Merubah Takdir

Merubah Takdir
Episode 69 : Memilih Keputusan Yaang Tepat


__ADS_3

Hari ini adalah 10 tahun setelah Sony pergi meninggalkanku untuk bertapa, walaupun Sony bertapa aku juga meningkatkan kekuatanku di wilayah kerajaan siluman, aku memang sudah punya rencana kalau bertemu dengan kaisar langit aku akan memberikan beberapa darahku dan kekuaanku untuk dia apalagi kata kakek kekuatanku dan sedikit darahku bisa meningkatkan kekuatan seorang kaisar langit karena dulu kakek Sony juga melakukan hal yang sama tapi sayangnya kakek Sony kekurangan darah sehingga meninggal.


 Setelah 8 tahun aku melakukan pertapaan di wilayah ini tidak aku sangka kekuatanku dan darahku bisa meningkat begitu pesat, aku beranjak dari tempat bertapaku dan berjalan menuju ke tempat pertapaan Candra di ruangan sebelah


"Kamu sudah selesai Sani?" gumam Candra mngagetkanku


"Haish kamu bikin aku kaget tahu!!"


"Ohhh maaf"


"Kamu belum selesai kenapa masih berupa roh?" tanyaku bingung


"Ya kami para raja itu bertapa bisa berabad - abad tahu "


"Oh ya, kaisar langit juga?"


"Mungkin"


"Oh baiklah, teriamakasih atas tempatnya raja siluman" gumamku sedikit membungkukkan badanku


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau ke istana langit" gumamku berpindah ke dalam istana langit dan bertemu dengan Lia seorang bawahan Sony yang sedang berdiri di depanku


"Selamat datang permaisuri" ucap Lia sedikit membungkukkan badannnya


"Terimakasih Lia, kaisar langit belum selesai bertapa ya?"


"Belum nona"


"Oh begitu ya" desahku pelan, tiba - tiba ada seekor kucing yang terus berada di bawah kakiku dengan manja


"Kucing? Kucing siapa ini?"


"Ini kucing istana nona" gumam Lia menyiapkan makanan di atas nampan


"Oh begitu ya" desahku menggendong kucing itu


10 tahun menunggu itu tidaklah sebentar, aku sangat kesepian memang sungguh sepi bahkan di istana langit juga terasa sepi saat tidak ada Sony disini. Aku di istana langit hanya ditemani oleh bawahannya Sony dan seekor kucing putih yang baru saja aku temui padahal aku sudah pernah menginap di istana langit tapi baru bertemu kucing itu


"Nona makanlah terlebih dahulu jangan mainan kucing terus" gumam Lia menatapku


"Iya nanti aku akan makan" gumamku mengelus bulu kucing yang sangat lembut itu dengan tanganku


"Nona suka kucing ya?"


"Iya aku suka banget sama kucing"


"Yang mulia juga suka kucing nona"


"Oh ya? Tapi kenapa aku baru bertemu dengan kucing ini ya?"


"Ya karena kucing ini jelmaan jiwa yang mulia nona, karena yang mulia tidak berada di istana jadi kucing ini menjaga istana ini"


"Oh ya? Jadi kucing ini jelmaan?" gumamku polos


"Ya bisa dibilang begitu nona" aku mengangkat kucing itu dan menatap kedua mata kucing itu


"Kamu Sony ya?" gumamku menatap kedua mata kucing itu


"Meooww" ucap kucing itu manja


"Tidak sangat bebeda dengan Sony, kucing ini lebih imut dari Sony" gumamku menurunkan kucing itu tapi kucing itu malah mengendus kakiku dengan hidungnya


"Heei kamu ngapain sih" gumamku merasa geli


"Hahaha berarti kucing itu suka dengan nona"


"Hahaha untung kamu kucing bukan manusia" gumamku pelan


"Dia bisa berubah menjadi yang mulia loh nona" gumam Lia menatapku


"Haah? Apa?" teriakku kaget


"Ya kucing ini kan jelmaan yang mulia jadi kucing ini bisa menjadi yang mulia"


"Jadi kucing ini Sony asli?"


"Bukan nona, yang mulia yang asli sedang bertapa. Jiwa yang mulia yang ada di tubuh kucing ini hanya bayangan yang mulia tapi terlihat sedikit nyata, jadi ibaratnya kalau nona menyakiti kucing itu yang mulia juga merasakan sakit yang dialami kucing itu"


"Oh ya?" gumamku mencubit pipi kucing itu


"Meeeoooowww" teriak kucing itu kesal dan mencakarku


"Hei kamu beraninya mencakarku, untuk ada jiwa Sony di dalamnya kalau tidak aku buang ke laut" gerutuku kesal


