Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower

Mimpi Untuk Kembali: The God Of The Tower
59. Universe memory (1)


__ADS_3

Arin POV


Hari ini adalah hari yang panjang, semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Angin yang sejuk menerjang tubuhku yang kini tertidur di hamparan rumput hijau. Kak Novan tidak bisa ditemui, tuan Abdi, kak Andi dan kak Dia juga sama saja. Mereka memiliki tugas yang harus mereka kerjakan dan mereka memintaku untuk berdiam diri saja bersama Rian.


Aku merasakan sesuatu menghalangi cahaya matahari di atasku, ketika aku membuka mata sebuah topi dengan pita hijau tampak Nanaru gunakan untuk melindungi wajahku "apa kau bosan?" Nanaru seperti biasa tersenyum padaku, senyuman yang begitu hangat dan lembut. Meskipun begitu aku tidak lagi bisa mempercayainya, entah mengapa semakin aku jauh darinya semakin banyak hal yang ku sadari terasa aneh disini.


Baik Ephemeral maupun comfort dream, aku tidak pernah merasakan apa yang orang lain rasakan, lapar, lelah, mengantuk, bahkan rasa sakit. Semua yang ku tampilkan selama ini hanyalah kebohongan, bagaikan boneka kecil yang harus memerankan perannya. Aku mencoba untuk memainkan peranku, tanpa mengetahui jati diriku sendiri.


Mata hijauku bertatapan dengan mata Nanaru, untuk sesaat aku ingin bertanya apakah aku juga memiliki keluarga seperti kak Novan. Apa sebenarnya aku ini, dan mengapa aku berbeda. Namun yang terucap dari bibirku hanyalah pertanyaan lain "darimana ya asalku?" Yang lagi-lagi hanya membuat Nanaru terdiam dan matanya menatap ke arah mataku dalam-dalam.


Tak ada jawaban darinya, hanya ada keheningan dan tatapan kosong dari kami berdua. Entah mengapa sejak dulu aku selalu penasaran, mengapa Nanaru begitu mengurungku didalam dunia yang ia buat, namun ketika kak Novan membawaku keluar ia sama sekali tidak marah maupun kawatir akan hal itu. Bahkan selama ini ia hanya berpura-pura menjadi kelinci kecil yang selalu bersamaku menyaksikan semua kesulitan yang aku alami dalam diam.


Sebenarnya kenapa?


Apa sebenarnya aku ini?


Mengapa hanya aku yang berbeda?


Meskipun aku memilih kekuatan yang secara alami dapat mengendalikan keadaan sekitarku tapi kekuatan itu tak bisa ku gunakan didekat Nanaru, artinya hampir sepanjang waktu aku tidak bisa menggunakannya. Suara langkah kaki terdengar dan dari kejauhan Valas tampak datang bersama dengan Rian.


"Ya ampun nona Arin ternyata anda ada disini bersama dengan Naru toh. Saya sempat kawatir anda tersesat" Valas menatap ke arah kami, baik dimatanya maupun semua orang Nanaru adalah Naru. Benar, kelinci kecil yang selalu bersamaku sejak awal adalah Nanaru dan sosok Nanaru yang sering menampakkan diri adalah sosok palsunya. Dengan begitu sejak awal ia telah berhasil menipu semua orang bahkan kak Novan, begitu juga diriku yang membiarkannya.


"Arin ayo kita makan siang" Suara Rian yang ramah dan hangat membuatku semakin tidak ingin mengatakan yang sebenarnya aku tidak ingin mereka kecewa, tidak pula ingin momen kebersamaan kami berakhir terutama bila kak Novan tahu. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.

__ADS_1


Pada akhirnya aku kembali menutupi kebenaran, tersenyum pada mereka dan bersikap seakan tidak mengetahui apapun. Sekali lagi membiarkan mereka hanya melihat topeng yang aku kenakan untuk menutupi diriku yang asli.


Seperti biasa aku mejalani hariku bersama dengan Rian dan tuan Valas. Mulai dari belajar, bermain, makan dan tidur aku selalu bersama mereka. Kami saat ini berada disebuah laboratorium milik tuan Valas dan Nikolai. Ditempat inilah tuan Valas membuat suatu benda pesanan kak Novan.


Sebuah botol kaca indah berisikan cairan berwarna biru yang begitu berkilau. Dan Valas selalu menyebut cairan itu sebagai "Air mata Protogonos". Aku tidak tahu apa yang dapat cairan itu lakukan tapi Nanaru berkata itu adalah cairan yang sangat kuat namun belum sempurna. Valas selalu menghabiskan waktunya di dalam lab untuk meneliti dan meramu, sisanya ia akan menempatkan diri mengajar dan mendongengkan kami sebuah dongeng dari dunia lain.


