Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
12. Misi Pertama (1)


__ADS_3

"sebagai bayaranya bagaimana kalau kau melakukan sesuatu untukku?"


"๐›๐š๐ ๐š๐ข๐ฆ๐š๐ง๐š ๐š๐ค๐ฎ ๐›๐ข๐ฌ๐š ๐ฆ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ž๐ซ๐œ๐š๐ฒ๐š๐ข๐ฆ๐ฎ?" Pertanyaan itu membuatnya berpikir beberapa saat sebelum kemudian menunjuk kelinci yang ia bawa tadi.


"Aku akan meninggalkanya bersamamu, meskipun terlihat lemah ia akan membantumu mencari Arin, karena saat ini Arin sepertinya berada pada tempat yang merepotkan"


"๐€๐ฉ๐š ๐ค๐š๐ฎ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐ข๐ง๐ญ๐š๐ค๐ฎ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐œ๐š๐ซ๐ข๐ง๐ฒ๐š?"


"Hm? Tidak, lebih tepatnya aku ingin kau menghancurkan sesuatu. Dewi Hera adalah orang yang paling percaya diri akan kisah yang telah ia buat, mumpung sekarang ia ada di antara para dewa Hindu maka akan sedikit dewa yang bisa mengirimkan bantuan pada protagonis kisahnya jadi aku berpikir bagaimana kalau kau membantuku menghancurkan kepercayaan dirinya?"


.


.


.


.


Aku merebahkan diriku diatas sebuah bangku taman, hari sudah gelap dan pada akhirnya aku menerima penawaran itu, lebih tepatnya diriku yang lain yang menerimanya.


"Dunia yang dijajah oleh para dewa ya.. merepotkan saja" gumamku kesal.


"Apanya yang merepotkan?" Seorang pria tampak tiba-tiba saja muncul di atas kepalaku, mendongkakan kepalanya di hadapan wajahku, tidak cukup dekat tapi juga tidak jauh. Dan ketika aku bangun dari posisi tidurku jidat kami saling berbenturan.


"Aduh-"


"Maafkan aku" ujarku, ah tapi sebenarnya ini salahnya sih.


"Tidak, ini salah saya yang tiba-tiba mendekati anda secara mendadak" ucapnya mengelus jidatnya sesaat, rambut biru gelapnya yang panjang tampak tergerai tapi sementara mata hijaunya yang seperti batu zamrud itu menatapku dengan seksama "ah maaf, perkenalkan saya Samuel, salah satu prajurit dari kediaman Adipati Akasa" ia merentangkan tangannya, mencoba berjaba tangan denganku.


"Saya Novan, saya juga salah satu bawahan tuan Akasa. Senang bertemu denganmu" ia tersenyum senang sebelum kemudian ia teringat akan keranjang anyaman yang ia bawa.


"Ah kalau tidak keberatan maukah anda minum bersama saya? Kebetulan teman saya malam ini tidak bisa menemani saya, jangan kawatir saya juga membawa beberapa makanan" ucapnya menunjukan sebotol wine berkualitas yang sepertinya ia bawa dari dapur.


Di bawah sinar bulan yang indah ditemani oleh semilir angin dan pemandangan rerimbunan pohon yang ada di sekeliling kami, wine yang telah di tuang dalam gelas tampak telah habis, namun anehnya aku tidak mabuk. Samuel tampak telah menghabiskan gelas ketiganya dan samar-samar wajahnya mulai memerah.


"Kau kuat minum ya" pujinya, yah aku memang sudah minum lima gelas. Bukan berarti aku suka, tapi entah mengapa aku ingin saja.


"Tidak juga, mungkin karena kadar alkoholnya rendah?" Terkaku, entah mengapa aku rasanya pernah merasakan wine yang lebih kuat dari ini. Tapi di mana ya..


Ingatan samar terlihat dalam kepalanya bagaikan kaset rusak, seorang pria dengan pakaian kuno menuangkan wine di gelas emas yang ku pegang, samar-samar aku mendengar suaranya namun kemudian aku tersadar dari pikiranku itu.


"Samuel?!!" Suara yang ku kenal terdengar dari arah semak-semak dan dari kegelapan sana Kaleid tampak terlihat mendekat. "Novan?!" Ia tampak terkejut melihatku.