"Meeeoowww.. Mmmeeeooowww" protes kucing itu menatapku kesal


"Berani melawanku??" protesku dan kucing itu menundukkan kepalanya


"Hahaha kalau nona marahi seperti itu nanti yang mulia juga sedih loh seperti kucing itu"


"Oh begitu ya" desahku menggendong kucing itu masuk ke dalam kamarku


"Lia kamu boleh pergi" gumamku


"Tapi nona anda belum makan"


"Ya nanti aku akan memakannya kok" gumamku menutup pintu kamarku


Aku merebahkan tubuhku dan menaruh kucing itu di sampingku sambil aku elus - elus bulu putih yang halus itu


"Kamu jelmaannya Sony ya? Kalau benar kamu jelmaan Sony kamu bisa buktiin gak, kucing?" gumamku menatap kedua matanya


"Meeeoooww"


"Pasti jawabannya tidak" desahku menatap langit - langit kamarku


"Kenapa kamu ingin tahu?" ucap kucing itu menatapku


"Ku... Kucing bisa bicara?" teriakku kaget


"Kamu kira?"


 "Oh suaramu hampir sama dengan Sony" desahku


"Ya emang aku Sony, gimana gak sama"


"Tapi kan kamu hanya jiwanya saja" gumamku pelan

__ADS_1


"Kalau aku jiwanya saja kenapa?"


"Tidak apa - apa aku hanya..." desahku pelan


"Hanya apa?"


"Ya hanya kangen Sony" gumamku sedih , tiba - tiba kucing itu berjalan ke atas perutku dan terdiam di


atas perutku


"Kamu ngapain di atas perutku?"


"Tidak ada, cuma penasaran dengan perkataanmu yang kangen diriku"


"Apa hubungannya kangenku dengan kamu diatasku, kucing?" gerutuku


"Ya aku hanya ingin melihat wajahmu saja apa benar kamu kangen kepadaku"


"Buat apa kamu melihat wajahku kalau aku hanya melihat wajah kucing ... Itu tidak adil" gumamku pelan, tiba - tiba kucing itu berubah menjadi wujud kaisar langit yang sedang duduk di atasku walaupun dia berubah tapi dia tetaplah kucing


"Kalau seperti ini adil kan" gumam kucing itu tersenyum


"Ya untuk sementara ini adil" gumamku berkaca - kaca


"Kamu menangis?" gumam kucing itu mengusap air mataku yang membasahi pipiku


"Tidak, aku bahagia saja bisa menatap wajahmu walaupun kamu seekor kucing" gumamku pelan


"Benarkah? Sebahagia itu sampai menangis?" tanya kucing itu dengan polos


"Ya benar, bolehkah aku memelukmu?"


"Boleh, peluklah sepuasmu" gumam kucing itu memelukku dengan lembut


"Hmmm jadi keinget Sony memelukku seperti ini rasanya"


"Benarkah?"


"Ya benar, aku jadi kangen Sony yang asli"


"Nanti kalau aku sudah selesai bertapa kamu bisa memelukku sepuasmu, sekarang anggap saja aku Sony asli"


 "Ya semoga saja" dessahku pelan


"Semoga apa?"


"Semoga aku bisa memeluk Sony yang asli" gumamku pelan


"Kamu tetap bisa melakukannya, untuk sementara dengan ini saja" gumam kucing itu serius


"Iihh beda tahu kamu kucing bukan Sony" gumamku kesal


"Kan kata kamu kamu kangen aku, sehubungan Sony yang asli tidak bisa datang jadi ya sebagian jiwanya ini bisa


menjadi obat rindumu"


"Hmmm aku kangen banget sama kamu tahu Sony, udah 10 tahun lebih tidak bertemu denganmu tahu dan kamu juga baru muncul" gumamku pelan


"Ya maafkan aku, kekuatanku sedikit meningkat jadi aku bisa memasukkan sedikit jiwaku ke dalam kucing


istana ini" gumam Sony menunduk


"Kucing ini sebenarnya sudah mati ribuan tahun lalu cuma karena dia kucing istana jadi aku bisa memasukkan jiwaku ke dalam kucing ini kalau aku tidak berada di istana"


"Kenapa kamu memasukkan jiwamu ke dalam kucing ini?"


"Untuk memantau istanaku dan juga memantau kamu"


"Kenapa juga memantau aku?" gumamku bingung


"Kan aku pernah bilang sebelumnya, aku khawatir denganmu" gumam kucing itu berpindah dari atas perutku


"Kan aku baik - baik saja seperti yang aku katakan sebelumnya"


"Apa raja kegelapan itu mengganggumu?"


"Tidak, aku tidak bertemu dengannya 10 tahun terakhir setelah pertemuan terakhir di kelas"


"Mungkin dia sedang melatih kekuatannya, kamu harus berhati - hati ya apapun yang terjadi"


"Iya bawel aku tahu" gumamku pelan


"Iya kamu juga harus berhati - hati tahu"


"Iya aku tahu, aku kaisar langit jadi aku tahu apa yang harus aku lakukan"


"Iih sombong"


"Hei emang bener ya" protes Sony


"Oh ya bisa tidak aku melihat tubuhmu yang asli?"


