
sore ini pelajaran terakhir sangat membosankan, yang membuatku merasa lelah dan kantuk. Aku juga merasa ingin tidur untuk beberapa saat tapi disaat aku ingin tidur Nana membangunkanku
"Sani... bangun" bisik Nana sambil mencubit tanganku
"Aaauuu... aku ngantuk Nana sumpah" rengekku
"Bentar aja"
"Gak boleh Sani... 15 menit lagi kok" gumam Nana di sebelahku
"Baik - baik" gumamku
15 menit yang sangat membosankan, walaupun cuma 15 menit tapi pelajaran matematika siapa yang gak bosen kan ya
Krrriiinngg
"Baiklah anak - anak, waktunya pulang jangan lupa di pelajari lagi ya... see you" ucap dosen yang lumayan tua sambil berjalan pergi dari kelas
"Huuuhh akhirnya" desahku
"Ayo kita balik Sani" gumam Nana meraih tas punggungnya
"Baiklah" gumamku meraih tas punggungku
"Kita pulang bareng ya"
"Mmm boleh lah" gumamku berjalan bersama Nana menuju koridor kampus
Ternyata punya teman itu terasa nyaman, selama ini aku menutup diri dari teman, keluarga dan sahabat. Bahkan teman dan sahabatku pergi menjauhiku karena sifat aku menjadi orang yang sangat tertutup dan menyendiri
"Sani... apa yang kamu pikirkan?" tanya Nana yang melihatku serius
"Mmmm... engg... enggak ada, cuma sedikit melamun"
"Oh begitu, jangan banyak - banyak melamun Sani"
"Iya ..." gumamku tapi pikiran kejadian itu tetap saja memusingkan kepalaku
"Sani.. kamu punya pacar?" tanya Nana yang mengagetkanku
"Tidak"
__ADS_1
"Kenapa tidak?, kamu cantik, pandai, anak orang kaya... masa tidak ada laki - laki yang suka sama kamu"
"Tidak"
"Carilah Sani"
"Tidak mau"
"Kenapa tidak mau?" tanya Nana penasaran
"Ada alasan tertentu"
"Apa alasannya?"
"Suatu hari nanti kamu pasti bakal tahu" gumamku lirih
Pertanyaan Nana sangat menyakitkan bagiku walaupun cuma bertanya punya pacar atau enggak itu saja tapi tetap saja hal itu sangat menyakitkanku
Karena aku terlalu hanyut dalam pikiranku, tanpa sengaja aku menabrak seseorang di depanku saat berbelok ke kanan jalan
Ddduuuuukkk
"Kalau jalan tuh liat - liat" protes seorang laki - laki disebelahnya sedangkan laki - laki yang aku tabrak dia hanya diam dan dingin
"Ma... maaf tuan" gumamku lirih dan saat aku menatap wajahnya dia sangat dingin yang membuatku takut menatap wajahnya
"Namamu siapa?" tanya laki - laki itu dengan dingin
"San... Sani" gumamku ketakutan
"Oh, lumayan juga" gumam laki - laki itu sambil mengangkat daguku
"Lepaskan tanganmu yang kotor dari wajah Sani" teriak Nana dan berlari sembari menarikku menjauh dari laki - laki itu
"Menarik, cari informasi tentang wanita itu" ucap laki - laki tampan itu dan berlalu jauh di belakang kami
Setelah kami berusaha lari dari laki - laki tampan yang dingin itu sampai kami berdua sampai di depan rumah Nana
"Huuuh... huuuhh kenapa lari?" gumamku mendesah kecapekan
"Kalau laki - laki itu jahat bagaimana?" protes Nana
__ADS_1
" Mmm... menurutku tidak jahat"
"Aah apa yang kamu tahu Sani!!... tatapan menakutkan seperti itu" gumam Nana ketakutan
"Hahaha... iya sih, ya udah untung kita bisa lari dari mereka" gumamku
"Huuuh syukurlah, oh ya Sani... aku pulang dulu ya, ini rumahku... mau mampir?" ajak Nana
"Mmm kapan - kapan aku mampir Na, ini udah mau beranjak malam juga takut di cari ayah"
"Oh baiklah... hati - hati di jalan Sani" ucap Nana masuk ke dalam pagar rumah dan aku melanjutkan perjalanan menuju ke rumah
Selama perjalanan pun, aku terus memikirkan laki - laki yang aku tabrak tadi... sepertinya aku pernah berjumpa sebelumnya tapi aku tidak ingat dimana aku bertemu dengan nya. Aku harus bertanya kepada ayah, ayah pasti tau laki - laki itu siapa apalagi ayah juga peringgi perusahaan terkenal di dunia
Setelah beberapa menit aku berjalan akhirnya aku sampai di depan rumah. Di depan rumah, ada seorang pembantu yang menyambut kedatanganku dengan ramah
"Selamat sore nona, selamat datang di rumah" ucap Sila, salah satu pembantu yang ada di rumahku
"Selamat sore juga"
"Bagaimana kuliahnya hari ini nona?" ucap Sila melepaskan tasku dan membawa tasku menuju ke dalam rumah
"Yaaahh lumayan capek" gumamku sambil meregangkan tubuhku
"Nona kenapa lengan anda memar nona?" tanya Sila menatap tanganku yang membiru
"Ti... tidak apa, tadi kebentur pintu"
"Saya obati nona"
"Tidak apa - apa Sali, cuma kebentur sedikit aja kok besok juga sembuh" gumamku sambil tersenyum
"Baiklah nona"
"Aku istirahat dulu ya Sali, kalau ayah nanyain aku kemana bilang aja suruh menemuiku di kamar"
"Baik nona, kebetulan tuan ada dinas luar jadi tuan kemungkinan tidak pulang selama beberapa minggu"
"Oh ... baiklah" gumamku langsung menutup pintu kamar
Selalu saja kalau disaat aku ingin bercerita atau bertemu dengan ayah, ayah selalu dinas luar berminggu - minggu bahkan berbulan - bulan yang membuatku terasa kesepian di rumah, tapi ya bagaimana lagi ini sudah biasa seperti itu dan aku juga sudah terbiasa.
__ADS_1