Merubah Takdir

Merubah Takdir
Episode 20 : Kesal


__ADS_3

Aku mengikuti Steven masuk ke mobil dan aku duduk di kursi belakang Steven. Suara deru mobil terdengar di telingaku dan mobilpun berjalan meninggalkan restoran itu. Kendaraan berlalu lalang di sisi kiri dan kananku.


Krrriiinnggg


Terdengar suara handphoneku berdering keras, tanganku mengambil handphoneku di tas dan aku langsung mengangkat telepon itu


"Annyeong appa" ucapku


"Annyeong" balas ayahku


"Ada apa ayah?"


"Semua sudah ayah bereskan, kamu tenang saja"


"Gomawo appa"


"Ya anakku, oh ya temanmu Nana sekarang tinggal dengan ayah, dia sangat baik dan dia tidak merepotkan ayah sama sekali"


"Oh. Syukurlah"


"Baiklah, jaga dirimu nak" gumam ayah menutup telponnya


"Huumm..." desahku meletakkan handphoneku di sebelahku


"Ada apa?" tanya Steven melirikku di spion mobil


"Tidak ada, cuma ayahku menelepon saja"


"Oh begitu ya" gumam Steven kembali fokus menyetir


Kriiinnggg


Suara handphone yang berdering keras yang membuatku kaget karena aku kira handphoneku berbunyi tapi ternyata handphone milik Steven yang berbunyi dan Steven menekan tombol yang ada di stir mobilnya


"Hallo" ucap Hasasi tegas


"Hallo Tuan" ucap seorang pria di telepon


"Ada apa?"


"Bisakah tuan ke tempat biasanya sekarang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu"


"Sekarang banget?"


"Ya, kamu harus kemari sekarang"


"Baiklah" gumam Steven menekan tombol itu kembali


"Siapa?" gumamku


"Bawahanku, kita mampir ke suatu tempat dulu


"Oh baiklah" desahku terus menatap kendaraan yang lewat dari luar jendela


Krriiiinnnggg


Handphoneku berbunyi kembali dan aku melihat dati notifikasi ternyata Asri yang meneleponku, tumben dia meneleponku malam - malam seperti ini


"Hallo" gumamku


"Hallo Sani"


"Iya ada apa Asri?"


"Tidak ada, aku hanya ingin meneleponmu"


"Tumben meneleponku tanpa alasan?" gumamku


"Suasana hatimu buruk kah?"


"Ya sedikit" gumamku


"Bersemangatlah Sani"


"Iya... Kamu tidak teleponan dengan pria idamanmu?" gumamku


"Siapa?"


"Steven lah, siapa lagi?" gumamku dan Steven melirikku dengan kerutan wajah yang bingung


"Enggak ah, dia nya gak seru... Oh ya aku punya teman laki - laki yang tampan dan mungkin cocok denganmu"


"Kenapa kamu menjodohkanku dengan laki - laki aneh?" ptotesku


"Tidak, dia tidak aneh"


"Itu menurutmu bukan menurutku"


"Aku cuma ingin kamu punya pacar Sani"


"Tidak ah, tidak perlu" gumamku


"Jangan begitu Sani, mana tahu dia bisa jadi jodohmu"


"Enggak ah, buatmu saja. Aku sedang repot, nanti lagi ya... Bye" gumamku langsung menutup teleponnya


"Siapa?" tanya Steven menatapku

__ADS_1


"Asri"


"Kenapa aku tadi mendengarkan namaku disebut - sebut!!" protes Steven


"Ya dia tadi bilang males denganmu karena kamu gak seru"


"Oh baguslah"


"Kamu gak kecewa?"


"Tidak"


"Kenapa tidak?, kan kalian bisa saling cocok"


"Dia jauh dari kriteria wanita idamanku"


"Oh ya?, akan seperti apa wanita itu?"


