
"Selamat datang di perpustakaan alam semesta, Arin."
Ketika ia mengatakan itu seluruh suara ditempat itu seketika berhenti terdengar dan waktu seakan berhenti berjalan.
"Perkenalkan aku Protogonos, penjaga tempat ini"
Sebuah lingkaran cahaya berwarna hijau terlihat di punggungnya layaknya sebuah lambang kekuatannya yang begitu besar. Suaranya terdengar ramah dan senyuman manis terbentuk di wajah kakunya.
"Perpustakaan alam semesta?"
"Benar, disinilah semua pertanyaan dan jawaban akan alam semesta tercatat. Tempat yang tidak memiliki batasan dan penghalang. Inilah perpustakaan alam semesta" Protogonos mengangkat tangannya dan sebuah buku yang cukup tebal melayang ke tangannya.
"Arin, aku tahu ada banyak pertanyaan didalam benakmu, baik itu soal dunia tempatmu berada, atau bahkan dirimu sendiri" mendengar ucapan itu seketika Arin langsung bertanya.
"Apa artinya aku bisa menemukan jawaban semua pertanyaan ku disini?!" Matanya memancarkan cahaya harapan dan keinginan yang kuat untuk mengetahui dirinya sendiri.
"Kau bisa, tapi disisi lain kau harus tahu bahwa ada beberapa hal yang sebaiknya tidak perluh kau ketahui bahkan bila itu tentang dirimu sendiri" ucapan Protogonos membuat Arin bingung, sorot mata pria itu kini tampak begitu misterius namun juga lembut disaat yang sama. Seakan ia mencoba untuk memperingatkan sesuatu pada Arin, suatu hal yang tersembunyi di dalam diri Arin dan tidak boleh diketahui siapapun bahkan Arin itu sendiri.
"Aku tidak bisa membantumu mencari jawaban itu, tapi karena kau telah lulus dari ujianku maka aku akan memberikanmu sebuah hadiah" ia menjentikkan jarinya dan suara langkah kaki kemudian terdengar.
"Arin.. aku tahu kau kini takut pada banyak hal, takut bahwa suatu saat semua orang akan meninggalkan mu, takut bila suatu saat orang yang begitu kau percaya akan meninggalkan mu sama seperti kau yang terpisah darinya.."
__ADS_1
"Maka dari itu aku akan memberikanmu seorang teman yang akan selalu bersama denganmu.. sebuah boneka yang akan terus berada di sisimu"
Dari salah satu lorong seorang pemuda tampak berjalan keluar, mata Arin tampak melebar sempurna kala ia menyadari betapa miripnya sosok itu dengan seseorang namun dengan warna mata dan rambut yang berbeda. Rambutnya berwarna coklat pucat dan matanya seindah zambrud, namun hal yang begitu membuat Arin terkejut adalah wajah dan postur tubuh dari pemuda itu.
"Kak Novan? Tidak tunggu-" sosok itu tampak memiliki tatapan kosong kayaknya tanpa jiwa, itu adalah sosok pemuda yang ia lihat di altar. Sebuah boneka yang terbuat dari batang pohon dunia yang menopang perpustakaan alam semesta, sekaligus sosok yang diambil dari harapan terdalam Arin.
"Mulai sekarang ia akan menemanimu"
Sosok itu adalah Novan yang memiliki ciri fisik seperti dirinya, bentuk dari rasa dan harapan Arin yang menginginkan Novan adalah kakak kandung nya sendiri. Protogonos sudah lama memperhatikan Arin dan Novan bahkan ia mengetahui segalanya, dan dalam dirinya sebenarnya terbesit sebuah rasa bersalah ketika ia menatap anak yang ada di hadapannya ini. Suatu perasaan yang sama seperti yang dirasakan Hopeless. Perasaan yang harus ditanggung oleh sosok yang mengetahui semua rahasia yang tak diketahui siapapun.
Protogonos tahu suatu saat akan tiba dimana badai besar yang menyapu akan semesta akan kembali muncul, suatu badai yang sudah berulang kali ia lihat dan di dalam badai itu ia selalu melihat Arin dan Novan yang terombang-ambing. Kesedihan, penderitaan, semangat dan ketulusan yang ia saksikan dari Arin dan Novan membuatnya mengambil langkah besar ini.
