Merubah Takdir

Merubah Takdir
Episode 30 : Identitas Steven Sebenarnya


__ADS_3

Haaaatttcchhiiimmmm


Haaattcchhhiiimmmmmm


Aku berada di dalam kamar ini membuat hidungku sampai gatal bahkan beberapa kali bersin karena pengapnya ruangan ini seperti udara di gua yang dalam. Aku berjalan kearah jendela kaca dan langsung membuka kaca jendela itu sehingga udara dingin masuk ke dalam kamar yang membuatku mendapatkan banyak oksigen.


"Huuh kenapa tidak terpikirkan olehku sejak awal" desahku menikmati desiran angin malam yang begitu menyegarkan


Toookk ... Ttoookk... Tttooookkk


Tiba - tiba terdengar suara pintu kamar yang diketuk dengan lembut dari luar yang membuatku terkejut


"Malam nona, makanan sudah siap" gumam seorang perempuan dari balik pintu


"Oh ... Mmm iya" gumamku menutup jendela kamar dan membuka pintu kamar, aku melihat seorang wanita cantik berpakaian pelayan berdiri di depanku dengan sopan


"Mari nona" ucap pelayan perempuan itu berjalan mendahuluiku


"Mmm nama kamu siapa?" tanyaku menatap wanita itu dari belakang


"Namaku Ros nona" gumam pelayan itu menuruni tangga


"Salam kenal Ros aku Sani"


"Salam kenal nona" gumam pelayan itu memasuki sebuah ruang makan yang panjang dan diatasnya terdapat makanan yang begitu lezat dengan beberapa lilin yang menyala di atasnya


"Silahkan nona" ucap pelayan itu sambil menarikkan kursi di depannya dan akupun duduk di kursi tersebut


"Steven kemana?"


"Sebentar lagi yang mulia akan datang nona, nona tunggu saja sebentar lagi" gumam pelayan itu lirih dan berjalan pergi, aku menatap sekeliling ruang makan yang didekorasi mirip seperti rumah hantu. Tidak ada kehidupan yang hangat seperti rumah manusia pada umumnya.


"Kamu melihat apa?" gumam Steven masuk ke ruang makan dengan memakai jubah hitam yang sangat aneh dan tampilannya juga berubah beda seperti biasanya


"Kamu Steven?" gumamku kaget


"Menurutmu?"


"Kenapa kamu berpakaian aneh dan tampilanmu yang aneh juga?" tanyaku bingung


"Emang aneh dari mana?"


"Aneh aja sih beda dengan kamu sebelumnya"


"Begitukah?" gumam Steven meneguk minuman yang berwarna merah di gelasnya


"Iya emang kenyataannya begitu, oh ya katanya kamu mau menjelaskannya kepadaku?" gumamku menatap Steven


"Udah kamu makanlah dulu" gumam Steven menatapku


"Baiklah, kamu tidak makan?"


"Tidak, kamu saja yang makan"


"Oh baiklah" gumamku melahap ayam panggang yang ada di depanku


"Mmm enak juga masakannya" gumamku memakan ayam dengan lahap


"Ngomong - ngomong apa yang kamu minum?" tanyaku


"Darah"


Uuhhhuukkk ... Uhhuuukkk


"Apa? Darah?" gumamku kaget sampai aku tersedak makananku


"Ya..Kenapa?"


"Eng ... Enggak kenapa - napa" gumamku melanjutkan makanku, "Dia minum darah? Siapa sebenarnya Steven ini?" gumamku dalam hati


"Nanti aku jelaskan diriku sesungguhnya, kamu mau minuman ini?" gumam Steven santai sambil menawari aku minuman di gelasnya


"Ti ... Tidak perlu, makasih" gumamku terkejut " Kenapa dia tahu apa yang aku pikirkan sih? " gumamku dalam hati dengan kesal


"Ya aku tahulah apa yang sedang kamu pikirkan" gumam Steven santai sambil menatapku


"Hmmm baik - baik aku menyerah" desahku meletakkan garpu dan sendokku di atas piring


"Aku sudah selesai"


"Kamu udah selesai makan? Cepet banget?"


"Denger kamu minum darah aku jadi gak nafsu makan" gumamku mengusap mulutku dengan tisu


"Oh begitukah?, ya udah ikuti aku" gumam Steven meletakkan gelas itu dan keluar dari ruang makan


"Kemana?"


"Udah ikut aja" gumam Hasasi dingin dan aku mengikutinya dari belakang.


Steven berjalan santai di depanku, dia memakai jubah itu mirip seperti seorang pangeran yang sedang berjalan dengan gagah dan berani tanpa takut apapun. Lorong yang gelap dan hanya di sinari lampu gantung jaman dahulu yang aku lihat selama berjalan mengikuti Steven. Saat kami sampai di sebuah pintu, tiba - tiba Steven membuka sebuah pintu dan masuk ke dalamnya lalu duduk di sebuah kursi yang ada di sebelah jendela besar berhias bulan purnama yang besar dan indah


"Duduklah" gumam Steven dan aku duduk di depannya


"Jadi apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Ya tentang kamu, keluargamu, perkumpulanmu, dan kerajaanmu seperti yang kamu katakan tadi" gumamku menatap Steven serius


"Baiklah, Perkumpulanku bernama Mafia kegelapan sama seperti dengan info yang kamu cari itu"


"Kenapa perkumpulanmu bisa di rahasiakan negara?"