Tanpa basa-basi aku segera mendekatinya dan bertanya "dimana Arin?! Dia ada bersamamu kan?!" Namun wajah ragu Kaleid menjawab semuanya, cih apa yang dikatakan Nanaru benar.

__ADS_1


"Maaf.."


"Sudahlah, aku akan mencarinya sendiri" aku mendorongnya menjauh, entah mengapa aku merasa kesal, bagaimana kalau Arin juga diganggu oleh Dewi itu? Bagaimana kalau dia terluka? Mau bagaimana pun akulah yang membawanya, kalau terjadi sesuatu pada dirinya itu adalah salahku karena tidak becus menjaganya.


"Hihi, lucu... Tenyata kakak yang kaku bisa nyanyi dengan merdu ya? Nanaru juga sering menyanyikan lagu itu untukku!" Suara Arin mengema dalam kepalaku. Anak yang begitu rapuh, karena aku anak seperti itu kini berada dalam masalah.


Srek-


"Eh kelinci? Besar sekali" Samuel yang setengah mabuk menatap ke arah sebuah semak-semak dan disana seekor kelinci bermata Hijau menatap kami.


"Bagaimana bisa ada kelinci sebesar itu.." Samuel tampak menatapnya dengan gemas, sementara Kaleid juga sama tercengangnya. Kelinci itu bergerak dengan cepat melompat ke arahku, dan begitu ia di hadapan ku entah mengapa aku seakan mendengarnya berbicara.


[๐ถ๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘–๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘ ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘๐‘ข๐‘™๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘˜๐‘Ž๐‘ข ๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘’๐‘š๐‘ข๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘—๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘› ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘ข๐‘—๐‘ข ๐‘˜๐‘’โ„Ž๐‘Ž๐‘›๐‘๐‘ข๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘› ๐‘€๐‘Ž๐‘ค๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘š๐‘’๐‘Ÿ๐‘Žโ„Ž']


๐ด๐‘๐‘Ž ๐‘˜๐‘’๐‘™๐‘–๐‘›๐‘๐‘– ๐‘–๐‘›๐‘– ๐‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ข ๐‘ ๐‘Ž๐‘—๐‘Ž ๐‘š๐‘’๐‘š๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘˜๐‘ข ๐‘๐‘’๐‘ก๐‘ข๐‘›๐‘—๐‘ข๐‘˜?


.


.


.


.


"Maaf, aku gagal membunuhnya" di tengah ruangan gelap dimana hanya ada jendela yang terbuka dan lilin yang menyala seorang pemuda tampak menatap sedih ke arah seorang wanita.


Cahaya sang bulan kemudian mulai tertutup oleh awan bersama dengan padamnya lili dan ketika hanya ada kegelapan di dalam ruangan itu seorang wanita cantik muncul di belakang Dian. Parasnya cantik anggun, dan tubuhnya bersinar layaknya bulan di angkasa.


"Maaf membuatmu menunggu, putriku"


.


.


.


Pagi tiba dengan cepatnya, pagi yang tenang dan damai menurutku, bahkan ayam jantan yang berkokok tak dapat ku dengar begitu juga cahaya mentari yang tertutup gorden sehingga tak menganggu tidurku.


๐‘‡๐‘Ž๐‘๐‘– ๐‘˜๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘๐‘Ž ๐‘Ž๐‘˜๐‘ข ๐‘ก๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘˜ ๐‘๐‘–๐‘ ๐‘Ž ๐‘ก๐‘–๐‘‘๐‘ข๐‘Ÿ ๐‘ฆ๐‘Ž..


Tok- tok- tok-


"Novan? Kau ada di dalam?"


๐ดโ„Ž ๐‘–๐‘ฆ๐‘Ž..

__ADS_1


๐พ๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘›๐‘Ž ๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž ๐‘œ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘Ž๐‘›๐‘’โ„Ž ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘‘๐‘–๐‘Ÿ๐‘– ๐‘‘๐‘– ๐‘‘๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘–๐‘›๐‘ก๐‘ข ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘–๐‘›๐‘Ž๐‘๐‘˜๐‘ข ๐‘ ๐‘’๐‘—๐‘Ž๐‘˜ ๐‘ก๐‘Ž๐‘‘๐‘– ๐‘ ๐‘ข๐‘๐‘ขโ„Ž..