"Bisa emang kenapa kamu ingin melihat tubuhku yang asli?"


"Aku cuma ingin memberikan sesuatu kepadamu"


"Kamu bisa memberikanku sekarang"


"Tidak mau, aku pengen langsung ke tubuh aslimu"


"Emang apa yang ingin kamu berikan kepadaku?"


"Sesuatu yang berharga dariku"


"Tapi?"


"Tenang saja aku tidak akan mengganggu bertapamu" gumamku meyakinkan kucing itu


"Mmm baiklah, tapi mungkin sekali ini aku bisa membawamu dan setelah itu aku akan berubah menjadi kucing lagi karena itu menguras kekuatanku"


"Iya aku tahu" gumamku tersenyum


"Baiklah ikutlah denganku" gumam kucing itu membuka salah satu pintu yang ada di kamar itu


"Pintu? Sejak kapan ada pintu?"


"Ini hanya pintu ilusi bukan pintu asli" gumam kucing itu membuka lebar pintu itu dan menggandengku masuk ke dalamnya


Di balik pintu aku melihat pemandangan air terjun yang sangat tinggi dan terlihat sangat indah, di sisi kiri dan kanan

__ADS_1


air terjun ada banyak pepohonan yang lebat dan hewan - hewan yang berlarian di sisi air terjun "Apa ini yang dikatakan Candra waktu itu?" gumamku dalam hati


"Waaah indahnya" gumamku terkejut


"Ya memang disini adalah tempat bertapa yang aman"


"Emang sekarang kita ada dimana?"


"Di perbatasan antara surga dan alam baka"


"Oh ya? Lalu dimana tubuhmu?"


"Itu di tengah kolam" gumam kucing itu menunjuk seorang laki - laki yang sedang bersila di atas batu yang besar yang berada di tengan danau di bawah air terjun


"Ngapain kamu disitu?"


"Ya bertapa lah mau ngapain lagi"


"Iya juga sih"


"Jadi kamu mau memberiku apa?" tanya kucing itu penasaran


"Sesuatulah" gumamku berjalan ke arah kucing itu


"Jangan ganggu bertapaku tahu!!"


"Ya aku tahu, tenang saja" desahku membacakan mantra untuk kucing itu agar dia tidak menggangguku apalagi jiwa Sony masih ada di tubuhnya, apapun yang aku lakukan ini pasti dia tidak akan menyetujuinya apalagi permasalahan darahku


"Ka... Kamu kenapa membuatku tidak bisa bergerak seperti ini!!" protes kucing itu kesal


"Maaf ya kucing, aku hanya ingin kamu tidak menggangguku apalagi jiwa Sony ada di dalam tubuhmu" gumamku pelan dan terus berjalan menuju ke tempat pertapaan Sony


"Apa yang akan kamu lakukan dengan tubuhku?"


"Aku tidak melakukan apapun, cuma aku hanya ingin memberikanmu sesuatu yang berharga... Kalau kamu Sony kamu akan tahu jawabannya" gumamku memeluk tubuh Sony dari belakang


"Jangan - jangan..."


"Ya benar dugaanmu, sama seperti yang dulu saat menyelamatkanmu. Walaupun aku tahu konsekuensi aku melakukan ini tapi aku hanya ingin membantumu" gumamku merubah wujud vampirku


"Jangan!!! Kamu nanti bisa..." teriak kucing itu dengan kencang


"Tenang saja, aku vampir level tinggi dan aku tidak akan mati paling ya aku akan kehilangan kekuatanku saja dan dengan kekuatanmu kamu bisa mengalahkan raja kegelapan dan mempertahankan istana langit" gumamku tersenyum


"Tidak, aku tidak mau melakukannya sendiri"


"Sudah gak usah bawel, Sony orangnya gak bawelan" gumamku memanjangkan kukuku dan menggores leherku


dengan kuku panjangku


"Uuukkkhhh..." rintiihku kesakitan dan aku mendekatkan leherku di mulut Sony yang tanpa aku duga walaupun Sony bertapa dia menghisap darahku dengan cepat


"Sani... Jangaaaan!!!"


"Jangan lakukan itu Sani aku mohon!!" teriak kucing itu sambil menangis dan tidak aku sangka tubuh Sony yang asli juga meneteskan air matanya


"Tidak apa, tidak perlu menangis seperti ini Sony" gumamku mengusap air mata Sony sedangkan Sony terus menghisap darahku dengan cepat


"Sani kenapa kamu melakukan ini?" gumam kucing itu terisak - isak


"Aku hanya ingin membantumu saja tidak ada yang lain"


"Kamu bisa disisiku saja kamu sudah membantuku"


"Ya aku juga menginginkan itu tapi aku sebagai calon permaisurimu akan merasa tidak pantas kalau kamu yang berjuang sendiri" gumamku memberikan seluruh kekuatanku kedalam tubuh Sony


"Sani hentikan itu!! Tubuhmu sudah sangat lemah kenapa kamu memberikan kekuatanmu kepadaku?"


