
Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri, aku tidak tahu harus bagaimana dan harus meminta petunjuk dan pendapat kepada siapa. Kenapa aku berada pada pilihan yang sesulit ini.
"Aku harus bagaimana Ya Tuhan" gumamku lirih membenamkan kepalaku diantara kedua tanganku
"Kenapa kamu ada disini? Ini tempatku" gumam seseorang di sampingku dan tanpa sadar aku menatap seorang laki - laki yang sangat tampan berdiri di sebelahku
"Tidak ada apa - apa" gumamku berdiri dan berjalan meninggalkan laki - laki itu
"Nama kamu siapa?"
"Aku Sani Lan" gumamku berlalu meninggalkan tempat itu
"Wanita yang menarik" gumam laki - laki itu
Aku berjalan meninggalkan hutan belakang kampus, dengan pikiran yang masih bercampur aduk dengan pilihan yang menyebalkan itu aku berusaha untuk terlihat tenang seolah - olah aku tidak terjadi apa - apa
"Saaaniiii" teriak Nana di belakangku yang menghentikan langkah kakiku
"Oh hai Na"
"Kamu dari tadi belum pulang?"
"Belum"
"Kenapa kamu belum pulang?" tanya Nana berjalan di sebelahku
"Tadi ada urusan sebentar"
"Urusan apa?"
"Urusan tidak penting kok, Oh ya bagaimana dengan teman - teman yang tadi dihukum?"
"Mmm ya mereka sekarang membencimu Sani"
"Oh ya? Baguslah kalau begitu"
"Mereka membencimu kamu malah bilang bagus?" gumam Nana bingung
"Ya bagus aja, kamu gak sekalian membenciku?"
"Kenapa juga aku membencimu Sani?"
"Ya karena aku ngumpulin dahulu"
"Tidak lah San, aku percaya kamu emang benar - benar pintar"
"Oh ya?"
"Ya aku percaya itu"
"Syukurlah kalau begitu" gumamku berjalan keluar kampus
"Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu, apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada, cuma sedang capek aja" gumamku berbohong
"Oh ya? Pasti capek banget ya berpikir soal susah seperti tadi"
"Ya begitulah" desahku terus melangkahkan kakiku keluar gerbang kampus
"Kamu tidak pulang?"
"Aku ..." desahku menundukkan kepala
"Sani" ucap seseorang di sampingku yang membuat aku dan Nana menoleh ke arahnya
"Tu ... Tuan Steven" ucap Nana terkejut
"Kamu ngapain disini?" tanyaku kaget
"Oh hi Nana" jawab Steven mengabaikanku
"Eehh ... Mmmm saya pulang dulu ya bye" gumam Nana panik
"Iya hati - hati ya" ucap Steven ramah dan Nana pergi menjauhi kami
"Kenapa kamu ada disini?"
"Aku ya, aku hanya ingin menjemputmu saja"
"Bukannya kamu ada urusan dan tidak kembali"
"Ya seharusnya, tapi seseorang berbicara kepadaku kalau kamu membua keributan di kampus jadi aku langsung kemari" gumam Steven santai
"Oh ya? Siapa yang memberitahukanmu? Penegak kedisiplinan?"
"Siapa dia?"
"Oh bukan ya? Siapa kalau begitu?" desahku
"Ada pokoknya, dan aku ingin bertanya kepadamu satu hal"
"Kamu bertanya apa?"
"Kenapa kamu di hutan belakang kampusmu bertemu dengan Tiger Chan?" ucap Steven dingin sambil menatap ke arah belakangku
"Oh kamu menyadarinya ternyata Steven" ucap Tiger Chan dengan dingin dan Steven langsung menarikku di sampingnya
"Jadi kenapa kamu selalu mengikuti wanitaku?" gumam Steven dingin
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu"
"Itu menjadi urusanku"
"Haaah oh ya? Tidak lama lagi dia juga jadi milikku"ucap Tiger Chan dengan sombong
"Jadi milikmu, heh jangan berharap kamu" gumam Steven menarikku pergi
"Heeh ketemu musuh aja langsung pergi, gak laki namanya" ucap Tiger sombong dan membuat Steven menghentikan langkah kakinya
"Ada wanitaku disini jadi aku malas berurusan denganmu"
"Bilang aja kamu tidak berani, memang tidak laki. Tidak pantas kamu dengan Sani" gumam Tiger santai
Tiba - tiba Steven berlari cepat ke belakang Tiger dan mengarahkan sebuah pedang ke bawah leher Tiger. Gerakan Steven sangat cepat bahkan aku sendiri tidak bisa melihat bagaimana Steven melakukan aksinya itu
"Begitukah? Kalau kamu ingin berduel denganku aku layani" gumam Steven dingin
"Kamu tidak takut dilihat Sani ketua mafia kegelapan?"