Suatu malam Valas tidak datang ke kamar kami, dan Rian harus pergi menemui kak Dian dan Andi untuk suatu urusan, entah mengapa malam itu begitu sepi namun juga aneh.


Suara burung merpati terdengar dimalam yang begitu sunyi dan hawa udara terasa begitu tak nyaman, aku beranjak dari tidurku dan menemukan Naru tak ada di sampingku, memaksa diriku untuk pergi dan mencarinya meski ku tahu ia adalah Nanaru tapi entah mengapa aku merasa takut. Dari balik kegelapan rasanya seperti ada yang mengawasi.


Aku terus berjalan hingga tiba di sebuah gazebo yang terletak di dekat taman kediaman Candra, laboratorium Valas berada tak jauh dari sana begitu juga bangunan tempat para anggota keluarga Akasa berada. Pilar putih dengan ornamen emas berada di sekelilingku dan angin malam yang tenang berhembus menerpa gaun putih yang aku kenakan.


Suasana terasa lebih tenang karena cahaya rembulan yang bersinar diatas sana, sebuah usra ayang lembut dan tak akan pernah ku lupakan terdengar dari belakang. Disana Nanaru tampak tersenyum diam dengan mata tanpa cahaya dan tangan yang memegang sebuah botol kaca yang begitu familiar. "Arin, apa yang kau lakukan larut malam begini?" Nada suaranya terdengar cukup lembut, tidak seperti dirinya yang biasanya.


"Karena kebetulan aku hanya diminta untuk menghancurkan benda ini... bagaimana kalau sekalian saja kita coba benda ini.." Ia menggoyangkan botol berisikan Air mata Protogonos dan kemudian senyum di wajahnya semakin lebar saat ia tahu aku tengah ketakutan, seakan ia bisa membaca ingatanku.


Ia menuangkan cairan itu ke atas kepalaku, membuat seluruh cairan biru itu membasahi ku dan aku bisa melihat gemerlap cairan itu melayang mengelilingi tubuhku bagaikan butiran bintang. Mataku menjadi kabur dan diambang kesadaranku akhirnya aku tahu bahwa sosok yang berada dihadapan ku ini adalah dewa Hermes.


Dan tepat saat aku kembali membuka mataku seluruh tempat di sekitarku menjadi tak beraturan. Gazebo yang utuh kini menjadi ruak namun puing-puingnya melayang diudara dan mempertahankan bentuk aslinya meskipun beberapa pilar telah hilang atau rusak, taman yang dipenuhi bunga kini menjadi kolam hitam berisi bintang dan langit gelap yang dihiasi bulan kini menjadi langit galaksi yang indah dengan gradasi warna yang beragam.


Jalan setapak diatas kolam bintang terbuat dari bebatuan berwarna putih dengan simbol dan ornamen yang tak ku pahami, kakiku melangkah diatas jalan setapak itu dan ketika ku pijakan kakiku di setiap batu pijakan maka sebuah gelombang air yang indah terlihat di bawa batu, seakan kini aku tengah melangkah diatas batu yang melayang diatas air. Aku terus melangkah hingga akhirnya aku tiba di sebuah altar yang dikelilingi oleh ribuan huruf melayang dan tepat di depan sana seorang pemuda yang memiliki warna rambut sepertiku tampak terbaring.


.

__ADS_1


.


Novan pov:


Malam ini langit begitu terang, tanda bahwa akan ada pertanda baik yang akan muncul tapi sayangnya aku kini berada di jalan setan, petanda baik untuk orang lain bisa menjadi pertanda buruk untukku. Leviathan menyadari perubahan ekspresiku dan kemudian bertanya.


"Ada yang salah?"


"Bisakah kau membuatkan portal teleporasi?" Permintaanku disambut dengan ia yang menaikan kedua alisnya seakan terheran, sementara itu Fobetor yang tengah mengelus bulu kucing Mammon ikut menatapku.


"Biar ku tebak.. kau mau ke kediaman Candra dan bertemu dengan anak itu, benar?" Fobetor bertanya tanpa memalingkan wajahnya dari buku yang ia baca di tangan kanannya sementara tangan kirinya masih mengelus punggung kucing Mammon, Mammon menguap dan kemudian ikut bertanya.


"Anak? siapa? Aku tidak tahu kau sudah punya anak, Novan"


"Jaga mulutmu Mammon" Tegur Ku "anak yang dia maksud itu Arin" Mammon kemudian menatap ke arahku dan dengan tegas berkata.


"Aku ikut ya-" Namun kemudian mata merahnya membuat sempurna saat ia merasakan suatu energi melintas dengan cepat. Membuat Leviathan yang terdiam kini memasang ekspresi serius.


"Ada apa?"


"Gerbang menuju perpustakaan dunia telah terbuka..."


...[Bersambung]...

__ADS_1


__ADS_2