"Karena memang rahasia, hanya beberapa orang saja yang tahu"


"Iya kenapa bisa rahasia?"


"Karena, kami mafia pembunuh"


"Oh ya? Hmmm lalu ini..." gumamku menatap Steven


"Ini adalah kerajaanku. Dan kamu manusia pertama yang datang ke kerajaanku ini" gumam Steven santai


"Kalau ini kerajaanmu jadi kamu?"


"Ya benar, aku pangeran vampir" gumam Steven menunjukkan taringnya


"Kamu vampir?" tanyaku kaget


"Jangan mendekat nanti kamu menggigitku lagi" gumamku takut


"Yups benar aku vampir, dan aku juga tidak punya selera mengigitmu"


"Ta... Tapi kamu kenapa bisa bertingkah seperti manusia biasa?" gumamku bingung

__ADS_1


"Ya untuk menyembunyikan identitasku saja"


"Kenapa kamu ada di dunia manusia?"


"Aku ada alasannya"


"Apa alasannya?"


"Alasannya untuk mencarimu Sani"


"Me...Mencariku? Kenapa?"


"Karena kamu manusia yang spesial"


"Spesial apanya?" gumamku bingung


"Karena kamu yang menjadi rebutan kaum vampir dan kaum iblis"


"Kenapa?"


"Karena menurut ramalan nenek moyang kami, akan ada salah satu wanita yang dapat menghentikan perselisihan antara kaum vampir dan kaum iblis dan akan menjadi ratu di kerajaan iblis atau menjadi ratu di kerajaan vampir dan wanita itu juga yang akan menjadi manusia pertama yang bisa masuk ke wilayah vampir dan iblis"


"Ratu dua kerajaan?"


"Bukan dua kerajaan, maksudnya salah satu diantara kerajaan vampir dan iblis. Itulah kenapa aku maupun pangeran iblis belum mempunyai ratu"


"Jadi sebuah kutukan?"


"Yups.. kutukan dari perjanjian jiwa"


"Emang sebelumnya tidak ada orang yang datang?"


"Pernah ada sih dulu, tapi setiap aku punya sekretaris dan mengajaknya kemari selalu tidak bisa dan mereka selalu menjadi gila"


"Gila? Tapi kenapa aku tidak?"


"Karena kamu spesial, kamu mempunyai darah campuran vampir dan iblis yang diturunkan oleh ibumu"


"Ibuku? Campuran darah vampir dan iblis?"


"Ya, ibumu seperti ini kan orangnya?" gumam Steven menunjukkan sebuah foto ibuku saat masih muda


"Iya ini ibuku, dia sudah lama meninggal. Kenapa kamu tahu?"


"Aku tahulah, sebenarnya ibumu masih hidup"


"Masih hidup? Benarkah?" ucapku kaget


"Ya benar sekali"


"Aku ingin bertemu dengannya Steven, ku mohon"


"Ya nanti aku akan mengajakmu bertemu dengan ibumu..."


"Yeay, jadi kapan Steven?" tanyaku senang"


"Tapi bukan sekarang"


"Yaaah, aku terlanjur senang tahu" protesku


"Nanti kalau waktunya aku akan mengajakmu bertemu dengan ibumu"


"Kenapa tidak bisa sekarang?"


"Apa itu tidur panjang?"


"Tidur panjang itu, dia bermetamorfosis menjadi vampir dan iblis abadi"


"Sampai kapan?"


"Mmm aku juga tidak tahu"


"Jadi ibu ada di kerajaan ini atau di kerajaan iblis?"


"Tidak di dua kerajaan"


"Lalu dimana?"


"Di tengah - tengah perbatasan kerajaan vampir dan iblis"


"Tapi nanti aku bisa bertemu kan Steven"


"Iya tentu saja bisa"


"Asiikk " gumamku senang


"Oh ya tadi kamu ngomong tentang kutukan perjanjian jiwa?"


"Iya, perjanjian jiwa itu mempunyai kutukan apabila dua pihak yang melakukan perjanjian itu melanggar perjanjian yang ada"


"Tapi kata ayah perjanjian jiwa itu bakal hilang jika dihilangkan oleh pengeran iblis atau pangeran vampir?" gumamku


"Ya memang, kalau itu khusus di dunia manusia. Tapi di dunia kami yang bisa menghilangkannya hanya .. kamu" desah Steven


"Aku?"


"Ya hanya kamu keturunan campuran yang bisa menghilangkan kutukan ini"


"Caranya?"


"Suatu hari nanti aku akan menjelaskan caranya"


"Kenapa tidak sekarang?