"Aku tidak peduli, apalagi dia sudah tahu aku yang sebenarnya"
"Oh ya? Aku heran kenapa bisa Sani tidak takut hidup bersama seorang ketua mafia yang kejam sepertimu ini, seharusnya dia tidak pantas bersama denganmu" gumam Tiger yang membuat Steven marah
"Siapa yang bilang dia tidak pantas denganku?"
"Emang dia tidak pantas denganmu, seharusnya kamu mati dari dulu Steven"
"Heeh aku juga sangat ingin menggoreskan pedang kesayanganku ini di lehermu" gumam Steven menggoreskan sedikit demi sedikit pedangnya ke arah leher Tiger yang membuat leher Tiger mengeluarkan darah. Melihat banyak darah yang keluar membuatku tidak tahan melihatnya "aku juga harus bisa mencari cara agar bisa memisahkan mereka berdua tapi bagaimana caranya ya?" gumamku dalam hati
"Steven kamu mau pulang tidak aku capek, kalau kamu tidak mau pulang aku mau pulang sendiri" gumamku dingin lalu berjalan meninggalkan mereka berdua
"Okey, aku akan pulang" ucap Steven
"Ku ampuni kamu kali ini" bisik Steven memasukan pedangnya dan berjalan menyusulku
"Kamu hanya berani seperti itu doang!!" protes Tiger kesal sambil memegang lehernya yang berdarah
"Aku memberimu kesempatan kali ini, kedepannya kalau kamu mengganggu wanitaku lagi tidak akan aku ampuni kamu" gumam Steven
"Oh ya? Wanitamu ya? Liat aja nanti dengan siapa wanita itu akan memilih siapa diantara kita"
"Ya kita lihat saja nanti" gumam Steven dingin dan meninggalkan Tiger yang berlumuran darah.
Aku melakukan ini untuk menghindari adanya korban, apalagi kami berada di area kampus kalau ada yang tahu kejadian ini pasti aku yang kena imbasnya dan aku menghindari hal itu terjadi. Aku masuk ke dalam mobil milik Steven dan Steven juga duduk di sampingku. Steven menghidupkan mobil dan langsung menjalankan mobilnya.
"Kenapa kamu tahu kalau aku sudah tahu tentang kamu?" gumamku
"Aku tahu, kamu juga mencari tau tentang perkumpulanku kan"
"Tidak, aku tidak akan sekepo itu"
"Ka... Kamu kenapa tahu?" tanyaku kaget
"Aku tahulah, bahkan ada banyak laki - laki di kampusmu yang suka kepadamu aku juga tahu"
"Dan kamu tadi bertemu dengan Tiger aku juga tahu" gumam Steven santai
"Kenapa kamu bisa tahu?"
"Hei Sani dengar ya, sebaik - baiknya kamu menyembunyikan semua dariku aku pasti sudah tahu"
"Hmmm ya bahkan rahasiaku yang aku sembunyiin bertahun - tahunpun kamu bisa tahu" desahku
"Heeeh aku tahulah"
"Jadi kenapa kamu bertemu dengan Tiger Chan?" gumam Steven dingin
"Bukan urusanmu" gumamku menatap keluar jendela mobil
"Itu urusanku juga" protes Steven dan aku hanya menatap Steven dan menatap keluar jendela mobil kembali
Selama perjalanan aku hanya diam tanpa kata, aku tidak mau permasalahanku dengan Tiger tadi diketahui oleh Steven, dia pasti tidak memperbolehkan aku kuliah lagi apalagi di kampus ada Tiger Chan. Aku hanya ingin hidup yang normal, aku trauma dengan laki - laki.
