Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
57. Kontrak (2)


__ADS_3

"Kenapa kau bertanya kalau sudah tahu jawabannya?"


"Eh apa?"


"Tanda itu muncul karena kami membuat kontrak denganmu"


Keheningan melanda di ruangan bernuansa klasik itu, suara perapian terdengar cukup jelas bersama dengan suara kicauan burung hantu diluar jendela. "Kau bercanda kan?" Novan mencoba untuk tidak mempercayai itu namun Leviathan justru semakin tersenyum, senyum yang cukup mencurigakan.


"Seharusnya kau merasa terhormat, manusia" ucapan itu keluar bagaikan sebuah tusukan tombak untuk Novan. Ia tidak menginginkan ini, yang ia inginkan hanya mengusir para iblis jahanam itu keluar dari comfort dream agar ia bisa mengurangi dampak bencana meskipun harus menjebak mereka dalam kontrak sementara, tapi kini ia malah terjerat kontrak jiwa.


"Tunggu! Aku tidak pernah setuju membuat kontrak! Artinya ini tidak sah!" Teriak Novan tidak terima.


"Setuju tidak setuju kau sudah membuatnya" suara perdebatan keduanya membangunkan Fobetor dan Mammon yang terbaring di kasur, kedua mahluk itu kemudian menatap Leviathan dan Novan bergantian dalam diam.


Novan mengeretakan giginya kesal namun kemudian ia terdiam sebelum ia kemudian tiba-tiba memberikan perintah "tunduk!" Dan secara tiba-tiba Leviathan tertunduk tanpa perlawanan, membuat Fobetor, Mammon bahkan Leviathan sendiri terkejut.


Di dunia ini ada tiga jenis kontrak antara iblis dan manusia, kontrak jenis pertama adalah saat manusia memohon pada iblis untuk membantunya: itulah kontrak sekte, kontrak kedua adalah saat kedua belah pihak antara manusia dan iblis saling sepakat bekerja sama: kontrak pemangilan, dan yang terakhir adalah kontrak yang hanya diinginkan oleh pihak sang iblis: kontrak bawahan.


Berbanding terbalik dengan kontrak sekte yang mengharuskan manusia tunduk pada iblis demi keselamatan jiwanya, kontrak bawahan yang dibuat oleh keinginan iblis langsung itu justru mengharuskan sang iblis mematuhi manusianya dan sebagai imbalannya ia akan mendapatkan jiwa sang manusia bila manusia itu mati. Karena Leviathan dan Mammon adalah iblis yang tidak peduli akan kontrak pada manusia, mereka kemudian hanya mengetahui dua jenis kontrak.


Biasanya hanya iblis tingkat tinggi dan paling rendah yang berminat menjalin kontak bawahan manusia, terutama iblis yang hanya menginginkan sebuah jiwa yang spesial.


Kini Leviathan dan Mammon seakan menyadari kesalahan mereka karena membuat kontrak tanpa persetujuan Novan, dengan kata lain hanya pihak merekalah yang menginginkan kontrak ini dan bukan Novan. Secara tidak langsung mereka ingin menjadi bawahan yang akan melayani Novan hingga Novan mati. Mereka menelan ludah dengan susah payah saat mengingat bahwa itu kontrak yang tak bisa di batalkan, rantai darah yang kuat telah mengikat mereka berdua, membuat Leviathan dan Mammon tak dapat untuk membatalkan kontrak.


"Bagus, dasar bodoh" ujar Fobetor yang kemudian merubah wujudnya menjadi mirip dengan Novan.


"Sial.."


"...." Novan terdiam menatap kedua iblis itu dan kemudian menghela nafas "kalian sungguh ceroboh.." ujarnya yang seakan mengomeli mereka. Baik Leviathan maupun Mammon hanya dapat terdiam dan menunduk, membuat Novan semakin terganggu dengan ekspresi menyedihkan mereka "baiklah ayo anggap saja kontrak ini tidak ada" ucapan Novan seketika membuat Leviathan dan Mammon berteriak kencang.


