
Langit pagi yang hangat terasa begitu dingin hari itu, ombak laut yang mulai pasang tak juga surut sejak kemarin malam. Angin dingin yang berhembus dengan langit gelap yang dihiasi kilat petir begitu membuat bulu kuduk merinding.
"Fobetor kau tetaplah disini dan bantu Rian dan Dewa Ares menghadapi Poseidon. Aku akan pergi ke kediaman Akasa bersama Valas dan prajurit bayaran dan setengah kesatria"
"Apa kau yakin?"
"Tenang saja, kalau ada sesuatu terjadi padaku kan kau akan segera menghampiriku, aku serahkan yang disini kepada kalian" Novan menepuk pundak Fobetor dengan senyuman. Sejujurnya Novan takut, apakah ia akan berhasil, bisakah ia melakukan rencananya, dan apakah ia akan gagal. Namun Novan tahu bahwa keraguan itu adalah hal yang wajar untuk manusia, keraguan itu hanyalah kabut yang menutupi pandangan untuk sesaat dan kemudian akan pergi di kemudian hari.
"Kembalilah dengan selamat"
Rian tampak menatap Novan dengan tatapan yang memancarkan kekhawatiran dan kepercayaan. Novan tersenyum dan mengelus kepala Rian untuk sesaat lalu menjawab.
"Aku percaya padamu, bawalah kemenangan untukku- tidak tapi untuk semua orang"
"Hati-hati dijalan Tuan!" Perseus tampak memberi hormat pada Novan, di sampingnya Medusa juga tampak melakukan hal yang sama.
"Ya, kalian juga. Sampai jumpa"
Dengan sigap Novan langsung menaiki seekor kuda putih dan dengan suara lantang ia kemudian memimpin pasukan untuk tak gentar maju ke depan.
"Dengar semuanya! Mungkin nanti tidak ada hari esok untuk kita! Memang ini bukan perang! Tapi setelah ini akan ada rekan kita yang akan meninggalkan kita dalam pertempuran ini begitu juga bila kita tidak melindungi kota ini, tidak ada kata mundur karena mulai sekarang kita hanya akan melangkah ke depan!"
"Tujuan kita sudah jelas! Lindungi kebanggan kita! Keluarga kita, kota kita, tanah kita, dan Pemimpin kita!"
"Kita akan langsung menghadapi dua pertempuran, bila ada personel yang merasa tidak bisa tinggal di kota karena takut melawan monster maka bergabunglah ke dalam pasukan yang akan saya bawa menuju kediaman Akasa, namun ingatlah satu hal.. Monster itu tidak lebih menyeramkan dari manusia.."
"Dan kita akan segera melawan manusia yang telah mengurung pemimpin kita! Demi Adipati Candra!"
Seluruh pasukan seketika bersorak penuh semangat, rasa takut mereka seketika sirna karena melihat sorot mata merah milik Novan, sorot mata yang hanya memancarkan keberanian dan kepercayaan diri.
__ADS_1
Dari kejauhan Ares menyilangkan tangannya sembari berkata "dasar.. Kalau saja dia bukan musuhku mungkin aku sudah memilihnya menjadi utusanku.." semangat yang telah Novan buat itu berhasil membuat Ares sang dewa perang takjub, sudah lama ia tidak melihat sorakan semangat yang begitu kuat dan berani seperti itu.
"Dari pada itu tampaknya musuh kita sudah terlihat tuh" dewa Indra tampak menatap ke arah lautan lepas, tepat di tengah lautan sebuah pusaran air tercipta dan di tengahnya Poseidon yang memegang trisula emasnya keluar dengan raut wajah penuh kemarahan.
"Ini akan menjadi pertarungan yang hebat" di langit yang hitam sebuah pusaran terbentuk dan dari dalam sana seekor gajah berwarna putih keluar dari khayangan. Airawata tampak langsung berlari melayang ke hadapan Rian dan dengan penuh keyakinan Rian menaiki Tunggangan Dewa Indra itu dengan memegang sebuah panah yang diselimuti oleh petir.
