
Langit biru terbentang luas di atas gedung-gedung pencakar langit, awan putih seperti kapas melayang menghiasi langit bersama sang surya yang bersinar terang di atas langit. Dunia telah begitu mengalami banyak perkembangan, eksistensi mahluk lain seperti mitologi dan dewa di anggap sebagai sesuatu hal yang terbuat dari imajinasi orang zaman dahulu, meski begitu masih ada yang mempercayai bahwa mereka benar-benar ada.
Namun berkat kisah-kisah menakjubkan itu banyak hal-hal baru terlahir karena mereka. Mulai dari film, buku bahkan game yang mengangkat tema dan inspirasi dari mitologi berbagai belahan dunia telah dibuat dimana-mana. Menciptakan sebuah era baru dimana kisah mitologi bukan lagi di percaya namun di ingat dan nikmati sebagai sesuatu yang ditinggalkan oleh para pendahulu mereka pada generasi sekarang, sebuah kisah yang tak hanya menakjubkan tapi juga menginspirasi dan menghibur.
Dan kini dua orang penikmat mitologi itu tengah berhadapan di sebuah cafe sembari membahas tentang game virtual reality yang tengah populer akhir-akhir ini.
"Ukh.. sial kenapa dewa yang menyokong ku memberikan tugas sangat sulit sih... Terkutuk kau Loki...." seorang pemuda dengan jaket putih tampak mengeluh sembari menutup wajahnya.
"Itu salahmu memilih mode Hard, sudah tahu The Tower itu game yang sulit sejak awal" ucap seorang pria berjas biru dengan dasi putih. Ia tampak menatap pemuda di depannya dengan tatapan datar.
"Justru itu daya tariknya!" Pemuda itu bangkit dan mulai mengatakan alasan ia tak bisa lepas dari rutinitas memainkan game itu "apa kau tahu bagaimana rasanya saat kita berhasil melewati setiap tantangan yang diberikan oleh seseorang yang mengejek kita sepanjang permainan?! Rasanya seperti aku berhasil memberikan pukulan telak di wajah orang yang aku benci-"
"Berhenti mengatakan sekaan kau percaya sosok di dalam game itu manusia asli, Nikolai"
"Kau yang tidak mengerti senior Abdi! Bukankah kau juga tertarik memainkan ini kan?" Nikolai menyela dan ia tampak berbinar menatap seniornya itu. "Aku tahu kau mendapatkan tiga sokongan sekaligus, kau tahu ranking mu juga selalu naik tiap Minggu. Kau bilang tidak tertarik tapi sebenarnya kau memainkan game itu juga kan setiap hari!" Abdi kemudian terdiam, ia tidak bisa membantah.
"Oh ribut-ribut seperti apa ini? Dua orang kepala guild besar The Tower tengah bertemu rupanya ya" suara seorang wanita terdengar dan dari arah belakang. Wanita itu berambut pirang dan matanya berwarna hijau, ia tampak mengenakan setelan kantor dan juga membawa sebuah ponsel berwarna putih.
"Ah kau... nona Kinan dari guild Teratai? Kenapa kau ada disini?" Abdi berdiri dan ia kemudian berjaba tangan dengan wanita yang ia kenal sebagai partner kerjanya di kantor sekaligus wakil ketua guild besar di The Tower.
"Maaf apa aku menganggu kalian? Aku hanya punya janji dengan seseorang" Kinan melirik sebuah meja tempat seorang pria berambut biru dengan gradasi hijau, ia tampak mengenakan kacamata dan tampak fokus menatap ponselnya sendiri. "Ah sudah ku duga... Tuan Samuel selalu tampak cantik setiap hari, andai rambutnya sedikit lebih panjang" ujar Kinan sedikit tersipu dan itu membuat Nikolai dan Abdi terdiam.
__ADS_1
"Jadi mau saya lamar-"
"Oke stop! Terkadang aku penasaran kenapa raja iblis Keserakahan adalah pendukung mu" ucapan Nikolai di sambut dengan senyuman oleh Kinan.
"Bukankah sudah jelas? Karena aku berbakat di bidangku. Aku yakin kalau kami benar-benar bertemu dia pasti menginginkan ku menjadi partner kerjasama nya" Kinan tampak bangga akan bakatnya.
"Bukankah raja iblis keserakahan punya satu lagi player yang dia dukung... Siapa ya namanya itu... Kanz?" Sela Abdi mengingat salah satu player solo yang terkenal di game the tower tanpa menyadari bahwa orang ya ia bicarakan diam-diam menatapnya dari meja cafe lain dan dengan duduk bersama seorang pria berambut pirang.