"Mana bisa begitu?!"


"Lalu kalian mau seperti apa?!"


Suara ketukan pintu terdengar dan mengusik waktu mereka, pintu terbuka dan dari balik sana seorang perempuan berambut biru cerah tampak tersenyum kikuk dan malu. "Maaf karena sudah menganggu..." Senyumannya lembut dan tenang, matanya berwarna biru seperti air danau yang indah dan rambut panjang yang sedikit bergelombang seperti aliran air biru yang indah.

__ADS_1


Leviathan langsung mendekat ke arah pintu dan bertanya pada wanita itu "tidak apa.. kau tidak menganggu kami, sungguh.." awalnya tidak ada yang aneh sebelum Novan kemudian menyadari kuping Leviathan sedikit memerah, dan kemudian pandangan Novan tertuju pada wanita di ambang pintu. Kedua mata yang memiliki warna berlawanan itu saling bertemu dan wanita itu tersenyum senang ke arah Novan.


"Kau..." Novan mencoba mengingat wanita itu tapi ia tetap tak ingat, setidaknya sebelum wanita itu datang ke arahnya sambil memberinya kerang berisi mutiara dan memperkenalkan dirinya.


"Maaf baru bisa bertemu dengan anda, terimakasih sudah menolong saya.." ia menundukkan kepalanya dengan sopan dan sedikit membungkuk seakan memberikan salam "saya Amfitrit, Dewi lautan. anda bisa memanggil saya Amfi" mata biru lautnya memancarkan cahaya ketenangan dan senyuman manis terbentuk di wajahnya. Novan menatapnya dengan tatapan datar, ia bingung harus merespon apa, sementara itu Leviathan tampak menatap diam dari kejauhan.


Tanpa sadar Novan menatap Amfi terlalu lama dan tanpa ia inginkan sebuah pengelihatan muncul, Novan kini dapat melihat sebuah tangan hitam menutup mata Amfi, dan dari sela-sela jari hitam itu darah mengalir, suatu pengelihatan yang menandakan bahaya akan menghampiri. Novan langsung kembali tersadar saat wajah pucat nya disadari oleh semua orang, membuat Mammon langsung berteriak ke arahnya.


Novan kini mengusap wajahnya, mencoba untuk menghilangkan pengelihatan apa yang baru ia lihat dari kepalanya. Novan kini semakin sadar bahwa masa lalunya mulai semakin sering menghantuinya. Tangan hitam yang menutup mata Amfi adalah perwujudan dari rasa bersalah Novan di putaran kelima, saat ia memilih tidak mempedulikan orang-orang yang tak ia kenali dan hanya mempedulikan siapa yang berada di pihaknya. Novan menutup matanya untuk peduli pada orang lain, namun kini ia benar-benar merasa tidak bisa mengabaikan orang lain, terutama orang-orang tak bersalah yang menjadi korban dari bencana di putaran kelima.


Novan mencoba menenangkan dirinya, membuat suasana kini menjadi lebih tenang. Fobetor tampak bertanya dengan ekspresi panik namun Novan segera menjawabnya dengan ekspresi sesantai mungkin.


"Apa ada yang salah?"


"Tidak, aku hanya pusing sebentar"


Novan menggelengkan kepalanya dan kemudian tersenyum tipis, mata merahnya untuk sesaat menatap ke arah lain dan ia berpikir apa yang ia lakukan sekarang. Mata Novan kemudian terpaku pada jendela kaca yang menampilkan pemandangan laut malam yang indah "Apa sekarang kita ada di Nalayatia?" dan dengan segera Fobetor menjawab.


"Benar"


Dimana paus yang kemarin?" Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut Novan membuat semua yang ada di ruangan itu tak sempat menjawabnya satu persatu hingga akhirnya mereka meminta Novan untuk tenang.


"Kami tahu ada banyak pertanyaan di kepalamu tapi tenanglah dulu" ucap Fobetor.


"Maka dari itu jawab pertanyaanku"


"Hah.. baiklah ini cerita yang cukup panjang..."


