
Namaku Dian dan aku adalah salah satu orang yang terjebak di dunia mimpi ini...
Dengan membawa memori dari dunia realita aku terus bertahan di dunia ini. Putaran yang aku lewati juga tidaklah sedikit, terkadang aku juga menemukan orang-orang yang juga memiliki ingatan realita seperti ku, tapi mereka enggan berdekatan denganku karena aku adalah kandidat dewa.
Ada banyak sebutan untuk orang yang menerima perhatian dari dewa, urusan dewa, kandidat dewa, tokoh utama, dan lain sebagainya. Dan para orang yang menerima kasih dari dewa biasanya memiliki potensi berperan dalam kisah yang para dewa buat. Ada beragam peran dari protagonis hingga figura, tapi aku kebanyakan menerima peran antagonis.
Tidak peduli sebaik apa aku berbuat pada semua orang, sejak awal peranku sudah di tentukan. Dan semua orang pada akhirnya membenciku dan menjunjung tinggi tokoh utama protagonis.
Tatapan dingin sudah biasa ku dapatkan, bahkan tanpa sadar aku juga memancarkan tatapan yang sama pada mereka. Tidak ada yang berada di pihakku, tidak ada yang mencintaiku dan kehancuran adalah akhir dari setiap putaranku. Tapi meskipun begitu aku tidak mengharapkan suatu kebebasan, aku tidak ingin kembali ke dunia realita, karena aku tahu bila pun aku kembali tidak akan ada nasip baik yang mengubah takdirku.
Di realita, aku hanyalah anak yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, begitu juga disini. Tapi setidaknya didunia ini aku bisa sedikit bahagia.
"Wahai manusia yang menderita, maukah kau berdiri di bawah sinar rembulan miliku dan menari untukku?"
Pada akhirnya aku terus percaya akan pilihanku, aku akan terus memerankan peran ini dan terus hidup di dalam dunia kisah ini, bahkan bila aku harus menjadi boneka demi para dewa aku rela melakukan itu hanya demi segenggam kasih sayang yang mereka berikan pada nasipku.
π΅ππππ π ππππππππ ππππ πππ πππππππ πππππππππ πππππ πππππ.
"Dian, kamu itu gak boleh nangis. Lihat kakak, kakak akan terus ada bersamamu"
Tangannya yang dipenuhi luka terus mengelus kepalaku dengan hangat dan memeluk tubuhku ketika aku mulai gemetar menangis. "Dian gak boleh sedih karena ucapan orang, Dian kan akan jadi wanita kuat dan tercantik di kerajaan ini" kata-kata manis itu, semua perhatian itu. Semuanya ia berikan adalah hadiah terhangat pertama yang aku terima dari orang lain selain dewa.
Aku terus mencoba tidak mempercayai ucapan itu, namun semakin lama ia memperhatikan ku sebagai adiknya kepercayaan akan kasih sayang keluarga lama kelamaan semakin membesar.
"Kak Novan!!"
Di tengah dingin dan kaku nya Keluarga Adipati Akasa, ia satu-satunya mentari yang menyinari kami para anak-anak yang dilupakan oleh ayah kami sendiri. Masih bisa ku ingat saat-saat menyenangkan keluarga kami, masa kecil kami yang hangat dan manis. Saudara kembarku yang diam layaknya boneka menjadi begitu manis ketika tertawa bermain bersama kami. Kakakku yang disiplin menjadi lunak ketika kak Novan menemaninya dan begitu juga adik-adik ku yang kecil. Semuanya tampak seperti mimpi indah hingga rasanya aku tidak ingin mimpi ini berakhir.
Namun mimpi tetaplah mimpi, realita ini tidaklah kekal dan kenyataan yang pahit begitu jelas mendekat.
"Kak?..kakak...?" Suatu ketika aku berdiri diam di sebuah kamar kosong, mataku menatap ke sekeliling kamar itu namun kemudian aku terdiam dan melupakan tujuanku ke kamar itu. "ini.. kamar siapa?" Seakan ingatanku terhapus begitu saja. Awalnya aku masih mengingat sosok 'kakak' yang begitu ku sayangi itu. Namun kemudian...
"Kak! Kak Andi! Ayo main-"
"Mainlah bersama Andi dan Nikolai, aku sibuk"
"Ta, tapi kan kakak biasanya mau main sama kami.."
"Sejak kapan?"
Perlahan aku sadar, sosok kakak yang aku sayang tidak pernah ada.
__ADS_1
π³πππ πππππ ππππ ππππππππ ππππππππ ππππ πππππ?
πΊππππ ππππ πππππππ π πππππππ?
πΊππππ ππππ ππππππππππππ?
Aku tidak tahu jawabannya. Bahkan ketika aku bertanya pada dewi, ia tidak mengerti akan apa yang aku katakan. Perlahan kenyataan pahit dari kisah ku sebagai antagonis bermula ketika Nikolai dikirim menjadi pasangan dari anak keluarga Candra.
"Dewi.. bukankah keluarga Candra itu milik anda? Mengapa bukan saya yang dikirim?" Ketika aku bertanya begitu, Dewi hanya tersenyum dan memelukku.
"Tidak lagi, sekarang disinilah tempatmu"
Dan kemudian perlahan ayahku sendiri mulai memperhatikanku, memberikan semua yang aku mau, mendengarkan semua keluhanku dan tersenyum padaku. Namun alih-alih tersenyum rasa kesal memenuhi diriku.
"Kenapa baru sekarang.. kenapa?! Kenapa ketika aku sudah mati rasa akan kasih sayang dari orang lain ia baru mengakui diriku sebagai putrinya?!"
