__ADS_1
"Bisa kalau dia di peralat seseorang"
"Diperalat? Maksudnya?"
"Kamu ingat Tiger? Dialah yang memberitahukan raja kegelapan tentangmu dan orang yang dekat denganmu"
"Ti... Tiger?"
"Ya benar, dia vampir rendahan yang benci banget sama Steven"
"Kenapa dia punya hubungan dengan raja kegelapan?"
"Karena dia emang dari awal setelah pergi dari kerajaan vampir dia memilih mengabdikan dirinya dengan raja kegelapan, bahkan sebenarnya Tiger tahu kamu darah tiga campuran. Makanya dulu dia ingin mengajakmu bekerja sama mengalahkan raja vampir *** ada alasannya dibalik itu"
"Apa alasannya?"
"Dia ingin menukarkanmu dengan kekuasaan yang dia inginkan "
"Oh..." desahku meletakkan sendok dan garpuku lalu beranjak dari tempat dudukku
"Kamu mau kemana malam - malam seperti ini?"
"Ke suatu tempat" gumamku melangkahkan kakiku dan berpindah di dalam aula kerajaan vampir di kerajaan vampir
"Sani kamu pulang?" sapa kakek duduk di sofa depanku
"Kakek"
"Duduk sini. Istirahatlah dulu"
"Kakek kenapa ada disini?"
"Aku hanya ingin menikmati minumanku"
"Aku senang kakek sehat"
"Ya kita kan abadi cu"
"Tapi kan vampir bisa saja mati kek?"
"Ya benar sekali, tapi itu kalau jantungnya yang di serang"
"Jadi kamu harus hati - hati ya"
"Baik kakek" gumaku pelan
"Oh ya Steven terus mengurung diri di kamar, coba temui dia"
"Ta... Tapi kek!!"
"Ini perintah dari kakekmu"
"Baik kakek aku akan menemuinya, tapi sekalian aku pamit untuk pulang" gumamku berteleportasi ke kamar Steven
Di kamar aku melihat Steven yang sedang duduk termenung di jendela kamarnya sambil menatap rembulan yang indah
"Kamu datang... Sani" gumam Steven pelan
"Lama kita tidak bertemu denganmu raja vampir" gumamku
"Ya benar, aku sampai tidak ingat kapan terakhir kita bertemu"
"Baru kemarin juga" gumamku dingin
"Aah benar juga, kamu semakin dingin ya sekarang"
"Tidak juga"
"Oh ya. Apa yang kamu inginkan kemari? Ingin membunuhku?" gumam Steven melirikku
"Tidak ada" gumamku berdiri di belakang Steven
"Apa yang membuatmu datang kemari? Katamu kamu tidak mau bertemu denganku lagi"
"Memang"
"Kalau tidak mau bertemu denganku kenapa kamu datang kemari?"
__ADS_1
"Cuma ingin sedikit berbincang denganmu"
"Jangan bilang karena kakek"
"Ya itu faktor utamanya"
"Haah... Hahaha, Sudah aku duga"
"Hmmm Lalu buat apa kamu datang kemari?"
"Tidak ada alasannya" gumamku duduk di samping Steven
"Hmmm kamu dingin seperti biasanya ya" gumam Steven tersenyum
"Kamu bisa tersenyum juga sekarang" gumamku dingin
"Ya aku senang saja kamu datang menemuiku"
"Oh..." desahku pelan dan beranjak dari tempat dudukku
"Kamu mau kemana?"
"Bukan urusanmu... " desahku berjalan menjauhi Steven
"Tunggu" gumam steven yang menghentikan langkahku
"Ada apa?"
"Kenapa kamu berubah tidak seperti dulu?"
"Karena kejadian dulu" gumamku dingin
"A... Aku..." desah Steven berjalan ke arahku
"Ee... A... Aku minta maaf Sani" gumam Steven memelukku erat
"Aku merasa sangat bersalah padamu, aku minta maaf" gumam Steven menitihkan air mata
"Ya aku tahu apa yang terjadi, aku sedikit memaafkanmu tapi hatiku belum bisa memaafkanmu." desahku pelan sambil melepaskan pelukannya yang erat itu
"Sani..."
"Hmmm baiklah aku mengerti, aku berterimakasih kamu mau memaafkanku" desah Steven senang
"Oh ya. Kenapa kamu bisa bertemu dengan kaisar langit?
"Kamu tidak perlu tahu"
"Sani... Apakah kamu dia itu siapa?"
"Ya aku tahu, dia suami yang ditakdirkan untukku" gumamku pelan
"Kamu tahu?"
"Aku sudah tahu dari awal bertemu dengan kaisar langit"
"Apa kamu akan menerima itu sebagai takdirmu? !!!" teriak Steven kesal
"Ya"
"Kenapa?... Kenapa kamu percaya? Kenapa?"
"Karena aku percaya dengan kaisar langit dan aku juga mencintainya" gumamku dingin
"Padahal kan aku... Aku..." desah Steven bergetar
"Baiklah, makanlah yang banyak jangan sampai kamu mengurung dirimu di kamar terus menerus. Semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik lagi kedepannya, jangan kamu siksa dengan perjanjian jiwa lagi" gumamku melangkahkan kakiku berpindah ke atas atap asramaku, aku duduk ditemani bintang - bintang dan bulan purnama yang indah
"Hmmm..."
"Sebenarnya.... Aku sudah maafkan kamu...."
"Aku juga tidak masalah dengan takdirku"
"...Dan juga..."
"Aku tahu kok kalau kamu mencintaiku raja vampir" gumamku pelan
__ADS_1
"Tapi..."
"Aku memang tidak mencintaimu dari awal" desahku dan angin bertiup kencang memerpa wajahku, memang apa yang aku ucapkan ini adalah yang sebenarnya di dalam hatiku