"Kamu aja belum bisa beradaptasi di lingkungan kami bagaimana caranya aku menjelaskan semua kepadamu" gumam Steven menatapku


"Jangan menatapku dingin seperti itu, menakutkan tahu!!" protesku


"Emang aku seperti ini tahu"


"Tapi kamu menunjukan taringmu seperti menakutkan tahu"


"Jadi kenapa kamu terus ada dimanapun aku berada kerena alasan itu?"


"Ya, sebenarnya selain aku pangeran iblis juga ada di sekitarmu"


"Tiger? Dia pangeran iblis?"


"Bukan, dia manusia biasa yang punya dendam pribadi kepadaku"


"Kenapa?"


"Karena aku membunuh keluarga besarnya"

__ADS_1


"Kenapa kamu lakukan itu?"


"Karena orang tuanya melanggar perjanjian jiwa"


"Tapi kenapa kamu tidak membunuhnya sekalian kan katanya seluruh keluarga marganya juga"


"Ya dia hanya beruntung tidak berada di tempat saat itu" gumam Steven


"Tapi siapa pangeran iblis sebenarnya kalau ada di sekitarku?"


"Kamu tidak perlu tahu"


"Kenapa?"


"Karena kamu milikku"


"Kalau aku bertemu dengan dia bagaimana?"


"Ya kamu pasti akan di bawa ke kerajaannya lah"


"Untuk apa membawaku?"


"Kan seperti yang aku katakan tadi, wanita dalam ramalan nenek moyang itu hanya bisa menghilangkan kutukan dari perjanjian jiwa dan menjadi ratu di salah satu kerajaan dan kerajaan yang lainnya akan musnah makanya aku dan pangeran iblis berusaha mencari wanita dalam ramalan itu"


"Itu alasanmu melakukan perjanjian jiwa kepadaku?"


"Iya benar itulah alasanku, menjadi jomblo beratus tahun lamanya juga membosankan tahu!!"


"Apakah pangeran iblis itu menjelma jadi salah satu mahasiswa di kampus?"


"Ya bisa jadi, dan kamu tahu Nana sebenarnya itu siapa??"


"Tidak, yang aku tahu Nana hanya anak yatim piatu saja"


"Nana sebenarnya itu bukan seperti yang kamu katakan"


"Lalu Nana itu sebenarnya siapa?"


"Tanyakan sendiri kepadanya"


"Kalau dia tidak jujur bagaimana?"


"Kalau dia tidak jujur aku yang akan memberitahukanmu, yang penting kamu tahu dari orangnya langsung"


"Hmmm ... ngomong - ngomong tentang keluargamu?"


"Oh keluargaku? keluargaku murni keluarga vampir"


"Keluargamu tidak berada disini kan?"


"Tidak, mereka berada di dunia manusia"


"Kenapa berada di dunia manusia?"


"Hobi mungkin" gumam Steven menatapku


"Hobi? Apakah dunia manusia itu seperti permainan bagimu?"


"Ya kami kaum vampir dan iblis sangat suka main di dunia manusia"


"Hey apa - apaan itu!!"


"Bermain di dunia manusia itu menyenangkan loh"


"Apanya yang menyenangkan coba" gumamku kesal


"Oh ya, Kamu punya adik?"


''Punya, dan dia sedang kuliah di kampusmu"


"Serius?"


"Ya serius"


"Namanya siapa?"


"Kamu cari tahu sendiri"


"Laki - laki atau perempuan?"


"Laki - laki, kalau kamu bertemu dengan dia mungkin kamu akan jatuh cinta dengannya"


"Emang dia tampan?"


"Tampan, lembut, dan penyayang. Berbeda denganku"


"Kamu tidak takut aku suka dia?"


"Tidak, buat apa aku takut, kamu tetap milikku kok"


"Sejak kapan aku menjadi milikmu!!" protesku


"Sejak kamu menandatangani perjanjian jiwa"


"Hmmm baik - baik aku mengalah" desahku


"Jadi kapan kita akan pulang, aku besok ada ujian lagi" gumamku


"Santai saja, seminggu di dunia kami sama saja sehari didunia kalian"


"Oh ya? Lama banget?"


"Emang begitulah kan namanya juga dunia yang berbeda"


"Tapi aku belum belajar Steven" gumamku dan Steven langsung menjentikkan tangannya lalu tiba - tiba semua buku pelajaranku ada di depanku


"Waaah magic" gumamku terkejut


"Itu kamu bisa belajar disini, aku ada urusan sebentar. Setelah urusanku selesai kita pulang"


"Steven bisa ajari aku?"


"Ajari apa?"


"Magic"


"Kamu sudah bisa sendiri" gumam Steven berjalan meninggalkanku


"Aku tidak bisa"


"Suatu saat nanti kamu akan bisa sendiri, udah belajar yang serius" gumam Steven keluar dari ruangan itu


"Baiklah" gumamku belajar mata kuliah ujianku yang terakhir

__ADS_1


Ya walaupun aku sendiri tidak pernah takut dengan Steven sebelumnya tapi saat tahu identitasnya yang asli aku menjadi takut dengan Steven. Tapi sisi baiknya aku bisa bertemu dengan ibuku setelah sekian lama tidak pernah bertemu dengan ibu


__ADS_2