Kesedihan, amarah, dendam dan rasa tidak adil memenuhi hatiku. Rasa iri mulai tumbuh ketika aku menemukan siapa pemeran utama dalam kisah putaran kali ini, Andi dan Vivian. Padahal jalan yang mereka lalui hanya ditaburi bunga, tapi hasil yang mereka dapatkan lebih besar dari aku yang berjalan di jalan berduri, bukankah ini tidak adil...
"Putri Vivian datang menaiki kuda bersama seorang pemuda misterius?"
Rencana pembunuhan ku pada Vivian gagal dan tak hanya itu seorang tokoh yang tak ku ketahui tiba-tiba muncul bagaikan pemeran utama pria dalam kisah dongeng. Rambutnya yang hitam dan mata merahnya itu sangat berbeda dengan miliku, namun entah mengapa di saat yang sama aku seperti mengenalinya. Bahkan ketika rencana pembunuhan keduaku gagal dan ia tertimpa oleh lampu kaca, entah mengapa hatiku menjadi kawatir.
"Sebenarnya kau itu siapa, Novan?"
"Kak Novan itu bukan kakak kandung Arin.. tapi dia kakak yang paling Arin sayang!"
Ucapan itu, senyuman itu, semuanya mengingatkanku pada sosok diriku yang kecil. Lugu dan begitu bodohnya terbuai akan kasih sayang yang tidak abadi. Bahkan ketika aku bertanya pada Nikolai, ia tidak bisa menjawab pertanyaan ku.
"Kau tidak perluh tahu siapa dia, bunuh dia dan ku pastikan di putaran selanjutnya kau akan menjadi tokoh utama protagonis!" Ucapan Dewi Hera yang dipenuhi oleh amarah terdengar begitu manis, hingga aku lupa bahwa pada dasarnya dewa itu mempermainkan manusia sesuka mereka.
Rencana penyekapan Nikolai yang begitu sempurna kacau begitu saja ketika pelayan yang ku tugaskan menjaga Arin adalah Adipati Samuel dari keluarga Wisnu. Awalnya aku berpikir masih ada harapan karena tidak ada yang bisa melawanku, bahkan Vivian dan Abdi belum menyadari identitas antagonis ku. Namun sekali lagi kemunculan Novan yang bekerjasama dengan para dewa yang menentang Dewi Hera benar-benar menghancurkan semua rencanaku.
Dan ketika aku melihat dirinya yang memegang belati, jauh dalam lubuk hatiku. Aku mengasihani nasipku sendiri. Hidup sebagai mainan dan mati sebagai kambing hitam, sangat lucu.
"Aku benci semuanya.."
"Keluargaku.. akan ku bunuh semuanya!"
Kesedihan dan dendam yang menumpuk dalam hatiku meluap dan menguasai diriku, aku sudah tidak bisa lagi merasakan mana yang benar dan salah. Saat itu dikepalaku hanya ada bagaimana cara membalaskan dendamku pada semua yang ada di depanku.
"Maafkan kakak.."
__ADS_1
Namun ketika ia mengatakan itu, sesuatu dalam diriku rasanya terjernihkan begitu saja, awan hitam yang menutupi hatiku terhapus dan air mata tumpah begitu saja dari wajahku ketika aku mengingat siapa dirinya.
πΎπππ πππ’ πππππππππ‘ππ¦π..
πΎππππ π¦πππ π πππππ πππ πππ’ ππππ..
"Kak..Novan..?"
Tanganya yang gemetar mengelus kepalaku seperti dahulu kala dan matanya meneteskan air mata sama seperti ku.
"Terimakasih sudah mau bertahan.."
"Ka, kakak?!"
.
.
.
Sudah 7 hari setelah hari itu, keluarga Akasa dinyatakan bersalah dan kini tidak memiliki kepala keluarga. Aku terdiam di hadapan sebuah makam dan menundukkan kepala "pada akhirnya kau terlambat menyadari semuanya.. ayah" Adipati Akasa telah meninggal. Dan Andi tidak ingin melanjutkan posisinya.
"Tuan Adipati..." Di samping ku seorang gadis berambut cokelat pucat meletakan setangkai bunga biru "terimakasih sudah mau menyelamatkan Arin..". Arin mencoba menahan air matanya. Di sisinya, Nikolai menepuk pundak gadis itu sementara ujung matanya menatapku dengan dingin.
Hanya ada keheningan diantara kami, setidaknya sebelum seorang kesatria bernama Kaleid berlari ke arah kami dan menyampaikan suatu kabar gembira untuk kami.
"Tuan Novan telah siuman!!"
.
.
.
Pintu terbuka dan di hadapanku Abdi dan Andi tampak berdiri di kedua sisi kasur Novan dan menahan tangisan mereka, tampaknya tak hanya aku yang mendapatkan ingatan masa kecil kami. Meskipun bukan berwarna emas, mata merah Novan menatap kami yang baru datang dengan tatapan hangat dan merentangkan satu tanganya.
"Maaf membuat kalian kawatir"
Hanya dengan satu kalimat itu aku berlari ke arahnya dan memeluknya erat-erat, tanpa suara aku menangis di pundaknya dan ia menenangkan pungguku yang gemetar, sama seperti dahulu kala.
πππ ππππ’π ππππ βπππ¦πππβ ππππ’ππππ ππππ π’..
__ADS_1
Setidaknya kami saling menyayangi, bahkan rasa kasih ini mungkin lebih kuat dari sekedar ikatan darah.
[Bersambung]