.
.
.
Sementara itu pasukan yang di pimpin Novan tampak mulai bergerak maju menuju ke wilayah kekuasaan Akasa. Ribuan tatapan mata dan ketakutan dari warga wilayah Akasa terlihat begitu jelas, banyak dari mereka bersembunyi di rumah mereka atau tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh mata para pasukan, mereka tak berani untuk mencekal gerakan penyerangan Novan, karena mereka sendiri tahu bahwa Adipati Akasa lah yang pertama kali memulai masalah dengan pihak keluarga Candra.
Gerakan pasukan Novan seketika terhenti saat di depannya sebuah pasukan berjubah hijau tampak menghalangi jalan mereka. Dari balik pasukan itu Samuel keluar dengan pakaian bangsawan yang begitu elegan dan bagus.
Hanya dengan kalimat itu pasukan yang menghalangi jalan kemudian menyingkir, memberikan pasukan Novan kesempatan untuk masuk ke dalam mansion kediaman Akasa.
"Apa ini akan baik-baik saja? Kau bisa terseret tuduhan pemberontakan loh" tanya Novan dengan seringai senang.
"aku hanya tinggal bilang aku kemari untuk mencegah keributan yang diakibatkan Adipati Akasa karena telah lancang menyekap Adipati Candra, lalu aku tinggal bilang bahwa aku gagal menahan pasukanmu" ujar Samuel yang menyuarakan rencana liciknya, dengan begitu ia tidak akan mendapat kecaman dari kerajaan justru ia akan di cap sebagai pihak penengah antara keluarga Akasa dan Candra.
"Pasti akan ada rumor bahwa keluarga Wisnu sang lambang dari bumi, mencoba melerai perseteruan antara keluarga Akasa sang langit dan keluarga Candra sang bulan ya.. itu kisah yang menarik, tapi sesuatu yang di bumi tidak bisa ikut campur dalam pertarungan langit kan?"
"Jadi kau menyadarinya ya? Aku jadi merasa bersalah, maaf tapi sebagai manusia utusan dewa Wisnu aku tidak bisa membiarkan dewaku ikut dalam kekacauan ini. Aku hanya akan membantumu dari belakang" ujar Samuel tersenyum.
"Itu sudah lebih dari cukup" Novan menjalankan kudanya melewati pasukan dari keluarga Wisnu. Kini rencana penyerangannya berubah menjadi pengepungan, seluruh pasukan Akasa tampak telah ditaklukkan duluan oleh pasukan Wisnu dan dengan kekuatan pasukan Novan kini pertahanan luar kediaman Akasa telah bobol. Diikuti dengan komando Kanz pasukan Candra mengepung seluruh sisi mansion dan menyerbu masuk dengan pusatnya di antara gerbang depan dan belakang mansion.
Para prajurit penjaga mansion mulai menampakan dirinya, namun Novan tahu pertarungan ini bukanlah pertarungan antar manusia, tapi dewa dan manusia. Para prajurit itu tampak jauh lebih kuat dari sebelumnya, mata mereka memancarkan cahaya berkah dewa, itu artinya Dewi Hera dan Dewi Ratna telah memberikan berkah mereka kepada para prajurit Akasa.
__ADS_1
Namun bukan berarti ini adalah keadaan yang darurat karena Novan tahu berkah dari kedua Dewi itu memiliki kekurangan. Dewi Ratna memberikan berkah berupa penyembuhan dan perlindungan rembulan, namun bila di siang hari berkah itu begitu lemah, itu artinya Novan harus segera menyelesaikan pertempuran ini sebelum malam datang.
Sementara itu Dewi Hera memberikan berkah berupa keberanian dan rasa cinta akan kehormatan, membangkitkan semangat dan keberanian para pasukan Akasa namun disisi lain pasukan Novan juga memiliki kekuatan berkah dari Ares sang dewa perang. Kekuatan yang begitu besar dari kedua anak dan ibu itu membuat semangat dan keberanian para prajurit kedua belah pihak begitu kuat.