Sejak kemarin malam Kaleid terus mencoba meminta maaf padaku, bahkan sejak subuh ia sudah berdiri di depan sana. Mengetuk kemudian bertanya dengan pelan selang beberapa menit. Aku mencoba mengabaikannya, yang kuinginkan hanyalah waktu sendirian untuk menyusun rencana.


Aku menengelamkan wajahku ke bulu halus kelinci yang dititipkan Nanaru padaku. Sial kenapa ini lebih lembut dan empuk dari pada bantalku.


"Kaleid? Apa yang kau lakukan disini?"


"Ah tuan Abdi, saya ingin menjemput Novan. Biar bagaimanapun saya seniornya, sudah kewajibab saya membimbingnya kembali ke kediaman dan mengajarinya dasar seorang prajurit"


"Begitu ya, kalau begith kebetulan saya juga ingin mengantarnya kembali ke kediaman"


๐‘†๐‘’๐‘ ๐‘’๐‘œ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘ก๐‘œ๐‘™๐‘œ๐‘›๐‘” ๐‘—๐‘Ž๐‘ขโ„Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘Ž๐‘˜๐‘ข ๐‘‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐‘‘๐‘ข๐‘Ž ๐‘œ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘–๐‘ก๐‘ข..


"Abdi? Dan.."


"Yang mulia putri Vivian?!"


๐‘‡๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘˜.. ๐ฝ๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘–๐‘Ž ๐‘—๐‘ข๐‘”๐‘Ž..


๐ด๐‘˜๐‘ข โ„Ž๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ข๐‘  ๐‘˜๐‘Ž๐‘๐‘ข๐‘Ÿ ๐‘‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐‘ ๐‘–๐‘›๐‘–. ๐พ๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘ข ๐‘ก๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘˜๐‘˜๐‘Ž๐‘›๐‘˜๐‘ข ๐‘๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘š๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž, ๐‘‰๐‘–๐‘ฃ๐‘–๐‘Ž๐‘› ๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘œ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘๐‘–๐‘™๐‘–โ„Ž๐‘Ž๐‘ ๐ป๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž ๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ก๐‘–๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘๐‘–๐‘ ๐‘Ž ๐‘‘๐‘–๐‘๐‘–๐‘™๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘Ž๐‘˜๐‘ข โ„Ž๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ข๐‘  ๐‘๐‘’๐‘Ÿโ„Ž๐‘Ž๐‘ก๐‘–-โ„Ž๐‘Ž๐‘ก๐‘–. ๐‘†๐‘’๐‘š๐‘’๐‘›๐‘ก๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž ๐ด๐‘›๐‘‘๐‘– ๐‘‘๐‘–๐‘˜๐‘’๐‘™๐‘–๐‘™๐‘–๐‘›๐‘”๐‘– ๐‘œ๐‘™๐‘’โ„Ž ๐‘Ž๐‘ข๐‘Ÿ๐‘Ž ๐‘‘๐‘’๐‘ค๐‘Ž โ„Ž๐‘–๐‘›๐‘‘๐‘ข ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘ก๐‘Ž๐‘˜ ๐‘˜๐‘ข ๐‘˜๐‘’๐‘ก๐‘Žโ„Ž๐‘ข๐‘–-


Ucapan para masyarakat saat aku pertama kali menginjakkan kaki di kota terlintas dalam benakku.


