Merubah Takdir

Merubah Takdir
Episode 16 : Pulang Kuliah


__ADS_3

Pelajaran dimulai sangat lama dan membosankan. Semenjak aku tinggal di rumah Steven, aku menjadi malas kuliah apalagi banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan membuatku ketinggalan pelajaran. Disaat aku mencoba untuk memfokuskan pandangan dan pikiranku ke papan tulis tiba - tiba handphoneku berbunyi


Kriiiinngg.... kkrrriinnggg


"Siapa itu?" tanya dosenku dengan tatapan tajam dan itu membuatku kaget saat handphoneku berbunyi ternyata Steven yang menelepon


"Ma... maaf pak, apakah saya boleh mengangkat telepon ini. Takutnya penting" gumamku sambil menggenggam handphone di tanganku


"Ya udah silahkan, di luar ya... lain kali di silent!!" protes dosenku


"Ba... baik pak" gumamku langsung keluar kelas untuk mengangkat telepon itu


"Hallo..." gumamku kesal


"Hallo ... kamu kemana?" ucap Steven santai


"Udahku bilang aku lagi kuliah, jangan telpon pas jam kuliah tahu... aku habis di marahin dosenku tahu!!" protesku


"Kan udah aku bilang aku yang akan mengantarmu!!" protes Steven


"Hey Steven si sok ganteng dan sok keren, denger ya... kamu bangun tidur aja barusan kan malah mau nganter aku, aku telat tahu... rumahmu dengan kampusku waktu yang ditempuh 2 jam, gua bisa telat" protesku


"Ya mau gak mau aku yang mengantarmu!!"


"Udah ah nanti aja berdebatnya, lagi pelajaran tahu... bye" gumamku kesal dan mematikan handphoneku lalu masuk ke dalam kelas lagi


Aku membuka pintu kelas dan kembali duduk di kursiku dengan wajah kesal


"Ada apa Sani?" tanya Nana penasaran


"Biasa si ba...." teriakku kesal dan aku kaget teman sekitarku memandangku


"Emmm... ti... tidak apa - apa" desahku menepuk dahiku


"Ada apa? ... ceritalah!!"


"Susah dijelaskan Na... hmmm kalau suatu saat kamu tahu aku harap kamu gak marah"


"Emang aku marah karena apa?"


"Mmmm ya gak tahu ... takutnya kamu marah"


"Tidak... aku tidak akan marah, mmmm oh ya Sani... aku barusan di telpon ayahmu untuk menempati rumahmu bersama ayahmu. Katanya sekarang kamu tidak tinggal di rumah jadi diduruh menemani ayahmu" gumam Nana senang


"Oh... baguslah, sekarang kamu bisa anggap ayahku itu ayahmu... dan tolong jaga ayahku ya" gumamku tersenyum


"Aku akan berusaha"


"Baguslah" desahku


"Ngomong - ngomong kamu tinggal dimana?"


"Jauh... dan lebih jauh"


"Kamu di rumah saudaramu?"


"Tidak..."


"Kamu dirumahmu sendiri?"


"Tidak... rumahku cuma rumah ayahku"


"Kamu ngekos?"


"Tidak..."


"Terus?"


"Kamu akan tahu sendiri, jangan pernah menanyakan hal ini ke ayahku ya... nanti aku akan menjelaskan kepadamu" gumamku


"Kamu kabur dari rumah?"

__ADS_1


"Tidak..."


"Lalu?"


"Aku ... tinggal di rumah orang"


"Kenapa?"


"Ceritanya panjang, dan kalau kamu tahu siapa orang itu kamu bakal kaget"


"Siapa sih aku penasaran?"


"Nanti aku akan menceritakan kepadamu kalau waktunya sesuai" desahku mencoret bukuku


"Kenapa seperti susah mengatakannya Sani?" tanya Nana penasaran


"Gak tahu kenapa ... tapi sungguh berat"


"Ya udah nanti aja kamu ceritain ke aku... dosen ini killer" bisik Nana


"Baiklah" desahku memperhatikan dosenku kembali


"Pelajaran yang lelah dan membosankan akhirnya selesai dan kami semua bergegas untuk pulang ke rumah masing- masing


"Baiklah... sekian pelajaran hari ini, hari ini saya tidak memberikan tugas jadi kalian belajar sendiri di rumah ya!!" ucap dosenku dan keluar kelas


"Baik pak" ucap temen sekelasku dan langsung berlarian keluar kelas


"Sani mau ngopi dulu?"