Sekian lama kami berdiam, tidak terasa kami sampai di rumah Steven. Aku turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah dan berjalan cepat masuk ke dalam kamarku. Belum sampai aku membuka pintu Steven memegang tanganku yang akan mendorong pintu kamar dengan cepat sehingga aku tidak bisa menghindarinya
"Apa maumu??" protesku menatap Steven
"Kamu belum menjawab pertanyaanku"
"Kamu tidak perlu tahu" protesku namun tiba - tiba Steven membuka pintu sambil menarikku masuk ke dalam kamar dan mendorongku ke sofa
"Kenapa aku tidak perlu tahu? Apa yang kamu sembunyikan dariku!" protes Steven dengan tatapan dingin
"Tidak ada, tidak penting juga" gumamku kesal
"Tidak penting ya? Lalu kenapa kamu berencana membatalkan kontrakmu denganku!" protes Steven dingin
"Tidak ada alasannya"
"Tidak ada alasannya ya? Apa kamu kurang bahagia hidup denganku? Apa semua yang aku beri masih kurang menurutmu?"
"Bukan itu"
"Lalu apa yang membuatmu tidak tahan denganku? Katakan!"
"Kamu tidak akan mengerti Steven" gumamku kesal
"Katakan!!" teriak Steven dingin
__ADS_1
"Kamu sudah punya wanita yang bernama Lydia tetapi kenapa kamu masih menahanku seperti ini, aku juga ingin bebas dengan kegemaranku sendiri tahu" jelasku kesal
"Lydia? Kamu menyamakan dirimu dengan Lydia? Asal kamu tahu, kamu berbeda dengan dia dan aku tidak mau dengan Lydia sampai kapanpun mengerti. Atau jangan - jangan kamu ingin menjadi wanita Tiger ya?"
"Tidak, aku tidak mau menjadi wanita siapapun" gumamku menatap Steven serius, namun Steven langsung mengambil vas bunga yang ada di meja dan melemparkannya ke arah belakangku yang membuatku kaget setengah mati
"Mulai sekarang aku melarangmu tidak usah kuliah atau bepergian kemanapun sendiri dan harus aku yang menemanimu. mengerti" protes teven dan meninggalkanku
"Hei tidak bisa begitu, aku mau kuliah!!" protesku yang membuat Steven menghentikan langkah kakinya
"Tidak"
"Aku mau kuliah!" protesku
"Aku bilang enggak ya enggak!!" gumam Steven kesal dan aku langsung menggenggam tangan Steven dengan erat
"Steven tolonglah, aku cuma ingin kuliah tidak ada yang lain. Jangan kamu membuatku kehilangan harapan dan masa depanku, aku ingin menebus kesalahanku yang lalu, aku ingin sukses, aku ingin membuktikan bahwa aku bukan wanita murahan" ucapku sedih dan tanpa aku sadari aku menangis di bawah Steven sambil memegang erat tanga Steven
"Aku cuma ingin itu saja gak ada yang lain" gumamku sedih
"Aku mohon Steven aku mohon" gumamku bersujud memohon kepada Steven, tanpa aku duga Steven berjongkok di depanku dan mengusap air mataku dengan lembut
"Hmmm baiklah aku izinkan tapi ada syaratnya dan konsekuensinya" desah Steven mengalah
"Apa syaratnya?"
"Mulai saat ini perjanjian kontrak itu aku rubah menjadi perjanjian jiwa, walaupun kamu meminta tolong Tiger atau seluruh orang di dunia ini sekalipun tidak akan bisa membantu karena meskipun Tiger ketuanya tapi dia tidak akan mempunyai hak untuk membatalkannya sedangkan yang berhak memberikan hukuman itu maupun membatalkannya hanya aku, jadi kamu tidak akan bisa membatalkannya dengan segala upayamu itu..."
"Dan lagi kalau kamu ingn hanya kuliah ya kuliah yang benar dan tidak usah melakukan hal diluar konteks kuliah. Kalau kamu berani melakukan hal aneh atau berfikir membatalkan perjanjian itu konsekuensinya kamu akan menjadi tahananku seumur hidupku. Bagaimana?" gumam Steven mengangkat daguku dan aku bisa melihat wajah Steven yang dingin dari dekat.
"Apa itu perjanjian jiwa?"
