
Aku keluar kampus berjalan menuju perpustakaan negara yang ada di sebelah kampus. Di perpustakaan ini terdapat banyak data - data yang mempunyai keamanan tertinggi tapi harus punya akses masuk yang sangat ketat jika ingin membuka data - data tersebut. Aku masuk ke dalam perpustakaan itu dan menemui seorang pegawai resepsionis yang berjaga di mejanya
"Permisi" sapaku ramah
"Iya ada yang bisa saya bantu" ucap pegawai itu
"Aku ingin membuka data - data itu apakah bisa?"
"Ada tujuan apa nona ingin membuka data - data rahasia itu?"
"Ya aku ingin mencari data tentang Steven Huan"
"Untuk apa nona ingin mengetahui tentang tuan Steven Huan? apakah anda kenal?"
"Ya saya kenal dan kami hidup serumah" ucapku
"Serumah? Apa kalian pasangan suami istri?"
"Iya, saya calon istrinya" ucapku keceplosan
"Aduh ****** keceplosan, kenapa aku ngomong aku calon istrinya padahal kan bukan" gumamku dalam hati
"Oh begitu, baiklah ini kode aksesnya nona. Setelah selesai tolong di kembalikan kembali"
"Oh... mmm... baiklah terimakasih" gumamku gugup dan langsung mengambil kunci akses itu lalu berlari menuju ruang komputer
Aku segera masuk ke dalam ruangan yang sepi itu dan menutup pintu ruangan dengan kencang
"Haaaahh bodohnya aku kenapaaku ngomongnya aku calon istrinya, jadi sekretarisnya aja aku sudah muak" gumamku kesal
"Ya udah lah aku mencarinya aja dulu lah" gumamku menuju ke salah satu komputer yang ada dan mulai mencari data tentang Steven Huan
"Steven Huan 25 tahun, CEO petinggi perusahaan Huan, anak dari Tony Huan seorang pemilik perusahaan Huan. Di tahun 2000 an Tony Huan menyerahkan semua aset perusahaan kepada Steven Huan yang saat masih remaja..." gumamku membaca artikel tentang Steven Huan
"Huuuhh bosen, coba cari mafia kegelapan aja deh" gumamku sambil mengetik di keyboard komputer
"Mmmm mafia kegelapan adalah mafia terbesar di dunia, pendiri mafia bernama Steven Huan. Mafia kegelapan ini sangat ditakuti oleh semua orang khususnya perkumpulan mafia di seluruh dunia..."
"... Mafia ini melakukan operasi senyap dan mafia kegelapan di kenal sangat kejam dan tidak punya rasa kemanusiaan sama sekali, sampai banyak perkumpulan besar lainnya tunduk kepada Mafia Kegelapan..." gumamku membaca seluruh artikel rahasia itu
"Oh begitu ya, hmmm aku jadi takut dengan Steven setelah membaca artikel ini. Nanti kalau tiba - tiba dia membunuhku bagaimana?" gumamku menutup artikel dan mematikan komputer
"Huufftt aku harus hati - hati dengan dia" gumamku beranjak dari tempat duduk dan berjalan keluar dari ruang komputer tersebut
"Sani..." teriak Nana dari balik rak buku
"Oh Nana, akhirnya kamu selesai juga" gumamku
"Kamu mau kemana?"
"Sebentar, tunggu disini dulu ya!!" gumamku berjalan cepat menuju resepsionis
"Permisi, saya mau mengembalikan kode ini" gumamku menyerahkan kunci akses tersebut
"Terimakasih nona"
"Baiklah, aku mau membaca - baca buku - buku dulu" gumamku pergi berlalu
"Silahkan menikmati" ucap pegawai itu ramah
Aku segera menemui Nana di ruangan fiksi sebelah ruang komputer. Di ruangan fiksi aku melihat Nana yang sedang duduk sambil membaca sebuah buku di meja dekat jendela
"Hai Na" ucapku menghampiri Naba
"Oh hay Sani, apa yang kamu lakukan di ruang komputer?"
"Aku?"
"Ya kamulah siapa lagi!!"
"Aku mencari sesuatu"
__ADS_1
"Mencari apa?"
"Mencari sesuatu yang rahasia"
"Apa itu?" tanya Nana penasaran
"Rahasia lah Na"
"Hmmm kamu selalu begitu lah Sani"
"Ya namanya rahasia mah mana bisa di beritahu Na" gumamku santai
"Hmmm baiklah aku mrngalah" desah Nana menutup bukunya
"Jadi kamu mengajakku ke perpustakaan karena apa?"