"๐‘€๐‘’๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘๐‘Ž ๐‘ก๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘˜ ๐‘Ž๐‘‘๐‘–๐‘˜๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘ ๐‘Ž๐‘—๐‘Ž ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘‘๐‘–๐‘˜๐‘–๐‘Ÿ๐‘–๐‘š? ๐ต๐‘ข๐‘˜๐‘Ž๐‘›๐‘˜๐‘Žโ„Ž ๐‘‘๐‘–๐‘Ž ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘Ž๐‘๐‘Ž๐‘ก๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘˜๐‘Žโ„Ž ๐‘‘๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐ต๐‘Ž๐‘กโ„Ž๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž ๐ผ๐‘›๐‘‘๐‘Ÿ๐‘Ž? ๐ด๐‘๐‘Ž ๐‘–๐‘ก๐‘ข โ„Ž๐‘Ž๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘ก๐‘–๐‘๐‘ข๐‘Ž๐‘› ๐‘Ž๐‘”๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘๐‘–๐‘ ๐‘Ž ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘ ๐‘Ž๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘‘๐‘’๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐‘˜๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘˜๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘Ž๐‘๐‘Ž๐‘ก๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘ข๐‘Ž ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘˜๐‘Žโ„Ž ๐‘…๐‘Ž๐‘‘๐‘’๐‘› ๐ด๐‘Ÿ๐‘—๐‘ข๐‘›๐‘Ž ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘…๐‘Ž๐‘‘๐‘’๐‘› ๐พ๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘›๐‘Ž?"


Kalau memang benar maka bisa saja dewa yang menjadi sumber kekuatan Abdi itu Kamajaya, Bathara Kamajaya ialah dewa cinta dan berparas elok sekali dalam kisah pewayangan, bersama istrinya yaitu Kamaratih, mereka berdua dewa dewi pemelihara rasa cinta kasih sayang, dewa yang begitu menyayangi Arjuna.


Namun mengingat tokoh Adipati Karna yang berkaitan dengan Arjuna pastilah tak luput dari hubungan Bathara Surya sang dewa matahari dan Bathara Indra sang dewa langit dalam mitologi Hindu. Adipati Karna lahir dengan berkat Bathara Surya namun Arjuna lahir dengan Berkat Indra.


"Kurasa Rian benar-benar adalah anak yang dipilih oleh dewa Indra mengingat kekuatan petirnya dan rumor yang beredar. Kalau begitu tak heran kalau Abdi juga dipilih olehnya atau Surya. Mungkin aku bisa tahu kalau aku melihatnya mengeluarkan kekuatan dewanya nanti" gumamku.


Ah.. ini membuatku bingung.. yang lebih membingungkan nya adalah entah bagaimana aku bisa mengingat kisah-kisah mereka begitu aku memikirkannya.. seperti aku sudah menghafal ini di luar kepala, yah yang pasti Abdi tidak jadi masalah karena dia bukan 'target' dalam misi ini tapi karena dia berhubungan baik dengan Vivian bisa saja dia harus kuwaspadai.


Aku melihat ke arah jendela yang tertutup oleh gorden. Baiklah bagaimana kalau kita pergi saja dari sini?


"Maafkan aku Abdi, Kaleid dan Vivian. Tapi aku harus segera menemukan jati diriku, aku tidak bisa terus bersama kalian" aku membuka jendela dan dengan mengendong kelinci pemberian Nanaru aku melompat dari satu teras ke teras lainnya. Tubuhku terasa begitu ringan begitu juga gerakan yang ku lakukan, seakan lagi-lagi aku menghafal sesuatu yang tidak aku ingat.


Di atas istana yang begitu besar dan megah aku melihat ke arah perkotaan, kota yang indah dan damai itu tampak seperti kota negeri dongeng yang menjadi kenyataan. Dan orang-orang didalamnya tidak tahu kalau saat ini mereka hanyalah sebuah jiwa yang terperangkap dalam dongeng yang menjadi nyata itu.


"Apa hal ini adalah kebiasaan seorang kesatria? Melompat ke atap dan kemudian mengikuti seseorang, bukankah kau begitu mencurigakan? Tuan Samuel?" Aku melihat ke arah pemuda itu.


"Entahlah.. aku juga penasaran.." cahaya hijau yang indah terbentuk bagaikan arus air di udara, tanpa bertanya aku pun tahu, itu adalah pusaran orb sihir "Kenapa kau ingin pergi seperti pencuri" Lanjut nya bertanya.


"Seseorang yang menguping pembicaraan orang lain sepertinya tidak boleh berkata begitu. Ya kan?" Aku tersenyum dingin ke arahnya "aku tahu kau ada di tempat itu dan menguping pembicaraan kami, tapi aku tidak tahu ternyata kau orang yang dipilih oleh dewa Wisnu"

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita bicara sebentar?"


[Bersambung]


__ADS_2