"Ya kamu akan tahu sendiri" gumam Steven membelokkan mobil ke jalan yang gelap dan sepi


"Kita akan kemana?" gumamku


"Menemui bawahanku sebentar"


"Di tempat gelap dan sepi ini?"


"Ya ini jalan satu - satunya dan memang ini jalan menuju ke pantai"


"Pantai?... Malem - malem?"


"Ya, cuma berbincang sebentar sama bawahanku" gumam Steven fokus ke jalan gelap dan sepi itu


"Oh baiklah" desahku


Tidak berapa lama, aku melihat pantai yang sepi dan berarus sangat tenang, Steven memarkirkan mobilnya dan keluar meninggalkanku sendirian di mobil. Dengan sorot lampu mobil yang tidak dimatikan aku bisa melihat Steven sedang berbincang dengan seorang laki - laki memakai jas hitam dan topi hitam yang menutupi wajahnya. Mereka berbincang sebentar dan Steven kembali ke dalam mobil dengan membawa sebuah tas hitam


"Apa itu?" tanyaku menatap tas hitam yang di letakkan di kursi sebelanya


"Sesuatu barang"


"Oh... " desahku menatap keluar jendela kembali dan Steven kembali menginjak gas meninggalkan pantai itu kembali


"Sani..." panggil Steven


"Iya, kenapa?"


"Kalau misalnya kamu tahu identitasku asli apakah kamu tidak takut kepadaku?"


"Apa peduliku siapa kamu? Yang terpenting aku melakukan tugasku menjadi sekretarismu" gumamku


"Oh ya, kamu kalau marah menakutkan juga ya"


"Tidak juga"


"Ya lumayan sih tapi emang pantas jadi CEO perusahaan terkenal" gumam Steven melirikku


"Oh ya? syukurlah" desahku


"Kita makan malam dulu aja yuk"


"Tumben mengajakku makan malam, tadi kan udah makan" gumamku


"Tadi kan kamu makan cuma sedikit, kalau kamu sakit aku yang susah"


"Hmmm terserah kamu aja lah" desahku dan Steven mengarahkan kembali mobil ke jalan raya dan membelokkannya ke sebuah restoran yang sangat mewah lalu memarkirkan mobilnya di parkiran mobil yang berada di depan restoran


"Kita sudah sampai turunlah" gumam Steven turun dari mobil dan aku juga turun dari mobil


"Kenapa makan disini?"


"Ya aku lagi ingin makan desert aja" gumam Steven berjalan mendahuluiku


"Oh baiklah" desahku mengikuti Steven dari belakang


Saat kami duduk di salah satu meja yang berada di dekat jendela restoran, tiba - tiba datang seorang laki - laki tampan berpakaian pelayan mendatangi kami


"Selamat malam tuan dan nyonya, ini buku menunya"


"Terimakasih" gumamku dan menerima buku menu tersebut


"Kamu mau pesan apa?" tanya Steven menatapku


"Aku mau menu spesial ini" gumamku menunjukkan salah satu menu makanan kepada pelayan


"Baik, tuan ingin menu yang mana?" ucap pelayan menatap Steven


"Aku mau soft cake ini" gumam Steven dan menutup buku menunya


"Baiklah tuan dan nyonya mohon di tunggu sebentar" ucap pelayan itu dan pergi meninggalkan kami


"Kamu besok kuliah?"


"Ya, ada apa?" gumamku


"Tidak ada, aku besok gak bisa jemput dan antar kamu. Aku ada suatu keperluan, berangkat malam ini"


"Baiklah" gumamku

__ADS_1


"Kamu gak marah?"


"Tidak, biasa aja" gumamku dan tiba - tiba datang dua orang pelayan yang membawa makanan kami berdua


"Permisi tuan dan nyonya ini makanannya" gumam pelayan itu dan menaruhkan beberapa piring di depan kami


"Terimakasih" gumamku dan pelayan itu menunduk sebentar lalu pergi dari hadapan kami


Makanan yang aku pesan malam ini ramen steak spesial, aku mengambil sumpitku dan makan dengan lahap


"Kapan kamu ujian semester?" gumam Steven menyendok soft cake miliknya


"Belum tahu"


"Tapi liburanmu sebentar lagi kan?"