"Pertempuran ini akan cepat berakhir bila kita terus maju!! Jangan goyah! Cari Pemimpin kita! Demi kebanggaan Adipati Candra!!" Teriak Novan memberikan arahan dan menambah keberanian para pasukan.
Penyerbuan yang begitu besar itu berjalan dengan lancar namun kemudian sebuah panah yang dikelilingi oleh api biru tampak menusuk beberapa prajurit sekaligus. Puluhan anak panah muncul di udara dan di atas tembok gerbang mansion Akasa, seorang pemuda berjubah putih berdiri dengan tegap sembari memegang busur panah.
"Beraninya kalian menyerbu masuk ke dalam kediaman ini.." Abdi menatap nyalang para pasukan Candra dengan mata yang memancarkan kemarahan. "Tingkah tidak berasap dan sopan kalian telah melampaui batas!" Hujan anak panah pun merenggut nyawa setengah dari pasukan Akasa, sementara sisanya bisa selamat dengan berlindung dengan mati-matian.
"Bukankah menjebak dan menculik pemimpin keluarga lain itu jauh lebih tidak sopan, Abdi?" Abdi yang menyadari keberadaan Novan kemudian membulatkan matanya kaget.
Novan tampak memegang belatinya dengan erat, ia berhasil menebas semua anak panah yang jatuh ke arahnya namun ia tidak bisa melindungi setengah pasukannya. Entah mengapa pemandangan mayat yang berjatuhan itu membuat Novan teringat akan putaran kelimanya, saat semua orang yang ia percaya mati meninggalkan nya.
Namun kini situasi telah jauh berbeda, dahulu ia lah yang melindungi Mansion Akasa, ialah yang seharusnya berdiri di posisi Abdi. Namun sekarang keluarga Akasa bahkan seluruh rekan yang ia kenali menjadi musuhnya. Novan menatap Abdi dengan wajah yang sedikit menyedihkan, orang yang ada di depannya itu dahulu adalah adiknya. Namun kini ia adalah musuhnya.
Novan harus menghancurkan hal yang dahulu ia lindungi dan banggakan. Langit yang kalbu perlahan dipenuhi oleh awan badai dan bersamaan dengan petir yang bergelora Novan mencabut anak panah yang tertancap di tanah.
"Saya meminta pengampunan dan berkah mu, ampunilah seluruh rekan yang telah mengorbankan dirinya dan berikanlah kami berkah mu, Dewa Indra" petir menyambar ke arah setiap sisi mansion untuk beberapa saat, melumpuhkan seperempat dari pasukan Akasa.
Dan dengan mata terpejam Novan hanya terdiam, ia tidak ingin melihat rekan-rekan lamanya tersiksa di depan matanya. Tidak, petir itu tidak membunuh siapapun melainkan hanya membuat targetnya tidak bisa bergerak karena menerima sengatan listrik bertegangan tinggi.
Dengan mata membulat Abdi menyaksikan kekuatan dewa yang seharusnya melindungi keluarganya malah menyerang keluarga nya. Dalam hanya ia terus bertanya apa yang telah terjadi, mengapa dewa Indra yang selalu memberkati keluarga Akasa kini malah menyerang mereka. Begitu juga dengan sosok Novan, Abdi sebenarnya tahu bahwa Novan seharusnya adalah kakak nya namun secara misterius semua orang melupakannya, yang ia ingat hanyalah Novan pergi meninggalkan dirinya sewaktu mereka kecil, dan kemudian keesokan harinya tak ada yang mengingat Novan.
Abdi berpikir seakan Novan terhapus dari dunia itu.
"Mengapa kakak menyerang kami.. mungkinkah.. ada sesuatu yang tidak ku ketahui?"
[Bersambung]
__ADS_1