'maaf nak, tapi diputaran kali ini.. kau harus berpisah dengan Novan' batin Protogonos. Protogonos sadar bahwa cara untuk menghentikan nasip malang keduanya adalah dengan menjauhkan mereka, membuat Novan semakin mandiri dan membuat Arin berada di tempat yang aman dan untuk Arin harus bisa menjauh dari Novan, ia membutuhkan sosok lain yang bisa menggantikan Novan dan sosok yang ia buat adalah Ivan, kebalikan dari Novan. Kini di hadapannya Ivan tampak mendekat ke arah Arin dan tersenyum.
"Adikku.." suara lembut dari boneka itu begitu mirip dengan Novan, suara dan kata yang selalu Arin harapkan kini terucap oleh boneka itu. Membuat mata Arin seketika berbinar namun kemudian sebuah belati merah darah tiba-tiba hampir mengenai boneka itu.
Semua mata kini tertuju ke arah munculnya belati itu dan dari atas udara sebuah portal yang begitu gelap dan hitam terlihat. "Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal sejauh ini, Protogonos" sebuah suara yang familiar terdengar dan sebuah kunci emas tampak bersinar di genggaman tangan sosok itu.
"Hopeless.."
Hopeless datang ke sana dengan sebuah portal dan kunci perpustakaan itu, wajahnya tampak tak senang dan dari dalam portal itu sebuah bayangan kemudian melesat keluar dan dengan cepat menyerang Ivan. Pedang cahaya yang muncul di tangan Ivan kini beradu dengan belati merah darah milik Novan.
__ADS_1
Pupil mata hijau dan merah kedua orang itu saling bertatapan dan aura permusuhan terlihat jelas diantara keduanya bagaikan malaikat dan iblis yang saling bertemu.
"Adik siapa yang baru saja kau panggil adikmu huh?"
Cahaya emas dan merah saling beradu kala kedua senjata mereka saling berbenturan. Boneka buatan Protogonos tak dapat diremehkan, kekuatannya, gerakannya bahkan cara ia mengambil keputusan benar-benar sama persis dengan Novan. Memperkuat bukti bahwa Protogonos benar-benar membuat duplikat Novan. Senjata yang terus berbenturan setiap kali keduanya bergerak untuk memulai serangan baru membuat Novan teringat akan sosok bayangan yang ia temui di dalam dunia Leviathan.
"Ini tidak sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan, Protogonos" Sementara itu Hopeless mulai mempertanyakan keputusan Protogonos. Dimata Hopeless sikap dan pilihan Protogonos begitu arogan dan tak berdasar, namun alih-alih takut Protogonos malah berdiri di samping Arin.
"Dan menurutmu apakah dunia tidak akan berhenti terulang bila kita menempuh jalan yang selalu sama?" Suaranya terdengar tegas dan kesal, matanya menatap Hopeless dengan tatapan tak lagi bersahabat. "Dunia tidak akan pernah berubah bila tidak adanya perubahan, Hipnos!" Hopeless kini terdiam sejenak dan matanya yang terselimuti oleh aura kegelapan kini menatap lurus ke arah Protogonos.
Hopeless atau beridentitas asli sebagai Hipnos sang dewa tidur menatap Protogonos dengan tatapan tajam "Dan kau pikir ini adalah cara yang tepat? tidakkah kau tahu ahwa ini sama saja bisa merusak rencana yang ribuan tahun telah kita buat untuk menghancurkan kekuasaan dewa-dewa itu?!" tekanan dan aura dominasi yang begitu kuat terlihat dari mata Hipnos yang terus menatap ke arah Protogonos.
Suara pedang dan belati yang berbenturan kini saling menjauh, Novan mundur ke sisi Hipnos sementara Ivan kini berada di depan Arin dan Protogonos, menunjukan bahwa ada perbedaan kubu yang begitu kuat.
"jadi maksudmu kau tidak masalah bila dunia terus terulang? Kau tidak masalah harus melihat penderitaan orang yang kini ada di samping kita?" Protogonos menatap ke arah Arin dan Novan secara bergantian, tatapan nya terlihat begitu sedih dan juga frustasi, layaknya seorang ayah yang tak ingin melihat anak-anaknya menderita lagi.
"Aku telah tinggal disini selama miliaran tahun, dan aku sadar bahwa satu satunya cara untuk mengakhiri lingkaran setan ini hanyalah dengan cara ini.."
"Demi menghentikan dunia yang terus terulang maka kedua anak ini harus saling berjauhan"
...[Bersambung]...
__ADS_1