"Mmm... " gumamku melihat jam


"Baiklah... masih ada beberapa menit" gumamku


"Ya udah ayo..." ucap Nana menarik tanganku


"Emang mau ngopi dimana?"


"Oh baiklah" desahku mengikuti langkah kaki Nana keluar kampus


Aku menatap sekitar kampus, kiri, kanan jalan aku awasi takut Steven tiba - tiba muncul tapi ternyata masih aman sehingga aku bisa berjalan santai


"Kamu mau di luar atau di dalam cafe?" tanya Nana memandangku


"Di lantai atas aja" gumamku


"Baiklah..." gumam Nana menarik tanganku menuju ke lantai atas dan pelayan langsung mendatangi di meja kami


"Mau pesan apa?"


"Aku capucinno " ucap Nana


"Aku coffee latte aja" gumamku menutup buku menu


"Baiklah silahkan tunggu"


"Oh ya Sani... kemarin si Asri bertemu laki - laki itu"


"Oh ya... apa yang mereka lakukan?"


"Mmm aku gak tahu sih, dia tidak mengajak aku dan Lili..."


"Lalu kamu kok tahu?" tanyaku kaget


"Permisi nona, kopi anda" ucap pelayan membawa dua gelas kopi


"Terimakasih" gumamku dan pelayan tersebut pergi


"Gimana?" tanya Nana


"Kamu kok tahu Asri dengan cowok itu?"

__ADS_1


"Ya... dia cerita kepadaku... katanya mengajakmu tapi kamu menolak"


"Emang aku menolak"


"Ya emang kamu tidak suka datang ketempat seperti itu Sani"


"Ya begitulah" desahku


"Tapi tuh, Asri bilang kalau dia ciuman loh dengan Steven!!"


"Oh ya... apa peduliku" desahku


"Ya kan dia temanmu Sani, kamu yega melihat temanmu di cium orang asing"


"Kalau dianya mau kenapa juga aku larang"


"Tapi tuh katanya mau pesan Room tapi gak jadi"


"Kenapa gak jadi?" tanyaku penasaran


"Katanya si cowok itu terburu - buru untuk pulang karena ada urusan, makanya Asri sedih"


"Ya salah Asri sendiri kenapa tidak menahan cowok itu"


"Ya juga sih tapi kan pesan room itu gak baik" gumam Nana meminum kopinya


"Kalau dia mau biarkan... gak usah mengurusi kehidupan orang" gumamku


"Tapi aku kasihan aja... ntar kedepannya..."


"Kamu tahu sendiri kan Asri suka cowok itu, pasti dia akan melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan hati cowok itu" gumamku


"Hmmm tapi itu tidak benar"


"Ya aku tahu... tapi mau bagaimana lagi" desahku menatap keluar jendela. Di kiri jalan, aku melihat ada mobil Steven yang sedang terparkir di depan kampus. Menyadari itu aku langsung mengaktifkan handphoneku


"Sani..."


"Mmm iya" gumamku kaget


"Kamu pulang kapan?"


"Ti... tidak tahu, sebentar lagi mungkin" gumamku


"Aku pulang sekarang boleh?"


"Si... silahkan, emang mau ngapain?" tanyaku meletakan handphoneku dimeja


"Aku mau beres - beres rumah, nanti sore aku pindahan ke rumahmu"


"Mau aku bantu?"


"Gak perlu Sani... dikit doang kok barangku"


"Baiklah... hati - hati di jalan" gumamku dan Nana pergi keluar dari cafe sedangkan di seberang jalan aku melihat Steven mondar - mandir menungguku sambil sesekali mengangkat telponnya


Kriiingg... kriiinngg


"Haloo.. kamu dimana?" protes Steven


"Apa?"


"Kamu dimana?"


"Bentar aku keluar dulu" gumamku bergegas keluar cafe


Aku berjalan santai keluar cafe dan langsung menemui Steven yang berada di depan mobil sambil memainkan handphonenya


"Sudah lama menunggu?" tanyaku


"Ya... banget, udah ayo pulang" gumam Steven memasukkan handphonenya ke dalam jas dan mengikutiku masuk ke dalam mobil

__ADS_1


Aku emang tidak pernah peduli urusan orang, tapi kalau masalah pesan room sebenarnya tidak aku sukai, apalagi itu temenku sendiri... aku tidak mau kalau Asri diapa - apakan oleh orang yang ngeselin ini


__ADS_2