"Oh ini menakjubkan banyak orang yang kita kenal ya disini~" Nanaru sedikit mengangkat topinya dan kemudian melirik Kanz. "Jadi bagaimana? Aku terkejut player seperti mu bisa menemui ku secepat ini. Apa kau mendapatkan petunjuk dari seseorang?" Nanaru tersenyum dan menebak apa yang Mammon lakukan denganengontak Kanz untuk mencari Nanaru.
"Sejujurnya aku juga terkejut developer besar seperti mu mau bertemu denganku hanya untuk transaksi sebuah item game yang kau buat- ah atau bukan kau yang membuatnya ya..." Kanz menatap Nanaru dengan tatapan curiga. "Lebih baik kau katakan yang sebenarnya, tuan developer. The Tower itu sebenarnya bukan game kan?"
Sebuah senyum yang misterius terbentuk di wajah Nanaru dan ia tak menjawabnya, membuat Kanz semakin merasa penasaran dan kesal karena melihat senyuman Nanaru yang tampak menyebabkan.
Suara pecahan kaca terdengar dari meja lain dan di sana seorang pria berambut hitam dengan jas hitam dan dasi merah yang terpasang di lehernya terlihat tak sengaja menjatuhkan minuman lemon nya di depan seorang gadis. "Ya ampun, maafkan aku nona apa anda terluka?" Gadis di depannya itu adalah Arin yang datang bersama dengan Dian sementara sosok yang menjatuhkan minumannya adalah Fobetor.
Mata Fobetor dan Arin bertemu namun samar-samar Arin seakan melihat sosok lain dari diri Fobetor. Fobetor kemudian terpaku pada bunga mawar merah yang tadinya di bawa oleh Arin dan kini terjatuh di dekat gelas minuman Fobetor yang pecah, membuat bunga dan pita di batangnya basah "apa anda ingin memberikan bunga ini pada seseorang? Ya ampun maafkan saya" Fobetor mengambil bunga itu.
"Ah tidak bukan sesuatu yang penting, itu hanya bunga yang saya petik dari kebun yang saya rawat. Tadinya mau saya berikan ke kakak saya di rumah sakit"
Fobetor membulatkan matanya dan ia tampak tertarik "benarkah? Kakak mu sedang sakit? Ia pasti akan senang bila mendapatkan bunga ini. Sayang sekali..."
__ADS_1
"Tidak kakak saya... Sudah koma selama 5 tahun.."
"Ah maaf. Apa saya membuat nona sedih?"
"Tidak apa-apa, anda bukan orang pertama yang mendengar ini dari saya." Fobetor bisa melihat senyuman di wajah Arin namun tidak di wajah sosok transparan yang ada di balik tubuh Arin. Di belakang Arin, Novan yang datang ke dunia realita dengan sosok astral hanya dapat terpaku diam, tak ada yang bisa melihatnya kecuali Fobetor dan Nanaru yang ada di tempat itu. "Saya hanya berharap kakak saya segera bangun..." Ucapan Arin membuat Novan semakin membisu.
Tangan Novan hendak mengelus kepala gadis yang telah tumbuh menjadi remaja itu dengan penuh kasih, namun kemudian ia sadar bahwa dunia mereka telah berbeda. Novan tak lagi bisa kembali, ia sudah tak memiliki kesempatan.
Mimpinya untuk kembali kini hanya sebuah mimpi.
Novan kini menghela nafas dan tersenyum, mata merahnya menatap ke Fobetor seakan meminta Fobetor untuk menenangkan Arin. Fobetor tersenyum sebelum kemudian ia melihat Novan pergi keluar dari cafe.
Novan terbang menjelajahi dunia realita, ia begitu takjub dengan apa yang telah manusia capai. Sayapnya akhirnya berhenti tepat ketika ia memutuskan untuk berjalan ke sebuah gedung rumah sakit, pertama ia melihat ke arah tubuhnya yang tertidur. "Aneh, padahal aku yakin aku tidak bisa kembali tapi kenapa tubuh asliku masih tertidur..." Pertanyaan muncul di benaknya tapi ia tak bisa mendapatkan jawabannya.
Kakinya terus melangkah dan secara mengejutkan ia kemudian menabrak seseorang.
"Ah maaf!" Novan spontan meminta maaf namun kemudian ia menyadari ada yang salah. Seharusnya ia tidak bisa bersentuhan dengan manusia, namun kejadian yang baru saja terjadi membuatnya syok.
"Ah tidak, saya yang seharusnya minta maaf. Anda baik-baik saja?" Bahkan kini manusia di depannya bisa melihat dirinya.
Dan itulah awal dari sebuah kisah baru dari sudut pandang yang berbeda.
__ADS_1
...[selesai (?)]...