
Setelah beberapa jam perjalanan yang kami lalui akhirnya kami semua sampai di sebuah rumah besar dan mewah terlihat jelas di jendela mobil, Candra melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku lalu bertingkah seolah - olah tidak terjadi apapun
"Baiklah kita sudah sampai teman - teman, silahkan keluar dari kendaraan" gumam Xiao Min membangunkan beberapa orang ang sedang tertidur
"Hoy Na udah sampai tahu kamu gak bangun - bangun!!" protes Candra kesal
"Heeh? Udah sampai ya? Hoooaaammm ngantuknya" desah Nana berusaha bangkit dari tempat duduknya
"Udah tahu, cepetan turun"
"Iya - iya dasar cowok bawel banget" gerutu Nana kesal dan langsung turun dari kendaraan
"Sani kita turun"
"Kamu turunlah dulu, aku males turun"
"Kalau kamu males, aku gendong loh"
"Ti.. Tidak perlu" gumamku langsung berdiri dan mengikuti Canda yang sudah turun di depanku
Kami semua masuk ke dalam rumah mewah itu dan melihat dekorasi pesta yang sangat megah dan mewah bahkan sudah banyak orang - orang selain kami datang ke tempat ini
"Nah silahkan nikmati pestanya ya" gumam Xiao Min pergi dan kami semua berjalan menuju ke tempat acara di sebuah aula besar di depan kami
Aula itu telah dipenuhi oleh beberapa orang pejabat sambil menikmati makannan yang telah tersedia. AKu berpencar dari beberapa temanku untuk melihat - lihat tamu undangan para pejabat itu, ya mana tahu ada ayahku yang ikut hadir walaupun aku tahu ayah juga tidak suka menghadiri pesta
"Sani kamu ngapain disini?" tanya Nana mengagetkanku
"Tidak ada, cuma mencari ayah aja"
"Ayahmu tidak ikut, hari ini ada rapat di luar negeri"
"Oh begitu ya" desahku
"Selamat malam dan selamat datang ke kediaman keluarga Min dalam pesta ulangtahun saya Xiao Min..." teriak Xiao Min menggunakan microfone miliknya
"Silahkan dinikmati pesta di malam ini.." teriak Xiao Min senang dan suara tepuk tangan bersahutan terdengar jelas di ruangan besar itu
Di dekat tiang aku melihat Leo sedang bersama dengan wanita cantik bermata biru, aku menatap Nana ingin menanyakan Nana persoalan itu tapi apakah Nana tahu atau tidak
"Sani kenapa kamu menatapku seperti itu lagi?" gumam Nana bingung
"Mmm yang di depan kakakmu itu wanita idamannya kah?" gumamku
"Iya, namanya Bella"
"Oh begitu"
"Kamu cemburu?"
"Tidak, buat apa aku cemburu" gumamku mengambil makanan ringan yang ada di belakangku
"Kirain kamu cemburu"
"Tidak kok" gumamku melahap makanan yang ada di piringku
__ADS_1
"Seharusnya kamu cemburu aja"
"Gak mau, emang aku apaan kok cemburu yang dipaksakan" gumamku menatap Nana
"Iya - iya, Eeehh Sani kamu jangan lihat" gumam Nana menutup mataku
"Kenapa?"
"Udah pura - pura aja kamu manusia biasa"
"Kenapa sih!!" gerutuku kesal berusaha melepaskan tangan Nana dari kedua mataku
Saat kedua mataku berhasil terbuka aku melihat Leo dan Steven berdiri di samping dua wanita cantik dan anggun itu. Dua wanita itu berjalan ke arahku dengan tatapan penuh kebencian dan langsung menamparku secara mendadak yang membuatku terkejut
"Apa - apaan siihh menampar orang tanpa permisi!!" potesku kesal
"Hei, inikah wanita murahan yang kalian terus lindungi itu?" gumam wanita bermata biru itu dengan sombong
"Haaah manusia biasa seperti ini buat apa kalian lindungi coba" ucap wanita bermata merah dengan kesal
"Memalukan, wanita seperti ******* kayak gini kok dibela - belain kalian berdua terluka"
"Hahaha" tawa kedua wanita itu dengan sombong sedangkan Steven dan Leo hanya diam tanpa berkata apapun seperti suami - suami yang takut kepada istrinya
"Kenapa? Diam saja? Apa untungnya pacar - pacar kami melindungimu!"
"Hahaha gak ada gunanya sama sekali" gumam wanita bermata merah menarik rambutku dengan kuat dan mendorongku dengan keras
"Sani kamu tidak apa - apa?" gumam Candra menatapku
"Hahaha emang kamu pantas disebut *******" ucap wanita bermata merah dengan sombong yang membuatku tambah kesal
"Heeeh sudah puas kalian membacot dari tadi" gumamku berusaha berdiri
"Hei dia mulai bereaksi, mending kamu mati sana" teriak wanita bermata biru dengan sombong dan menyerangku dengan kekuatannya tapi aku langsung menangkisnya dan wanita bermata merah langsung menyerangku tapi aku tetap bisa menangkisnya
"Si... Siapa kamu, kenapa kamu bisa menangkis kekuatan kami? Padahal kamu manusia biasa!!!"
