
Candra menggendongku ke sebuah bangunan yang besar dan mewah yang dihiasi sinar rembulan, tatapan Candra yang seperti terlihat sangat marah banget.
"Candra kamu kenapa terlihat marah seperti itu?" gumamku bingung
"Tidak kok"
"Kamu marah?"
"Sedikit"
"Marah kenapa?"
"Ya udah membuatmu sakit hati seperti itu"
"Tidak apa kok Candra,aku udah biasa kok" desahku
"Udah biasa? Maksudmu?"
"Ya aku emang jadi bahan bullyan kok sejak kecil jadi ya aku udah biasa aja sakit hati"
"Tapi kekuatanmu tadi lebih besar saat kamu menyerangku loh"
"Ya emang kalau aku sakit hati selalu seperti itu"
"Benarkah?"
"Ya dari aku kecil" desahku tapi Candra hanya memandangiku
"Mmm kamu bisa menurunkan aku tidak?"
"Kenapa?"
"Ya aku takut kamu terasa berat menggendongku"
"Kamu sangat ringan seperti tidak pernah makan"
"Hei aku makan ya!!" protesku
"Hmmm ... Nanti saja kalau sudah di dalam"
"Ini rumah siapa?"
"Ini kerajaanku"
"Kerajaanmu"
"Ya.." gumam Candra melangkahkan kakinya masuk melewati gerbang
Di depanku aku melihat banyak sekali serigala yang berjalan mendekatiku seperti serigala yang sedang kelaparan, aku langsung membenamkan wajahku di dada Candra yang terlihat bidang itu
"Ada apa?" tanya Candra bingung
"Takut"
"Mereka bawahanku jadi jangan khawatir"
"Hmm baiklah" desahku berusaha berperilaku biasa saja
Di depanku aku melihat serigala - serigala tersebut berubah menjadi manusia yang sedang menunduk ke arah Candra
"Selamat datang yang mulia" ucap salah seorang laki - laki di depan kami
"Iya" gumam Candra dingin dan masuk ke dalam bangunan itu, saat pintu bangunan tersebut terbuka, aku bisa melihat isi bangunan itu sangat mewah seperti kerajaan di jaman modern
"Kamu mau turun?" gumam Candra menatapku
__ADS_1
"Iya..."
"Baiklah" desah Candra menurunkanku di atas karpet bulu
"Kenapa kamu mengajakku ke kerajaanmu?"
"Ya buat penenang kamu saja sih sekalian biar kamu mampir ke kerajaanku" gumam Candra duduk di sofa bewarna putih yang terlihat empuk
"Oh.. Hmmm makasih ya Candra kamu sudah menolongku" gumamku menatap Candra
"No problem sweety"
"Oh ya kamu bilang kamu udah pernah seperti ini sebelumnya?" tanya Candra menatapku
"Ya pas waktu aku kecil sama pas di kelas dulu, emang kamu gak tahu?"
"Heh? Kapan?"
"Udah lama banget sih sebelum ada tambahan kelas malam"
"Ohh aku udah beberapa hari tidak masuk"
"Kenapa?"
"Ya biasalah nemenin bawahanku berburu"
"Oh pantes" desahku
"Ya kami berburu untuk stok makanan kami jadi ya mau tidak mau aku ikut berburu sekalian"
"Berburu apa?"
"Ya hewanlah apa lagi"
"Kalau manusia sih itu haknya para vampir"
"Lalu kalau iblis?"
"Kalau iblis sih ada banyak jenisnya" desah Candra
"Salah satunya kami kaum siluman" gumam Candra menatapku
"Oh begitu ya, tapi kenapa matamu berbeda dengan raja iblis itu"
"Ya karena dia iblis murni sedangkan aku iblis siluman jadi ya berbeda, setiap iblis berbeda warna mata"
"Ohhh jadi dulu kenapa kamu ingin jadi raja iblis?"