"Karena, ingin membaca buku ini aja"
"Buku apa itu?"
"Buku komik Jepang terbaru kesukaanku"
"Komik? Ya Tuhan aku kira karena apa!!" gumamku menepuk dahiku
"Ya aku juga pengen mengajakmu makan di foodcourt perpustakaan"
"Bolehlah. Mau sekarang?"
"Baiklah, ayo kita naik" ucap Nana senang sambil menggandeng tanganku, kami berdua naik dari perpustakaan menuju ke foodcourt yang berada di lantai paling atas. Kami berkeliling di kedai yang berjejer di setiap sudut food court
"Kamu mau makan apa?" gumam Nana
"Aku mau milk tea aja"
"Gak makan?"
"Enggak nanti aja lah" gumamku duduk di salah satu meja
Aku membuka handphoneku dan ada 2 pesan dari Steven, aku langsung membuka pesan tersebut
"Bagaimana ujiannya lancar?" ~Steven
"*Ya ujianku lancar"~Sani
"Oh ya, syukurlah. Beberapa hari kedepan aku tidak dirumah jadi jangan lupa untuk belajar dan jangan lupa makan" ~ Steven
"Iya terimakasih atas perhatianmu"~Sani*
"Nih San minumanmu" gumam Nana meletakkan gelas milk tea milikku
"Terimakasih Na" gumamku meneguk minumanku
"Oh ya tadi kenapa kamu mengendarai sebuah mobil yang mewah?" tanya Nana memandangku
"Mewah apanya?"
"Mewah lah, tapi sepertinya aku pernah berjumpa deh sama mobil itu!!" gumam Nana menatapku
"Ya emang kamu pernah liat" gumamku
"Eehhh jangan - jangan!!!"
"Ya emang bener"
"Jadi kamu selama ini bersama dengan laki - laki itu?"
"Iya begitulah"
"Serius?" tanya Nana kaget
"Seribu rius malah "
__ADS_1
"Kenapa bisa seperti itu Sani?"
"Ceritanya panjang" gumamku mengaduk minumanku dengan sedotan
"Coba ceritakan"
"Panjang ceritanya sumpah, pokok intinya aku saat ini dan sampai kapanpun bersama dengan laki - laki itu"
"Ayahmu tahu?"
"Tahu, malah merestuiku"
"Kok bisa kamu sampai kapanpun bersama laki - laki itu Sani?"
"Karena aku menandatangani kontrak"
"Kontrak apa?"
"Kontrak jadi sekretarisnya"
"Jadi intinya adalah?"
"Jadi intinya aku menjual hidupku kepadanya"
"Kenapa kamu mau Sani?"
"Ya dia memaksaku Na dan setelah menandatangani itu aku mendapatkan apapun yang aku mau"
"Tapi Sani itu tidak sebanding dengan hidupmu!!"
"Ya aku tahu, tapi mau bagaimana lagi aku tidak bisa berbuat apapun"
"Kenapa kamu tidak membatalkannya?"
"Hal itu sulit dilakukan?"
"Karena?"
"Karena dia seorang yang berkuasa dan kontrak itu kontrak hukum, aku yang orang biasa tidak akan mungkin bisa melakukannya" desahku
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku? Ya paling pasrah aja dengan hidupku" gumamku meneguk minumanku
"Kalian hidup sekamar?"
"Tidak, kita beda kamar"
"Oh kamu harus hati - hati Sani"
"Ya aku selalu hati - hati kalau bersama dia" gumamku
"Oh ya kalau Asti tahu aku serumah sama dia bagaimana ya?" gumamku menatap Nana
"Ya bisa aku tebak, pasti dia Kan memusuhi kamu dan berusaha merebut Steven"
"Ya kalau dia mau merebut si menyebalkan itu silahkan saja aku tidak keberatan, tapi masalahnya..."
"Apa masalahnya?"
"Masalahnya si menyebalkan itu tidak mau melepaskanku, aku kalau bilang ingin membatalkan kontrak dia selalu mengancamku" gumamku kesal
"Ya aku juga tidak tahu Sani, tapi pastinya kalian berdua akan berantem terus"
"Pastinya kalau itu" gumamku
"Tapi laki - laki itu apakah tidak suka Asti?"
"Dulu pernah bertanya tapi jawabnya dia tidak suka Asti dan dia sudah punya kriteriannya sendiri"
"Oh ya siapa itu?" tanya Nana menatapku
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu Na" gumamku meletakkan gelas kosong di depanku