"Perjanjian jiwa itu berbeda dengan perjanjian kontrak, kalau perjanjian kontrak aku menghukummu kejam kontrak itu bisa terbatalkan secara otomatis tapi kalau perjanjian jiwa bisa diartikan kamu menyerahkan jiwamu seumur hidupmu kepadaku jadi kalau kamu berbuat kesalahan fatal aku bisa menghukummu dengan sesuka hatiku dan tidak ada yang bisa menghukumku karena jiwamu sudah menjadi milikku. Bagaimana?"
"Tidak mau lah" protesku
"Kalau tidak mau ya sudah tidak usah kuliah" gumam Steven berdiri di depanku
"Ba... baiklah aku setuju" gumamku pasrah
"Baguslah" gumam Steven mengambil secarik kertas dari balik jasnya dan menaruhnya di depanku
"Ini apa?"
"Ini adalah perjanjian jiwa"
"Apa aku harus menandatanginya?"
"Tidak, perjanjian jiwa itu menggunakan darah untuk melakukan perjanjian" gumam Steven berjongkok di depanku
"Darah?"
"Iya, hanya menggunakan darah" gumam Steven mengambil sebuah alat yang berbentuk bolpoint dari dalam jasnya lalu menggenggam tanganku
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku hanya akan mengambil darahmu" gumam Steven menusukkan jarum dari alat tersebut di jari telunjukku
"Aduh" rintihku kesakitan dan saat darahku keluar Steven langsung meneteskan darahku di atas kertasnya lalu membalut telunjukku dengan hansaplast.
Setelah melakukannya kepadaku, dia menekan jarum itu di tangannya sendiri dan meneteskan darahnya di atas kertas itu. Tidak lama kemudian darah yang ada di kertas pejanjian itu menghilang dan tiba - tiba muncul nama kami berdua tepat di tempat darah itu menghilang. Tulisan nama yang aneh dengan berwarna merah seperti warna darah
"Kok bisa muncul tulisan?" tanyaku bingung
"Ya di kertas perjanjian jiwa ini memang di desain khusus jadi kalau darah tertetes di atas kertas ini, ketas ini tahu darah itu milik siapa dan langsung tertulis nama pemilik darah itu"
"Kenapa kertas itu di desain khusus?"
"Karena sebenarnya perjanjian jiwa ini ditakuti oleh seluruh orang yang ada di dunia ini. Perjanjian jiwa ini sama halnya perjanjian darah"
"Perjanjian darah? Bukannya itu perjanjian yang di sakralkan, kalau terikat perjanjian darah sama saja dua orang itu sudah terikat di dalam perjanjian sakral itu dan orang yang melanggarnya akan terbunuh bersama dengan seluruh anggota keluarga marganya?"
"Ya benar sekali. Karena kamu sudah melakukan perjanjian jiwa denganku seumur hidupmu adalah milikku dan apapun yang kamu lakukan itu juga merupakan urusanku begitupun sebaliknya..." gumam Hasasi menatapku
"Dan aku tidak menduga kamu bisa menyetujui perjanjian jiwa ini berarti kamu benar - benar hanya ingin kuliah saja" desah Steven menggulung kertas itu men memasukkannya kedalam jas hitamnya dan berdiri di depanku
"Baguslah, kamu boleh terus menyelesaikan kuliahmu" gumam Steven berjalan meninggalkanku
"Tunggu Steven" teriakku menghentikan langkah Steven
"Iya ada apa?"
"Aku boleh kan bekerja atau melakukan hal sesuai keinginanku?"
"Boleh, itu hak kamu. Karena kamu melakukan perjanjian jiwa denganku aku tidak akan melarang kamu akan berbuat apa selagi itu tidak melanggar perjanjian kita"
"Hmm baguslah" desahku dan Steven berjalan kembali
"Tunggu Steven"
"Iya apa lagi?"
"Kamu tidak menyesal melakukan perjanjian jiwa denganku?" tanyaku yang membuat Steven berhenti melangkah
"Tidak, aku tidak akan menyesal dengan apapun itu keputusanku. Karena apapun yang terjadi kamu adalah wanitaku" gumam Steven
"Mmm oh ya hampir lupa, besok ujianmu yang terakhir kan? Setelah kamu pulang kuliah kamu ikut aku"
"Kemana?"
__ADS_1
"Ke suatu pesta dan pertemuan, jadi kamu harus ikut denganku" gumam Steven dingin dan keluar dari kamarku dan aku hanya bisa menatap Steven keluar dari kamarku