"Aku dulu ingin membangun kerajaanku yang adil dan makmur tapi aku kalah dengan Leo itu jadi ya aku memutuskan keluar dari kaun iblis dan membangun kerajaanku sendiri"
"Tapi ya kamu sehausnya bersyukur bisa terhindar dari kutukan itu"
"Aku bukan iblis murni jadi kutukan itu tidak berlaku kepadaku"
"Oh ya?"
"Ya begitulah, sebenarnya Sani. Kamu punya masalah besar loh"
"Masalah besar bagaimana maksudmu?" tanyaku bingung
"Ya selain kamu dihadapkan untuk menghilangkan kutukan du kaum itu kamu juga harus menghadapi raja kegelapan"
"Heeeh? Raja kegelapan? Itu orang atau benda?" gumamku bingung
"Hei itu bukan orang bukan benda ya. Dia itu raja tertinggi dari kami para raja. Dia tampan tapi sangat dingin, kejam, dan menyeramkan"
__ADS_1
"Kenapa harus menghadapi dia?"
"Karena kamu harus mengalahkan dia untuk bisa menyeimbangkan dunia manusia dan dunia kami, itulah kenapa banyak kaum - kaum dari kami yang bebas berkeliaran di dunia manusia dan di dunia kami selalu terjadi peperangan"
"Emang dia kuat apa?"
"Ya, kekuatannya setara denganmu, kalau marah juga sama dengan kekuatanmu jadi kalau kamu tidak mengasah kekuatanmu kamu tidak akan bisa mengalahkannya"
"Begitu ya, ya aku sudah merasa aku bakal kalah kok" desahku santai
"Kamu selalu saja pesimis" gumam Candra mencubit hidungku
"Auuuhh sakit lah"
"Ya kamu sendiri selalu pesimis terhadap suatu permasalahan"
"Hmmm udah lah kamu gak perlu terlalu khawatir" gumamku beranjak berdiri dari sofa
"Kamu gak balik ke pesta itu lagi?" tanyaku menatap Candra
"Enggak, aku mau nemenin kamu"
"Gak perlu Candra, kamu kembali saja ke pesta itu aku balik ke asrama aja"
"Gak boleh, kamu ke asrama aku temenin"
"Iiih gak perlu, aku gak mau merepotkanmu lagi"
"Gak mau, kalau kamu tidak mau aku temani kamu tinggal disini saja denganku"
"Tinggal disini? Kenapa?"
"Ya biar kamu merasa aman"
"Hahaha nanti ujung - ujungnya aku mati dengan tenang" tawaku
"Tidak, aku tidak akan melakukan itu. Aku akan membunuhmu kalau waktunya sesuai saja"
"Hahaha sebenarnya sekarang juga gak apa - apa loh.." desahku menatap Candra serius
"Aku udah siap nih" gumamku menghadapkan tubuhku ke arah Candra
"Gak mau, belum waktunya saja kok"
"Hmm terserah kamu lah dikasih kesempatan gak mau ngelakuin"
"Kamu masih harus menghadapi raja kegelapan dulu"
"Ya kalau aku mati kan aku tidak akan susah payah menghadapi raja itu, ya udah aku izin pamit dulu ya" desahku santai
"Hei..." protes Candra kesal berdiri di dekaku lalu memegang tanganku
"Kenapa?" gummaku menatapnya, namun tanpa aku duga Candra menciumku
"Kamu tidak boleh pesimis seperti itu, aku yakin kamu bisa menghadapinya" gumam Candra pelan yang membuatku terkejut
"Hei kenapa kamu menciumku!!" protesku
"Udah gak usah bawel, kalau kamu ingin kembali ke pesta aku temani. Apalagi nanti Xiao Min mencari - cari kita" desah Candra menggandeng tanganku berpindah ke taman di samping rumah Xiao Min
"Udah kamu balik aja ke pesta, aku akan mengawasimu takut kalau Steven atau Leo menyakitimu lagi" gumam Candra melepaskan tanganku
"Terimakasih Candra" gumamku berjalan masuk ke dalam pesta Xiao Min kembali
Ya aku sebenarnya terkejut dengan apa yang terjadi apalagi... Aku harus menghadapi raja kegelapan itu, aaah emnag ya hidupku selalu sial
__ADS_1