.


.


.


Pesta dansa dimulai malam ini dan Fobetor yang berperan sebagai Askara Akasa harus menghadiri pesta untuk menjaga citra dari sosok yang ia perankan, sudah puluhan kali umpatan kekesalan ia ucapkan didalam kepalanya. Fobetor memang tidak nyaman dengan mahluk lain selain dewa, tapi ia jauh lebih tidak nyaman dikerumuni oleh makhluk bumi terutama manusia.

__ADS_1


"Aku pikir ini akan baik-baik saja karena Novan juga terlihat baik-baik saja... ternyata dia pintar menyembunyikan ekspresinya.. ukh... perutku mual" Fobetor memutuskan untuk berjalan ke luar istana dan akhirnya beristirahat di taman, berharap tak akan ada yang menemukanya.


Angin malam yang dingin dan langit hitam yang bertabur bintang sangat cocok dengan suasana hening dan sepi di taman itu. Fobetor menutup matanya sejenak, membiarkan dirinya menikmati suasana malam itu dengan tenang dan menghirup udara segar yang berhembus menerpa dirinya.


Namun ditengah keheningan itu tiba-tiba perutnya terasa sakit, seakan ada sebuah belati yang menusuknya. Fobetor menatap tanganya yang menutup perutnya karena refleks dari rasa sakit itu, membuat dirinya kemudian menjadi tidak tenang.


"Apa terjadi sesuatu pada Novan?"


Ia ingin segera pergi namun ia tahu bahwa tugasnya kini adalah menjadi sosok Askara, sosok seorang bangsawan yang lembut dan hangat. Ia tidak bisa pergi meninggalkan perannya, setidaknya itu yang ia pikirkan sebelum seekor gagak terbang dengan cepat ke arahnya.


"Gawat! Bahaya! Bahaya!"


Tanpa ditanya pun Fobetor tahu itu adalah Loki, Loki terbang dengan cepat mengitari Fobetor sebelum kemudian ia merubah wujudnya menjadi Askara memberikan kode bahwa Fobetor bisa segera pergi dan tanpa basa basi Fobetor segera merubah wujudnya menjadi elang dan terbang cepat menuju ke arah paus yang terus meronta karena rantai emas.


Begitu Fobetor tiba tubuh paus itu mulai terbelah menjadi dua dan dari dalam sana seekor naga hitam yang menghembuskan nafas es dan aura dosa iri hati yang kuat muncul.


Hampir saja Fobetor ingin mengubah wujudnya menjadi naga kalau-kalau terjadi sesuatu yang gawat, namun Kanz segera memanggil Fobetor dan kemudian menjelaskan semuanya. Membuat Fobetor kemudian membawa Mammon dan Leviathan ke kota pelabuhan untuk bersembunyi, sementara tubuh paus itu mulai retak dan hancur menjadi abu yang menciptakan awan hitam di langit malam.


.


.


.


.


"Kemudian kau terbangun. Setidaknya itulah kejadian yang terjadi secara garis besarnya.."


"Secara garis besarnya?" Novan menatap Fobetor dengan tatapan ragu, Fobetor tampak enggan untuk menceritakan detail lebih lanjutnya namun Novan tahu apa yang sebenarnya terjadi ditengah suasana itu. "Pasti kalian sempat bertengkar" ujarnya dan sukses membuat ketiganya berdecak kesal secara bersamaan. Membuat Novan berpikir apakah kontrak dapat mempengaruhi kepribadian seseorang.


"Entah mengapa semakin lama kalian semakin mirip denganku"


Ketiganya mengerutkan kening mereka di sata yang bersamaan, membuat Amfi kemudian tertawa geli.


"Oh iya ada seseorang yang mencari anda tadi, tapi ia meminta saya menyerahkan ini" Amfi kemudian menatap Novan kemudian menyerahkan sebuah surat, surat hitam yang ditulis dengan tinta merah terang dan nama Hopeless tertera disana.

__ADS_1


...[Bersambung]...


__ADS_2