"Iya, ada apa?"


"Tidak ada, hanya ingin mengajakmu liburan saja"


"Kemana?"


"Ya liat aja nanti" gumam Steven


"Suasana hatimu masih buruk?" tanya Steven menatapku yang sedang makan dengan serius


"Ya sedikit"


"Emang kata - kata tadi mengganggumu kah?"


"Menurutmu?" gumamku


"Hmmm..." desah Steven mengangkat salah satu sudut bibirnya


"Wanita lucu ya, padahal sudah pernah tapi diejek marah" gumam Steven tertawa pelan dan aku kaget mendengar hal itu


"Maksudmu?" gumamku kesal


"Ya maksudku padahal kan sudah pernah tapi di ejek realitanya malah marah" jelas Steven yang membuatku tambah kesal


"Jadi?" gumamku kesal sambil menggenggam sumpit dengan erat


"Ya jadi buat apa kamu marah - marah tidak jelas kalau ternyata realitanya seperti itu" gumam Steven santai sambil terus memakan soft cake miliknya


"Aku udah selesai" gumamku kesal sambil melempar sumpit ke dalam mangkok ramen dan berjalan meninggalkan Steven


"Hei kau mau kemana?, makananmu belum habis" teriak Steven


"Aku tidak selera makan" gumamku keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobil dengan kesal


Tookk... toookk... tookk


Suara ketukan Steven di kaca jendela mobil dari luar mobil, aku menekan tombol menurunkan jendela dan jendela turun dengan pelan


"Makananmu belum habis semua, habiskan dulu"


"Tidak, aku ingin pulang" gumamku menutup kembali jendela mobil. Steven duduk di kursi sopir


"Kemarilah, duduk di sebelahku sini"


"Tidak mau"


"Jangan membantah, duduk disini" protes Steven dan aku terpaksa pindah ke kursi depan


"Udah kan!!" protesku lalu Steven menginjak gas dan menggerakkan mobil keluar restoran


Aku diam tanpa kata di sebelah Steven, melamun tentang diriku saat ini yang menjadi bahan ejekan Steven karena dia tahu rahasiaku masa lalu


"Kamu marah?" gumam Steven


"Tidak" gumamku cuek padahal dalam hatiku sangat kesal


"Kenapa wajahmu jutek kayak gitu?"


"Tidak ada apapun" gumamku memainkan handphoneku"


"Aku tahu apa yang kamu rasakan" gumam Steven mengelus rambutku dengan tangan kanannya dan aku hanya terdiam


"Oh ya aku mungkin keluar kota dalam beberapa hari, ini kartu kreditku jika kamu ingin membeli sesuatu" gumam Steven menyerahkan kartu kredit berwarna emas


"Kan kamu udah memberiku kartu dulu"


"Gak apa, pakek aja yang ini. Gunakan sesukamu"


"Hmmm baiklah" desahku menerima kartu emas itu


"Kamu mau kemana?"


"Aku akan mendatangi pertemuan di luar negeri" ucap Steven memarkirkan mobilnya di depan pintu rumah


"Kamu tidak mengajakku?"


"Kamu mau ikut?, kalau kamu ikut kamu tidak kuliah beberapa hari..."


"Tidak perlu, terimakasih" gumamku turun dari mobil dan pergi ke kamar untuk beristirahat


Aku sebenarnya kesal seharusnya dia yang menjadi bosku harusnya menghiburku tapi malah mengejekku seperti itu, dia tidak tahu kebenaran kejadian yang sesungguhnya seperti apa. Tapi malah mengarang cerita yang belum pernah ada, tapi lumayan lah dia akan meninggalkanku dalam beberapa hari kedepan

__ADS_1


__ADS_2