"Aku cuma ingin memberimu sedikit kekuatanku yang mungkin akan berguna untukmu, dan emang ini yang harus aku lakukan. Aku memutuskan memberikan seluruh daraku dan kekuatanku untukmu" desahku pelan


"Aku akan memarahimu kalau kamu tidak menghentikan itu!!"


"Hahaha aku sangat ingin kamu marahi aku habis - habisan" desahku tersenyum


 


"Sani aku mohon!!" teriak kucing itu memohon tapi aku tidak memperdulikan teriakkan kucing yang menyebalkan itu


Setelah menghisap seluruh darahku tanpa aku lepaskan Sony melepaskan sendiri leherku sedangkan aku masih belum selesai memberikan kekuatanku ke tubuh Sony


"Sani hentikan, kamu sudah kehilangan banyak darah tahu"


"Haissh kamu ini bawel banget sih, tahu gitu kau membungkammu ya" gumamku tertawa


"Kamu ini malah masih sempat untuk tertawa"


"Hahaha ya masih lah selama aku masih bisa menatap wajahmu yang tampan ini sebelum aku tidak akan bisa menatap wajahmu lagi" gumamku meneteskan air mataku


"A... Apa maksudmu?"


"Oh ya aku belum memberitahukanmu ya, kalau aku memberikan seluruh darahku dan seluruh kekuatanku paling aku akan menjadi manusia biasa dan bahkan aku tidak akan bisa melihatmu ataupun raja kegelapan lagi, ya bisa dibilang aku menyegel kekuatanku... Eehh tidak mungkin bisa dibilang aku menghilangkan seluruh kekuatanku. Jadi ya aku hanya bisa mengingatmu tanpa mengetahui keberadaanmu ataupun raja kegelapan dan mungkin waktu akan berubah bahkan segel di raja vampir dan iblis sudah hilang sepenuhnya dengan hilangnya kekuatanku" gumamku pelan dan akupun selesai mentranfer seluruh kekuatanku kepada Sony


"Sani jangan bilang kamu akan meninggalkanku lagi?" gumam kucing meneteskan air matanya


"Tidak, selama kekuatanku dan darahku ada di tubuhmu aku selalu bersamamu kaisar langitku" gumamku mencium bibir Sony dengan lembut


"Sani jangan tinggalkan aku sendirian lagi" gumam Sony dengan pelan sambil memelukku erat


"Aaah kamu sudah sadar ya ternyata" gumamku menatap wajah Sony yang sangat sedih


"Jangan menangis seperti ini tahu, kamu sangat jelek kalau seperti itu" ejekku tertawa, ya walaupun tubuhku sangat lemas dan lemah tapi aku tidak ingin menunjukkan hal itu di depan Sony yang bertubuh asli itu


"Sudah aku peringatkan kan kamu jangan memberikan darahmu kepadaku apalagi kekuatanmu kepadaku itu sama saja..." gumam Sony pelan


"Ya aku tahu, tapi hanya itu yang bisa aku berikan kepadamu kaisar langitku"


"Tapi itu memang tidak boleh, aku akan sangat marah kepadamu!!"


"Hahaha marahlah, aku ingin kamu memarahiku" gumamku pelan, tubuh vampirku sudah tidak kuat untuk


menahan jiwa manusiaku


"Sony... Kamu harus lebih kuat ya jangan sampai terluka lagi apalagi sekarang aku tidak bisa membantumu lagi"


"Tapi sebelumnya aku meminta maaf kepadau karen akau tidak menepati janjiku untuk tidak memberikan darahku kepada Steven, jadi aku anggap yang aku lakukan saat ini menjadi penebus dosaku telah melanggar janjiku pedamu


"Tapi percayalah walaupun aku tidak akan melihatmu lagi tapi jiwaku seluruhnya ada di dirimu dan mungkin aku nanti hanyalah seorang manusia biasa. Kalau kita diberi kesempatan untuk bertemu kita pasti akan bertemu kok"


"Semoga kamu bisa mengalahkan raja kegelapan dan mendapatkan permaisuri yang pantas untukmu Sony. Aku cinta kamu" gumamku memejamkan mataku

__ADS_1


Tubuhku terasa sangat ringan bahkan rasanya jiwaku melayang - layang tertiup angin yang sangat kuat, aku senang membantu Sony walaupun harus mengorbankan kekuatanku


__ADS_2