"Heeh, kalian tidak perlu tahu aku siapa vampir dan iblis rendahan" gumamku melangkahkan kakiku ke arah mereka dan merubah wujudku ke wujud asliku
"Jangan - jangan kamu!!" teriak wanita bermata biru terkejut
"Vampir level A spesial" teriak wanita bermata merah dengan keras
"Aku sangat senang di rendahkan seperti itu seperti hewan peliharaan yang sangat terhina" gumamku menyerang dua wanita itu sampai mereka terjatuh berkali - kali
"Ke... Kekuatan ini? Sani jangan!! Nanti kamu membunuh mereka" teriak Candra di belakangku tapi tidak aku pedulikan
"Matilah kalian!!" teriakku kesal dan terus menyerang mereka berdua
"Sani Hentikan nanti kamu membunuh mereka" teriak Candra keras
"Membunuh mereka ya? Itulah yang aku inginkan" teriakku senang dan terus menyerang dua wanita itu tanpa ampun
"Amm... Ampun, kami salah... kami salah" gumam wnaita bermata merah dan wanita bermata biru itu memohon kepadaku
__ADS_1
"Haaah, kalian berdua sebelum melihat siapa lawan kalian tidak perlu mengejek lawanmu adapalagi merendahkannya, kalian hanya vampir dan iblis rendahan yang pantas mati" teriakku kesal dan terus menyerang mereka, tapi kali ini Steven dan Leo menangis seranganku untuk melindungi kedua wanita itu
"Sani maafkan mereka, mereka tidak tahu kamu sesungguhnya" teriak Steven
"Iya maafkan mereka" gumam Leo memohon
"Ini bukan urusan kalian" gumamku menyerang kedua raja itu sampai terpental jauh ke belakang
"Aammm... Ampuni kami"
"Haaah ampuni kalian, jangan mimpi!!!" gumamku kesal dan menyerang kedua wanita itu sampai mereka terluka parah
"Sani, hentikan!!" teriak Candra di belakangku
"Tidak, aku harus membunuh mereka, aku tidak peduli mereka wanita dua raja menyebalkan itu aku tidak peduli" teriakku kesal
"Sani sudahlah" teriak Steven kesal
"Hentikan, nanti kamu membunuh mereka" teriak Leo khawatir
"Siapa kalian? Aku tidak ada urusannya dengan kalian berdua. Mulai hari ini dan seterusnya aku vampir level A spesial tidak akan membantu kalian berdua raja - raja yang menyebalkan. Biarkan kalian berdua menjadi bujang lapuk selamanya Hahaha" teriakku bangga dan terus menyerang dua wanita itu, namun tiba - tiba Candra memberanikan diri memelukku dari belakang untuk menahan kekuatanku yang akhirnya membuat tubuhku lemas di pelukan Candra
"Kamu dibilang berhenti ya berhenti" gumam Candra mengelus rambutku dengan lembut
"Ta... Tapi aku gak terima dengan perkataan mereka menyakitiku tahu" gumamku menangis di pelukan Candra
"Iya aku paham" desah Candra mengusap air mataku
"Sudahlah ayo kita pergi dari sini" gumam Candra menggendongku keluar dari kerumunan orang
"Hei mau kamu bawa kemana dia??" protes Steven kesal
"Bukan urusanmu, mending kamu urus wanita kalian berdua"
"Oh ya Nana, tolong hapus ingatan orang - orang yang melihat kejadian ini ya" gumam Candra
"Iya tenang saja" gumam Nana membaca beberapa mantra dan orang yang ada di kerumunan tadi pergi ke tempat masing - masing dan lupa apa yang sedang terjadi bahkan orang - orang itu tidak menyadari ada beberapa orang terluka sedangkan Candra melangkahkan kakiku pergi ke sebuah taman di rumah Xiao Min. Candra mendudukkanku di kursi taman dan terus memeluk sambil mengelus rambutku dengan lembut
"Sudah tenang ya, jangan marah - marah terus" gumam Candra lembut sedangkan aku masih saja menangis di pelukan Candra
"Ke.. Kenapa kamu menenangkanku? Kenapa tidak aku bunuh saja mereka" gumamku kesal
"Hei tidak boleh seperti itu, walaupun mereka salah kamu tidak boleh sampai membunuhnya"
"Bodo amat, aku ingin membunuhnya" gumamku kesal
"Udah diem disini denganku" gumam Candra terus mengelus rambutku dengan lembut
"Hmmm"
"Udah mendingan?" tanya Candra menatapku dan aku mengangguk pelan, tidak tahu kenapa pelukan hangat Candra membuatku tenang untuk kedua kalinya. Aku menatap seseorang yang berdiri di atas sebuah pohon di depanku, saat aku lihat ternyata wajah itu adalah wajah Steven yang kesal
"Nah jadi anak yang baik dan nurut ya jangan marah - marah" desah Candra mencium keningku dengan lembut dan aku hanya menganggukkan kepalaku
"Disini dingin, aku bawa kamu pulang ya" gumam Candra menggendongku kembali dan pergi dari rumah Xiao Min tanpa seijinku
__ADS_1
Aku tidak tahu kenapa aku selalu memunculkan kekuatan penuhku saat merasa sakit hati, apalagi aku tidak tahu kenapa Candra bisa menahan kekuatanku yang besar itu dan juga kenapa pelukan Candra sangat nyaman bagiku. Pertanyaan yang masih sulit untuk aku jawab saat ini